SERING KALAH DEBAT? PELAJARI CARA BERAGUMEN DARI SI PERSUASIF INI

May 28, 2018

SELALU-KALAH-DEBAT-PELAJARI-CARA-BERAGUMEN-DARI-PARA-PERSUASIF-INI

 

Perdebatan adalah sesuatu yang nggak bisa kita hindari dalam hidup. Mulai dari argumen kecil dengan orangtua, temen, atau pacar, diskusi kerja kelompok di sekolah, sampe perang komen di media sosial. Kita bakal selalu menghadapinya karena manusia nggak mungkin selalu satu pikiran. Terus gimana sih caranya biar kita bisa berargumen dengan baik, and even better kalo lawan bicara bisa memahami dan menerima pendapat kita? Yuk belajar soal kebiasaan orang persuasif langsung dari ahlinya!

 

1. TUJUAN KITA BERARGUEMEN ADALAH LEBIH MEMAHAMI PERSPEKTIF LAWAN BICARA

SELALU-KALAH-DEBAT-PELAJARI-CARA-BERAGUMEN-DARI-PARA-PERSUASIF-INI


Kita seringkali punya pemahaman yang salah kalo tujuan dari berargumen adalah untuk memenangkannya – buat menunjukkan ke lawan bicara kalo cara berpikir dan pendapat kitalah yang paling bener. Padahal menurut terapis Marissa Nelson, tujuan dari argumen seharusnya adalah untuk lebih memahami sudut pandang satu sama lain. “People who argue successfully focus on how to solve the problem and tackle the issue, not beat the other person,” kata Nelson. Pembicara yang persuasif juga paham kalo lawan bicaranya punya kebutuhan dan tujuan tersendiri yang pengen dicapai dari argumen tersebut, makanya dia bakal mengajukan banyak pertanyaan buat lebih memahaminya. Ketika kita berhasil menangkap tujuan lawan bicara dan bisa mempertemukannya dengan tujuan kita, argumen tersebut bahkan bisa berubah menjadi a problem solving discussion yang jauh lebih bermanfaat daripada sekedar adu pendapat.

 

2. GUNAKAN KALIMAT TO THE POINT YANG NGGAK AMBIGU

SELALU-KALAH-DEBAT-PELAJARI-CARA-BERAGUMEN-DARI-PARA-PERSUASIF-INI


Siapa nih yang seringkali ngomong ngalor ngidul, muter-muter, bahkan “ngode” ketika menyampaikan pendapat? Mungkin kita nggak pede dengan argumen kita atau kita lagi berusaha buat nggak menyinggung perasaan lawan bicara. Tapi gimana caranya mereka bisa paham apa yang berusaha kita sampaikan kalo kita nggak menyatakannya dengan jelas? Seperti kata terapis Susan Pease Gadoau, “Successful arguers tell the whole truth and user very direct language”. Dengan begini, lawan bicara kita bisa mendapat gambaran yang lebih jelas soal apa yang ada di kepala kita dan bakal lebih kecil juga kemungkinan terjadinya kesalahpahaman.

Kalo kita takut to the point malah bakal memicu konflik, baca juga deh: 6 CARA BERADU ARGUMEN YANG NGGAK NIMBULIN KONFLIK

 

3. HINDARI MENJAWAB PERNYATAAN LAWAN BICARA DENGAN “TAPI”

SELALU-KALAH-DEBAT-PELAJARI-CARA-BERAGUMEN-DARI-PARA-PERSUASIF-INI


Nah
, kebiasaan satu ini nih yang mungkin sering kita lakuin dan harus segera kita ubah. Jangan melanjutkan atau menjawab pernyataan lawan bicara kita dengan kata “tapi”. Menurut Jay Sullivan, penulis buku Simply Said: Communicating Better at Work and Beyond, satu kata ini menunjukkan kalo kita nggak peduli dengan posisi dan apa yang baru aja disampaikan oleh lawan bicara kita. Instead, coba deh ganti kata “tapi” dengan “dan”. Misalnya aja daripada bilang, “Tapi bukannya lebih baik gini ya?” kita bisa menggantinya dengan, “Gue sebenernya setuju sama pendapat lo dan kalo gue boleh nambahin..“. Gimana, sounds better? Hindari juga menggunakan kata-kata yang terkesan menyalahkan kayak, “Ya nggak gitu dong” atau “Cara berpikir lo salah sih”, karena siapa juga kita yang sok-sok menghakimi? Apa lagi kalo kita sampe memotong kalimat lawan bicara di tengah jalan. It’s a big NO. Hargailah hak mereka buat berpendapat, sebagaimana kita mau dihargai ketika lagi berpendapat.

 

4. FOKUS MENDENGARKAN, BUKAN MEMBUJUK

SELALU-KALAH-DEBAT-PELAJARI-CARA-BERAGUMEN-DARI-PARA-PERSUASIF-INI


Masih mengutip Sullivan, “Understanding the other person is the key to turning arguments into discussions”. Makanya ketika berargumen, daripada melontarkan pertanyaan yang menjebak atau memojokkan lawan bicara dengan tujuan membujuk mereka dan orang lain buat setuju dengan pendapat kita, awalilah pertanyaan kita dengan kata “kenapa”, “apa”, dan “bagaimana” yang mendorong lawan bicara buat menjelaskan. Dengan begitu, mau nggak mau kita harus mendengar dan berusaha memahami sudut pandang mereka. Intinya: fokuslah mendengar, bukan membujuk. Karena inget poin pertama kalo tujuan dari argumen yang baik adalah untuk memahami satu sama lain dan menemukan solusi buat  masalah yang lagi dibicarakan.

 

5. SEGERA MINTA MAAF KETIKA KITA MELEWATI BATAS

SELALU-KALAH-DEBAT-PELAJARI-CARA-BERAGUMEN-DARI-PARA-PERSUASIF-INI


Kembali mengutip Nelson, alesan yang membuat argumen seringkali berakhir nggak baik adalah karena kurangnya empati dan terlalu seringnya kita menyampaikan permintaan maaf yang nggak tulus. Orang yang persuasif bakal menyampaikan pendapatnya sesopan mungkin – biasanya dengan bilang kalo dia paham apa yang dimaksud lawan bicaranya walaupun dia punya sudut pandang yang berbeda. Ketika dia gagal menanggapai pernyataan lawan argumennya dengan baik dan merasa udah melewati batas etika, dia juga bakal mengakui kesalahannya dan minta maaf dengan tulus.

Baca juga: HOW TO HANDLE ARUGMENTS LIKE A PRO

 

 

 

Written by Tsana Garini Sudradjat
Photo Source:
Aspen Institute
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar