TUJUAN SEKOLAH DAN KULIAH BUKAN CUMA BIAR DAPET PEKERJAAN, LHO!

September 19, 2018

TUJUAN-SEKOLAH-DAN-KULIAH-BUKAN-CUMA-BIAR-DAPET-PEKERJAAN-LHO

 

 

Siapa di sini yang pernah nemu berita tentang banyaknya sarjana nganggur? Nggak sedikit dari berita-berita tersebut yang mengait-ngaitkan penyebabnya dengan kurangnya bekal di dunia pendidikan buat memasuki dunia kerja. Ini jadi membentuk pandangan kalo tujuan utama pendidikan adalah buat mempersiapkan peserta didik masuk ke dunia kerja. Well, pandangan yang sifatnya pragmatis ini tentu nggak ada salahnya, sebab toh semua orang memang harus hidup mandiri setelah mereka dewasa.

 

Tapi, jangan lantas pandangan ini bikin kita lupa sama fungsi yang bersifat esensial. Dalam video yang diunggah saluran Geolive ID, Cania Citta Irlaine menjelaskan tiga fungsi pendidikan yang dirangkum dari berbagai sumber dan pendapat ahli. Ketiganya yaitu pembentukkan metode berpikir, transmisi nilai dan sosialisasi aturan main bersama, serta membangun jejaring sosial. Nah, dari ketiga inilah kemudian terbentuk pribadi yang dewasa, yang kemudian mampu mencari nafkah dengan cara yang bertanggung jawab.

 

1. KONSTRUKSI PARADIGMA ALIAS PEMBENTUKKAN METODE BERPIKIR

 

Bisa dibilang, pembentukan paradigma alias metode berpikir inilah yang menjadi tujuan utama dari pendidikan. Dengan sekolah, kita belajar buat berpikir secara ilmiah alias berpikir runut agar nantinya bisa menghasilkan solusi yang tepat terhadap berbagai permasalahan. Singkatnya mah, kita diajarin cara berpikir yang baik dan benar. Kalo pas masih sekolah, metode berpikir ini diajarin lewat pelajaran sehari-hari dan diuji dalam soal-soal ujian. Di kuliah juga begitu, dengan bidang ilmu yang lebih spesifik tapi kedalaman yang lebih kompleks, yang diwujudkan lewat tugas, project, serta tugas akhir atau skripsi. Di samping itu, pembentukan metode berpikir yang baik ini diiringi oleh literasi sains dasar yang baik serta meningkatkan kemampuan membaca dan menyimak.

Setelah masuk ke dunia kerja dan bersentuhan langsung dengan masyarakat, cara berpikir yang runut harus kita terapkan di segala aspek dalam kehidupan. Cara berpikir runut bakal bermanfaat banget buat menyelesaikan segala permasalahan. Ketika kita menerima banyak rangsangan dan informasi, kita akan cerdas dalam membuat simpulan. Simpulan yang kita ambil akan tepat, alias bisa diverifikasi kebenarannya, diuji ketepatannya, dan bisa diandalkan. Nah, simpulan yang tepat mengantarkan kita pada penyelesaian permasalahan, dan ini bakal bermanfaat banget di semua aspek kehidupan kita sendiri, entah itu sosial, ekonomi, sampe psiklogis. Di sisi lain, literasi sains dasar yang baik membuat kita mampu memilah dan memilih mana informasi yang bisa diandalkan dan dipercaya. Selain itu, kemampuan membaca dan menyimak yang komprehensif bikin kita nggak jadi orang yang ‘sedikit menyimak tapi banyak berkomentar’.

Contoh sederhana dari gimana pendidikan membentuk cara berpikir bisa dilihat dari gimana kita mengait-ngaitkan sebab dan akibat. Misalnya, saat kita melihat tragedi bencana alam seperti gempa atau kebakaran hutan. Dengan berpikir runut, kita bakal berspekulasi kalo gempa disebabkan oleh aktivitas tektonik atau aktivitas magma, atau kebakaran hutan disebabkan oleh gundulnya pepohonan hutan di musim kemarau atau kecerobohan manusia. Nggak bakalan tuh kita kepikiran kalo bencana itu disebabkan oleh azab alias hukuman dari Tuhan.

 

2. TRANSMISI NILAI DAN SOSIALISASI ATURAN MAIN BERSAMA

 

Selama menjalani proses pendidikan di bangku sekolah maupun kuliah, melalui berbagai macam pelajaran, tugas, dan project, kita dijejali nilai-nilai baik yang harus dijalani atau bahkan dipatuhi. Nilai-nilai tersebut bisa berupa ideologi, budaya, norma, serta aturan tertulis. Rentetan contohnya ya Pancasila, slogan Bhineka Tunggal Ika, budaya gotong royong, norma kesopanan timur, dan ajaran agama. Makin beranjak dewasa, kita pun makin mengenal nilai-nilai lainnya seperti kebebasan yang bertanggung jawab, kesetaraan gender, toleransi, dan lain-lain. Nggak sekedar dijejali, tapi kita juga diajarkan kalo nilai-nilai yang ditransmisikan selama proses pendidikan ditujukan buat kepentingan dan kemaslahatan bersama.

Nah, nilai yang bertujuan buat kemaslahatan bersama ini kemudian membentuk aturan main bersama. Wujudnya nggak sekedar aturan nggak tertulis seperti norma dan budaya, tapi juga aturan tertulis yaitu hukum yang berlaku. Contohnya yaitu peraturan sekolah, peraturan lalu-lintas, UUD 1945, dan segala peraturan perundangan yang berlaku. Nah, buat bisa patuh terhadap aturan main bersama, maka sebelumnya kita harus paham terlebih dahulu tentang hak dan kewajiban kita berdasarkan peran-peran yang kita jalani. Peran sebagai anak dalam keluarga, peran sebagai siswa atau mahasiswa, peran sebagai warga negara, peran sebagai manusia beragama, dan lain-lain. Selain itu, lewat pendidikan kita juga jadi paham pentingnya menghargai hak orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak banget contoh dari gagalnya pendidikan dalam fungsi kedua ini. Gogirl! mau ambil contoh yang Cania paparkan dalam videonya, yaitu bijak berkendara di lalu lintas. Kalo kita udah capek-capek sekolah dan kuliah, kita seharusnya paham bahwa aturan lalu lintas itu diciptakan buat menjaga ketertiban dan keamanan. So, kalo kita masih termasuk orang yang suka nerobos lampu merah atau berkendara di trotoar, sebaiknya renungin lagi deh apakah kita masih pantes disebut orang terpelajar. Contoh-contoh sederhana lainnya yaitu buang sampah pada tempatnya, membereskan sampah setelah menonton di bioskop, menumpuk piring bekas makan di restoran, nggak merokok di tempat umum, dan memberi tempat duduk prioritas di kendaraan umum.

 

3. MEMBANGUN JEJARING SOSIAL

Nah, fungsi terakhir inilah yang paling membedakan orang yang menjalani pendidikan lewat jalur sekolah formal dan non-formal seperti home schooling. Biarpun jejaring sosial bisa dibangun di mana pun dan dengan cara apa pun, tapi nggak ada jejaring sosial semasif dan seheterogen yang didapet dari jalur pendidikan formal. Soalnya, di sekolah dan kuliahlah kita ketemu ratusan bahkan ribuan orang sekaligus dalam satu periode pendidikan. Selain itu, di sekolah dan kuliah pula kita ketemu banyak organisasi, komunitas, dan perkumpulan dengan akses bergabung yang mudah dan semi-profesional. Nggak menutup kemungkinan, dari sekolah dan kuliah kita bakal ketemu orang yang bisa diajak kerja sama dengan membuat project bareng atau wirausaha bareng, sehingga impian di masa depan pun jadi lebih mudah dikerjakan bersama-sama. Bahkan, nggak menutup kemungkinan di sekolah dan kuliah kita juga ketemu orang-orang terpercaya yang bakal jadi sahabat kita seumur hidup.

So, kalo kita merasa ada banyak orang yang sekolah tinggi-tinggi tapi masih jadi pengangguran, coba kita renungi lagi. Dari ketiga fungsi tersebut, apakah ada yang nggak kita manfaatkan alias lewati begitu aja? Lagipula, di era modern seperti sekarang ini, informasi lowongan pekerjaan bertebaran di mana-mana. Kalaupun nggak berniat melamar pekerjaan, memulai pekerjaan sendiri jadi freelancer atau entrepreneur pun bisa. Di samping itu, memilih untuk ‘nganggur by choice’ dan memanfaatkan gap year juga kayaknya nggak masalah kalo pintar berkompromi dengan orang tua. Tentu aja selama apa yang dilakukan di masa gap year tersebut bisa bermanfaat buat diri sendiri.

 

 

BACA JUGA:

MASA DEPAN PENDIDIKAN DI TANGAN TEKNOLOGI DALAM JARINGAN

HARDIKNAS, APA KEBUTUHAN PENDIDIKAN KITA SEKARANG?

3 ALASAN PENTING KENAPA PEREMPUAN HARUS BERPENDIDIKAN

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
Photo by Vasily Koloda on Unsplash
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar