HINDARI 7 KESALAHAN UMUM INI KETIKA MENYUSUN PROFIL LINKEDIN

October 01, 2018

HINDARI-7-KESALAHAN-UMUM-INI-KETIKA-MENYUSUN-PROFIL-LINKEDIN

 

Profil LinkedIn kita bisa dibilang merupakan Curriculum Vitae (CV) online kita. Seperti yang sebelumnya sempet Gogirl! bahas di artikel “5 MANFAAT PUNYA LINKEDIN BUAT KITA PARA PELAJAR”, buat yang belum tau, LinkedIn adalah situs jejaring sosial yang bertujuan membantu kita membangun koneksi dan karier – khususnya bagi para profesional. Lewat media sosial (medsos) yang satu ini, kita bisa aja ditemukan oleh orang-orang yang tertarik buat merekrut kita atau ingin bekerjasama dengan kita. Di luar itu, LinkedIn juga dapat mengantarkan kita kepada berbagai peluang menarik lainnya. So, sayang banget nggak sih kalo kita gagal memanfaatkannya buat menjual skill dan pengalaman kita sebaik-baiknya?

 

Kalo sebelumnya Gogirl! udah pernah membahas soal gimana cara membuat profil LinkedIn kita terlihat profesional, kali ini Gogirl! mau membahas soal kesalahan-kesalahan umum yang seringkali kita lakukan dalam menyusun profil LinkedIn kita – lebih tepatnya kesalahan-kesalahan yang tanpa disadari membuat profil kita terlihat nggak meyakinkan atau nggak sepenuhnya dapat menjual kualitas kita. Well, buat yang udah punya akun LinkedIn, coba deh buka lagi profil kita dan perhatikan apakah kita masih melakukan tujuh kesalahan ini:

 

1. UNPROFFESIONAL PHOTO

Yap, nyatanya salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan oleh para pengguna LinkedIn ketika menyusun profilnya adalah menggunakan foto yang nggak profesional – atau bahkan nggak menggunakan foto sama sekali. Kalo berdasarkan informasi yang Gogirl! dapet dari halaman bantuan LinkedIn, profile photo LinkedIn kita baiknya berupa foto head shot yang menampilkan wajah kita dengan jelas, karena tujuan dari ditampilkannya foto tersebut adalah agar orang lain dapat mengenali kita. So, baiknya sih foto mesra kita bareng pacar atau foto Outfit of the Day (OOTD) kita yang lagi bergaya macem-macem dipamerin di Instagram, Facebook, atau medsos lain aja. Bahkan katanya pihak LinkedIn bisa banget lho menghapus foto kita yang nggak memenuhi syarat. Misalnya aja kita yang malah menggunakan foto logo perusahaan, pemandangan, quotes, dsb. Intinya sih berhubung LinkedIn adalah medsos buat kepentingan profesional, gunakanalah profile photo yang profesional juga buat dipajang di akun kita. Se-simple itu logikanya.

 

2. BAD HEADLINE

Apa kata/kalimat yang kita cantumkan di bawah nama kita di profil LinkedIn buat secara singkat menggambarkan diri kita? Disebut sebagai headline, kebanyakan pengguna cenderung cari gampangnya dengan sekedar menuliskan profesi mereka. Misalnya aja: “Reporter”, “Software engineer”, “Public Relation”, atau “Student at X University”. Padahal seperti kata career coach Marc Dickstein kepada Business Insider, this is a great opportunity to showcase your personal brand.  Nah, biar headline kita lebih menarik sekaligus lebih dapat menggambarkan spesialisasi kita, coba deh gambarkan keahlian kita secara lebih detail. Kita juga bisa menyatakan kalo kita lagi mencari pekerjaan/terbuka pada kesempatan baru. Contohnya: "Advertising major at Syracuse University who has experience with nonprofit work" atau "Experienced advertising professional looking for opportunities in the med-tech space".

 

3. NO SUMMARY

Hayoo ngaku.. siapa yang bingung atau males bikin summary tentang diri kita sendiri di LinkedIn dan karenanya berakhir masih mengosongkannya sampe sekarang? Paragraf singkat soal diri kita yang terletak di bawah headline ini disebut sebagai summary yang fungsinya kurang lebih sama dengan ringkasan yang biasa kita cantumkan di CV, di mana salah besar kalo kita memutuskan buat nggak menuliskannya. Karena biasanya summary inilah yang bakal dibaca pertama kali oleh orang-orang ketika melihat profil/CV kita, terutama ketika mereka males membaca keseluruhan isi resume kita.

Kalo di headline kita sekedar mencantumkan apa profesi kita secara sekilas, di bagian summary ini kita bisa lebih jelas lagi menggambarkan deskripsi pekerjaan kita. Namun begitu kembali mengutip Dickstein, summary LinkedIn nggak seharusnya cuma berisi pengalaman kerja yang pada akhirnya bakal kita tulis ulang lagi di bagian “experience”. Instead, gunakanlah kesempatan ini buat menonjolkan bagian paling menarik dari perjalanan karier kita, what we’re passionate about, dan apa yang kita cari di LinkedIn. PS: Menggunakan kata kunci-kata kunci yang berhubungan dengan karier kita atau kesempatan baru yang lagi kita cari cari bakal meningkatkan kemungkinkan kita ditemukan oleh para perekrut/pencari talent yang membutuhkan skill kita.

 

4. NO DESCRIPTION ON CAREER HISTORY

Well, banyak juga nih di antara kita yang sekedar mencatumkan jabatan dan nama perusahaan tempat kita pernah bekerja di bagian “experience” tanpa menjelaskan sebenernya apa yang kita lakukan ketika sedang menduduki jabatan tersebut. Padahal kalo dipikir-pikir nggak bakal ada yang bisa menilai kapabilitas kita dengan sekedar mengetahui tempat kerja dan jabatan kita sebelumnya, ya nggak? Namun sebaliknya jangan berlebihan juga dengan membuat list panjang soal each and every task yang pernah kita kerjakan di pekerjaan terakhir kita. Intinya sih seperti membuat CV aja guys: singkat, padat, dan jelas. Malahan kalo bisa instead of deskripsi pekerjaan kita, tuliskanlah pencapaian kita yang paling luar biasa atau projek yang paling bisa menggambarkan kemampuan kita ketika menduduki jabatan tersebut.

 

5. NO SKILLS

Kesalahan selanjutnya yang seringkali dibuat oleh para pengguna LinkedIn ketika menyusun profilnya adalah nggak mencantumkan skill yang dikuasainya. Padahal daftar skill ini lho yang bakal membantu orang-orang dalam mengindentifikasi apa yang bisa kita lakukan dan membuat kita lebih mudah ditemukan ketika para perekrut/pencari talent sedang mencari orang dengan skill tertentu. Oke, mungkin mereka bisa mendapat gambaran umum soal skill apa aja yang kita kuasai dengan melihat profesi/pekerjaan apa aja yang telah kita lakukan sebelumnya. Tapi selalu ada kemungkinan kita juga menguasai hal-hal yang di luar bidang pekerjaan kita, ya kan? Misalnya aja mungkin kita adalah reporter media cetak dan online dengan skill utama menulis, tapi kita juga menguasai video editing dan script writing yang mungkin aja bakal mengantarkan kita ke pekerjaan kita selanjutnya. Selain itu ada baiknya bagi kita buat mencantumkan skill-skill yang dapat diidentifikasi oleh LinkedIn, karena kata kunci-kata kunci inilah yang bakal membantu kita buat lebih mudah ditemukan.

 

6. NO ENDORSMENTS & RECOMMENDATIONS

Buat kita yang udah punya pengalaman kerja sebelumnya, atau seenggaknya punya pengalaman mengerjakan sebuah projek, endorsement serta rekomendasi dari rekan-rekan yang pernah bekerjasama dengan kita adalah nilai tambah yang penting banget untuk membuat apa yang kita tuliskan mengenai skill dan kualitas kita lebih meyakinkan. So, jangan ragu buat minta endorsement dari rekan kerja atau rekomendasi dari atasan kita sebelumnya!

Lebih lanjutnya seperti kembali dikutip dari Business Insider, assistant director for Syracuse University's Career Services department Kim Brown bilang kalo rekomendasi ini sebaiknya berbicara soal kualifikasi kita secara spesifik dan diberikan oleh orang yang emang punya reputasi. Misalnya aja, komentar seperti “Dia adalah pekerja keras yang dapat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik” adalah rekomendasi positif yang dapat membantu kita secara positif, tapi bisa nggak kita minta mereka buat memaparkannya secara lebih detail lagi? Gimana kinerja kita dalam sebuah projek spesifik tertentu misalnya? Terkesan demanding ya, tapi hal ini jugalah perlu kita inget-inget ketika memberikan rekomendasi buat orang lain. Karena nyatanya rekomendasi yang biasa-biasa aja nggak bakal membantu kita buat stand out.

 

7. NO ACTIVITIES

Ngaku deh, siapa di sini yang cuma membuka LinkedIn ketika kita kebetulan lagi nyari lowongan kerja aja? He he.. Begitu dapet, langsung lupa lagi deh sama medsos kita yang satu ini, nggak kayak Instagram yang rajin kita buka dan update hampir setiap hari – atau bahkan setiap jam. Padahal inget lho kalo LinkedIn juga merupakan medsos di mana kita bisa sharing soal keseharian kita, terutama terkait pekerjaan dan projek-projek kita. Jadi, manfaatkanlah media ini sebaik-baiknya buat me-maintain personal branding kita. Don't fill out your profile and then forget about it.

 

Baca juga:

Written by Tsana Garini Sudradjat
Photo Source:
Alphr, behance
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar