ENAKNYA SIKAP NYALAHIN, AWAS JANGAN KETERUSAN

December 06, 2018

IN-CRAVING-FOR-BLAMING

 

Bebeda dengan memuji , menyalahkan adalah tindakan mencela dengan negative statements bahwa suatu kejadian atau apa yang orang lain lakukan itu salah. Orang yang selalu nyalahin orang lain akan mempersoalkan siapa yang menciptakan masalah, ketimbang mempersoalkan masalah itu sendiri. Ini bisa dilakukan secara sadar, maupun nggak sadar.

 

 

Ketika kita nyalahin situasi atau orang lain, maka itu adalah cara kita untuk nurunin nilai kualitas dari yang disalahkan. Dengan ngelempar negative judegments, bakal muncul ‘benteng’ tak terlihat yang bikin posisi kita jadi lebih tinggi dan aman. The end result is that the blamer feels superior. Ngelempar  tanggung jawab ke orang lain adalah hal yang paling gampang untuk dilakukan. Itulah kenapa kalo ketemu masalah, orang secara cepat nyari apa yang bisa disalahin, ketimbang mikir keras untuk mencari solusinya. Ini bikin kita lepas dari beban dan tanggung jawab. 

Hal yang juga bikin sikap blaming berkualitas buruk adalah blaming is addictive. Sekali kita terbiasa untuk nyalahin seseorang, maka seterusnya kita nggak mau pusing mikir jika dihadapkan sama suatu permasalahan. Menyalahkan jauh terlihat lebih gampang daripada ambil sikap untuk nyelesain masalah. Ini nggak bagus banget karena bikin kita jadi nggak belajar. Sikap blaming juga bisa muncul dari lingkungan tempat kita tumbuh. Misalnya aja, seorang anak yang nangis karena jatuh kesandung kursi, lalu orang tuanya ‘menyalahkan’ kursi supaya si anak nggak nangis lagi. Pola asuh kayak gitu jelas keliru karena ngajarin nilai kepada si anak untuk menyalahkan sesuatu di luar dirinya setiap kali dia jatuh.

 

SELF-BLAME

Nggak cuma situasi atau orang lain yang bisa disalahin, diri kita sendiri juga bisa menjadi pihak yang salah. Kalo nyalahin situasi atau orang lain efeknya bikin blamer ngerasa superior, maka self-blame bikin kita yang jadi ‘korban’ if something goes wrong. Jika sesuatu yang buruk terjadi dan itu merupakan salah kita, take responsibility is the admirable quality that we should possess. Tapi udah nggak tepat kalo kita mulai terus – terusan nyalahin diri atas SEMUA hal buruk yang terjadi. We got trapped into a self-image victimization. Ini yang akan ngebawa kita ke arah self-destruction. Muncul perasaan yang nggak berdaya, pesimis, rasa malu, penyesalan, dan rasa bersalah yang amat kuat sehingga bisa ngarah ke depresi. Kalo nyalahin diri sendiri terus, akibatnya akan ngerusak diri sendiri.

Berbeda dengan blaming other people  yang ‘melempar’ tanggung jawab, blaming ourselves justru menempatkan seluruh beban tanggung jawab di diri sendiri. Self-blamer adalah tipe orang yang ngeliat realita dengan situasi ‘hitam-putih’. Kemudian nempatin standar sempurna ke dirinya sendiri sehingga mencambuk diri dengan bikin tuduhan “bersalah”. Contoh kasus: suatu hari kita kesiangan bangun, sehingga udah keburu ditinggal Mama ke kantor. Karena nggak bisa nebeng, terpaksa mesti naik motor ke kampus. Pas di jalan mendadak ban motor kempes, dan jadi terlambat kuliah. Di sini kita jadi kesel sama diri sendiri karena menganggap kita nggak becus , gara-gara kelalaian kita, semua jadi berantakan. Padahal, kita bisa berusaha supaya nggak telat bangun pagi. Tapi mesti ingat kalo ada hal – hal yang bisa aja terjadi di luar kendali kita. Ada batasan di mana kita nggak bisa bikin semuanya berjalan sempurna. Too much self-blame is really about grabbing too much of the ‘responsibility pie’, ibarat kue, orang yang mudah nyalahin dirinya sendiri take the whole pie of responsibility for themselves. Tentunya ini sama sekali nggak sehat buat jiwa and our wellbeing.

 

SIDE EFFECT

Psikolog Julian Rotter dari University of Connecticut, mengenalkan konsep Locus of Control tentang berbagai sikap seseorang dalam menilai penyebab dari suatu kejadian. Mereka yang cenderung hanya ngeliat dirinya sebagai penyebab kesalahan, memiliki ‘internal locus of control.’ Bahkan, ketika sesuatu berhasil baik, self-blamer nggak melihat itu sebagai sebuah pencapaian yang dilakukan. Efeknya, self-blamer jadi memelihara pikiran negatif terutama ke diri sendiri. Nggak bagus banget kan? Akhirnya malah bisa ngerusak diri dengan ngasih label negatif ke diri sendiri. Begitu pula dengan orang yang terbiasa ngelempar tanggung jawab ke orang lain atau nyalahin situasi. Mereka ini punya ‘external locus of control’ dengan menempatkan kesalahan ada di luar dirinya. Kita nggak akan pernah belajar dari setiap masalah yang datang karena nggak ada tindakan solutif dari tiap kejadian. All blame is a waste of time. Gogirl! rasa nggak ada manfaat yang datang dari sikap suka menyalahkan. Blaming will not change anything.

 

WHAT WE SHOULD DO

Neil Farber M.D., Ph.D., psikolog anggota International Positive Psychology Association, ngasih paparan tentang how to stop blaming. Pertama dan terpenting, kita mesti paham dan akui bahwa kita yang memiliki dan memegang kendali dengan hidup kita sendiri. Sesuatu kayak thoughts, feelings, dan actions-lah yang bisa kita kendalikan, and it will change you. Artinya, jangan nyalahin seseorang atau sesuatu kalo kita gagal. It’s us who took the actions, created the feelings, and make the choices. Nggak kalah penting, take 100% responsibility for everything that we experience in our life. Hasil dari kerja keras, kualitas hubungan kita dengan orang lain, kesehatan, emosi, dan perasaan, semuanya adalah tanggung jawab kita sendiri. Jadi, jangan langsung nyalahin pihak lain.

Sangat dibutuhin sikap tenang dan bijak. Belajar dari kesalahan itu penting, tapi jangan sampe kekecewaan bikin kita memandang rendah diri sendiri dengan selalu blaming ourselves. Nyatanya, emang nggak gampang merasakan kekecewaan, apalagi menghadapi sebuah kegagalan besar. Di sini kita harus paham bahwa failure is a step to success. Belum ada sejarahnya orang bisa langsung sukses tanpa usaha ekstra kuar dan mental sekuat baja. Mereka yang sukses pasti harus mengalami dulu penolakan dan kegagaan. Learn from it and don’t be discouraged by it.

We will never become successful as long as we continue to blame someone or something else for our lack of success. Lihat sebuah hambatan atau masalah sebagai sesuatu yang bisa kita atasi. Coba kita pikir sama – sama, pernah nggak ada orang  yang nyalahin dan ngeluh soal gravitasi? Padahal kita bisa aja nyalahin atau ngeluh soal gravitasi, karena tanpa daya tarik bumi nggak mungkin terjadi kecelakaan pesawat atau kejadi mecahin barang kesayangan. Kenyataannya kan kita nggak pernah put the blame on gravity, because there’s nothing anyone can do about gravity, so we just accept it. Sebetulnya, semua complain and blame kita atas apapun bisa diubah dan diatasi. Jadi, ubah mindset kita dan jauh – jauh dari sikap suka nyalahin orang atau diri sendiri.

“Blaming your faults on your nature does not change the nature of your faults”- Indian Proverb

 

 

Written by Rianty Rusmalia, rewritten by Nathania Clairine
Photo Source:
shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar