MENOLAK 'VICTIM BLAMING' LEWAT EKSIBISI PAKAIAN KORBAN PELECEHAN

April 11, 2018

WHAT-WERE-YOU-WEARING

sumber foto: Huffington Post, Jennifer Sprague

 

Sadar nggak sih kita selama ini banyak pihak yang suka ‘blaming the victim’ terhadap korban-korban pelecehan maupun pemerkosaan? Sebenernya nggak hanya terhadap korban-korban itu aja, kita sebagai perempuan setidaknya pernah ngerasain berada dalam posisi ‘blamed as a victim’ di mana disalahkan karena cara berpakaian kita yang ‘katanya’ mengundang nafsu. Padahal kenyataannya pemerkosa dan pelaku pelecehan itu nggak mengincar korbannya berdasarkan pakaian yang dikenakan. Jadi salah banget kalo ada yang persepsi cewek harus selalu menjaga cara berpakaiannya supaya nggak mengundang nafsu. Karena di Belgia baru aja diadain pameran yang membuktikan kalo korban pemerkosaan dan pelecehan itu nggak diincar berdasarkan pakaian yang dikenakan.

 

 

Baru-baru ini ada sebuah pameran di Molenbeek Maritime Community Centre, Belgia yang menampilkan kisah-kisah korban perkosaan dengan menciptakan lagi pakaian yang mereka kenakan pada saat kejadian. Pameran ini terinspirasi dari mahasiswa di Universitas Kansas. Di sini kisah-kisah tersebut diterjemahkan ke dalam Bahasa Perancis dan Belanda. Pembuat pameran ini yaitu Delphine Goossens berharap bisa menyebarkan pameran ini di seluruh Eropa.

 

WHAT-WERE-YOU-WEARING

sumber foto: Reuters, Francois Lenoir

 

Dalam pameran ini tergantung di panel sekeliling ruangan beberapa pakaian seperti baju tidur, baju renang, seragam sekolah anak-anak, dan pakaian polisi. Semua pakaian di sini nggak ada yang terlalu  terbuka sehingga bisa mengundang nafsu. Malah pakaian-pakaian yang diperlihatkan di sini cenderung biasa aja seperti yang kita kenakan sehari-hari. Setiap pakaian di sini punya ceritanya masing-masing yang bisa membuat pengunjung terbawa emosional dan mungkin bisa berkata Wow I have this outfit hanging in my closet,’ or ‘I wore this, this week.’

 

WHAT-WERE-YOU-WEARING

sumber foto: Jennifer Sprague

 

Ada juga dinding yang dedikasikan untuk menampilkan tiga pakaian seorang korban perempuan yang diperkosa sebanyak tiga kali.  Berdasarkan informasi yang Gogirl! cari, 56% orang Belgia tau setidaknya satu dari kisah-kisah yang ditampilkan adalah korban kekerasan seksual, dan satu dari empat perempuan mengalami pelecehan physical harassment di ruang publik.

Seperti yang dilansir dari Reuters, Liesbet Verboven salah satu pengunjung mengungkapkan pengalaman emosional yang dia rasakan selama berkeliling di pameran. Dia teringat pengalaman buruk temannya berhubungan dengan polisi yang menyalahkan keputusan dan lokasinya atas kejadian yang dialaminya.  

“It leaves a big impact to see all these clothes, that it can happen to anyone, anytime, anywhere,” kata Verboven. “I hope it can change the mindset of people that blame the victims of violence and rapes.

Kayak yang dibilang Verboven, pameran ini sebenernya mengajarkan kita untuk jangan pernah menyalahkan korban kekerasan dan pemerkosaan. Apa yang menimpa mereka bukan kesalahan mereka, atau karena mereka berada di lokasi tersebut atau karena pakaian yang mereka kenakan. Hal kayak gini bisa terjadi pada semua perempuan, kapan aja dan di mana aja. So stop blaming the victim of violence and rapes and start to help them find their new peace.

Pencanang pertama pameran ini yaitu Jen Brockman mahasiswi Universita Kansa juga mengatakan keinginannya memberikan kesadaran pada masyarakat dan kedamaian untuk para korban adalah motivasi di balik projek ini. Brockham juga bilang “It’s not the clothing that causes sexual violence, it’s the person who causes harm.

 You may also want to read:

- YANG HARUS DILAKUIN KALO KITA NGELIAT PELECEHAN SEKSUAL

'ARMY OF SURVIVOR' MEMBONGKAR KASUS PELECEHAN SEKSUAL LARRY NASSAR

- PRANCIS BERLAKUKAN DENDA BUAT PELAKU PELECEHAN DI JALAN

 

 

Written by Shintia Dwi Savitri
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar