BEGINI CARA YANG BENER NERIMA DAN NGASIH KRITIKAN

December 06, 2018

TAKE-AND-GIVE-CRITICS-WISELY

 

Kebanyakan orang pasti lebih seneng menerima pujian daripada kritikan. Padahal kritikan itu lebih bermanfaat lho. Manis jangan langsung ditelan, pahit jangan langsung dibuang. Pepatah kuno itu cocok banget untuk menggambarkan kritik. Di satu sisi emang nyesek banget kalo dikritik orang. Selain bikin kuping panas, martabat dan harga diri pun terluka (duuuh, mellow banget!). Belum lagi PD yang langsung anjlok ke titik minus setelah denger aib kita dibongkar orang. Di sisi lain, sebenarnya kita butuh kritik supaya bisa berkembang. Lain lagi dengan apa yang Pak Donald Rumsfeld (mantan menteri pertahanan Amerika Serikat) bilang, “If you not be criticized, you may not be doing much”.

 

 

Mungkin maksudnya, kalo kita belum dikritik, itu tandanya kita emang belum menghasilkan apa-apa. Be happy if you are criticized. Bagaimanapun bentuknya, kritik merupakan respon dari apa yang udah kita lakukan, semakin banyak kritikan yang masuk, harus semakin baik pula cara kitamenghadapinya. Gimana cara yang benar menghadapi kritik? Gimana juga cara yang enak memberi kritik? These are things you need to know about taking and giving critics…

 

1. DON’T BE TOO DEFENSIVE

Alaminya, setiap orang akan langsung bertahan kalo merasa diserang. Kebanyakan orang yang dikritik menganggap mereka lagi “diserang” karena kritik adalah bentuk dari ketidaksepahaman. That’s why mereka bakal repot mencari alasan untuk membela diri. Bahkan ada yang sambil marah-marah karena nggak terima. Well, don’t do that. Don’t make excuses, don’t be angry, don’t over re-act! Tunjukkin bahwa kita cukup berjiwa besar untuk menerima segala jenis kritik dengan lapang dada (bahkan kritik paling pedas yang destruktif sekalipun!). Rendahkan ego, tingkatkan kesabaran, buka kuping dan hati lebar-lebar. Oh ya, senyum atau tertawa bisa dijadikan respon yang paling baik saat kita sedang dikritik.

 

2. LOOK AT THE SOURCES

Nah, yang ini nggak kalah pentingnya. Jangan langsung telan mentah-mentah kritik yang kita terima. Liat dulu dari siapa dan apa isi kritik itu. Pertimbangkan, apakah kritiknya punya dasar, apakah orang itu emang berkompeten untuk mengkritik, atau sekedar mau ngejatuhin motivasi kita? One thing we should remember, manusia tidak dilahirkan dengan kemampuan menilai. Omongan para kritikus bisa “diangap” karena mereka punya knowledge dan experinces. However, mereka juga manusia yang bisa salah. Jadi kalo orang yang mengkritik kita nggak punya alasan dan dasar yang kuat, sah-sah aja kita menilai omongan dia cuma sekedar opini. Tapi jangan anggap remeh juga lho. Jadikan semua kritik sebagai masukan yang berarti.

 

3. ASK THE DETAILS

Kalo poin nomor dua udah kita lakuin, don’t hesitate to ask the additional informations dari orang yang mengkritik. Kalo dia beneran tulus mengkritik untuk bikin kita jadi lebih baik, dia pasti bisa memberikan ide, saran, dan masukan untuk memperbaiki kesalahan kita. Berikan dasar kalo kurang setuju dengan kritiknya. Dengan begitu, kita tau betul apa yang harus kita perbaiki. Kritik membangun sama aja kayak mata pelajaran. Harus mendidik dan bener-bener dimengerti.

 

4. SECOND OPINION

Masih ragu tentang kritik yang kita terima? Cari second opinion dari orang-orang terdekat. Nggak usah bingung dengan makin banyaknya suara yang harus didenger. Semakin banyak masukan, semakin banyak pula pertimbangannya. Pada akhirnya, kita sendiri yang memilih apa yang harus kita lakukan. Introspeksi makin efektif dan perkembangan kita pun makin terasa.

 

5. DON’T MAKE IT BURDEN

Kritik udah pasti jadi bahan pikiran. Tapi jangan sampe hal itu bikin semangat kita jadi drop. Kritik itu kayak obat. Makin pahit makin manjur. Jadi bukan masalah gimana bentuk kritiknya, tapi gimana kita menyikapinya. Kalo setelah dikritik kitanya cuma duduk merenungi nasib tanpa meperbaiki apa-apa (baca: nggak introspeksi), kita nggak akan berkembang sebagai manusia. Bayangin nggak sih kalo para film-maker berhenti berkarya karena merasa stress setiap dikritik media? Pasti nggak bakal ada nama-nama sekelas Steven Spielberg atau Martin Scorsese.

 

Lain dikritik, lain lagi mengkritik. As we know, walau lebih bermanfaat dibanding pujian, menerima kritik nggak pernah mudah. Perhatiin tips di bawah supaya kritik kita enak diterima.

 

TAKE-AND-GIVE-CRITICS-WISELY

 

1. PERFECT TIMING

Tunggu situasi yang tepat untuk menyampaikan kritik. Misalnya, setelah mengalami kekalahan dalam tanding basket, kita mau mengkritik salah satu teman tim yang bermain kurang oke. Nggak wise kalo langsung mengkritiknya setelah keluar lapangan. Kekalahan aja udah sulit diterima. Jangan tambah bebannya dengan memberikan kritik. Bukannya didengerin, kita malah bisa berantem. Saat latihan berikutnya atau saat rapat evaluasi bisa jadi momen yang pas untuk menyampaikan kritik.

 

2. EMPAT MATA

Bukan “kembali ke lap top”-nya Mas Tukul itu lho! Tapi sampaein kritik secara pribadi. Menurut Dale Carneglie, pakar hubungan interpersonal Amerika Serikat, melukai martabat seseorang adalah kejahatan walau yang disampein adalah hal yang benar, selamatkan harga diri sasaran kritik kita dengan tidak mengkritiknya di depan umum.

 

3. SISIPKAN PUJIAN

Tunjukkan sedikit simpati dengan menghargai usahanya. Beri pujian atas apa yang udah dilakukannya. Selain merasa dihargai, dia kan lebih mudah menerima kritikan. Buat dia berpikir kalo kita nggak hanya memperhatikan kesalahannya, tapi juga kerja kerasnya.

 

4. PILIH KALIMAT

Kritik termasuk hal yang sensitif. So, lebih hati-hati yang dalam menyampaikannya. Kita harus tahu juga kayak apa sifat target kritik kita itu. Kalo sifatnya temperamental, udah pasti kata-kata harus dijaga dan dipikirin banget. Tapi kalo orangnya easy going, kita bisa lebih santai walau tetap harus pinter-pinter jaga ucapan.

 

5. ARE YOU A GOOD SOURCE?

Sama kayak poin “Look at the sources”, orang bakal lebih meneriman kritikan kita kalo kita dianggap kompeten. Caranya, bandingkan kesalahannya dengan kesalahan kita. Tunjukin bahwa kita nggak sekedar mengkritik. Mungkin kita pernah melakukan kesalahan yang mirip dengannya dan udah nemuin jalan keluar yang tepat. Nggak ada contoh yang lebih akurat selain pengalaman pribadi kan?

 

 

Written by Ika Virgianaputri, rewritten by Ayudya Annisa
Photo Source:
shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar