INI ALESAN KENAPA KITA SUKA BANGET DENGAN KUIS KEPRIBADIAN

July 30, 2018

INI-ALESAN-KENAPA-KITA-SUKA-BANGET-DENGAN-KUIS-KEPRIBADIAN

 

Ngaku deh, siapa aja di antara kita yang suka banget mengisi kuis kepribadian? Mulai dari psikotes The Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) sampe kuis Which Hogwarts House Would You Be In?”, setiap kuis kepribadian yang kita temui di internet pasti langsung diisi. Padahal kita sadar betul kalo banyak di antara kuis tersebut yang nggak jelas dasar ilmiahnya dan karenanya nggak jelas juga kebenarannya, ya nggak? Jadi sebenernya kenapa sih kita suka banget dengan kuis-kuis kepribadian kayak gini? Yuk simak!

 

1. HUMANS HAVE THE URGE TO IDENTIFY WITH GROUPS

Dikutip dari Vox, human brains are wired for tribalism. Tribalism atau sukuisme ini adalah bagian dasar dari cara kerja otak manusia, di mana kita mencari dan menjadi bagian dari suatu kelompok, stick to it, dan membiarkan kelompok tersebut mempengaruhi cara kita memandang dunia. Intinya sih kita senang mengidentifikasi diri kita sebagai bagian dari suatu kelompok, karena belongingness merupakan salah satu kebutuhan emosional manusia. Mulai dari sesimpel berkelompok karena punya tim olahraga favorit yang sama, berasal dari negara yang sama, atau bahkan sekedar sama-sama merupakan pengguna Android atau iPhone. Begitu pula ketika kita memiliki kepribadian yang sama. There is something wildly compelling about the idea that by identifying with a personality type, you have found your group.

 

2. PERSONALITY TEST ARE KIND OF LIKE PSYCHOLOGICAL SELFIES

Dikutip dari Pucker Mob, sebagai manusia, kita sadar kalo kita nggak one-diemensional dan karenanya kepribadian kita sangat amat membingungkan. Apa lagi mengingat gimana generasi kita sekarang seringkali disebut-sebut sebagai “The Self(ie) Generation” karena kita dianggap lebih self-aware. Hal inilah yang membuat kita seringkali kepo soal kepribadian kita dan gimana sebenernya pikiran kita bekerja. Makanya kita suka mengisi kuis psikologi yang seakan-akan dapat menyederhanakan rumitnya konsep kepribadian dan pada akhirnya membantu kita menciptakan gambaran yang lebih jelas mengenai diri kita sendiri. Bisa dibilang kuis-kuis kepribadian kayak gini semacam cermin lah yang kita percaya dapat membantu kita mengenal diri sendiri, walaupun nggak selalu demikian kenyataannya.

 

3. PUTTING LABELS ON THINGS HELPS OUT OUR MIND AT EASE

There’s something strangely satisfying about being able to put a name to things, ya nggak sih? Oleh sebab itu seperti masih dikutip dari Pucker Mob, we tend label things because we want to know what it is and where it fits – dan ternyata kita juga melakukannya terhadap diri kita sendiri. Labeling dipercaya dapat membantu otak kita buat lebih memahami gimana dunia bekerja dan dalam konteks kuis kepribadian, gimana diri kita sendiri bekerja. Selain itu, kita juga punya kecenderungan untuk ingin merasa relate dengan sesuatu/seseorang, nggak terkecuali selebriti (contoh: kuis “Which K-Pop Group Do You Belong In?”), tokoh fiktif (contoh: kuis “Which Avangers Character Are You?”), atau bahkan hal-hal nggak make sense kayak “What Kind of Sandwich Are You?” yang entah gimana cara kerjanya dan apa faedahnya :’)

 

4. WE NEED EXTERNAL VALIDATION

Dikutip dari NBC News, tes kepribadian juga semacam memberi validasi terhadap citra diri kita yang kita konstruksi dan kita percayai selama ini. Yap, sadar nggak kalo pada banyak kasus kita sebenernya mengisi kuis kepribadian cuma buat memperkuat kepercayaan kita aja, bukan untuk bener-bener mengetahui gimana diri kita yang sesungguhnya? Ngaku deh, pasti pernah kan kita diem-diem berharap mendapatkan jawaban tertentu sebelum mengisi suatu kuis karena kita merasa hasil tersebutlah yang paling sesuai dengan diri kita? Karena pada dasarnya setiap orang udah punya gambaran soal diri mereka, namun entah kenapa tetep merasa membutuhkan validasi eksternal untuk memperkuat kepercayaan tersebut. Makanya nggak jarang kita berakhir kecewa ketika hasil kuis yang kita dapet nggak sesuai dengan ekspektasi, bahkan terkadang ada yang mengulang kuis cuma buat mendapatkan jawaban yang diinginkan he he..

 

5. WE WANT TO FEEL NORMAL

In the end, sebenernya kita cuma pengen memastikan lewat kuis-kuis kepribadian tersebut kalo kita normal – kalo ada orang lain di dunia ini yang juga punya kepribadian, kecenderungan, serta kebiasaan yang sama dengan kita. Misalnya aja, mungkin selama ini kita merasa aneh kerena kita nggak suka dengan keramaian dan lebih seneng menghabiskan waktu sendirian, nggak kayak kebanyakan  temen kita yang selalu pergi ke mana-mana bareng sahabat segengnya dan hobi banget hangout tiap weekend. Setelah mengisi sebuah kuis, kita pun sadar kalo kita berkepribadian introvert dan ada banyak banget orang lain yang juga punya kepribadian serupa . Akhirnya kita nggaak merasa aneh lagi deh karena ternyata kita nggak sendirian di dunia ini. Walaupun tentunya setiap manusia juga punya keunikannya masing-masing.

 

Btw, udah pernah nyobain kuis-kuis Gogirl! belum?

 

Written by Tsana Garini Sudradjat
Photo Source:
Unsplash (photo by: John Schnobrinch)
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar