KENAPA SUSAH BANGET NERAPIN SARAN YANG KITA KASIH SENDIRI?

May 30, 2018

KENAPA-SUSAH-BANGET-NERAPIN-SARAN-YANG-KITA-KASIH-SENDIRI

 

 

“Nggak usah mikir kelamaan, lakuin aja. Adanya lo nggak bakal maju-maju kalo nggak gerak sekarang,” kata Manda memberikan saran ke Meisya, sahabatnya. Padahal Manda sendiri adalah orang yang overthinking, tapi tiap mendengar curhatan temen-temennya yang ragu buat melakukan sesuatu, dia bakal menyemangati mereka dengan kalimat yang sama. Cuma satu orang di dunia ini yang nggak bisa dia nasihati: dirinya sendiri.

 

Easier said than done, itulah saran. Rasanya gampang banget memberikan nasihat ke orang lain ketika mereka menceritakan masalahnya ke kita, tapi giliran kita menghadapi masalah yang sama, susah banget menerapkannya ke diri kita sendiri. As the old wisecrack has it: “Take my advice – I’m not using it”. Ada yang merasa relate dengan skenario ini?

Well, we’re not alone. Ironis sih, tapi ini adalah sesuatu yang manusiawi banget terjadi. Kalo mau sinis, alesan kita seringkali mengabaikan nasihat kita sendiri adalah karena kita tau kalo saran kayak “Liat sisi positifnya deh” atau “Time will heal you” itu klise. Terkadang kita bahkan merasa sok bijak ketika memberikan saran ke orang lain karena kita sadar kalo nasihat itu cuma basa-basi dan bakal susah buat diterapin.  Tapi ternyata selain alesan tersebut, fenomena ini juga bisa dijelaskan secara psikologis lho! Igor Gorssmann, ilmuwan dari University of Waterloo, menyebutnya sebagai Solomon’s Paradox. Berdasarkan hasil penelitiannya, dia juga menemukan solusi yang bisa banget kita terapkan. Yuk simak!

 

SOLOMON’S PARADOX

KENAPA-SUSAH-BANGET-NERAPIN-SARAN-YANG-KITA-KASIH-SENDIRI

Raja Solomon adalah pemimpin ketiga kerajaan Yahudi. Dikutip dari situs resmi Association for Psychological Science (APS), dia dikenal karena kebijaksanaannya dalam membimbing orang lain. Bahkan selama masa pemerintahannya, banyak orang yang rela melakukan perjalanan jauh cuma buat mendapat nasihat dari putra Raja Daud ini. But it is also well known that he failed to use that same wisdom in his own life, sampe-sampe kerajaannya hancur karena kegagalannya dalam mengatur hidupnya sendiri. Berkaca dari kisah tersebut, Gorssmann menamai situasi di mana kita bisa memikirkan masalah orang lain dengan bijak, tapi nggak demikian ketika berhadapan dengan masalah kita sendiri sebagai Solomon’s Paradox.

Konsep ini dibuktikan dalam salah satu penelitian Gorssmann di mana dia mengumpulkan sejumlah responden yang udah menjalin hubungan romantis sekian lama dan meminta mereka buat membayangkan dua skenario: apa yang bakal mereka lakukan ketika pasangan mereka selingkuh dan apa yang bakal mereka lakukan ketika pasangan temen mereka selingkuh. Para responden kemudian diminta buat menjawab berbagai pertanyaan dan menjelaskan alesan mereka. Misalnya aja, “Apakah kamu bakal mencari tau soal perselingkuhan itu lebih jauh?”, “Seberapa besar kemungkinan kamu mau berkompromi?”, dsb. As expected, hasil penelitian menunjukkan kalo mereka memberikan jawaban yang lebih bijaksana ketika mengomentari situasi sang temen dibandingkan situasi mereka sendiri. Sama aja kayak gimana kita bisa dengan gampangnya bilang, “Yaudah sih putusin aja cowok kayak gitu” ke temen yang dikhianati oleh pacarnya, tapi susah banget melepas cowok yang sebenernya kita tau udah nggak baik buat kita.

Lanjut dikutip dari Social Triggers, ahli pemasaran dan entrepreneur Derek Halpern menyatakan kalo the problem with taking your own advice is a problem of “too much” information. Kita terlalu deket dengan masalah kita sendiri dan kita tau terlalu banyak soal situasi yang kita hadapi. Nggak cuma tau, kita juga bisa merasakan emosi ketika menghadapi masalah tersebut. Makanya, sulit bagi kita buat bisa bersikap objektif. Sedangkan menurut Hal Hershfield, psikolog dari University of California Los Angeles (UCLA) seperti dikutip dari esai Melissa Dahl di New York Magazine, ketika kita melihat masalah orang lain dan berpikir apa yang terbaik buat mereka, bakal jauh lebih mudah bagi kita untuk melihat gambaran besar dari masalah tersebut – tentunya karena kita cuma tau sebagian informasi yang diceritakan ke kita dan seempati apapun kita, kita nggak mungkin bisa 100% merasakan, bahkan membayangkan apa yang dirasakan oleh orang yang lagi menghadapinya.

 

SOLUTION: THE BEST FRIEND METHOD

KENAPA-SUSAH-BANGET-NERAPIN-SARAN-YANG-KITA-KASIH-SENDIRI


Terus gimana dong caranya biar saran bijak yang kita berikan nggak cuma berguna buat orang lain, tapi juga buat diri kita sendiri? Masih dikutip dari Social Triggers, yang harus kita lakukan adalah memberi jarak antara kita dan masalah yang sedang kita hadapi untuk melihat/menganalisisnya dari sudut pandang orang luar. Buat kita yang bingung soal gimana cara konkrit buat melakukannya, cobain deh The Best Friend Method yang dicetuskan oleh Gorssmann.

Masih berdasarkan hasil penelitiannya soal perselingkuhan yang udah dibahas di atas, ketika responden diminta untuk menjawab pertanyaan menggunakan kata ganti orang ketiga (misalnya “dia” atau “mereka”) daripada menggunakan kata “aku” atau “saya”, mereka 35% lebih mungkin memberikan dirinya sendiri nasihat yang sama baiknya dengan apa yang mereka sampaikan kepada orang lain. Artinya, trik bahasa ini bisa jadi solusi. Coba deh berikan saran ke diri kita sendiri sebagaimana kita memberikan saran ke orang lain. Daripada berpikir, “Apa yang harus gue lakukan?”, coba bayangkan saran apa yang bakal kita berikan ke sahabat kita dengan bilang, “Lo baiknya gini deh”. Katanya sih cara ini manjur buat para responden penelitian Grossmann. In short, use the “Best Friend Method” to figure out your own best advice.

Well, berhubung mengetahui teori dan bener-bener menerapkannya merupakan dua hal yang berbeda, ada langkah kedua yang harus kita lakukan: JUST DO IT! Bahkan sebelum kita sempet berpikir, “Apa gunanya sih mengikuti saran klise kayak gini?” atau “Gimana kalo keputusan yang gue ambil salah?”. Because if you do nothing, you’ll achieve nothing.

Dari sini kita juga bisa belajar kalo:

  • Terkadang meminta pendapat atau saran orang lain yang bisa melihat masalah kita secara objektif itu perlu – entah temen, orangtua, kakak, adek, atau orang-orang terdekat lainnya. Apa lagi kalo kita jelas-jelas udah nggak bisa berpikir dengan jernih; dan
  • Lain kali kita memberikan saran ke temen atau siapapun soal sesuatu yang penting, coba deh perhatikan apa yang kita sampaikan ke mereka. Mungkin banget lho sebenernya saran tersebut juga relevan buat kita.

 

Baca juga:

 

 

Written by Tsana Garini Sudradjat
Photo Source:
Pexels, Pinterest, iStock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar