YANG HARUS KITA LAKUKAN SAAT KENA ‘SILENT TREATMENT’

June 06, 2018

YANG-HARUS-KITA-LAKUKAN-SAAT-KENA-SILENT-TREATMENT

Photo by Zack Minor on Unsplash

 

Pernahkah kita kena silent treatment dari seseorang? Silent treatment adalah perlakuan mendiamkan alias nggak berinteraksi maupun merespon interaksi dengan orang lain. Biasanya silent treatment dilakukan seseorang ke kita ketika dia merasa kita melakukan kesalahan, mengecewakan dia, atau bahkan ada yang salah dengan hubungan kita dengan dia.

 

Itulah kenapa pelaku silent treatment biasanya merupakan orang-orang terdekat, entah itu saudara kandung, sahabat, atau pasangan. Tapi, siapa pun pelakunya, silent treatment itu menyiksa banget. Kita jadi terus menerus bertanya apa kesalahan kita, kenapa si pelaku nggak mau berinteraksi sama kita, dan gimana caranya menuntaskan kondisi silent treatment yang kita alami. Kita juga nggak tahu kapan silent treatment ini bakal berakhir dan gimana caranya supaya masalah terselesaikan, soalnya usaha kita ngajak ngobrol secara langsung, lewat chat, maupun telepon nggak digubris sama sekali. Padahal, kita udah berusaha banget minta maaf atas kesalahan yang kita belum tahu pasti.

Sebelumnya kita harus tahu dulu ada apa di balik perlakuan silent treatment dan kenapa perlakuan ini bisa bikin perasaan kita kesiksa banget. Gogirl udah sempet bahas di artikel 5 Hal yang Kita Nggak Sadarin Saat Kena Silent Treatment. Setelah itu, cobain step by step yang disaranin sama psikolog sekaligus penulis Ashley Berges di bawah ini.

 

STEP 1: ANALISIS KESALAHAN KITA

YANG-HARUS-KITA-LAKUKAN-SAAT-KENA-SILENT-TREATMENT


Tanpa sadar kita tentu akan melakukan langkah pertama ini, yaitu menganalisis kira-kira kenapa si dia mendiamkan kita sampai sebegitunya. Kita jadi mengurai masa lalu, kesalahan apa yang udah kita perbuat sama dia sampe-sampe dia nggak mau ngomong sama kita sama sekali buat menuntaskan kekecewaan. Nah, dalam tahap ini cobalah bikin list kesalahan yang kira-kira baru-baru ini kita lakukan. Inget-inget juga, apakah ada hal yang bikin dia kesal atau kecewa tapi secara konstan terus kita lakukan. Bahkan kalo perlu menganalisis sampe ke bulan-bulan atau tahun-tahun sebelumnya, lakukanlah. Siapa tahu ada kekesalan yang terpendam dan menumpuk di hatinya, tapi selama ini dia terlalu takut buat bilang. Kalo ternyata emang ada kesalahan yang konstan kita lakukan, cobalah analisis kira-kira apa pemicu yang membuat kekesalannya meledak sebelum akhirnya dia melakukan silent treatment ke kita.

 

STEP 2: SADAR KALO SILENT TREATMENT ADALAH BENTUK KONTROL

YANG-HARUS-KITA-LAKUKAN-SAAT-KENA-SILENT-TREATMENT


Silent treatment
membuat kita terus-terusan bertanya dan tersiksa dalam kehampaan, sehingga mampu mempengaruhi konsentrasi kita sehari-hari. Nah, kalo udah baca artikel sebelumnya tentang silent treatment*, kita tentu sadar kalo silent treatment adalah bentuk kontrol dari pelakunya. Pelaku silent treatment memegang kendali penuh atas langkah selanjutnya dari pemecahan masalah, bahkan jadi kunci kelanjutan hubungan kita sama dia. Kita harus sadar akan hal ini, jangan denial dengan menganggap “Ah, mungkin dia lagi ingin sendiri”, “Ah, dia mungkin pengen menghadapi masa stresnya dulu” atau “Ah, mungkin dia lagi jenuh bareng-bareng terus sama kita (kalo pelakunya sahabat atau pacar)”. Yap, dia mungkin emang lagi pengen sendiri, tapi tanpa kita sadari sebenernya kita lagi ikut dalam ‘permainan’ dia. Semakin kita merasa frustrasi, hampa, dan sedih karena kehilangan dia, maka semakin kita masuk ke dalam permainan itu.

 

STEP 3: DENGAN TENANG, AJAK DIA BICARA

YANG-HARUS-KITA-LAKUKAN-SAAT-KENA-SILENT-TREATMENT


Coba kita inget-inget, gimana cara kita mencoba mengajak dia berkomunikasi buat menyelesaikan masalah? Apakah kita meminta maaf terus-menerus? Apakah kita memohon-mohon ke dia supaya mau bicara sama kita? Apakah kita mencoba memberi dia sesuatu dengan berharap dia ingat sama kebaikan kita dan mau kembali jadi dirinya yang kita kenal? Hati-hati, cara-cara seperti itu justru membuat dia yakin kalo kita masuk ke dalam permainan dia. Tanpa dia sadari, ‘hukuman’ dia berhasil buat kita. Pada tahap ini sebagian pelaku silent treatment bakal menghentikan apa yang dia lakukan, bahkan kembali berbicara dengan kita. Tapi, perlu diinget kalo cara-cara tadi bisa membentuk kebiasaan, alias siklus hukuman silent treatment besar kemungkinan bakal terjadi lagi.

Buat menghindarinya, ajak dia bicara dengan tenang dan dalam keadaan sadar. Pastiin kita udah meluapkan semua emosi kita, udah pula memikirkan kesalahan apa aja yang kira-kira kita perbuat. Hubungi dia dan bilang kalo kita dan dia perlu bicara, lebih tepatnya kita butuh berbicara demi kebaikan bersama. Kalo dia masih nggak merespon ketika kita hubungi lewat chat atau telepon, coba datangi tempat tinggalnya. Inget, kontrol emosi ketika ketemu dengan dia. Tatap matanya, dan bilang dalam keadaan sadar, “Kita perlu bicara”. Tanpa meminta maaf terlebih dahulu, tanpa memohon-mohon, tanpa menangis, hanya berbicara sebagai dua pribadi secara dewasa.

 

STEP 4: MASIH DIDIAMKAN? TAKE A BREAK

YANG-HARUS-KITA-LAKUKAN-SAAT-KENA-SILENT-TREATMENT


Kalo ternyata kita masih didiamkan bahkan ketika kita udah mendatangi kediamannya dan mengajaknya bicara baik-baik, coba buat istirahat. Take a break, bukan hanya dari usaha kita berbaikan dengan dia, tapi dari pikiran kita tentang dia. Kembali fokus pada apa yang kita kerjakan, pergi travelling, atau tonton series yang udah lama ingin kita tonton. Cari distraksi dari pikiran-pikiran negatif kita tentang dia dalam waktu yang kita tentukan. Dua sampai empat hari, misalnya. Dengan begitu kita nggak membiarkan emosi kita ikut terbawa oleh ‘permainan’ yang sedang coba dia lakukan.

 

STEP 5: COBA AJAK BICARA KEMBALI

YANG-HARUS-KITA-LAKUKAN-SAAT-KENA-SILENT-TREATMENT


Setelah kita rasa waktu break-nya cukup, cobalah hubungi dan ajak kembali dia bicara empat mata. Dalam rentang break, dia pasti memikirkan kita kok, percayalah. Dia akan mempertanyakan kenapa kita nggak mencoba mencari dia lagi, kenapa kita nggak berusaha mengajak bicara lagi. Dalam tahap break ini, kita mencoba memberi dia ruang untuk memikirkan kita setelah kita merasa cukup lelah memikirkan dia. Di tahap kelima inilah yang menentukan apakah dia akan kembali oke dan merespon ajakan kita untuk berbicara. Sebagian besar pelaku silent treatment akan luluh pada tahap ini.

 

STEP 6: PIKIRKAN BUAT MENGULANG STEP 4 DAN 5

YANG-HARUS-KITA-LAKUKAN-SAAT-KENA-SILENT-TREATMENT


Kalo ternyata dia masih mendiamkan kita setelah kita ajak bicara kembali, saatnya kita berpikir seberapa layak hubungan kita dengan dia dipertahankan. Kalo ternyata kita berpikir kalo hubungan kita dengan dia sangat berharga, nggak ada salahnya mengulang tahap keempat dan kelima sekali lagi. Mungkin waktu break yang sebelumnya kamu berikan kurang, dan dia masih butuh waktu buat memikirkan seberapa layak hubungan kalian dipertahankan. Dalam tahap ini kita harus siap sama kemungkinan terburuk. Kalo dia adalah pacar kita, kita harus siap dengan kemungkinan putus. Kalo dia adalah sahabat kita, kita harus siap dengan kemungkinan kerenggangan hubungan. Kualitas persahabatan akan jauh berkurang, bahkan mungkin posisi dia di hati kita berubah menjadi teman biasa dan bukan sahabat lagi di masa depan.

 

STEP 7: MASIH DIDIAMKAN JUGA? IT’S TIME TO DECIDE

YANG-HARUS-KITA-LAKUKAN-SAAT-KENA-SILENT-TREATMENT


Setelah mengulang tahap keempat dan kelima, tapi ternyata dia nggak juga memberi kesempatan kita untuk berbicara empat mata, mungkin inilah saatnya. Putuskan kemungkinan terburuk yang udah kita pikirkan di tahap sebelumnya. Langkah selanjutnya kita tinggal mencoba ikhlas dan menyadari kalo perasaan kita terlalu berharga buat menerima kekerasan emosional seperti itu lagi. Jadikan pelajaran kalo silent treatment bukan cara yang dewasa dalam memberikan ‘hukuman’ pada orang yang kita sayang.

 

You may also want to read:

JANGAN SAMPAI KITA TERMASUK ORANG YANG PLAYING VICTIM

BOSENNYA MENGHADAPI SAHABAT YANG NGGAK BISA MOVE ON

7 PERTANDA INI JADI BUKTI KAMU SAHABAT YANG SELF-CENTERED

 

 

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
Photo by Zack Minor on Unsplash
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar