MEMETIK PELAJARAN HIDUP DARI PENGGUNAAN SKINCARE

August 09, 2018

MEMETIK-PELAJARAN-HIDUP-DARI-PENGGUNAAN-SKINCARE

 

Cung siapa di sini yang termasuk ke golongan skincare junkies? Gogirl! sih memandang skincare junkies ini terdiri atas dua golongan. Pertama, orang yang emang suka merawat diri buat menjaga kesehatan wajah, rambut, dan kulit. Golongan ini memakai skincare dengan tujuan mempertahankan kondisi normal, mencegah penuaan dini, dan meningkatkan kesegaran di wajah, rambut, dan kulit mereka. Sementara itu, golongan kedua terdiri dari orang-orang yang terjebak dalam rutinitas menggunakan skincare karena sempat terkena kondisi tertentu yang berkaitan dengan kesehatan rambut dan kulit. Contohnya, ketika seseorang jerawatan parah, maka dia akan mencoba segala cara buat mengurangi atau bahkan menghilangkan jerawat tersebut. Soalnya, jerawat itu bikin sakit dan membuat seseorang jadi sulit menggunakan makeup di wajahnya. Tapi, baik golongan pertama maupun kedua sebenernya punya kesamaan dalam memakai skincare: sama-sama ingin wajah, rambut, dan kulit mereka sehat.

 

Tahu nggak sih, bagi golongan kedua, pemakaian skincare bisa jadi merupakan perjalanan panjang karena mereka punya tujuan spesifik. Ketika seseorang punya permasalahan kulit atau wajah tertentu, maka tujuan penggunaan skincare adalah menghilangkan masalah tersebut. Nah, disadari atau nggak, ada seenggaknya lima pelajaran hidup yang bisa kita petik dari penggunaan skincare di mata golongan kedua.

 

MENEMUKAN YANG COCOK ITU NGGAK MUDAH DAN NGGAK CEPAT

MEMETIK-PELAJARAN-HIDUP-DARI-PENGGUNAAN-SKINCARE 

Buat yang punya masalah di kulit wajah, kulit badan, atau rambut, menemukan skincare yang cocok buat menyelesaikan masalah bukanlah hal yang mudah. Biarpun klaim dari iklan, ulasan influencer, dan rekomendasi temen mengatakan suatu produk bisa bekerja dengan baik, belum tentu produk tersebut cocok sama kita. Kalo masalah kita cukup serius dan susah ditangani, kita pun jadi terpaksa mencoba berbagai produk demi mencari yang mana yang bekerja efektif buat kita.

Nah, konsep pencarian produk skincare memberi pelajaran kalo menemukan sesuatu yang cocok itu nggak mudah dan nggak cepat. Ini berlaku dalam hal apa pun, baik itu passion, karir, hobi, dan jodoh. Bahkan, ketika kita udah merasa cocok pun, di tengah jalan kita seringkali menemukan fakta kalo sebenernya sesuatu hal nggak cocok buat kita. Yah… sama aja kayak skincare yang lama-lama udah nggak bekerja efektif karena bahan-bahan aktifnya udah kebal sama kondisi wajah kita.

 

LITERASI PENGETAHUAN ITU PENTING, BIAR NGGAK KESASAR

 MEMETIK-PELAJARAN-HIDUP-DARI-PENGGUNAAN-SKINCARE 

Buat menuntaskan masalah kulit wajah, kulit badan, atau rambut, kita harus memperkaya pengetahuan tentang masalah yang lagi kita hadapi dan solusi apa yang kita perlukan. Contohnya, kita punya masalah rambut berminyak dan berketombe. Kita tentu mencari tahu terlebih dahulu kenapa kulit kepala kita jadi seperti itu dan kira-kira produk apa aja yang bisa membantu mengurangi masalah tersebut. Dalam pencarian produk pun kita masih harus cari tahu apakah bahan dalam suatu produk cocok buat kulit kita atau nggak. Kalo kita punya kulit kepala sensitif, salah-salah dikit malah nambah masalah buat kita. Itulah kenapa literasi dunia kecantikan yang disediakan startup, media massa, dan influencer itu sangat dibutuhkan oleh publik.

Konsep literasi pengetahuan dalam dunia skincare ini memberi pelajaran kalo kita harus selalu skeptis dan kritis terhadap segala sesuatu. Kita harus punya kehausan akan pengetahuan, dan nggak gampang terpengaruh sama informasi yang kita terima, apalagi kalo informasi tesrebut simpang siur. Itu artinya, nggak ada alasan lagi buat nggak memperkaya bacaan dan referensi kita dengan hal-hal yang bermanfaat.

 

KALAU NGGAK MENCOBA, NGGAK AKAN PERNAH TAHU

 

MEMETIK-PELAJARAN-HIDUP-DARI-PENGGUNAAN-SKINCARE

Saking banyaknya produk skincare yang beredar di pasaran, kita jadi punya banyak banget pilihan. Buat mengurangi kebingungan, kita pun menyeleksinya dengan cara memperkaya literasi kita lewat review produk. Ketika ternyata produk yang kita prediksikan cocok jumlahnya banyak, kita pun menyesuaikannya dengan budget. Bahkan, sampai kita hendak membeli pun pilihan kita masih lebih dari satu. Kalo udah gini, yang bisa kita lakukan cuma satu: mencoba salah satu produknya. Tanpa mencoba, sepanjang dan sebanyak apa pun pertimbangannya, kita nggak akan bener-bener tahu produk mana yang bekerja dengan efektif.

Pentingnya mencoba skincare buat tahu efek nyatanya ini bisa jadi pelajaran hidup, lho. Di dunia nyata, kita seringkali terlalu banyak pertimbangan sebelum melakukan sesuatu. Padahal, jauh di lubuk hati, kita pengen banget mencoba hal tersebut. Contohnya, dalam hal pekerjaan, kita seringkali dihadapkan pada banyak pilihan. Tapi, tentu kita punya kecenderungan hati kita sebetulnya lebih memilih pekerjaan yang mana. Cuma, ya… kalo kita ambil pekerjaan A, kita nggak akan dapet keuntungan yang ditawarkan pekerjaan B. Tapi, kalo kita ambil pekerjaan B, sebenernya kata hati kita mengatakan pekerjaan A kelihatan lebih asyik buat dilakukan. Duh, kita nggak akan penah tahu kalo kita nggak mencoba, terutama jika kita bener-bener minim pengalaman kerja. Coba aja dulu pekerjaan yang kita inginkan, nanti seiring waktu kita bisa memutuskan bakal settle di pekerjaan tersebut atau nggak.

 

YANG MANIS DI LUAR BELUM TENTU BAIK ASLINYA

MEMETIK-PELAJARAN-HIDUP-DARI-PENGGUNAAN-SKINCARE

Kita seringkali tergoda membeli produk make up dan skincare cuma gara-gara packagingnya yang bagus. Ini sering terjadi buat para pengguna skincare golongan pertama, sebab bahan baku dan kecocokan bisa jadi bukan bahan pertimbangan utama. Sayangnya, kita seringkali menemukan fakta kalo packaging yang bagus nggak menjamin produknya juga bagus. Hayo, siapa di sini yang suka tergoda sama produk make up atau skincare dengan kemasan yang lucu-lucu?

Nggak nge-judge produk dari kemasannya ini juga berlaku di kehidupan kita, lho. Kita tentu sering dengar ungkapan yang bilang, “Jangan nilai buku cuma dari sampulnya” bukan? Ini bener banget, soalnya kita nggak bisa menilai seseorang dari apa yang dia pakai, barang apa yang dia miliki, identitas gender dan keagamaan apa yang melekat dalam dirinya. Apa yang mencerminkan seseorang adalah isi kepala, perilaku, dan sikapnya terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan.

 

SABAR DAN KONSISTEN DALAM MENCAPAI TUJUAN

 

MEMETIK-PELAJARAN-HIDUP-DARI-PENGGUNAAN-SKINCARE

Siapa di sini yang suka tergoda dengan skincare yang mengklaim kalo produknya bisa menghilangkan masalah kulit dalam waktu singkat? Contohnya, produk-produk yang mengaku bisa memutihkan wajah dalam dua hari atau melenyapkan jerawat dalam waktu semalam? O-o-o-ow, hati-hati. Yakin tuh produk tersebut aman di kulit kita? Jangan-jangan malah mengandung bahan yang aneh-aneh lagi, sampe-sampe bisa memberikan efek instan kayak gitu? Inget, nggak ada skincare bagus yang bisa bekerja dalam waktu kilat. Kalo pun ada, kita nggak pernah tahu efek samping apa yang menunggu kita kemudian. Kalo kita udah khatam dalam urusan per-skincare-an mah, kita pasti tahu, butuh kesabaran buat memeroleh manfaat maksimal dari sebah produk skincare.

Konsep sabar dalam menggunakan skincare ini hampir bisa kita terapkan dalam hal apa pun, terutama soal passion dan karir. Kita harus menekankan ke diri sendiri, nggak ada kesuksesan yang instan sebab semuanya butuh proses. Kalo kita terlalu sering mendengar berita orang-orang sukses di usia muda, percayalah mereka juga punya perjalanannya masing-masing. Contohnya aja dalam mencari pekerjaan. Nggak sedikit di antara kita yang nggak seberuntung itu abis lulus langsung mendapat pekerjaan impiannya. Bisa jadi kita harus menempuh berbagai jalan dan melewati berbagai persimpangan terlebih dahulu sebelum akhirnya sampai ke tujuan. Yang penting, kita harus sabar dan terus konsisten memperjuangkan apa yang kita inginkan.

 

BACA JUGA:

SADAR NGGAK KALO SKINCARE ITU BENTUK LAIN DARI EKSPERIMEN SAINS?

CUMA YANG PERNAH ATAU LAGI JERAWATN YANG NGALAMIN INI

CARA NGASIH TAHU PACAR PENTINGNYA BEAUTY PRODUCTS BUAT KITA

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar