7 TAHAPAN HIDUP YANG DIALAMI PENGGUNA MEDIA SOSIAL

September 05, 2018

7-TAHAPAN-HIDUP-YANG-DIALAMI-PENGGUNA-MEDIA-SOSIAL

 

Sebagai individu yang tumbuh dan berkembang bersama media sosial, kita tentu paham betul besarnya pengaruh media sosial terhadap kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari berubahnya budaya bersosialisasi, transaksi jual-beli, persepsi terhadap ketenaran, bahkan sampai kesehatan mental. Nah, disadari atau nggak, kita sebenernya mengalami beberapa tahapan hidup (life stage) sebagai pengguna media sosial. Tahapan ini nggak sekedar menjelaskan perubahan gaya hidup yang kita alami gara-gara media sosial, tapi juga perubahan persepsi kita terhadap proses interaksi sosial. Dari hasil pengamatan Gogirl! sih, ada tujuh tahapan yang kita alami. Coba cek deh, dari ketujuh tahapan ini, sedang di tahap manakah dirimu?

 

TAHAP 1: ANTUSIASME INDIVIDUAL

7-TAHAPAN-HIDUP-YANG-DIALAMI-PENGGUNA-MEDIA-SOSIAL

Pada tahap pertama ini, kita baru mengenal media sosial dan paham betapa asyiknya berkecimpung sebagai salah satu pengguna. Tanpa mikir yang aneh-aneh, di fase ini kita aktif banget posting sesuatu di akun media sosial kita, mulai dari status, foto, notes panjang, maupun video. Dengan kata lain, kita memperlihatkan ke komunitas pengguna media sosial kalo kita adalah pengguna yang aktif dan asyik buat diajak berinteraksi. Kita pun memanfaatkan fitur-fitur interaksi antarpengguna seperti kolom chat, komentar, dan direct message. Makin banyak interaksi, kita makin merasa kalo media sosial adalah mainan yang seru. Definisi ‘mendekatkan yang jauh’ sangat kita rasakan dan manfaatkan di tahap ini.

Perlu dicatet, tahap pertama ini kita alami ketika baru aktif di satu atau beberapa media sosial dan aplikasi chat, yang sekaligus jadi tahap awal kita sebagai pengguna keseluruhan media sosial. Contohnya begini: kita baru jadi pengguna Instagram dan aktif memakai aplikasi chat Line di semester awal kuliah. Selain karena semasa SMA kita jarang pake Line, Instagram pun belum terlalu populer di masa kita masih SMA. So, pada semester awal kuliahlah kita mengalami tahap pertama ini, sebab kita baru memulai keaktifan kita di media sosial secara sadar dan atas kemauan diri kita sendiri untuk menjadi bagian dari komunitas-komunitas aktif pengguna media sosial.

 

TAHAP 2: JADI PENGGUNA MODE BISNIS

7-TAHAPAN-HIDUP-YANG-DIALAMI-PENGGUNA-MEDIA-SOSIAL

Setelah merasakan keasyikan dan manfaat buat diri sendiri, kita pun akhirnya sadar kalo media sosial bisa kita manfaatkan buat keperluan bisnis. Yang dimaksud bisnis di sini nggak melulu urusan entrepreneur kayak bikin online shop, ya. Jadi admin media sosial organisasi juga termasuk di dalamnya. Kalo kita masih sekolah atau kuliah, biasanya memanfaatkan mode bisnis dari media sosial diwujudkan dengan cara mengelola media sosial kepanitiaan. Kita log in lebih dari satu akun dalam satu aplikasi media sosial, punya aplikasi Line@, download aplikasi penyunting foto dan layout postingan, dan belajar menguasai aplikasi social media manager.

Dalam tahap kedua ini, kita nggak cuma belajar mengelola postingan, tapi juga belajar mengatur strategi untuk mengembangkan organisasi atau bisnis melalui media sosial. Selain cari tahu gimana caranya meningkatkan jumlah followers dan engagement (likes dan comments) di media sosial, kita juga belajar gimana caranya orang-orang mengenal organisasi atau bisnis yang kita kelola. Istilah singkatnya, meningkatkan brand awareness. Nah, tahap dua ini kemudian menjadi pengantar kita mengalami tahap ketiga dan keempat dari keseluruhan tahap kehidupan sebagai pengguna media sosial.

 

TAHAP 3: KECANDUAN DAN HAUS PERHATIAN

7-TAHAPAN-HIDUP-YANG-DIALAMI-PENGGUNA-MEDIA-SOSIAL

Setelah kita paham gimana caranya meningkatkan brand awareness pada tahap kedua, kita pun mulai sadar akan kehadiran seleb-seleb media sosial alias influencer. Di tahap ketiga ini, setelah paham betapa pentingnya followers dan engagement di media sosial, terbersit di pikiran kita kalo dua hal itu adalah nilai paling utama buat pengguna media sosial. Kita mulai paham bahwa ada korelasi antara kredibilitas, keterkenalan, dan keren-nggaknya seseorang dengan jumlah followers serta engagement di media sosialnya. Kita juga mulai mengenal bagus-nggaknya tampilan media sosial seseorang yang dilihat dari tata letak feeds, serta konten instastories, tulisan di status Twitter, Facebook, maupun Line.

Di tahap ini, kita mulai berpikir untuk meningkatkan kredibilitas diri lewat media sosial. Berusaha membuat feed Instagram serapi mungkin, membuat tulisan yang bagus di status media sosial, serta memperkenalkan citra diri sebaik mungkin. Di tahap ini, kita jadi peduli sama jumlah likes, comments, serta views. Bahkan, kita juga mulai memerhatikan jumlah pertemanan, followers, dan following kita. Secara sengaja maupun nggak, kita pake aplikasi followers tracking yang melaporkan ada berapa dan siapa aja yang ngefollow dan unfollow kita.

 

TAHAP 4: SERANGAN KECEMASAN

7-TAHAPAN-HIDUP-YANG-DIALAMI-PENGGUNA-MEDIA-SOSIAL

Tahap selanjutnya, media sosial jadi bumerang buat diri sendiri sebagai efek dari tahap kedua dan ketiga. Media sosial mulai memberikan kita rasa cemas dan gelisah, serta memunculkan prasangka-prasangka yang menambah beban pikiran kita sehari-hari. Di tahap ini, kita mulai peduli kenapa seseorang unfollow kita, kenapa seseorang nggak follow kita, kenapa jumlah likes di foto kita nggak sebanyak orang lain, kenapa konten yang kita upload di media sosial nggak mengudang banyak tanggapan.

Nggak cuma seputar followers dan engagement, di tahap ini media sosial mulai memengaruhi kehidupan kita di dunia nyata. Kita kesal kenapa seorang temen nggak bales Whatsapp dari kita tapi malah upload di media sosial, resah karena chat kita cuma dibaca atau bahkan nggak dibaca sama sekali sementara status orang tersebut online, dan sebel melihat pencapaian dan kebahagiaan yang orang lain tampilkan di unggahan. Lebih jauh lagi, persoalan ulang tahun pun mulai mengganggu kita. Muncul keinginan diucapin ulang tahun sama banyak orang dengan cara menampilkan notifikasi ulang tahun di media sosial dan bete karena nggak diucapin selamat ulang tahun di grup aplikasi chat. Intinya, di tahap ini, media sosial nggak lagi menyenangkan seperti di tahap pertama dan kedua.

 

TAHAP 5: POST-MEDIA SOSIAL DAN BUTUH REHAT SEJENAK

7-TAHAPAN-HIDUP-YANG-DIALAMI-PENGGUNA-MEDIA-SOSIAL

Setelah paham kalo ternyata media sosial menimbulkan kecemasan dan prasangka, kita pun mulai mengecap negatif media sosial. Di tahap ini, kita merasa media sosial patut disalahkan atas masa-masa stress yang kita hadapi. Kita menganggap, kalo nggak ada media sosial, mungkin kita nggak bakalan berprasangka buruk sama orang lain. Mungkin juga hubungan kita dengan beberapa temen akan baik-baik aja. Di samping itu, kita pun udah nggak seantusias dulu menggunakan media sosial di kehidupan sehari-hari. Kalo lagi kumpul sama temen-temen, kita jadi benci kalo ada salah satu yang sibuk instastories. Kita juga jadi sinis sama orang-orang yang masih memerhatikan estetika feeds dan konten di media sosial mereka.

Nah, di tahap ini kita merasa butuh istirahat dari media sosial. Cara istirahatnya bisa kita wujudkan dengan log out dari media sosial untuk waktu yang lama, menghapus (uninstall) aplikasi media sosial dari handphone, men-deactive sementara akun media sosial kita, atau yang paling ekstrim menghapus akun media sosial kita. Kalo lagi kumpul sama keluarga, main sama temen-temen, atau hadir di event penting, kita pengen sebisa mungkin nggak usah posting di media sosial. Intinya, di tahap ini kita mengalami hal-hal yang sama sekali bertolak belakang dengan yang kita alami di tahap pertama: nggak antusias, nggak senang sama sekali, bahkan nggak minat lagi memakai media sosial.

 

TAHAP 6: MEMFILTER HUBUNGAN DUNIA MAYA DAN NYATA

7-TAHAPAN-HIDUP-YANG-DIALAMI-PENGGUNA-MEDIA-SOSIAL

Setelah habis masa rehat, kita pun kembali menggunakan media sosial. Bedanya, kita udah nggak seantusias dulu lagi dan paham kalo rasa cemas gara-gara media sosial bisa datang lagi kapan pun. Kita juga udah belajar hal-hal apa aja di media sosial yang bikin kita merasa kesal, terisolasi, stress, dan berprasangka. Dari pelajaran yang kita dapet, kita pun bertekad buat mengutamakan kesehatan mental kita dalam bermedia sosial dan memisahkan media sosial dari kehidupan nyata. Pokoknya, sebisa mungkin hal-hal yang terjadi di media sosial nggak memengaruhi hubungan kita dengan orang lain. Nggak ada lagi prasangka buruk dan sinisme, deh!

Tahap ini kita jalani dengan cara mulai sadar manfaat fitur-fitur media sosial. Kita pake fitur mute biar kita nggak bisa melihat hal-hal yang nggak ingin kita lihat dan membaca hal-hal yang nggak ingin kita baca. Kita juga unfollow akun-akun yang toxic dan sering bikin kita berprasangka buruk. Di tahap ini, kita juga udah nggak peduli lagi dengan jumlah followers dan engagement, sebab kita udah berani menghapus pertemanan dari orang-orang yang nggak bermanfaat buat kita. Di tahap ini, kita juga udah tahu mana influencer yang kontennya baik buat kita dan mana yang nggak.

 

TAHAP 7: LEBIH BIJAK DAN PAHAM KEBUTUHAN SENDIRI

7-TAHAPAN-HIDUP-YANG-DIALAMI-PENGGUNA-MEDIA-SOSIAL

Setelah banyak belajar di tahap keenam, kita pun jadi pengguna media sosial yang lebih bijak dan memasuki tahap terakhir. Di tahap terakhir ini, kita bener-bener sepenuhnya sadar kalo media sosial bukan representasi utama dari diri kita. Media sosial sekedar sarana untuk mencitrakan diri kita ke khalayak publik. Di tahap ini, kita udah bener-bener paham semua fitur media sosial, sehingga kita bisa menempatkan kesehatan mental kita di atas segalanya. Kita pun udah nggak pernah lagi berprasangka, sebab kita lebih mengutamakan hubungan personal lewat chat, langsung telepon, atau bahkan mengajak bertemu teman sebelum berasumsi. Selain itu, kita juga paham dengan adanya kemungkinan rekruter pekerjaan melirik media sosial kita saat kita lagi jadi jobseeker. Maka, kita pun turut mempromosikan portofolio dan karya-karya kita ke media sosial. Intinya, di tahap terakhir ini kita betul-betul paham kalo media sosial adalah sarana alias etalase diri kita yang bebas dikonsumsi publik.

 

BACA JUGA:

5 ALASAN KENAPA SESEKALI KITA BUTUH PUASA MEDIA SOSIAL

SUDAHKAH KITA BERPIKIR DUA KALI SEBELUM POSTING DI MEDIA SOSIAL?

BENARKAH MEDIA SOSIAL BUAT HIDUP KITA MISERABLE?

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
William Iven / Unsplash.com
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar