APAKAH KITA TIPE ORANG YANG CERDAS SECARA EMOSIONAL?

May 16, 2018

APAKAH-KITA-TIPE-ORANG-YANG-CERDAS-SECARA-EMOSIONAL

Photo by Alejandro Alvarez on Unsplash

 

Kita mungkin udah nggak asing lagi dengan istilah Emotional Quetient atau EQ. Sebelumnya Gogirl! juga udah pernah membahas sekilas soal perbedaan antara IQ, SQ, EQ, CQ, dan AQ. Tapi apa sih sebenernya Emotional Intelegent (EI) atau kecerdasan emosional yang biasanya kita kenal sebagai EQ ini? Kalo dilihat dari ciri-cirinya, apakah kita termasuk orang yang cerdas secara emosional? Yuk simak!

 

APA ITU KECERDASAN EMOSIONAL?

 

APAKAH-KITA-TIPE-ORANG-YANG-CERDAS-SECARA-EMOSIONAL

 

Dikutip dari Psychology Today, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi dan mengelola emosi, baik emosinya sendiri maupun emosi orang-orang di sekitarnya. Jadi, mereka yang cerdas secara emosional nggak cuma mampu memahami dan mengatur perasaannya sendiri, tapi juga punya kemampuan to sense the emotional needs of others. Selain itu, mereka tau betul apa arti di balik emosi tersebut dan bisa mengarahkannya ke cara berpikir tertentu. Misalnya aja, mereka tau kalo rasa sedih cenderung mendorong kita buat menganalisis, makanya mereka bakal menggunakan momen tersebut buat merenung (yap, Gogirl! juga baru tau lho fakta menarik yang satu ini). Mereka pun paham kalo orang yang lagi marah bisa jadi berbahaya, orang yang lagi seneng pasti mau membagikan kebahagiaannya, dan orang yang lagi sedih mungkin butuh waktu buat ditinggal sendiri  – sehingga mereka tau gimana cara bersikap ketika menghadapi orang-orang tersebut. In the end, orang dengan kecerdasan emosional tinggi biasanya bisa menyelesaikan emotional related problems dengan baik.

Banyak yang bilang kalo EQ > IQ. Bahkan menurut Warren Bennis, penulis buku Becoming a Leader, kecerdasan emosi memiliki peran sebesar 85%-90% dari kesuksesan seseorang, melebihi faktor-faktor lain seperti IQ atau keahlian. Namun psikolog dari University of New Hampshire yang juga merupakan pengembang salah satu model popular EQ, John D. Mayer, nggak setuju dengan pendapat ini. Katanya pemahaman tersebut adalah kesalahan yang dipopulerkan oleh jurnalisme – walaupun dia mengakui kalo kecerdasan emosional emang punya peran yang cukup penting buat seseorang, misalnya aja dalam karier dan hubungan dengan orang lain. So, anggap aja EQ punya peran yang nggak kalah penting dari kecerdasan-kecerdasan lainnya, makanya penting bagi kita buat mengasahnya.

Lanjut mengutip Mayer, kecerdasan emosional terdiri dari tiga skill, yaitu: 1) kesadaran emosional; 2.) kemampuan untuk memanfaatkan dan menerapkan emosi tersebut – misalnya aja dalam proses berpikir dan pemecahan masalah; serta 3.) manajemen emosi, yaitu kemampuan mengatur emosi sendiri dan kemampuan merespon emosi orang lain. Buat lebih memahami ketiga aspek kecerdasan emosional ini, coba deh simak ciri-cirinya.

 

5 CIRI ORANG YANG CERDAS SECARA EMOSIONAL

 

APAKAH-KITA-TIPE-ORANG-YANG-CERDAS-SECARA-EMOSIONAL

 

Menurut Goleman, jurnalis science dan penulis buku Emotional Intelligence - Why It Can Matter More Than IQ yang mempopulerkan konsep ini pada tahun 1995 (seperti Gogirl! kutip dari mindtools.com), berikut adalah lima elemen yang mendefinisikan kecerdasan emosional seseorang:

1. Self-Awareness. Orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi biasanya self-aware alias sadar diri. Mereka sadar betul akan perasaan mereka dan karenanya they don’t let their feelings rule them. Bisa dibilang self-aware adalah bagian terpenting dari kecerdasan emosional.

2. Self-Regulation. Mereka bisa mengatur diri dan punya kemampuan untuk mengontrol emosi. Orang dengan EQ yang tinggi biasanya nggak membiarkan dirinya terlalu marah, sedih, iri, dan berlarut-larut dalam perasaan lainnya. They think before they act, makanya mereka jarang banget membuat keputusan yang impulsif dan ceroboh.

3. Motivation. Nggak cuma bisa mengontrol emosi, orang yang cerdas secara emosional juga bisanya punya motivasi yang tinggi. Mereka bersedia menunda hasil langsung demi kesuksesan jangka panjang. Mereka juga adalah pribadi yang produktif, suka tantangan, dan sangat efektif dalam mengerjakan apapun.

4. Empathy. Katanya elemen ini adalah yang kedua terpenting lho setelah self-awareness. Empati adalah kemampuan kita untuk mengidentifikasi dan memahami keinginan, kebutuhan, dan sudut pandang orang lain. People with empathy are good at recognizing the feelings of others, even when those feelings may not be obvious. Makanya orang yang berempati biasanya jarang mengalami kesulitan dalam memahami orang lain dan merupakan pendengar yang baik.

5. Social skill. Yap, orang dengan EQ yang tinggi juga biasanya punya kemampuan sosial yang baik. Mereka biasanya adalah team player yang lebih fokus membantu orang lain daripada mengejar kesuksesannya sendiri. Orang yang cerdas secara emosional juga biasanya adalah komunikator yang baik serta punya kemampuan dalam mempertahankan hubungan dan memanage

PS: You may also want to try this quiz.

 

CARA MENGASAH KECERDASAN EMOSIONAL

 

APAKAH-KITA-TIPE-ORANG-YANG-CERDAS-SECARA-EMOSIONAL

 

Dari kelima elemen di atas, mana aja nih ciri-ciri yang udah tercermin dalam diri kita? Atau jangan-jangan setelah membaca penjelasan panjang lebar tersebut kita malah yakin kalo kita bukan merupakan orang yang cerdas secara emosional? Well, tenang aja, EQ bisa diasah kok! Berikut adalah beberapa cara yang bisa kita coba:

1. Evaluasi diri. Have the courage to look at yourself honestly. Coba deh buat lebih mengenal diri kita sendiri, termasuk emosi yang kita rasakan. Apa kekurangan kita? Bagian mana yang perlu kita perbaiki dan tingkatkan lagi? Intinya, pertama-tama jujurlah pada diri kita sendiri.  

2. Kurangi emosi negatif. Caranya? Ubah cara berpikir kita biar emosi negatif tersebut nggak menguasai dan mempengaruhi penilaian kita. Misalnya aja ketika kita merasakan emosi negatif terhadap seseorang, hindari nge-judge dia secara terburu-buru. Instead, come up with multiple ways of viewing the situation before reacting. Kurangi juga rasa takut kita akan penolakan dan kegagalan dengan mempersiapkan beberapa rencana.

Baca juga: 7 CARA MENGATASI PIKIRAN NEGATIF DI KEPALA KITA

3. Perhatikan cara kita memberi respon. Coba observasi gimana kita memberikan tanggapan terhadap orang-orang di sekitar dan mulai tahan diri dari memberikan respon yang reaktif. Coba juga buat posisikan diri kita sebagai mereka, lebih terbuka dalam menerima, dan pahami apa yang lawan bicara kita butuhkan.

Baca juga: SERING NYELAK OBROLAN? BELAJAR JADI PENDENGAR YANG BAIK DI SINI

4. Berlatih menghadapi stres. Manajemen stres adalah salah satu skill terpenting yang perlu kita kuasai dalam hidup. Sebelumnya coba evaluasi dulu deh gimana selama ini kita bereaksi terhadap situasi yang membuat kita apakah kita adalah tipe orang yang suka menyalahkan orang lain? Atau kita adalah pribadi yang overthinking? Baru deh setelah itu kita cari cara manage stres yang paling tepat buat kita.

Baca juga: GAMPANG STRES? COBA PELAJARI 4 STRESS MANAGEMENT SKILL INI

5. Biasakan mengekspresikan diri dengan rumus XYZ. Ada aja kalanya kita merasa kesulitan mengungkapkan apa yang sebenernya kita rasakan. Salah satu cara yang bisa kita coba buat mengekspresikan difficult emotion adalah dengan menggunakan rumus XYZ sebagai berikut: “Aku merasa Z ketika kamu melakukan Y dalam situasi Z”. Misalnya aja, “Aku merasa kecewa ketika kamu nggak melakukan apa yang katanya bakal kamu lakukan, padahal kamu udah janji sama aku”.

6. Pikirkan apa dampak tindakan kita buat orang lain. Cara lain buat mengasah rasa empati kita adalah dengan mempertimbangkan apa dampak dari perkataan dan tindakan kita buat orang lain. Kalo kita tau perkataan/tindakan kita bakal menyakiti atau punya dampak negatif lain buat mereka, coba pikirkan lagi apakah kita bener-bener perlu menyatakan/melakukannya.

Baca juga: IGNORANCE IS NOT A BLISS, YUK BELAJAR MUPUK EMPATI KITA

7. Take responsibility for your action. Ketika kita menyakiti hati orang lain, minta maaflah. Ketika kita melakukan kesalahan, pikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya dan lakukan.

 

You may also want to read:

 

Written by Tsana Garini Sudradjat
Photo Source:
Photo by Alejandro Alvarez on Unsplash
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar