MEMAHAMI ISI KEPALA SEORANG INTROVERT

April 15, 2018

MEMAHAMI-ISI-KEPALA-SEORANG-INTROVERT 

sumber foto: 9gag (Sarah Andersen)

 

Sebelum kamu baca artikel ini sampe habis, mau disclaimer dulu. Artikel ini ditulis berdasarkan observasi terhadap gimana orang-orang non-introvert memandang orang introvert. Ternyata, banyak yang salah paham sama karakter introvert dan mengira kalau pribadi ini adalah pemalu dan anti sosial. Soal ini, sebenernya Gogirl! sempet membahasnya di artikel Jangan Salah Paham, Introvert Bukan Pemalu Kok dan Jangan Sembarang Pakai Istilah Ansos dan Anti Sosial. Nah, buat yang masih sering salah paham, Gogirl! pengen coba menjelaskan apa yang sebenernya dipikirkan sama para introvert ini. Simak, ya!

 

 

KETIKA KAMI MENOLAK AJAKAN HANG OUT

 

MEMAHAMI-ISI-KEPALA-SEORANG-INTROVERT

sumber gif: giphy

 

Perhatiin deh, kami termasuk orang yang nggak jarang menolak ajakan hang out. Baik itu ajakan yang emang sengaja hang out seharian atau sekadar hang out setelah melakukan aktivitas penting. Setelah rapat acara kampus atau selesai kerja, misalnya. Ketika kami menolak ajakan hang out, jangan salah paham dulu dengan mengira kami sombong atau malu buat kumpul-kumpul. Kami cuma sadar, hang out mana yang bermanfaat buat kesehatan mental kami dan mana yang nggak. Pahamilah kalo kumpul sama orang banyak menyedot energi kami, apalagi kalo di dalemnya kami harus haha-hihi terlibat dalam obrolan yang topiknya nggak bikin kami tertarik.

 

KETIKA KAMI MENOLAK PANGGILAN TELEPON

 

MEMAHAMI-ISI-KEPALA-SEORANG-INTROVERT

sumber gif: giphy

 

Serius, kami adalah tipe orang yang sebenernya malas ngobrol lewat telepon. Maksudnya begini, kami sebetulnya paling nggak bisa mengangkat telepon hanya untuk ngobrol ngalor-ngidul kecuali membicarakan hal yang benar-benar penting. Jangan salah, curhat cerita pribadi yang urgent banget ke temen deket termasuk kategori penting lho, ya. Alasannya, bagi kami, chit-chat ringan bin receh, apalagi sama orang yang nggak deket-deket banget, termasuk hal yang nggak penting. Duh, maaf banget nih kalau lagi-lagi dikira sombong, tapi asli deh, pura-pura antusias ngobrol sama orang lain tuh bener-bener melelahkan!

 

KETIKA KAMI NGGAK BISA DIHUBUNGI SAMA SEKALI

 

MEMAHAMI-ISI-KEPALA-SEORANG-INTROVERT

sumber gif: giphy

 

Ada kalanya kami nggak bisa dihubungi sama sekali, nggak cuma lewat telepon tapi juga lewat pesan teks dan media sosial. Kami kadang menghilang begitu aja seolah nggak ada tanda-tanda kehidupan. Kalau kami lagi kayak gini, kemungkinannya ada dua. Pertama, kami emang lagi bener-bener menikmati me time dan nggak mau diganggu. Kami bisa jadi lagi maraton nonton serial TV atau melakukan kegaitan produktif kayak menulis, mendesain, atau menggambar. Kedua, kami sebetulnya lagi nge-down dan pengen merefleksikan hubungan sama orang lain buat tahu siapa temen yang bener-bener bisa dipercaya dan peduli sama kami. Kasarnya, kami sebenernya lagi pengen ditanya, tapi sama orang yang kami anggep bener-bener deket. Ambigu dan ribet banget, kan? Maafin ya, kami emang sering banget over-analyzed sesuatu.

 

KETIKA KAMI MAIN SAMA ORANG YANG ITU-ITU AJA

 

MEMAHAMI-ISI-KEPALA-SEORANG-INTROVERT

sumber gif: giphy

 

Kalo kamu perhatiin, meskipun kami jarang menerima ajakan hang out, sebenernya kami sering hang out tapi cuma sama orang-orang yang kami kehendaki. Acara-acara yang melibatkan banyak orang kayak reuni, bukber bareng organisasi, malam keakraban, atau arisan keluarga akbar itu sebenernya bikin kami capek. Alasannya, kami harus senyum dan pura-pura antusias menanggapi obrolan sampe acara selesai. Daripada kumpul sama banyak orang tapi nggak jadi diri sendiri, mending kumpul sama orang yang emang bener-bener deket dan familiar. Kelihatan banget kami mainnya sama orang yang itu-itu aja, karena bersama merekalah kami bisa jadi diri sendiri seharian. Serius deh, jangankan kumpul sama orang banyak, ketemu temen lama di jalan aja kadang kami pura-pura nggak melihat supaya nggak terlibat chit-chat fake semacam “Apa kabar?”, “Udah lulus belum?”, “Sekarang kerja dimana?”, dan lain sebagainya.

 

KETIKA KAMI JARANG NANYA DULUAN

 

MEMAHAMI-ISI-KEPALA-SEORANG-INTROVERT

sumber gif: giphy

 

Kalo kamu perhatiin, kami jarang banget nanya duluan buat membuka pembicaraan. Jangankan sama kamu, sama sopir ojek online aja kami jarang nanya duluan. Sekalinya ditanya, kami jawab seadanya dan jarang bertanya balik. Sorry banget kalo gara-gara kebiasaan ini kamu sampe mengira kami ini sombong. Serius, kami cuma menganggap obrolan superficial cenderung nggak berfaedah dan takutnya malah mengarah ke humble self-bragging. Buat apa kami berbagi informasi pribadi dan tau informasi pribadi orang lain kalo ke depannya kami belum tentu bakal sering berinteraksi sama orang tersebut? Hadeuh. Kalaupun kami terpaksa harus nanya duluan karena urusan pekerjaan, percayalah beberapa waktu ke depan kami pasti lupa apa yang pernah kami tanyakan.

 

KETIKA KAMI NGGAK ASYIK DIAJAK NGOBROL

 

MEMAHAMI-ISI-KEPALA-SEORANG-INTROVERT

sumber gif: giphy

 

Kami lebih seneng jadi pendengar setia sebenernya, terutama kalo kamu menceritakan kehidupan pribadimu alias curhat. Apalagi kalo curhatanmu nggak urgent-urgent banget yang melibatkan perasaan, misalnya sekedar kejadian kocak yang menimpamu di kampus hari ini. Di sisi lain, jangan berharap banyak kami akan curhat balik ke kamu, sebab itu adalah hal yang jarang kami lakukan, kecuali kalo kamu adalah orang yang bener-bener deket sama kami. Kalau pengen melihat kami berbicara panjang lebar, coba deh ajak kami ngobrol soal hal-hal yang deep. Contohnya, analisis fenomena yang belakangan ini viral, apa makna kepercayaan saat menjalani hubungan, atau sepenting apa menjalin komunikasi sama orang tua. Percayalah, kami bakal antusias banget membicarakan isi pikiran kami soal hal-hal yang deep kayak gitu.

 

KETIKA KAMI DIANGGEP KEBANYAKAN MIKIR

 

MEMAHAMI-ISI-KEPALA-SEORANG-INTROVERT

sumber gif: giphy

 

Percayalah, kami sering banget menganalisis sesuatu. Hampir segala hal kami analisis, sehingga kami cenderung jadi orang yang overthinking. Apalagi saat mengambil keputusan, duuuh ada banyak banget pertimbangan yang kami pikirin supaya pada akhirnya kami nggak salah pilih. Jangankan keputusan berat, keputusan simpel kayak besok-ke-kampus-naik-apa aja kadang kami pikirin mateng-mateng. Terus, sebelum ngirim chat atau bales omongan orang aja kadang kami juga mikir keras. Ribet banget kan, apa-apa selalu dipikirin? Mungkin inilah alesannya kenapa kami cenderung sering melakukan refleksi diri, sering berimajinasi dan punya ide-ide gila, dan dicap sebagai si pembuat keputusan yang bijak. Anyway, kami juga senang menganalisis orang, lho. Mungkin itu alasannya kami cenderung pinter dalam menebak karakter dan kepribadian orang lain.

 

You may also want to read:

 

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
popsugar.com.au, giphy.com
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar