BELAJAR JADI POSITIVE SNOBBER BIAR NGGAK RENDAH DIRI

October 30, 2018

BELAJAR-JADI-POSITIVE-SNOBBER-BIAR-NGGAK-RENDAH-DIRI

 

Siapa di sini yang pernah sebel melihat cara orang lain membicarakan diri-sendiri selayaknya snobber? Istilah snobber sebenernya diartikan sebagai kecenderungan seseorang melebih-lebihkan dirinya sendiri, dan biasanya jauh dari kenyataan sebenarnya. Kalo dalam bahasa Indonesia, snobber mungkin paling dekat dengan istilah ‘orang sok’. Sok kaya, sok pinter, sok cantik, dan sebagainya.

 

Nah, para snobber ini seringkali disebelin sama orang-orang di sekitarnya, terutama kalo mereka bener-bener cuma sekadar sok tapi nggak ada buktinya. Masalahnya, terkadang orang yang nggak sekadar sok alias emang punya kapasitas diri juga tetep dianggap sebagai snobber. Orang-orang ini punya kemampuan dan kelebihan tertentu, atau emang punya sifat yang lebih dibandingkan yang lain. Tapi, karena ada pihak-pihak yang merasa terintimidasi karenanya, dia jadi dianggap snobber.

Contohnya, kalo kita masih kuliah, kita pasti punya satu teman yang seringkali selesai mengerjakan tugas duluan. Atau bahkan kitalah orang itu. Ketika ditanya sama temen-temen yang kebetulan belum mengerjakan tugas, kita seringkali merendah dengan bilang kalo tugas kita belum selesai. Alasannya, kita takut dibilang, “Widiih, gila lo ambisius banget!” atau “Kok lo ninggalin, sih?”. Akibatnya, kita jadi terpaksa rendah diri. Nggak jarang, kita mengaku nggak bisa padahal bisa, mengaku belum padahal udah, mengaku nggak sanggup padahal sanggup. Biar nggak gitu lagi, Gogirl! mau kasih insight nih gimana caranya jadi positive snobber biar nggak jadi pribadi yang rendah diri!

 

KENALI KEMAMPUAN DAN KEAHLIAN KITA

BELAJAR-JADI-POSITIVE-SNOBBER-BIAR-NGGAK-RENDAH-DIRI

Hal pertama yang harus kita lakukan biar nggak rendah hati sama kemampuan sendiri adalah mengenalinya. Mengenali kemampuan diri nggak sebatas paham ‘apa’ kemampuan kita, tapi dalam level manakah kemampuan kita tersebut. Kalo pun level kita masih di tahap pemula, bukan berarti kita harus mengaku “nggak bisa” ketika ditanya atau dimintai tolong orang lain. Contohnya begini, pas kuliah ada mata kuliah dengan tugas yang harus didesain grafis. Kebetulan kita punya sedikit keahlian menggunakan software Photoshop. Hanya karena di kelompok lain ada temen yang lebih jago, kita jadi rendah diri dan bilang kalo kita nggak bisa ngedesain. Sebaliknya, justru kita harus bilang kalo kita bisa melakukan itu, tentu saja diiringi disclaimer berada di level berapa kemampuan kita. Sehingga, orang lain nggak bakal berekspektasi lebih ke kita, tapi tetep punya harapan tugas kelompoknya bakal selesai dengan sebaik mungkin.

 

INGET KALO SEKARANG INI ERANYA PERSONAL BRANDING

BELAJAR-JADI-POSITIVE-SNOBBER-BIAR-NGGAK-RENDAH-DIRI

Kalo kita terlalu rendah diri sama kemampuan, itu artinya kita menyia-nyiakan kemampuan kita sendiri. Kita kerap kali nggak percaya diri mencantumkan keahlian di CV maupun media sosial. Berpikir, “Cantumin nggak ya?” atau “Bilang nggak ya?” nggak akan membantu kita berkembang. Terlebih lagi, saat ini media sosial menciptakan era yang boleh disebut sebagai eranya personal branding. Bukan pamer ya, tapi personal branding. Memperlihatkan kemampuan, minat, dan pencapaian kita bisa menarik perhatian pihak-pihak yang ingin bekerja sama dengan kita, lho! Oleh karena itu, daripada rendah diri dengan menyembunyikan kemampuan kita, cobalah lebih optimis dengan berpikir, akan ada lho pihak-pihak yang melirik kita dari CV, Instagram, atau Linkedin dan mengajak kita kerja sama. Ya… itu pun kalo kita pintar mem-branding diri kita sendiri.

 

BELAJAR NGGAK PEDULI SAMA PENILAIAN ORANG LAIN

BELAJAR-JADI-POSITIVE-SNOBBER-BIAR-NGGAK-RENDAH-DIRI

Sebenernya, inti dari rasa rendah diri adalah takut pada penilaian orang lain. Dengan menyadari ini, kita harusnya paham kalo cara mengatasinya adalah dengan belajar nggak peduli. Kita takut dikira sombong, takut dikira pamer, takut dikira melebih-lebihkan diri sendiri, padahal yang kita lakukan sekadar personal branding dan bersikap optimis terhadap kemungkinan dan peluang di masa depan. Eits, tapi inget, maksud penilaian di sini adalah judging yang merendahkan, ya. Misalnya, menganggapmu sombong, pamer, atau snob. Kalo penilaian yang sifatnya evaluasi dan malah membangun semangat dan meningkatkan kemampuanmu sih ya… beda cerita, ya. Misalnya, kita suka nulis dan membagikan tulisanmu itu lewat media sosial. Nah, syukurilah keberadaan teman-teman yang membaca dan mengomentari karyamu, sebab tanpa sadar mereka bisa membuat kita terus maju dan kemampuan menulismu kian membaik dari waktu ke waktu.

 

UTARAKAN KALO KITA MASIH BELAJAR BUAT JADI AHLI

BELAJAR-JADI-POSITIVE-SNOBBER-BIAR-NGGAK-RENDAH-DIRI

Hal terakhir dan paling penting buat diinget adalah, utarakan kalo kita juga sebenernya lagi dan masih terus belajar menguasai keahlian tersebut. Bukan bermaksud merendah untuk meninggi, tapi secara jujur kita mengakui kalo kemampuan kita masih banyak kurangnya dan masih harus terus diperbaiki. Jangan cuma diutarakan, tapi juga dilakukan. Asah dan pertajam terus kemampuan kita di bidang tertentu, lebih bagus bidang yang emang kita sukai. Dengan begitu, kita belajar jadi orang yang rendah hati, bukan malah rendah diri. Sehingga, ke depannya kita bisa lebih percaya diri mengakui keahlian kita saat membantu orang lain atau tergabung dalam project tertentu.

 

 

BACA JUGA:

KENALAN SAMA ISTILAH SELF ESTEEM, SUDAHKAH KITA MILIKI ITU?

HAL-HAL YANG BISA BALIKIN MOTIVASI UNTUK MENGEJAR MIMPI

APA YANG NGEBUAT KITA TERMOTIVASI? CARI TAU DENGAN CARA INI

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
Mimi Thian / Unsplash
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar