PINDAH DARI SATU MEDSOS KE MEDSOS LAIN, APA UNTUNGNYA?

March 29, 2018

PINDAH-DARI-SATU-MEDSOS-KE-MEDSOS-LAIN-APA-UNTUNGNYA

sumber foto: Odyssey

 

Banyak yang bilang, penggunaan media sosial (medsos) bisa mencapai titik jenuh. Katanya, medsos tertentu bisa bikin kita ‘cukup’ gara-gara capek sama para penggunaannya yang lama-kelamaan semakin alay. Hah, masa iya?

 

 

Anyway, masih inget nggak pas Instagram lagi jadi primadona medsos di kalangan para netizen, tiba-tiba mengubah algoritmanya? Itu lho, sebelumnya kan linimasa Instagram menampilkan gambar-gambar sesuai kronologis waktunya. Eh, terus berubah deh jadi kayak sekarang yang urutannya sesuai jumlah engagement dari para followers. Nah, perubahan inilah yang pada awalnya bikin beberapa pengguna Instagram merasa keganggu. Keluhan tentang berubahnya algoritma Instagram sempet dibuat guyonan sama 9gag.

 

 

Comment how long it takes to finally see this post. Follow @9gag - #ytho

A post shared by 9GAG: Go Fun The World (@9gag) on

 

Kesel sama perubahan Instagram membuat beberapa penggunanya memutuskan pindah ke medsos lain sebagai pelarian. Tapi, ternyata alasan orang-orang pindah dari Instagram nggak cuma gara-gara algoritmanya yang berubah. Semakin banyaknya drama dan fitur aneh-aneh juga membuat pengguna medsos jadi ‘gerah’ sama Instagram. Bahkan ada yang bilang pengguna Instagram zaman sekarang lebih alay daripada pengguna medsos lain, Twitter misalnya.

Simak curahan hati pengguna Instagram yang memutuskan buat pindah ke Twitter di bawah ini:

 

 

 

Ternyata, perpindahan medsos ini nggak cuma terjadi di kalangan pengguna Instagram yang beralih Twitter. Gogirl! mencoba bertanya ke pembaca yang pernah pindah medsos lewat Direct Message (DM) Instagram. Kebanyakan dari mereka berpindah dengan alasan ‘capek’ sama orang-orang sesama pengguna medsos yang suka drama, nyinyir, dan menyebarkan hoax. Simak cerita 5 pembaca Gogirl! di bawah ini.

@imelology: Dari Path balik lagi ke Facebook dan Twitter, gara-gara menurutku Path itu jadi cuma bahan ‘pencitraan’ aja. Check in-nya tiap ke tempat yang kekinian atau high class aja. Bahkan jadi platform buat nyinyirin orang. Makin banyak yang gitu makin ngerasa Path jadi beracun banget buat kesehatan batin. Sedangkan di Facebook dan Twitter aku follow akun-akun yang mendidik dan ngebukain mata kayak Nas Daily atau Ted Ed dan akun kocak kayak Ko2w dan Handokotjung yang super garing, bikin dunia medsosku lebih asik.

@shintiasav: Bukan karena nggak nyaman sih, tapi karena di medsos itu nggak sesuai sama apa yang mau kita share. Kalau dulu aku sempet nggak main Twitter dan lebih sering di Instagram karena lagi doyan liat foto-foto artsy di medsos itu. Tapi, setelah udah lama, aku balik lagi ke Twitter karena di sana banyak berita dan informasi yang berguna. Soalnya Twitter kan tulisan ya, jadi sumber berita atau informasi bisa aku dapet dari sana. Tapi aku tetep suka liat foto-foto artsy di Instagram, kok. Mungkin jadi balance gitu sekarang.

@anticurut: Aku pindah dari Instagram, lagi nggak betah banget sama Instagram. Sekarang buka Instagram cuma sekadar biar tahu kabar orang-orang terdekat yang suka update. Lagi jatuh cinta lagi sama Twitter dan emang nggak pernah ninggalin Twitter sih, soalnya ketemu temen yang udah lama nggak kontak di sana. Instagram sudah terlalu sesak dengan hal-hal yang aneh.

@annskaa: Aku pindah dari Twitter waktu Twitter isinya politik melulu. Mending isinya ilmu, ini mah Twitwar saling menjatuhkan lawan dari calon usungan masing-masing. Cabut deh langsung. Mute, unfollow, sign out, sampe pernah uninstall saking supaya nggak tergoda buka. Tapi sebenernya Twitter masih seru sih, sayang aja jadi media buat orang-orang ribut.

@isnarisma: Dari Facebook, sih. Udah nggak nyaman aja gitu banyak hoax, sekarang kalo diperhatiin banyak banget promosi di Facebook menggunakan link, tapi clickbait banget pake isu-isu artis. Malah kemarin banget aku cek Facebook clickbait-nya artis meninggal gitu padahal masih hidup. Kan kasiaaaan tuh! Sekarang sih lagi seneng pake Instagram karena lebih enak lihat visualnya.

Dari penjelasan mereka bisa kita simpulin bahwa pada dasarnya pengguna medsos pengen sharing dengan damai lewat akun mereka. Ketika sharing udah nggak menyenangkan lagi, maka mereka akan mencari media lain yang lebih nyaman buat dijadikan tempat sharing. Itu artinya, perpindahan medsos ini sangat wajar dilakukan kalo berdasarkan teori uses and gratification (penggunaan dan kebermanfaatan) dalam ilmu komunikasi. Dalam teori ini, pengguna media adalah pihak yang aktif dan memilih media yang mereka gunakan berdasarkan kebutuhan. So, buang jauh-jauh deh pemikiran ‘pengguna medsos tertentu lebih alay dari pengguna medsos lainnya’!

 You may also want to read:

 - 5 JENIS PEKERJAAN YANG BISA KITA JADIIN KARIR DI SOCIAL MEDIA

 - ATURAN MAIN SOCIAL MEDIA YANG NGGAK BOLEH KITA LUPA

UNTUNG RUGINYA JADI SI SOCIAL MEDIA STALKER

 

 

 

 

 

Written by Asmi Nur aisyah
Photo Source:
immortal.org
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar