GAMPANG STRES? COBA PELAJARI 4 STRESS MANAGEMENT SKILL INI

March 12, 2018

GAMPANG-STRES-COBA-PELAJARI-4-STRESS-MANAGEMENT-SKILL-INI

sumber foto: The Guidence Girl

 

Kita seringkali menganggap stres sebagai sesuatu yang tak terkendali, padahal sebenernya kita bisa mengontrol perasaan ini lho. Yuk belajar lebih lanjut tentang stress management skill yang nggak kalah penting buat kita miliki dibanding keterampilan-keterampila lain!

 

 

GAMPANG-STRES-COBA-PELAJARI-4-STRESS-MANAGEMENT-SKILL-INI

sumber foto: Caresfly.org

 

Dikutip dari A Professional Growth Module: Stress Management, stres adalah tanggapan kita baik secara fisik maupun emosional terhadap perubahan. Efek yang disebabkan oleh stres ini bisa positif (baik) dan juga negatif (buruk), antara perasaan yang kita dapat ketika dihadapi dengan situasi baru yang menantang atau rasa cemas yang dateng karenanya. Makanya, it can be helpful but also harmful. Misalnya aja, beberapa di antara kita mungkin bisa bekerja lebih baik ketika berada di bawah tekanan, tapi ada juga yang malah jadi nggak bisa berpikir jernih, nggak produktif, bahkan terganggu secara mental/emosional karenanya. Makanya stress management atau manajemen stres ini penting.

Stress is a fact of life, but it doesn’t have to be a way of life. Kita nggak bisa memungkiri kalo stres adalah hal yang nyata dan terkadang nggak bisa kita hindari. Oleh sebab itu inti dari manajemen stres adalah memastikan kita hanya terpengaruh oleh stres sampai batas yang sehat. Hal ini bisa kita lakukan lewat tiga step simple, yaitu:

1. Mengidentifikasi gejala dan penyebab stres;

2. Mempelajari empat skill untuk memanajemen stres; dan

3. Menggunakan skill tersebut untuk mengontrol stres.

 

SKILLS NEEDED TO MANAGE STRESS

Masih dikutip dari sumber yang sama, berikut adalah empat skill yang harus kita kuasai untuk dapat memanage stres:

 

1. AWARENESS

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali stressor atau penyebab stres yang kita rasakan. Stres bisa dateng dari dalem diri dan luar diri kita. Stressor yang dateng dari dalem diri (internal) biasanya adalah kepribadian kita yang perfeksionis, kelewat peduli dengan orang lain, atau kekhawatiran berlebih akan hal-hal yang nggak bisa kita kontrol. Sedangkan stressor yang ada di luar diri (eksternal) misalnya aja stres yang dateng karena kelelahan, pekerjaan, sekolah, lingkungan, tekanan sosial, masalah dengan orang lain, dsb.

The next thing to do adalah mencari tau cara terbaik untuk mengatasi stres tersebut berdasarkan penyebabnya:

  • Kalau stres disebabkan oleh sesuatu yang berada di luar kontrol kita, satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh adalah berusaha menerimanya (acceptance);
  • Ketika stres disebabkan oleh sesuatu yang bisa kita kontrol, kita bisa mengambil aksi dengan berusaha mengubahnya;
  • Pada saat-saat tertentu, berusaha mengatasi stres (coping) bisa membantu kita untuk beradaptasi, bahkan mengubah situasi.

Kita juga perlu aware dengan tanda-tandanya yang bisa berupa tanda-tanda fisik, emosi, dan perilaku.

BUAT TAU GEJALA STRES, BACA JUGA: NGGAK CUMA ORANG DEWASA, STRES DAN DEPRESI JUGA BISA MENYERANG KITA

 

2. ACCEPTANCE

Sometimes all you can do is learn to accept things as they are. Ada banyak banget hal dalam hidup yang mungkin terjadi di luar kendali kita, terutama hal-hal yang udah lewat dan nggak bisa kita ulang. Misalnya aja, kita stres karena gagal diterima di universitas impian bahkan setelah belajar mati-matian atau kita nggak berhasil dapet pekerjaan yang kita pengen padahal kita merasa udah maksimal banget selama tahap seleksi dan wawancara. Well, kita emang bisa berusaha, tapi kita nggak bisa memprediksi apa yang bakal terjadi setelahnya kan?

Ketika mengalami kegagalan kayak gini kita cenderung merasa down dan malah menyesali apa yang udah lewat, lebih parahnya lagi berlarut-larut dalam keterpurukan tersebut. “Harusnya gue belajar lebih giat” atau “harusnya gue nggak ngasih jawaban kayak gitu pas ditanya sama pewawancara”. Padahal sebenernya nggak ada gunanya juga meratapi apa yang nggak bisa kita ubah. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah berusaha menerimanya dan fokus pada solusi atau apa yang bisa kita pelajari dari kejadian tersebut.

Kita juga seringkali merasa stres karena hal-hal yang bahkan belum terjadi, misalnya aja, “Gimana kalo nilai ujian gue jelek?” atau “Gimana kalo presentasi gue nanti gagal?”. Daripada mengkhawatirkan hal-hal yang nggak pasti, ada baiknya kita mempersiapkan diri untuk menerima kalo apapun bisa terjadi dan terkadang, realitas emang nggak sesuai dengan ekspektasi.

 

3. COPING

Selain menerima keadaan, kita juga bisa mengatasi stres dengan berusaha menenangkan diri. Yap, learning to cope with the stress of daily life is an important skill. Beberapa hal yang bisa kita coba misalnya aja melakukan hobi yang membuat kita seneng, sekedar mendengarkan musik, meditasi, atau take a break and do nothing. Allow your thoughts to pass through your mind without paying attention to them. Coba deh cari stress reliever yang paling mempan buat kita dan gunakan senjata andalan ini ketika kita membutuhkannya.

BACA JUGA: BISA NGGAK SIH STRESS DIILANGIN DALAM SEHARI?

 

4. ACTION

Rugi banget kalo kita cuma diem dan membiarkan stres menguasai kita ketika sebenernya penyebab dari perasaan tersebut adalah hal yang bisa kita kendalikan. So, take action guys! Metode ini terutama bisa kita gunakan ketika penyebab stres dateng dari diri kita sendiri, karena kita nggak bisa mengatur orang lain atau hal-hal yang terjadi di luar kendali kita, tapi kita kita punya kuasa untuk mengatur perasaan,cara berpikir, dan cara pandang kita. Kayak kata Gary W. Goldstein, “All you can change is yourself, but sometimes that changes everything”. Misalnya aja, kita sadar kalo kita sering banget merasa stres karena kita adalah tipe orang yang perfeksionis, makannya ketika hal-hal nggak berjalan sesuai dengan rencana dan ekspektasi, kita bakal merasa kecewa. Well, sifat-sifat yang cenderung menimbulkan stres gini bisa banget kok kita ubah kalo kita mau mengusahakannya – mulai dari mengubah cara berpikir kita. Coba deh gugurkan keinginan kita untuk jadi serba sempurna, lalu ubah goal kita dari menjadi seorang perfeksionis menjadi seorang optimalis.

BACA JUGA: APA BEDANYA ANTARA SI PERFEKSIONIS DAN OPTIMALIS?

 

 

You may also want to read:

 

 

 

Written by Tsana Garini Sudradjat
Photo Source:
The Guidence Girl, Caresfly.org
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar