INGAT 5 HAL INI KETIKA RAGU MENGUNGKAPKAN ISI HATI DAN PIKIRAN

May 07, 2018

 INGET-5-HAL-INI-KETIKA-KITA-MERASA-RAGU-BUAT-MENGUNGKAPKAN-ISI-HATI-PIKIRAN

sumber foto: shutterstock

 

Buat beberapa di antara kita, mengutarakan isi hati dan pikiran emang bukan merupakan hal yang mudah. Entah itu perasaan yang kita pendam atau ide yang nggak berani kita sampaikan, semua itu sebenernya didasari oleh satu hal: rasa takut – takut akan reaksi lawan bicara, takut akan penolakan, takut mempermalukan diri sendiri, takut akan penilaian orang dsb. Sering sih denger nasihat, “don’t be afraid to speak up your mind”. Tapi kalo ternyata masih sulit juga bagi kita buat mempraktikkannya, coba inget lima hal ini deh

 

 

1. MASALAH SERINGKALI TERJADI KARENA KOMUNIKASI YANG NGGAK BAIK

 

INGET-5-HAL-INI-KETIKA-KITA-MERASA-RAGU-BUAT-MENGUNGKAPKAN-ISI-HATI-PIKIRAN

sumber gif: giphy

 

Masalah seringkali terjadi di antara manusia – entah kita dengan temen, pacar, orangtua, dll – karena nggak ada inisiatif/keberanian di antara kita buat membicarakannya. Kita kira kita bisa membaca pikiran satu sama lain, padahal nggak. Misalnya aja ketika kita marah sama temen/pacar terus kita cuma diem dengan harapan mereka bakal tau dengan sendirinya alesan di balik kemarahan kita, begitu juga sebaliknya. Padahal mengutip perkataan life coach Marc Chernoff, masalah terbesar dalam komunikasi adalah ilusi bahwa proses tersebut telah terjadi, padahal nggak demikian adanya. So, kuncinya adalah say what you mean and mean what you say. Bicaralah dengan jelas dan jujur, kemudian dengarkan lawan komunikasi kita dengan tulus. Inget kalo nggak mengungkapkan isi hati/pikiran kita malah bisa menyebabkan kesalahpahamanan dan konflik pada beberapa kasus.

Baca juga: GINI CARA LANCAR KOMUNIKASI SAMA ORTU KITA

 

2. SILENCE CAN BE SELF-ABUSE

 

INGET-5-HAL-INI-KETIKA-KITA-MERASA-RAGU-BUAT-MENGUNGKAPKAN-ISI-HATI-PIKIRAN

sumber gif: whicdn.com

 

Pernah nggak kita merasa udah nggak bisa lagi menanggung masalah sendirian, tapi kita ragu buat menceritakannya ke orang lain dengan alesan malu, takut membuat mereka kepikiran, takut dibilang lebay dsb? Atau kita seringkali memutuskan buat memendam rasa marah, sedih, dan kecewa karena rasa nggak enak kita terhadap orang lain? Well, sadar nggak kalo dengan melakukannya sebenernya kita lagi menyakiti diri kita sendiri? Yes, silence can be self-abuse. Deep inside pasti kita sadar kan kalo kita capek hidup begini? Makanya, sesekali kita butuh buat melepaskan apa yang terpendam dan terperangkap dalam diri kita. Masih mengutip Chernoff, when you give yourself permission to openly communicate what matters to you, peace will develop within you despite the possible rejecton or disapproval you may face. Putting a voice yo your heart and soul helps you to let go and grow. Inget juga kalo pada akhirnya nggak ada yang lebih penting bagi kita daripada kebahagiaan kita sendiri.

Baca juga: MAU LEBIH BAHAGIA? INI PENTINGNYA NGUTAMAIN DIRI SENDIRI

 

3. ORANG LAIN NGGAK BISA MEMBERI DUKUNGAN BUAT KITA TANPA TAU APA YANG TERJADI

 

INGET-5-HAL-INI-KETIKA-KITA-MERASA-RAGU-BUAT-MENGUNGKAPKAN-ISI-HATI-PIKIRAN

sumber gif: giphy

 

Nggak semua masalah bisa kita selesaikan sendirian. Terkadang kita butuh bantuan orang lain buat memecahkannya atau sekedar mendapatkan dukungan moral, dan langkah pertama untuk mendapatkan bantuan tersebut adalah dengan membuka diri kita. Bahkan orang terdekat sekalipun nggak bakal bisa tau apa masalah yang lagi kita hadapi kalo kita nggak menceritakannya ke mereka, ya nggak? That’s why it’s important to share our feelings and thoughts.

Buat tau pentingnya membicarakan masalah kita dengan orang lain, baca juga: KENAPA MEMBICARAKAN MASALAH KITA DENGAN ORANG LAIN ITU PERLU

 

4. SUARA KITA BISA MEMBAWA PERUBAHAN

 

INGET-5-HAL-INI-KETIKA-KITA-MERASA-RAGU-BUAT-MENGUNGKAPKAN-ISI-HATI-PIKIRAN

sumber gif: sassarellasays.files.wordpress.com

 

Mungkin kita merasa kalo di antara miliaran pendudukan dunia, kita bukan siapa-siapa dan karenanya suara kita nggak bakal terlalu berarti. Terlebih lagi buat kita yang pemalu/tertutup, rasanya susah banget memberi tau orang lain soal ide yang ada di kepala kita, apa lagi mempresentasikan pemikiran kita di depan umum – entah karena takut dibilang salah, jelek, dan alesan-alesan lainnya. Padahal mungkin aja lho apa yang ada di dalem kepala kita bisa membawa perubahan kalo kita realisasikan.

Nggak cuma perubahan besar, tapi juga berubahan kecil kayak hubungan kita dengan orang-orang di sekitar. Misalnya aja dengan lebih terbuka pada orangtua kalo kita nggak suka kebiasaan mereka membanding-bandingkan kita dengan anak temen-temennya, ada kemungkinan mereka bakal berhenti melakukannya. Tapi kalo kita bahkan nggak pernah menyatakannya, gimana caranya mereka tau kalo kita nggak suka dengan sikap mereka, ya nggak? Adanya malah kita kesel sendiri dan makin nggak percaya diri. Kalo kata Natalie Lloyd, “Even small voices sound loud when you talk about things that matter”.

Baca juga: SPEAK YOUR MIND, WORK YOUR STYLE

 

5. IN THE END, WE ONLY REGRET THE CHANCES WE DIDN’T TAKE

 

INGET-5-HAL-INI-KETIKA-KITA-MERASA-RAGU-BUAT-MENGUNGKAPKAN-ISI-HATI-PIKIRAN

sumber gif: giphy

 

Yap, pada akhirnya kita bakal lebih menyesal mengingat hal yang nggak sempet kita lakukan daripada hal yang gagal kita lakukan. Ketika kita nggak mencoba sesuatu, kita bakal selamanya penasaran apa yang kira-kira bakal terjadi kalo kita mencobanya – and we can’t turn back time. Begitu pula kasusnya dengan mengungkapkan isi hati/pikiran kita. Coba deh, ada nggak yang sampe sekarang masih nyesel karena nggak sempet menyatakan perasaan ke cinta pertama? Atau ada nggak yang masih nyesel karena dulu nggak berani bilang ke orangtua kalo kita nggak suka dengan jurusan pilihan mereka? Daripada nantinya kita menyayangkan keputusan yang cuma didasari oleh rasa takut tersebut, lebih baik kita beranikan diri buat speak up sekarang. Setuju nggak?

Baca juga: 7 TIPS NAKLUKIN KETAKUTAN DAN NIMBULIN KEBERANIAN KITA

 

Last but not least, remember this quote by Will Smith: “Fear is not real. The only place that fear can exist is in our thoughts of the future”.  Jadi taklukanlah rasa takut tersebut dan mulai beranikan diri buat lebih jujur dalam menyatakan apa yang ada di hati dan pikiran kita.

 

 

 

 

Written by Tsana Garini Sudradjat
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar