FEMINISM CONCEPT: RIGHTS VS OBLIGATIONS NOWADAYS

January 10, 2019

 FEMINISM-RIGHTS-VS-OBLIGATIONS-NOWADAYS

 

Ngomongin tentang women empowerment nggak bisa lepas dari isu feminisme. Aliran yang memperjuangkan hak-hak perempuan ini emang membantu kita “bergerak” lebih leluasa. Tapi feminisme juga kontroversial. Banyak yang menilai kesetaraan gender yang para feminis teriakkan dianggap bertentangan dengan kodrat alami perempuan. Terus, gimana ya jalan tengahnya?

 

 

FREE AND INDEPENDENT

 

FEMINISM-RIGHTS-VS-OBLIGATIONS-NOWADAYS

 

Dari dulu, mainstream yang berkembang di masyarakat dunia berpendapat perempuan lebih cocok mengurus wilayah domestik. Banyak istri dilarang bekerja oleh para suami supaya bisa lebih total jadi ibu rumah tangga. Masak, beres-beres rumah, mengurus anak dan suami. Di Indonesia populer dengan istilah “dapur, sumur, kasur”. Ibu rumah tangga yang bekerja dianggap menyalahi kodrat karena menelantarkan keluarga. Kalo kita flashback lebih jauh ke belakang, perempuan bahkan nggak hanya dilarang bekerja, tapi juga dilarang sekolah dan dianggap sebagai warga negara kelas dua karena nggak punya hak suara dalam pemilu.

Berangkat dari sinilah feminisme kemudian lahir. Karena kayak para cowok, sebagai individu para cewek juga punya impian setinggi langit. Kuliah demi sederet gelar, bekerja di bidang yang diminati, karir cemerlang, gaji besar dan senang-senang dengan uang sendiri. Intinya cuma satu: sukses! Udah bukan zamannya lagi cewek tergantung sama cowok. Mendiang Anita Roddick, founder of The Body Shop berpendapat, “There’s no real freedom without economic freedom.” Jadi, cewek zaman sekarang emang harus mandiri.

 

WOMEN’S STRENGTH

 

FEMINISM-RIGHTS-VS-OBLIGATIONS-NOWADAYS

 

Entah kenapa perempuan zaman dulu terkesan sangat dibatasi. Perhaps because men feel a little bit threatened and insecure with women’s potential. Soalnya, hormon-hormon dalam tubuh perempuan ternyata lebih “sakti” lho. Nggak hanya sekedar bikin kita bisa hamil dan menyusui. Hormon-hormon kayak estrogen dan progesteron juga menghasilkan lebih banyak emosi sehingga perempuan punya kemampuan lebih dalam mencintai. We talk about universal love here. Totalitas perempuan dalam mencintai nggak hanya untuk orang-orang di sekitarnya, tapi juga untuk segala hal di kehidupannya, kayak hobi, pekerjaan dan lingkungannya. Cukup dengan modal itu aja perempuan bisa mengancam dominasi laki-laki di dunia ini.

Check this example given: Apalagi yang bisa bikin perempuan kayak Cut Nyak Dhien dan Joan of Arc berani berperang kalo bukan karena cinta sama negaranya? Siapa juga yang berani meragukan cinta mendiang Bunda Teresa terhadap kemanusiaan? Aksi sosialnya udah mengubah dunia jadi tempat yang lebih baik, at least for so many unfortunate people. Mairead Corrigan dan Betty William juga bisa jadi bukti bahwa cinta bisa mengalahkan kekerasan. Dua aktivis perdamaian ini berhasil membuat konflik di irlandia Utara berakhir dengan membentuk Community of Peace people di tahun 1976. Dan apa sih yang bisa bikin banyak perempuan jaman sekarang bisa sukses? Udah pasti kecintaanya terhadap pekerjaannya.

 

BALANCING ACT

 

FEMINISM-RIGHTS-VS-OBLIGATIONS-NOWADAYS

 

Beda dengan zaman dulu, perempuan zaman sekarang emang lebih tangguh. Nggak hanya sanggup menentukan nasib dan jalan hidupnya sendiri, tapi juga mampu melawan segala bentuk penindasan dan diskriminasi. Thanks to feminism and emancipation. Tapi supaya nggak salah kaprah, kita semua harus menyadari bahwa feminisme bukanlah sebuah deklarasi perang melawan laki-laki. However, Tuhan menciptakan perempuan dan laki-laki dengan perbedaannya masing-masing untuk saling melengkapi. Nggak masalah kalo kita ngerasa bisa melakukan pekerjaan laki-laki di bidang teknologi dan otomotif, make outfit cowok dan bergaya boyish abis, playing games and extreme sport or doing any other men-related activities. Tapi jangan sampe kita menilai diri kita terlalu tinggi sampe-sampe nggak butuh cowok.

Once again, let’s take a look at almost-perfect Angelina Jolie. She is beautiful, tough, rich and independent. Semua orang tau dia bisa hidup tanpa laki-laki. Tapi walau begitu, dia nggak mengecilkan peran laki-laki sebagai pasangan hidupnya. Dengan kata lain, walaupun bisa berdiri sendiri, dia tetap butuh sosok yang bisa dijadikan sandaran dalam hidupnya. Tapi bukan hal yang gampang punya kebahagiaan lengkap kayak Angie. Kuncinya adalah keseimbangan. Kalo kita bisa pantang menyerah memperjuangkan hak, kita juga harus rela menjalankan kewajiban kita dong. Ibu-ibu rumah tangga yang juga sukses sebagai wanita karir adalah contoh dari keseimbangan itu. Terbukti kan, perempuan dan laki-laki bisa banget hidup berdampingan dengan aman dan damai tanpa harus ribut tentang hak dan kewajiban masing-masing.

 

DOUBLE STANDARD IN GENDER ISSUE

 

FEMINISM-RIGHTS-VS-OBLIGATIONS-NOWADAYS

 

Walau kita sangat berterima kasih dengan adanya feminisme dan emansipasi, kita juga nggak bisa menyangkal terkadang kita menerapkan standar ganda dalam menghadapi makhluk yang bernama laki-laki. Kita pengen dibilang mandiri tapi masih sering minta anter-jemput pacar, pengen dibilang tough tapi sering sebel kalo ada cowok yang nggak mau memberi tempat duduknya saat kita desek-desekan di bus. Ini nih yang sering jadi bahan perdebatan cewek dan cowok. Sebagai cewek, kita memang harus hati-hati supaya cowok nggak menganggap kita “curang”. Misalnya kalo minta dianter-jemput pacar, lakukan karena kamu memang sedang butuh kendaraan dan perhatiannya. Setuju kan?!

 

 

Written by Winny Witana, rewritten by Ayudya Annisa
Photo Source:
Harpers Bazaar, Geography and You, Al Bawaba, pexels, justjared.com
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar