MANFAATIN FIRST JOB BUAT NGUMPULIN DANA DARURAT

May 15, 2018

MANFAATIN-FIRST-JOB-BUAT-NGUMPULIN-DANA-DARURAT

Photo by rawpixel.com on Unsplash

 

Cung, siapa yang di sini lagi struggling menyesuaikan kehidupan baru di pekerjaan pertama? Perubahan hidup yang paling signifikan bagi sebagian orang adalah nggak ada lagi sokongan dana dari orang tua. Lepas total secara finansial dari orang tua biasanya berlaku buat fresh graduate yang dapet pekerjaan di luar kota tempat tinggalnya. Di sisi lain, fresh graduate yang masih tinggal dengan orang tua sedikit diuntungkan karena nggak harus bayar sewa tempat tinggal. Yah… meski keduanya tetap harus membiayai hidup sendiri.

 

Sayangnya, nggak semua fresh graduate melek literasi finansial. Gogirl! sempet dapet workshop singkat ‘Tips Mengelola Keuangan untuk Perempuan dalam Bisnis dan Karier’ dalam rangkaian Bincang Shopee pertama 21 April lalu. Dari sinilah Gogirl! dapet insight dari Director Shopee Indonesia Christin Djuarto, Founder Biotalk Wiwiek Wiral dan Jouska tentang pentingnya  mengelola simpanan dan dana darurat dari penghasilan pertama kita.

 

PAHAMI BASIC TRIANGLE BUAT ATUR KEUANGAN

MANFAATIN-FIRST-JOB-BUAT-NGUMPULIN-DANA-DARURAT

Sharing bareng Aakar Abyasa Fidzuno, Founder Jouska.id (Sumber: Dok. Bincang Shopee, 21 April)

 

Menurut financial advisor Jouska.id, ada tiga aspek yang tergabung dalam segitiga keuangan (basic triangle) yang harus kita perhatikan dalam mengelola keuangan. Aspek pertama tujuan dari pengelolaan keuangan (goals), kedua profil risiko keuangan (risk profile), dan ketiga alur keuangan yang lagi kita jalani (current financial statement). Posisi dalam segitiganya goals ada di sudut atas, dan sisanya di dua sudut yang sejajar dengan sisi tumpuan.

MANFAATIN-FIRST-JOB-BUAT-NGUMPULIN-DANA-DARURAT

Basic Triangle, foto: jouska.financial

 

Hal pertama yang harus kita pikirkan begitu tahu jumlah penghasilan kita adalah risiko keuangan. Ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan apa yang membuat kita harus mengeluarkan uang, yang berarti profil kita sendiri. Apakah kita single atau married, apakah kita punya tanggungan, apakah kita tinggal dengan orang tua atau mengontrak kos-kosan, apa posisi pekerjaan kita, dan berapa lama kontrak kerja kita. Kalau kita memutuskan buat jadi freelancer, berarti kita harus tulis risiko penghasilan tidak tetap setiap bulannya.

Setelah memahami profil keuangan sendiri, barulah kita tentukan tujuan pengaturan keuangan ini. Menurut Jouska.id, dana darurat adalah goals paling utama yang harus kita capai, terutama saat menerima gaji dari pekerjaan pertama. Kalau kita punya tabungan sebelum lulus, satukan dana darurat ini dengan tabungan tersebut. Di luar itu, kita tentuin deh goals lain dari pengelolaan keuangan kita. Goals utama lainnya bisa berupa simpanan pendidikan buat mendaftar kuliah lanjutan. Baru deh pikirkan goals tambahan kayak rencana beli motor, rencana dana travelling, rencana modal usaha, atau rencana nonton konser.

Udah paham profil dan menentukan tujuan, baru deh atur angkanya. Jouska.id menyarankan kita buat budgeting kebutuhan terlebih dahulu sebelum penentuan jumlah buat dana darurat dan tabungan. Cara budgeting memudahkan kita buat mengatur keuangan sesuai kebutuhan, dibanding mematok presentase jumlah tabungan. Rata-rata financial advisor menyarankan kita buat saving money minimal 30% dari penghasilan, tapi dengan budgeting kita akan menyimpan uang sesuai kemampuan. Hal yang nggak boleh kita lupa dalam pengaturan keuangan ini adalah keberadaan utang. Inget, kalo kita punya kartu kredit, masukin ke daftar utang, ya!

 

DANA DARURAT ITU BEDA DENGAN TABUNGAN BERTUJUAN

MANFAATIN-FIRST-JOB-BUAT-NGUMPULIN-DANA-DARURAT

Foto: Dok. Bincang Shopee

 

Satu hal yang sering kita lupa adalah nggak membedakan dana darurat dari tabungan bertujuan. Tabungan bertujuan ini bisa berupa tabungan jangka panjang buat beli rumah, tabungan rencana pendidikan, tabungan rencana usaha, asuransi kesehatan, atau tabungan liburan. Cara memisahkan paling mudah adalah dengan membuat rekening terpisah. Di sisi lain, tabungan lainnya bisa kita percayakan ke program di bank atau berinvestasi jangka pendek dan panjang.

Supaya mudah, kita belajar dari satu contoh fiktif dari cewek bernama Yura. Yura diterima sebagai karyawan di perusahaan marketplace dengan gaji Rp5 juta per bulan. Profil risikonya begini: masih single, nggak harus mengirim uang bulanan ke orang tua, harus memberi tambahan jajan buat adiknya yang masih kuliah, merantau sehingga harus bayar kosan setiap bulan, dan harus naik transportasi umum ke kantor setiap hari. Berarti, profil risiko inilah yang harus dibudget-in ditambah kebutuhan setiap bulannya.

Contoh budget bulanan Yura:

Pendapatan             Rp5 juta

  • Makan Rp1 juta
  • Kosan Rp1 juta
  • Adik Rp500 ribu
  • Hiburan Rp500 ribu
  • Skincare Rp250 ribu
  • Transport Rp300 ribu
  • Kebutuhan Rp150 ribu

Total                     Rp3.700 ribu
Sisa                       Rp1.300 ribu

Nah, sisa gaji itulah yang bisa kita masukkan ke dana darurat dan tabungan berencana. Buat mengaturnya, pikirkan tabungan berencana terlebih dahulu, baru dana darurat. Buat list tabungan berencana, misalnya mau liburan ke Jepang tahun depan atau berencana lanjut S2 dua tahun lagi. Kalo jangkanya lebih panjang, misal kita berencana beli laptop atau kamera baru lima tahun lagi. Buat memudahkan, tabungan berencana ini bisa kita percayakan lewat program tabungan berencana di bank, program ansuransi, atau berinvestasi.

Contoh pengaturan tabungan Yura:

Sisa gaji                Rp1.300 ribu

  • Rencana pendidikan Rp300 ribu
  • Rencana travelling Rp400 ribu
  • Investasi Rp200 ribu

Dana darurat (sisa)                          Rp400 ribu

Setiap bulannya, Yura punya dana darurat Rp400 ribu yang jumlahnya konstan segitu selama jumlah penghasilannya masih sama. Kalau penghasilan bulanannya bertambah karena pindah kerja, punya penghasilan tambahan, atau naik jabatan, tentu jumlah sisa gaji ini akan bertambah. Yah… tentu aja kalo profil risiko Yura masih sama. Kalau ternyata beda, proses budgeting tinggal diulang lagi. Tapi, seenggaknya proses pengaturan keuangan ini akan berjalan dalam waktu yang cukup lama, minimal sesuai lama kontrak kerja pertama.

 

LALU, DANA DARURAT BUAT APA?

MANFAATIN-FIRST-JOB-BUAT-NGUMPULIN-DANA-DARURAT

Foto: Kiplinger.com / Thinkstock

 

Jawaban klisenya: ya tentu aja buat dipake ketika ada hal-hal terdesak menimpa kita. Atau, tiba-tiba kita pengen membeli  barang di luar kebutuhan pokok kita.

Tunggu dulu. Itu nggak seratus persen bener, guys! Buat yang masih sekolah dan tabungannya bersumber dari sisihan uang saku, dua konsep tadi bisa jadi bener. Tapi, ketika kita udah bekerja dan punya penghasilan sendiri, dana darurat bisa berfungsi lebih dari itu. Soalnya, dijamin deh, ketika kita udah kerja sendiri, rasanya nggak tega mengeluarkan penghasilan kita buat membeli barang hanya buat memuaskan keinginan sesaat. Soal pengeluaran mendadak, udah saatnya kita memikirkan taktik lain. Jatuh sakit tiba-tiba dan harus dirawat atau dioperasi? Kita bisa pilih ikut asuransi. Handphone atau laptop hilang dan terpaksa beli yang baru? Ada pilihan buat membelinya dengan cara kredit.

Well, yang Gogirl! simpulkan dari workshop Bincang Shopee ini, ada dua fungsi yang bisa kita manfaatin dari dana darurat.

  • Biaya hidup dalam jeda resign ke pekerjaan baru. Kita nggak pernah tahu berapa lama kita bakal bekerja di tempat kerja yang sekarang. Bisa jadi setelah masa kontrak habis kita penasaran pengen mencoba pekerjaan lain. Nah, dana darurat ini bisa kita gunakan sebagai biaya hidup dalam masa pencarian pekerjaan baru. Siapa tahu waktu tunggunya cukup lama karena kita nggak kunjung menemukan pekerjaan yang cocok, bukan?
  • Biaya hidup selama kita mulai jadi entrepreneur. Kalo kita berencana jadi entrepreneur setelah merasa cukup di pekerjaan pertama, kita nggak boleh lupa kalau jadi entrepreneur itu nggak akan langsung untung di awal-awal. Inget terlebih dulu, tabungan rencana entrepreneur ini harus dipisah dari dana darurat. Nah, sambil nunggu hasil usaha balik modal, dana darurat ini bisa kita jadiin sebagai biaya hidup kita sehari-hari.

So, udah sejauh mana perencanaan keuanganmu?

 

You may also want to read:

- TAKUT BOROS? YUK, BELAJAR NGELOLA KEUANGAN!

- “SILENT CASH MACHINE” CARA AMPUH BUAT HASILIN UANG JAJAN LEBIH

- MASALAH KEUANGAN APA AJA YANG BAKAL DIHADAPI GENERASI Z ?

Written by Asmi Nur Aisyah
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar