FILTER BUBBLE EFFECT MEMBATASI PANDANGAN KITA DI DUNIA MAYA

July 12, 2018

FILTER-BUBBLE-EFFECT-MEMBATASI-PANDANGAN-KITA-DI-DUNIA-MAYA

 

Tau nggak kalo kebanyakan mesin pencari dan media sosial (medsos) saat ini udah menggunakan algoritme yang dengan canggihnya bisa membaca preferensi kita? Makanya jangan kaget kalo Facebook, Twitter, atau Instagram seakan-akan bisa menebak apa minat dan concern kita tanpa diberi tau. Misalnya aja, fitur explore Instagram kita para beauty enthusiast pastinya bakal dipenuhi oleh konten-konten terkait makeup, skincare, dan update-an terbaru dari beauty vlogger favorit kita, ya nggak? Sedangkan fitur explore Instagram temen kita yang adalah pecinta fotografi kemungkinan besar bakal berisi foto-foto populer hasil jepretan fotografer-fotografer ternama atau sesama pecinta fotografi lainnya. Di satu sisi, algoritme ini berguna banget karena bakal mempermudah kita buat menemukan konten-konten yang sesuai dengan preferensi kita di dunia maya. Tapi di sisi lain, timbulah efek gelembung penyaring atau filter bubble effect yang ternyata nggak baik buat kita. Well, apa tuh filter bubble effect dan kenapa kita harus mewaspadainya? Yuk simak!

 

MENGENAL APA ITU FILTER BUBBLE

FILTER-BUBBLE-EFFECT-MEMBATASI-PANDANGAN-KITA-DI-DUNIA-MAYA

 

Istilah filter bubble pertama kali dicetuskan oleh aktivis internet Eli Pariser pada tahun 2011 dalam bukunya yang berjudul “The Filter Bubble: What the Internet is Hiding From You”. Singkat kata, filter bubble adalah isolasi intelektual yang disebabkan oleh algoritme website. Hah, gimana tuh maksudnya?

Seperti yang udah sekilas disinggung di atas, saat ini kita hidup di dunia super canggih di mana algoritme aja bisa menebak informasi apa yang sekiranya bakal menarik buat kita. Prediksi ini dibuat berdasarkan info-info yang mereka kumpulkan tentang kita, di antaranya lokasi, click behaviour, dan search history kita sebelumnya. Contohnya, ketika Twitter tau kalo kita adalah penggemar berat K-pop berdasarkan apa yang kita cari, tweet, retweet, dan follow, mereka bakal merekomendasikan segala konten yang berhubungan dengan K-pop di fitur in case you missed it, explore, dan popular articles akun kita. Rekomendasi konten ini pastinya bakal beda banget dengan isi Twitter pacar kita yang sehari-harinya mengikuti isu politik misalnya, di mana berita-berita politik tersebut mungkin nggak bakal masuk ke Twitter kita. Begitu pula sebaliknya, konten yang berhubungan dengan K-pop mungkin nggak bakal masuk ke Twitter pacar kita – karena algoritme udah menyeleksinya.

In short, segala macem informasi sebenernya ada dan banyak banget beredar secara bebas di dunia maya, but they show us more of what we like and less of what we don’t like. Alhasil, kita terbelenggu dalam “gelembung besar” berisi konten yang itu-itu aja, yaitu informasi yang sesuai dengan minat, opini, dan sudut pandang kita sesuai dengan hasil filter algoritme. Nah, di sinilah letak masalahnya. Apa lagi mengingat sistem ini nggak cuma digunakan oleh situs pencari sekelas Google dan medsos-medsos populer kayak Facebook, Twitter, dan Instagram, tapi juga banyak website lain tanpa kita sadari.

 

BAHAYA FILTER BUBBLE EFFECT BUAT KITA

 

 

Ketika kita terus-terusan dipertemukan dengan  informasi yang itu-itu aja, pada saat itu jugalah kita dijauhkan dari informasi-informasi lain yang cenderung nggak sesuai dengan preferensi kita, padahal mungkin aja informasi tersebut penting atau seenggaknya bisa memperkaya cara berpikir kita. Kalo kata Pariser, “The internet is showing us what it thinks we want to see, but not necessarily what we need to see”. Akibatnya, kita cuma bakal melihat suatu permasalahan dari satu sudut pandang. Karena cuma konten-konten yang mendukung minat, opini, dan cara berpikir kitalah yang bakal direkomendasikan, kita juga bakal mendapat ilusi kalo pendapat kita merupakan pendapat mayoritas dan merasa kalo sudut pandang tersebutlah yang paling benar. Padahal sebenernya ada banyak banget kejadian, opini, dan perspektif berbeda yang beredar di luar sana, tapi sayangnya mereka nggak masuk aja ke dalam radar kita. Seperti dikutip dari Forbes:

If our social media accounts only show us the perspectives, experiences, and opinions we like and agree with, we lose the opportunity to learn about or understand different perspectives, experiences, and opinions. The algorithm isolates you from the reality that there are other views and beliefs out there, and gives you a false sense of validation that your views and beliefs are more popular than they really are in society as a whole”.

Misalnya aja ketika ayah kita adalah pendukung kandidat A di pemilihan umum baru-baru ini, cuma berita baik-baik soal kandidat A lah yang bakal muncul di beranda Facebook-nya. Sekalinya ada berita soal kandidat B yang lolos filter, konten yang dibagikan biasanya adalah informasi nggak baik yang menjatuhkan atau menjelek-jelekan kandidat B selaku pihak lawan – karena yang membagikannya juga adalah pendukung kandidat A, sama persis kayak ayah kita. Akhirnya, ayah kita semakin yakin kalo kandidat A adalah kandidat terbaik dan lebih ekstrimnya, jadi membenci kandidat B. Padahal sebenernya ada banyak juga berita baik soal kandidat B, hanya aja informasi tersebut nggak masuk ke beranda Facebook ayah kita. Kecenderungan kayak ginilah yang berpotensi menimbulkan pemikiran dan kepercayaan fanatik, padahal we are simply kurang referensi.

 

CARA MENGHINDARI DAMPAK BURUK FILTER BUBBLE

 

 
 

#SobatKom, mungkin ada yg tidak sadar bahwa efek dari filter bubble ini ada disekitarnya. Tanpa disadari, kita lebih cenderung berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki ide yang sama bahkan keyakinan yg sama. - Sebagai contohnya, pernahkah kamu merasa punya grup whatsapp yg isi anggotanya memiliki tujuan yang sama dengan bergabung dalam chat room tersebut? - Model seperti ini memang membuat kita lebih cenderung selektif dalam memilah-milih informasi, dengan yang kita anggap benar saja tanpa bisa berpikir lebih kritis. Maka dari itu, luaskan pandangan kita dengan mencari informasi dari berbagai macam sumber biar gak terjebak dalam gelembung terbatas ini. - #filterbubbleeffect #efekgelembungterbatas #literasidigital

A post shared by Kementerian Kominfo (@kemenkominfo) on

 

Filter bubble effect udah menjadi perhatian banyak pihak yang peduli terhadap literasi media dan literasi digital, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Dilansir dari infografis yang dibagikan oleh akun Instagram resmi @kemenkominfo, berikut adalah tiga hal yang dapat kita lakukan untuk menghindari dampak buruk dari filter bubble:

  1. Perbanyak mencari informasi yang beragam, jangan hanya bergantung pada satu sumber;
  2. Bijak dalam bermedia sosial (baca lebih lanjut soal cara bijak menggunakan media sosial di sini); dan
  3. Hindarilah perdebatan di dunia maya.

Akhir kata, seperti kata Eli Pariser, A world constucted from the familiar is the world in which there’s nothing to learn. Dengan mengetahui dan memahami konsep filter bubble, semoga aja kita bisa lebih aktif dan kritis dalam mencari informasi di dunia maya serta lebih terbuka menerima berbagai sudut pandang yang pastinya nggak selalu sesuai dengan cara berpikir kita – karena dari sanalah kita bisa belajar.

 

Written by Tsana Garini Sudradjat
Photo Source:
Found.co.uk, Medium
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar