TAKUT DITINGGAL ATAU DIABAIKAN? GINI CARA KITA MENGATASINYA

August 07, 2018

TAKUT-DITINGGAL-ATAU-DIABAIKAN-GINI-CARA-KITA-MENGATASINYA

 

Takut kehilangan orang yang kita sayang adalah perasaan yang wajar. Namun ketika perasaan tersebut udah berubah menjadi rasa takut ditinggal atau diabaikan yang berlebihan (biasa dikenal juga sebagai fear of abandonment), well, berarti mungkin ada yang salah dengan diri kita guys. Misalnya aja, kita terus-terusan merasa khawatir nggak bakal ada yang mau temenan lagi sama kita kalo kita menunjukkan jati diri kita yang sebenernya. Atau kita merasa insecure banget dalam hubungan dengan pacar sehingga kita rela melakukan apapun demi nggak diputusin – karena kita takut nggak bakal ada yang mau lagi sama kita selain dia. Kalo kamu merasa relate dengan perasaan ini, then you should probably read this!

 

THE REASON BEHIND FEAR OF ABANDONMENT

Takut ditinggal oleh anggota keluarga, temen, atau pada kebanyakan kasus pasangan biasanya terjadi karena kita emang punya pengalaman ditinggal atau diabaikan oleh orang terdekat kita sebelumnya. Tepatnya dikutip dari GoodTheraphy, perasaan ini seringkali berawal dari pengalaman kehilangan kita di masa kanak-kanak – entah kita bener-bener ditinggal oleh orangtua karena mereka bercerai, meninggal, ataupun alesan-alesan lainnya, atau ‘diabaikan’ dalam artian kita nggak mendapat perhatian fisik dan emosional yang cukup dari mereka. Namun kita yang nggak mengalami kehilangan di masa kecil juga tetep bisa merasakan rasa takut yang sama ketika udah dewasa, terutama ketika kita berpisah dengan orang tersayang karena alesan nggak mengenakkan yang berakhir menjadi trauma. Misalnya aja kita berpisah dengan pasangan yang berselingkuh atau salah seorang anggota keluarga kita meninggal secara tiba-tiba.

Apapun alesannya, fear of abandonment punya dampak yang besar banget terhadap diri kita dan hubungan-hubungan yang bakal kita jalin ke depannya. Selain  self-esteem yang rendah, mood swings, kecemasan (anxiety), depresi, dan kemungkinan masalah-masalah emosional dan mental lainnya, kita yang punya pengalaman ditinggal atau diabaikan sebelumnya (terutama pada masa kanak-kanak) juga punya kecenderungan untuk bertemu dengan pasangan yang memperlakukan kita dengan cara serupa. Mungkin terkesan nggak adil, but this can lead to a cycle of abandonment that may be difficult to get out of.

 

SIGNS ABANDONMENT MAY BE AFFECTING OUR RELATIONSHIP

  • Kita punya rasa percaya diri dan self-esteem yang rendah
  • Kita merasa nggak pantes dicintai
  • Kita terlalu banyak memberi atau adalah seorang “people pleaser”, di mana kita kelewat memperdulikan orang lain dan malah lupa sama perasaan dan diri kita sendiri
  • Kita iri dengan hubungan orang lain
  • Kita gampang merasa cemburu
  • Kita mengalami trust issue alias susah banget percaya sama orang lain
  • Kita terus-terusan merasa insecure dalam sebuah hubungan
  • Kita merasa harus punya kontrol dalam hubungan yang lagi kita jalani
  • Kita seringkali punya pikiran kalo orang-orang yang kita sayang bakal nerakhir meninggalkan kita
  • Kita cenderung bergantung pada orang lain dan karenanya merasa sulit menghadapi dunia sendirian. Khususnya dalam hubungan asmara, kita bakal segera mencari pasangan pengganti begitu berpisah dengan pasangan sebelumnya
  • Kita berusaha bertahan bahkan dalam hubungan yang nggak sehat, dll.

PS: Hubungan yang dimaksud di sini bukan sebatas hubungan romantis kok, tapi bisa juga hubungan antara kita dan temen, sahabat, anggota keluarga, dan orang-orang terdekat lainnya.

 

HOW TO HANDLE FEAR OF ABANDONMENT

  1. Recognize that we are worthy of love. Percaya deh, bukan salah kita kok kalo ada orang tersayang yang memutuskan buat meninggalkan atau mengabaikan kita. Seandainya kita berperan terhadap keputusannya pun bukan berarti kita nggak pantes buat mendapat kasih sayang dari orang lain. Everyone deserves to be loved, nggak terkecuali kita, dan kita harus aware soal fakta ini.
  2. Understand your fear. Untuk menyelesaikan sebuah masalah, kita harus terlebih dahulu mengetahui penyebabnya, ya nggak? Jadi coba deh identifikasi apa alesan di balik rasa takut kita, kemudian sadari kalo nggak semua orang bakal berakhir meninggalkan atau mengabaikan kita seperti kejadian yang udah lalu – walaupun nggak menutup kemungkinan hal yang sama juga bisa kembali terjadi ke depannya. Selain itu dengan aware terhadap rasa takut kita, semoga aja kita bakal sadar kalo perasaan ini sama sekali nggak menguntungkan dan karenanya memotivasi kita buat cepet move on
  3. Become emotionally self-reliant. Sadar nggak kalo kita nggak bakal bisa lepas dari rasa takut ditinggal atau diabaikan selama kita masih kelewat bergantung pada orang lain? Bukan berarti kita sama sekali nggak boleh membagi beban kita dengan orang terdekat ya, hanya aja kita harus berhenti memandang mereka sebagai solusi dari segala masalah yang kita hadapi dan belajar buat lebih mengandalkan diri kita sendiri. Jadilah pribadi yang mandiri, baik secara fisik maupun emosional, karena pada akhirnya satu-satunya orang yang bisa kita andalkan di dunia emang cuma diri kita sendiri.

Baca juga: GIMANA CARANYA MENJADI SAHABAT BUAT DIRI KITA SENDIRI?

  1. Accept the idea of being alone. Nggak bisa dipungkiri kalo hubungan kita dengan orang lain adalah bagian dari hidup kita, namun hubungan tersebut nggak seharusnya menjadi satu-satunya hal yang mendefinisikan diri kita. Terus kenapa kalo kita nggak punya mama, papa, pacar, pasangan, sahabat, atau orang-orang terdekat lainnya yang dimiliki oleh kebanyakan orang? Inget kalo bahkan ketika semua orang berpaling dari kita, kita masih punya diri kita sendiri dan tuhan, ya nggak? It’s really okay to be alone. We don’t need another person in our life to be a person of value – walaupun bukan berarti kita harus menutup diri dari orang-orang yang bener-bener sayang dan peduli sama kita.
  2. Accept that some level of fear may always exist. Pada akhirnya menghilangkan rasa takut dalam diri kita sepenuhnya adalah keinginan yang mustahil, because fear makes us human. Kabar baiknya, walaupun kita nggak bisa mengeleminasinya seutuhnya, kita tetep bisa mengontrolnya kok! Jadi coba buat lebih aware lagi deh kapan rasa takut kita masih berada di dalam batas wajar dan kapan rasa takut kita udah mulai berlebihan.

 

Baca juga:

Written by Tsana Garini Sudradjat
Photo Source:
Bay Area, Pixabay
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar