SUKA NGOMONG SENDIRI? TENANG, ITU NORMAL KOK!

August 02, 2018

SUKA-NGOMONG-SENDIRI-TENANG-ITU-NORMAL-KOK

 

Siapa di sini yang merasa pernah atau bahkan suka ngomong sendiri? Ngomong sendiri di sini maksudnya bukan sekedar self-talk di dalam hati, tapi bener-bener diucapkan oleh mulut kita. Mirip sama adegan ngomong sendiri di sinetron atau FTV yang dilakukan sama tokoh antagonisnya, deh! Well, jangan merasa aneh, lebay, apalagi gila sama kebiasaan unik yang satu ini, ya! Soalnya, menurut sebuah penelitian dalam Journal of Experimental Psychology, stimulasi verbal itu mengubah pemrosesan perseptual yang sedang berlangsung. Itu artinya, ngomong sendiri berarti membantu kita menerjemahkan objek yang ada di pikiran kita. Nah, dari konsep inilah kita jadi tahu kalo ngomong sendiri ternyata bermanfaat buat diri kita. Gogirl! merangkum, ada lima manfaat yang bisa kita rasakan dari kebiasaan ngomong sendiri.

 

MEMBANTU MENGATUR PIKIRAN KITA SENDIRI

Setiap saat otak kita bekerja tiada henti, dan berbagai pikiran pun keluar-masuk tanpa permisi. Tanpa kita sadari, ngomong sendiri menjadi cara buat mengatur pikiran kita yang nggak beraturan. Dengan berbicara, kita melibatkan bahasa yang berarti jadi medium buat menyampaikan isi pikiran kita. Jangan pikir menyampaikan isi pikiran secara verbal hanya bisa dilakukan ke orang lain lho, ya. Ini juga bisa kita lakukan ke diri kita sendiri dengan tujuan  memfokuskan arah pikiran kita. Misalnya, kita berencana pergi liburan pada tanggal tertentu tapi tiba-tiba kita dapet pengumuman wawancara kerja di tanggal yang sama. Dengan membicarakan keras-keras ke diri sendiri saat mempertimbangkan keduanya, kita membantu otak bekerja dengan lebih efektif karena pikiran kiat jadi fokus terhadap permasalahan. Misalnya kita berujar, “Kalo aku batalkan tiket liburan, aku dapet reimburse senilai sekian rupiah dan baru bisa cair tanggal sekian. Kalo aku nggak dateng wawancara kerja, aku masih punya list tunggu lamaran kerja di perusahaan A, B, C, D” di tengah kebingungan.

 

MENGURANGI KECEMASAN PERASAAN

Sadar nggak sih, dengan ngomong sendiri kita lagi belajar buat mengekspresikan emosi kita? Kalo emosi kita lagi bener-bener negatif, ngomong sendiri bisa jadi cara buat mengurangi rasa cemas atau amarah. Dengan mengujarkan keras-keras apa yang kita rasakan, kita udah berkomitmen buat nggak memendam emosi kita di dalam hati aja. Soalnya, biasanya dalam keadaan emosi negatif kayak marah, kecewa, atau sedih, jarang banget kita bisa berpikir jernih. Bahkan, sering juga kita nggak begitu paham dengan apa yang kita rasakan. Itulah kenapa mengucapkannya untuk didengar sendiri membantu kita mengurai perasaan kita. Misalnya, ketika kecerobohan kita memengaruhi kinerja dan semangat, kita bisa berujar, “Sumpah aku sebel banget sama diri sendiri. Kenapa sih aku harus ceroboh, kalo nggak ceroboh kan aku bisa melakukan A, B, dan C dengan efektif hari ini! Kapan sih aku bisa menghilangkan sifat ceroboh ini?”

 

MEMBANTU LEBIH MENGINGAT SESUATU

Inget nggak, waktu kecil pas belajar membaca, kita mengucap keras-keras abjad dari A sampai Z? Bahkan ada lagu tentang abjad buat membantu kita mengingat huruf-huruf dalam abjad tersebut. Beranjak SD, kita pun sering mengucapkan keras-keras saat lagi belajar buat ujian, terutama di pelajaran-pelajaran yang mengandung hapalan. Yakin deh, di antara kita nggak mungkin ada yang menghafalkan Pancasila dan Pembukaan UUD 45 tanpa dilafalkan! Sebenernya, saat kita berbicara pada diri sendiri, ada sensor otak yang terangsang yaitu bagian memori. Perangsangan memori ini pada intinya terjadi karena rangsangan suara alias auditori. Karena yang tahu apa yang pengen kita inget cuma diri kita sendiri, maka ngomong sendiri pun jadi satu-satunya pilihan.

 

JADI LEBIH EFEKTIF MELAKUKAN SESUATU

Pernah mencoba mengucapkan apa yang lagi kita lakukan? Sadar atau nggak, mengucapkan apa yang lagi kita lakukan fungsinya sama seperti mengatur pikiran, alias membuat kita lebih fokus terhadap sesuatu. Karena lebih fokus dalam melakukan sesuatu, maka pekerjaan yang kita lakukan pun jadi lebih efektif. Contoh simpelinya, ketika kita lagi masak makanan yang belum pernah kita coba buat sebelumnya. Sambil masak, kita ucapkan apa-apa aja yang kita lakukan, mirip seperti apa yang dilakukan koki-koki di televisi. Bedanya, pas kita masak nggak ada satu kamera pun yang merekam. Pas lagi memotong bawang, kita berujar, “Bawangnya dipotong tipis-tipis buat ditumis di awal pake margarin.” Atau, pas kita lagi main game, kita ucapkan misi-misi yang lagi kita lakukan saat bermain. Contoh sederhana lainnya adalah berujar iseng, “Sumpah aku kebelet pipis!” sambil berjalan menuju toilet.

 

MEMOTIVASI DIRI DENGAN LEBIH BAIK

Seberapa sering kita berusaha memotivasi diri sendiri dengan kata-kata baik? Oh, no, ralat. Seberapa sering kita berusaha memotivasi diri sendiri dengan cara mengucapkan kata-kata baik? Literally diucapkan oleh mulut dan didengar oleh telinga sendiri gitu. Hayo, seberapa sering? Percaya atau nggak, memotivasi diri sendiri dengan keras bisa lebih efektif menyuntikkan hal-hal positif ke pikiran kita. Alasannya, mengucapkan motivasi ke diri sendiri keras-keras membuat kita merasa seolah-olah ada orang lain yang memotivasi kita. Misalnya, di saat kita punya kerjaan yang super banyak tapi dihimpit deadline yang cukup sempit, semangat kita tentu nggak bakal selalu on. Distraksi eksternal dan internal kadang bikin cara kerja kita melambat di tengah-tengah. Dengan berujar, “Ayo semangat! Aku pasti bisa!” ke diri sendiri, tanpa sadar kita bakal merasa lebih termotivasi.

 

BACA JUGA:

MENGUJI SEBERAPA SAYANG KITA SAMA DIRI SENDIRI

7 HAL YANG HARUS KITA UCAPIN KE DIRI SENDIRI

MUJI DIRI SENDIRI ITU PENTING LHO, 3 HAL INI ALASANNYA!

 

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
catholicsingles.com
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar