TERNYATA MASA KECIL MEMPENGARUHI HUBUNGAN KITA SEKARANG

August 10, 2018

TERNYATA-MASA-KECIL-MEMPENGARUHI-HUBUNGAN-KITA-SEKARANG

 

Buat yang lagi menjalani hubungan pacaran, tentu pernah atau bahkan sering menghadapi masalah. Masalah yang dihadapi bisa berasal dari pihak luar alias sisi eksternal atau berasal dari kita sendiri yang menjalani hubungan alias sisi internal. Masalah dari sisi internal ini bisa berupa ketidakcocokan sifat, adanya kebiasaan buruk, perbedaan karakter, bahkan perbedaan pandangan politik terhadap suatu isu atau fenomena. Tentu kita juga sadar betul kalo sisi internal sebenernya memengaruhi masalah-masalah yang berasal dari eksternal.

 

Nah, sisi internal ini juga memengaruhi gimana seseorang menjalin hubungan romantis dengan orang lain, yang dalam bahasa psikologi disebut ‘significant other’nya. Ternyata, cara seseorang menjalin hubungan dipengaruhi oleh masa kecilnya. Psikolog John Bowlby dan Mary Ainswroth merumuskan ini lewat penelitian mereka sejak akhir 1950-an. Dari penelitian tersebut mereka mencetuskan teori attachment. Dalam teori itu, mereka menjelaskan kalo hubungan antara manusia dan pengasuhnya (orang yang pertama berinteraksi dengannya; keluarga) memengaruhi gimana manusia tersebut menjalin hubungan di usia dewasa.

Dalam penelitian tersebut, Bowlby dan Ainsworth merumuskan terdapat empat tipe attachment manusia, yaitu secure attachment, anxious-avoidant attachment, anxious-preoccupied, dan disorganized attachment. Perumusan ini diambil dari penelitian Ainsworth dan tim periset terhadap ratusan bayi dan balita dengan menempatkan mereka ke kondisi yang disebut “situasi asing”. Situasi asing ini melibatkan bayi, orangtua (ibu), dan orang asing. Eksperimennya dilakukan dengan cara meninggalkan bayi bersama orang asing dan melihat gimana reaksi si bayi saat ditinggalkan dan saat orang tuanya kembali.

 

SECURE ATTACHMENT

 

TERNYATA-MASA-KECIL-MEMPENGARUHI-HUBUNGAN-KITA-SEKARANG

Dalam eksperimen Ainsworth, bayi dengan secure attachment cuma bakal merasa sedikit kecewa saat ditinggal orang tuanya, tapi kembali nyaman saat orangtuanya kembali. Orangtua seorang bayi dengan secure attachment membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Beranjak kanak-kanak dan remaja, orangtua memberi kebebasan dan kepercayaan terhadap anaknya sambil tetap menyediakan kenyamanan. Hubungan orangtua dan anak cenderung sangat dekat dan saling terbuka, itulah kenapa orangtua nggak pernah memanjakan maupun mengekang sang anak. Hingga anak beranjak dewasa, dia jadi merasa aman dan dipercaya, karena orang tuanya selalu ada buat mendukungnya.

Dalam hubungan orang dewasa, orang dengan secure attachment bakal memperlakukan pasangannya sebagai individu yang bebas tetapi bertanggung jawab. Dia bakal jadi orang yang terbuka, nggak posesif, selalu mendukung, nggak segan memberi saran dan kritik, dan cenderung percaya penuh sama pasangannya. Ketika ada masalah dengan hubungan mereka, dia bakal jadi orang yang sabar dan berusaha menyelesaikan masalah dengan berdialog. Buat dia, kedekatan alias intimacy tiap individu dalam hubungan sangat penting, karena itulah yang bisa membangun kepercayaan satu sama lain.

 

ANXIOUS-AVOIDANT

 

TERNYATA-MASA-KECIL-MEMPENGARUHI-HUBUNGAN-KITA-SEKARANG

Berkebalikan dengan secure, anxious-avoidant termasuk tipe attachment yang insecure. Dalam penelitian Ainsworth, bayi dengan anxious-avoidant attachment cenderung bodo amat sama orang tuanya. Pas ditinggal, si bayi nggak merasa kehilangan orang tuanya, dan pas kembali pun reaksinya tetep sama aja. Beranjak kanak-kanak sampai remaja, orang tuanya cenderung nggak memberi afeksi lebih terhadap si anak. Nggak ada sambutan hangat tiap kali anak pulang ke rumah, nggak ada ajakan antusias buat liburan bersama, nggak ada reaksi berlebihan saat anaknya menerima prestasi atau penghargaan. Bukannya nggak sayang dan cuek, tapi orang tuanya ini cenderung nggak tahu gimana cara mengekspresikan rasa sayangnya. Di balik itu, orangtua bisa jadi menyimpan rasa bangga yang terpendam.

Dalam hubungan orang dewasa, orang dengan anxious avoidant attachment tumbuh jadi seseorang yang kelewat independen. Dia seperti nggak butuh bantuan orang lain dan takut menjalin hubungan dekat sama orang lain. Dia susah banget buat bisa terbuka ke pasangannya, karena dia takut bakal jadi ketergantungan. Di satu sisi, dia takut kehilangan pasangannya, tapi di sisi lain dia takut menjalin intimacy lebih karena nggak mau ujung-ujungnya jadi pihak yang tersakiti. Dia juga bukan orang yang pandai mengekspresikan rasa sayangnya ke pasangan, itulah kenapa dia cenderung lebih sering memendam kekesalan, kekecewaan, bahkan kebahagiaan di hadapan pasangannya. Biar pun begini, bukan berarti dia adalah orang yang pemalu atau introvert, lho. Dari luar, dia bisa aja seseorang yang humoris, ekspresif, supel, dan punya banyak teman. Tapi, di balik itu dia kesulitan menjalin hubungan yang lebih intim dengan orang lain.

 

ANXIOUS-PREOCCUPIED

TERNYATA-MASA-KECIL-MEMPENGARUHI-HUBUNGAN-KITA-SEKARANG

Anxious-preoccupied juga termasuk tipe attachment yang insecure. Dalam penelitian Ainsworth, bayi dengan anxious-avoidant atau disebut juga dengan ressistance bakal bereaksi berlebihan ketika ditinggal orang tuanya, entah itu nangis atau ngambek. Pas orang tuanya kembali, dia bakal tetep ngambek dan lama buat merasa kembali nyaman, soalnya orang tuanya juga nggak tahu gimana cara menenangkan si anak. Beranjak kanak-kanak hingga remaja, orangtua dengan attachment ini nggak selalu ada buat anaknya. orangtua kadang penuh kasih sayang, kadang over-protective, kadang memarahi anak habis-habisan. Intinya, anak nggak punya intimacy yang kuat sama orang tuanya, meskipun secara rutinitas mereka cenderung dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Mereka nggak seterbuka itu satu sama lain.

Dalam hubungan orang dewasa, orang dengan anxious-preoccupied attachment cenderung punya ketergantungan sama pasangannya. Dia sering merasa insecure dengan rasa sayang pasangannya, seolah-olah rasa sayang itu harus selalu dibuktikan lewat tindakan. Biasanya dia sangat terbuai sama masa-masa awal pacaran yang penuh debar dan kebahagiaan, dan bakal merasa pasangannya ‘berubah’ saat hubungan mereka mulai menjadi kebiasaan alias rutinitas. Dia selalu pengen pasangannya memperlakukan dia sesuai sama apa yang dia mau. Selain itu, dia juga cenderung cemburuan sama apa pun dan siapa pun yang membuat dia merasa pasangannya mengalihkan perhatian darinya. Saat ada masalah dengan hubungan mereka, dia cenderung menyalahkan diri sendiri dan mempertanyakan apa yang membuat pasangannya berubah.

 

DISORGANIZED

TERNYATA-MASA-KECIL-MEMPENGARUHI-HUBUNGAN-KITA-SEKARANG

Terakhir, disorganized adalah tipe insecure attachment yang paling parah. Anak dengan disorganized attachment tinggal dan dibesarkan sama orangtua dengan latar belakang ekstrim. Ada orangtua yang sering melakukan kekerasan, orangtua pecandu narkoba, orangtua pemabuk berat, atau bahkan melakukan kekerasan seksual terhadap anaknya. Intinya, orangtua sama sekali nggak memperlihatkan kasih sayang kepada anaknya, atau bahkan malah nggak punya rasa sayang itu sendiri. Anak bukan lagi nggak tahu cara mengekspresikan kasih sayang, bahkan dia nggak tahu apa itu kasih sayang. Ciri-ciri anak dengan disorganized attachment udah kelihatan sejak dia beranjak kanak-kanak hingga remaja.

Di usia dewasa, dia punya trauma berat terhadap masa kecilnya. Bisa jadi, kalo nggak melewati masa perkembangan yang tepat, dia tumbuh jadi perpanjangan tangan orang tuanya. Dia bakal jadi orang yang mudah melakukan kekerasan, nggak percaya sama kasih sayang, dan memperlakukan orang lain dengan cara yang salah. Itulah kenapa orang dengan disorganized attachment butuh sosok lain buat mengenalkan kasih sayang kepadanya seiring dia bertambah dewasa.

So, udah tahu belum tipe attachment yang mana kita? Perlu diketahui juga, manusia juga masih bisa berubah. Seiring bertumbuh dewasa, seseorang pasti bertemu sosok-sosok lain, orang lain, atau bahkan pasangan dengan jenis attachment berbeda yang bisa jadi mengubah atau melunakkan attachmentnya sendiri. Teori attachment ini pun kemudian berkembang menjadi bentuk spektrum, dengan skala secure hingga insecure, sehingga nggak lagi terkotak-kotakkan dalam empat kategori di atas. Well, semoga pengetahuan tentang teori attachment ini membukakan pikiran dan jadi bahan perenungan kita, ya!

 

BACA JUGA:

PACAR NGGAK PENGERTIAN? MUNGKIN BAHASA SAYANG KITA BERBEDA

CERITA KORBAN KEKERASAN PACARAN DAN ALASANNYA SULIT MELEPASKAN DIRI

PACARAN LAMA, HARUSKAH DIPERTAHANKAN CUMA KARENA TERBIASA?

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
Photo by Sai De Silva on Unsplash
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar