TES YUK, SEBERAPA OPEN MINDED-KAH KITA?

October 04, 2018

TES-YUK-SEBERAPA-OPEN-MINDED-KAH-KITA

 

Semakin bertambah dewasa, kita tentu makin sadar kalo kita butuh buat lebih berpikiran terbuka alias open minded. Berpikiran terbuka berarti nggak cuma berpegangan pada satu sudut pandang dan bersedia menerima gagasan di luar apa yang familiar buat kita. Dengan berpikiran terbuka, kita nggak akan termakan bias gagasan, pemikiran, atau argumentasi yang dipenuhi prasangka. Sebaliknya, kalo kita berpikiran tertutup, kita cenderung nggak bakalan bijak dalam menghadapi sesuatu atau memecahkan masalah. Soalnya, pikiran kita nggak bisa menerima gagasan dari luar, dan kita jadi tertutup terhadap kemungkinan adanya solusi lain dari masalah yang kita hadapi.

 

Nah, buat tahu apakah pikiran kita udah cukup terbuka, Gogirl! punya mini tes yang bisa kita terapkan terhadap diri sendiri. Gogirl! udah merangkum dari beberapa sumber, sebenernya untuk bisa berpikiran terbuka itu mudah bagi sebagian orang. Tapi, tentu aja nggak semudah membalikkan telapak tangan. Tiap-tiap diri kita tentu punya frame of reference (referensi pengetahuan) dan field of experience (pengalaman) yang berbeda-beda, yang berpengaruh terhadap cara kita berpikir dan cara kita memandang sesuatu. Siap? Cobain tesnya, yuk. Peraturannya gampang, kamu cukup ikuti renungkan enam poin mini tes di bawah ini:

 

TES 1: GENDER ITU NGGAK BINER

Salah satu cara mengetes apakah kita berpikiran terbuka atau nggak adalah dengan mengetes pengetahuan kita soal gender dan orientasi seksual. Coba renungkan beberapa hal ini; apakah kita yakin kalo gender itu cuma dua yakni laki-laki dan perempuan? Apakah menurut kita gender ketiga itu menyalahi ‘kodrat’? Apakah menurut kita perempuan itu harus lemah lembut dan laki-laki itu harus maskulin dan superior? Apakah kita menyetujui kalo pemerkosaan itu terjadi karena kesalahan korban? Apakah orientasi seksual sesama jenis itu merupakan suatu penyakit?

Dengan mengecek pandangan kita soal gender, kita bakal tahu gimana cara kita menanggapi perbedaan. Coba renungkan juga, apakah kita pernah mendiskriminasi orang-orang dengan orientasi seksual atau gender yang menurut kita ‘di luar kondisi umum’ (dengan nggak mau berteman dengan mereka, misalnya)? Apakah kita termakan stereotip negatif ketika melihat tetangga perempuan pulang ke rumah tengah malam (dengan menganggap mereka bukan perempuan baik-baik)? Apakah kita nge-judge negatif teman perempuan kita yang mengekspresikan penampilannya secara berbeda (dengan berpakaian mirip laki-laki, misalnya)?

 

TES 2: TUHAN MEMANG SATU, KITA YANG NGGAK SAMA

Cara lain yang tergolong mudah buat mengetes apakah kita berpikiran terbuka atau nggak adalah dengan membenturkan pandangan kita tentang ketuhanan dan agama. Banyak banget orang berpikiran tertutup yang menganggap ajaran agama mereka paling benar sementara agama yang lain salah. Banyak banget orang-orang yang menelan mentah-mentah satu sudut pandang ajaran agama atau ketuhanan, padahal setiap ajaran dalam agama aja dipandang berbeda-beda oleh ahlinya. Buktinya, satu agama saja bisa punya mazhab yang berbeda-beda. Setiap ayat suci dalam kitabnya pun punya tafsir yang berbeda-beda pula.

Buat mengetahuinya, coba deh renungkan; ketika kita memandang satu ajaran agama itu benar, apakah kita menganggap orang yang nggak menuruti ajaran tersebut sebagai orang-orang bersalah? Singkatnya, apakah kita pernah atau bahkan sering nge-judge apa yang seharusnya merupakan hak Tuhan buat nge-judge? Pernahkah kita berdialog dengan orang yang punya pandangan berbeda dengan kita soal ajaran agama? Pernahkah kita berdialog dengan orang yang nggak mempercayai agama atau bahkan nggak mempercayai Tuhan?

 

TES 3: EMANGNYA MORAL ITU APA, SIH?

Dalam tes ketiga, coba deh renungkan gimana cara kita memandang moral alias apa yang baik dan apa yang buruk. Orang yang berpikiran terbuka nggak bakal memandang moral sebagai sesuatu yang hitam putih, sebab setiap manusia itu abu-abu alias punya sisi lain yang nggak bisa kita judge begitu aja. Dalam gaya hidup misalnya, orang yang berpikiran terbuka akan memandang setiap orang punya gaya hidup berbeda tergantung apa yang mereka alami, baca, dengar, dan lihat dalam hidup. Perihal salah atau tidaknya gaya hidup tersebut, tergantung dengan seberapa objektif kita dalam memandangnya.

Tes sederhananya, coba deh kita renungkan; kalo kita bukan peminum alkohol atas dasar ajaran agama, apakah kita memandang orang yang meminum alkohol sebagai ‘orang yang nggak bener’? Kalo kita berprinsip ‘no sex before marriage’, apakah kita memandang orang yang udah melakukan hubungan seks sebelum menikah sebagai ‘orang yang nggak bermoral’? Kalo kita adalah tipe orang dengan gaya berpakaian atau preferensi fashion cenderung tertutup, apakah kita memandang orang dengan preferensi fashion serba terbuka (seksi, istilah singkatnya) sebagai ‘orang yang nggak tahu adat’?

 

TES 4: SEBERAPA IMAJINATIF KITA DALAM MEMANDANG SEGALA HAL?

Ciri-ciri orang berpikiran terbuka adalah, mereka nggak memandang segala sesuatu secara hitam putih doang. Mereka peka terhadap sisi abu-abu dalam hidup, dan setiap individu pasti memiliki sisi tersebut. Nah, gimana cara kita peka terhadap sisi abu-abu dalam diri manusia? Jawabannya adalah imajinasi. Kita harus mampu berimajinasi dan membayangkan kalo di balik satu perbuatan pasti ada penyebabnya. Misalnya, kita adalah orang yang nggak minum minuman beralkohol karena alasan agama. Tapi, kita tetep hang out sama temen-temen yang punya gaya hidup berbeda; nggak nge-judge mereka apalagi memusuhi mereka. Selain itu, imajinasi soal sisi abu-abu dalam diri manusia juga membuat kita mampu berempati terhadap siapa pun, lho. Gunanya, kita jadi beranggapan kalo setiap orang, penjahat sekali pun, berhak mendapatkan kesempatan buat menjadi orang yang lebih baik.

Tes sederhananya, coba deh kita renungkan; seandainya kita baru tahu fakta kalo ternyata sahabat kita mengidap penyakit HIV / AIDS, apa yang akan kita lakukan? Nge-judge mereka dengan stereotip penyebab HIV / AIDS adalah seks bebas, atau terbuka terhadap penjelasan soal penyebab apa pun yang bakal sahabat kita kasih tahu? Atau tes lainnya, seandainya kita adalah orang dengan orientasi seksual yang umum (menyukai lawan jenis), apa yang bakal kita lakukan seandainya di masa depan kita punya anak dengan orientasi seksual berbeda dengan kita?

 

TES 5: SEBERAPA OBJEKTIF KITA SEGALA HAL?

Nyambung dengan tes ketiga, cara kita memandang moral cenderung terpengaruhi oleh bias-bias tertentu kayak agama, lingkungan tempat kita tinggal, dan seksisme. Akibatnya, kita jadi menyandarkan fenomena atau kejadian yang kita alami atau amati berdasarkan sudut pandang yang cenderung subjektif. Ya emang sih, di satu sisi kita nggak mungkin bisa benar-benar objektif dalam memandang sesuatu, tapi seenggaknya kita bisa memandangnya seobjektif mungkin.

Buat ngetes seberapa objektif kita dalam memandang segala sesuatu, coba tes sederhana ini; ketika kita memandang sesuatu yang dilakukan orang lain itu salah, dasar apa yang kita lakukan? Apakah dasar yang kita gunakan itu merupakan sesuatu yang nggak bisa berlaku umum kayak ajaran agama yang kita anut atau pengalaman pribadi? Atau, kita menggunakan alasan yang bisa diterapkan oleh semua orang kayak kesehatan, peraturan negara, peraturan tertulis dan tidak tertulis daerah setempat, atau mengganggu hak orang lain?

 

BACA JUGA:

GINI CARANYA JADI CEWEK BERPIKIRAN MAJU DAN TERBUKA

GIMANA CARANYA BERSAHABAT DENGAN PEMIKIRAN ‘RADIKAL’ KITA?

5 MACEM PIKIRAN YANG BIKIN CEWEK SUSAH BUAT MAJU

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
Ali Yahya / Unsplash
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar