MEMAAFKAN TANPA BERBAIKAN ITU SAH-SAH AJA, KOK

June 12, 2018

MEMAAFKAN-TANPA-BERBAIKAN-ITU-SAH-SAH AJA-KOK

Photo by Joshua Rawson-Harris on Unsplash

 

Kita semua pasti pernah merasa kecewa sama seseorang yang deket banget sama kita. Seseorang itu bisa sahabat atau pacar kita. Dalam sudut pandang kita, orang tersebut melakukan suatu kesalahan yang bisa bikin kita sakit hati berhari-hari. Tiap kali kita mengingat kesalahan itu, rasa sakit di hati kita seolah terpanggil kembali buat keluar. Beraaat banget mau memaafkan dia, bahkan rasanya kita nggak akan pernah bisa memaafkan kesalahan dia yang satu itu. Nah, kesalahan ini jadi berpengaruh banget terhadap hubungan kita sama dia. Kita merasa, perasaan kita ke dia nggak bisa sama lagi setelah kesalahan yang satu ini. Hubungan kita dan dia pun jadi berubah.

 

Biar lebih mudah membayangkan, Gogirl! beri satu contoh kasus. Bayangkan ini terjadi antara kita dan pacar kita. Dia melakukan kesalahan yang nggak mungkin bisa kita maafkan, yaitu masih berhubungan dan ketemuan dengan mantannya dalam waktu yang cukup lama, tanpa kita ketahui. Begitu kita tahu fakta perselingkuhan dia, kita pun marah dan sedih nggak tertahankan. Tentu aja dia berusaha mati-matian meminta maaf, tapi perasaan kita udah terlalu kacau. Kita dan dia pun memilih buat memutuskan hubungan, dan berpisah dalam keadaan memendam amarah.

Beragam efek pun kita rasakan setelahnya, salah satunya merasa risih saat ditanyai teman-teman dan keluarga soal kabar mantan. Selain itu, kita juga jadi berusaha keras menghindari bertemu langsung dengan sang mantan, soalnya kita bingung mau bereaksi seperti apa. Kalaupun kebetulan tanpa sengaja berpapasan, kita jadi berpura-pura nggak kenal. Ini jadi awkward banget ketika dia membawa teman-temannya yang sebetulnya kita kenal juga. Duh, jadi serba salah, deh! Mau mengajak mantan membicarakan situasi awkward yang saat ini kita hadapi, rasanya masa saling memaafkan itu udah terlanjur basi. Bingung banget, deh!

 

MAKNA ‘MEMAAFKAN’ YANG SEBENARNYA

Buat menghindari situasi awkward dan kebingungan kayak gini, ada baiknya kita tanya ke hati kita sendiri, apakah kita udah bener-bener memaafkan dia? Selain itu, telaah kembali makna ‘memaafkan’ itu sendiri. Memaafkan nggak harus sepenuhnya berbaikan dengan orang lain, kok. Memaafkan itu soal gimana kita berdamai dengan diri sendiri. Resapi delapan makna ‘memaafkan’ yang dijelasin sama Neil Farber dalam artikelnya di Psychology Today ini:

  • Memaafkan adalah keputusan melepaskan rasa dendam dan kebencian secara sadar. Efek dari maaf-maafan lebih bisa dirasakan oleh pihak yang memaafkan daripada pihak yang meminta maaf. Pada intinya, memaafkan merupakan pelepasan terhadap pemikiran-pemikiran negatif, dan ‘memaafkan’ itu sendiri merupakan sebuah pilihan. Jika kita memilih buat memaafkan, itu artinya kita memilih buat melepas perasaan negatif terhadap orang yang kita maafkan.
  • Memaafkan itu butuh proses, usaha, dan waktu. Soalnya, memaafkan itu bukan perkara mudah dan nggak bisa dilakukan secara cepat. Orang yang memaafkan butuh melewati terlebih dahulu rasa sakit yang diakibatkan oleh orang yang ingin dimaafkan.
  • Memaafkan itu melibatkan keinginan untuk berdamai, bukan keinginan mengkonfirmasi keadilan. Memaafkan bukan bentuk konfirmasi terhadap kesalahan orang lain terhadap kita. Bukan pula menekankan kalo kita pantas mendapat permintaan maaf dari orang itu. Tapi, memaafkan justru merupakan upaya kita berdamai dengan orang itu dan pertanda kalo kita siap move on, mampu kembali menjalani kehidupan dengan baik-baik aja.
  • Memaafkan adalah cara kita memberdayakan perasaan kita untuk menerima rasa sakit dan siap mengobati rasa sakit tersebut. Dengan menerima rasa sakit, kita jadi bisa mengurai rasa sakit itu sendiri dan menganalisisnya. Dengan begitu, kita jadi tahu gimana cara mengobatinya.
  • Memaafkan adalah cara kita buat mengolah rasa empati. Dengan memaafkan, kita udah mencoba memahami apa yang dirasakan oleh orang yang menyakiti kita. Kita pun mencoba menganalisis kenapa orang tersebut berbuat demikian. Tapi, jangan sampe setelah menganalisis kita malah jadi menyalahkan diri sendiri dan berpikir “Pantes aja dia berbuat begitu, soalnya akunya…”
  • Memaafkan adalah cara efektif buat memperoleh kedamaian pikiran dan jadi pintu menuju kebahagiaan. Dengan memaafkan dan mengobati rasa sakit, perlahan demi perlahan kita mencoba mencapai kedamaian dalam perasaan kita sendiri. Kalo hati kita udah damai, yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah melakukan hal-hal yang membuat kita bahagia, bukan?
  • Memaafkan itu bisa mengurangi stres. Menahan amarah dan kebencian bisa meningkatkan tekanan darah dan frekuensi pernafasan. Dengan memaafkan, hal yang sebaliknya terjadi. Baik fisik dan emosional kita jadi lebih tenang, akibatnya stres pun jadi berkurang.
  • Memaafkan adalah cara memperbaiki hubungan. Dengan memaafkan, perasaan kita jadi lebih positif terhadap orang yang kita maafkan. Kita pun bisa berhubungan lagi dengan dia tanpa rasa canggung. Di masa depan, kita nggak pernah tahu, mungkin dia akan datang lagi dalam urusan pekerjaan atau proyek tertentu, bukan?

 

HAL-HAL YANG SEBETULNYA BUKAN MEMAAFKAN

Berkebalikan dengan makna ‘memaafkan’ yang sebenarnya, Neil Farber juga menjelaskan delapan hal yang sebetulnya bukan ‘memaafkan’. Simak, yuk!

  • Memaafkan bukan melupakan. Kita nggak harus menghapus kenangan buruk tentang orang yang kita maafkan. Biarlah kenangan itu jadi pelajaran. Tugas kita cukup memaafkan, dan menganggap itu sebagai masa lalu yang nggak boleh keulang.
  • Memaafkan bukan mengabaikan. Memaafkan bukan berarti kita pura-pura nggak tahu kesalahan yang orang lain lakukan, dan berusaha memaafkannya dalam diam. Catat, nggak pernah ada yang namanya memaafkan dalam diam, apalagi dipendam.
  • Memaafkan bukan menyangkal dengan naïf. Menyangkal perbuatan salah orang lain sama aja dengan menyakiti diri sendiri. Menyangkal atau denying adalah sebuah kebohongan. Hubungan yang berjalan berdasarkan kebohongan bukan hubungan yang sehat.
  • Memaafkan bukan menerima perlakuan buruk. Memaafkan kesalahan orang lain bukan berarti kita menerima perlakuan buruk dari orang yang kita maafkan dengan dalih ‘menerima dia apa adanya’. Justru memaafkan berarti memberi peringatan pada diri sendiri, kita nggak akan membiarakan diri kita diperlakukan seperti itu lagi.
  • Memaafkan bukan menunggu orang lain mengakui kesalahannya. Seiring dengan denial, kadang kita menunggu orang lain menyadari kesalahannya. Kalo kita melakukan ini, besar kemungkinan orang tersebut akan melakukan kesalahan yang sama.
  • Memaafkan bukan mengabaikan keadilan. Nggak mengonfirmasi keadilan bukan berarti mengabaikan keadilan sama sekali. Gimana kalo perbuatan orang itu bertentangan dengan hukum dan kemanusiaan? Misal, kesalahan orang itu adalah berbuat kekerasan terhadap kita. Kalo udah gini, tentu keadilan harus ditegakkan.
  • Memaafkan bukan berarti berbaikan. Nggak apa-apa kalo hubungan kita dan dia nggak bisa balik kayak dulu lagi. Itu wajar. Memaafkan bukan berarti berbaikan, kok. Yang penting, ke depannya kita mampu bertemu sama orang yang kita maafkan tanpa rasa marah yang terpendam.
  • Memaafkan itu nggak dua arah. Sebetulnya memaafkan adalah komunikasi satu arah, kuncinya terletak pada orang yang memaafkan. Sebagai orang yang memaafkan, kita merasakan manfaat yang terwujud dari komunikasi yang tenang sehingga pemecahan masalah dalam hubungan pun bisa tercapai.

 

You may also want to read:

MEMAAFKAN TERNYATA BAIK UNTUK KESEHATAN KITA

JANGAN MALU MINTA MAAF, COBA PRAKTEKKIN TIPS INI

YANG NGGAK HARUS DIMAAFKAN DARI DIRI KITA DI TAHUN 2018

 

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
Photo by Joshua Rawson-Harris on Unsplash
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar