3 HAL INI NUNJUKKIN KURANGNYA EMPATI KITA PADA PENYAKIT MENTAL

June 04, 2018

3 HAL INI NUNJUKKIN KURANGNYA EMPATI KITA PADA PENYAKIT MENTAL

Photo by Brad Llyod - Unsplash

 

Awareness soal penyakit mental emang masih kurang banget di negara kita. Padahal dikutip dari JPNN,  data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan kalo sekitar 14 juta orang berusia di atas 15 tahun di Indonesia mengalami gejala depresi dan gangguan kejiwaan. Penyakit mental yang dimaksud di sini nggak cuma merujuk pada apa yang kita kenal sebagai “gila”, tapi juga kecemasan berlebih (anxiety), depresi, eating disorder, self injury, dsb yang mungkin banget diidap oleh remaja kayak kita dan orang-orang terdekat. Sayangnya, terlalu banyak stigma negatif soal topik ini membuat para penderitanya cenderung ragu buat mencari bantuan. Sadar nggak sadar, kita juga mungkin ikut berkontribusi dalam situasi ini lho! Coba deh refleksi diri apakah kita termasuk orang yang melakukan tiga hal berikut:

 

DENGAN ENTENG MENGGUNAKAN ISTILAH “DEPRESI”, “OCD”, “BIPOLAR”, DSB

3-HAL-INI-NUNJUKKIN-KURANGNYA-EMPATI-KITA-PADA-PENYAKIT-MENTAL 


Berapa banyak di antara kita yang suka menggunakan kata “depresi” buat menggambarkan stres yang lagi kita alami? Well, tau nggak kalo depresi dan stres tuh nggak sama? Seperti yang udah pernah Gogirl! bahas di artikel “STRES DAN DEPRESI TERNYATA DUA HAL YANG BERBEDA LHO”, stres lebih berkaitan dengan suatu perasaan tertekan dan kewalahan dengan aktivitas yang ada, sedangkan depresi adalah perasaan bersalah dan putus asa yang terus-menerus dirasakan seseorang.

Yap, kita terlalu sering menggunakan istilah-istilah yang berhubungan dengan penyakit mental tanpa tau arti sebenernya dari istilah tersebut. Misalnya aja ketika sesekali perasaan kita berubah drastis dari sedih banget jadi seneng banget, kita dengan entengnya bilang “Kayaknya gue bipolar deh”. Atau kita menyebut diri kita yang sangat terorganisir mengidap Obsessive Compulive Disorder (OCD) tanpa bener-bener tau kayak gimana sebenernya gangguan ini. Sebelumnya Gogirl! juga pernah membahas panjang lebar soal gimana kita seringkali salah mengartikan isitlah anti sosial atau ansos. Well, sadar nggak kalo dengan menyebut penyakit-penyakit mental tersebut dengan remeh, kita sebenernya udah gagal menghargai orang-orang yang lagi bener-bener berusaha buat melawannya?

Seperti kata mental health expert Prof. Shari Harding, dikutip dari Huffington Post,Awareness of language is essential, so it’s important to avoid misusing language”. Kita mungkin cuma bermaksud hiperbola, tapi penggunaan kata yang salah tersebut nggak cuma menunjukkan kurangnya pengetahuan kita, tapi juga kurangnya empati kita. Because we can’t even imagine what they’re going through. Selain itu, kita juga bisa menyebarkan pemahaman yang salah ke orang lain.

Buat lebih memahami penyakit mental yang seringkali diidap remaja, baca juga: MENTAL DISORDER

 

MENYEBUT SESEORANG “PSIKOPAT” ATAU “GILA”

3-HAL-INI-NUNJUKKIN-KURANGNYA-EMPATI-KITA-PADA-PENYAKIT-MENTAL  


“Eh.. jangan gila dong”.

“Obsesif banget sih mantan lo? Psikopat kali dia”.

Siapa sih yang nggak pernah menyatakan seruan-seruan kayak gini dalam percakapan sehari-hari? “Gila” dan “psikopat” emang udah jadi istilah yang biasa banget kita gunakan – yang sayangnya seringkali nggak pada tempatnya atau nggak sesuai dengan arti yang sesungguhnya. Padahal masih dikutip dari Huffington Post, Direktur Eksekutif Suicide Awareness Voices of Education Dan Reidenberg bilang kalo kebiasaan kayak gini bisa semakin menyebarkan pemahaman yang nggak akurat soal istilah-istilah tersebut. Selain itu, penggunaan kata “gila” dan “psikopat” sebagai candaan mungkin aja nggak bisa diterima oleh sebagian orang.

Often they think these off-the-cuff remarks are harmless, but the reality is that they hurt those living with mental illnesses, and their families, and they increase the misperceptions about the illnesses,” kata Reidenberg. Well, contohnya nih, bayangin aja kalo adek kita yang merupakan penyandang autisme dikatain “gila” sama temen-temennya dengan alesan nggak tau atau bercanda. Apakah kita bisa menerimanya? Pastinya nggak kan? Jadi coba deh buat lebih hati-hati ketika menggunakan istilah-istilah tersebut di depan orang lain.

Baca juga: BERDAMAI DENGAN MENTAL DISORDER BARENGAN LIRIK LAGU

 

JUDGING ORANG YANG MENUNJUKKAN PERILAKU NGGAK NORMAL

3-HAL-INI-NUNJUKKIN-KURANGNYA-EMPATI-KITA-PADA-PENYAKIT-MENTAL


Sering banget kan kita melihat netizen berkomentar dan bergosip soal perliaku seleb-seleb yang dianggap nggak normal karena tiba-tiba berubah drastis atau melakukan sesuatu yang nggak lumrah? Misalnya aja dulu ketika Marshanda tiba-tiba mempublikasikan video curhatan penuh emosi di YouTube atau Sulli ex-f(x) yang menunjukkan perilaku ‘aneh’ setelah keluar dari grup yang membesarkan namanya tersebut. Tanpa alesan, kesehatan mental keduanya (juga para public figure lain dengan kasus serupa) terus-terusan diperbincangkan oleh netizen yang bahkan nggak mengenal mereka secara pribadi. Lebih parah lagi ketika beberapa di antaranya nggak cuma judgimh, tapi juga pura-pura bersimpati, bahkan ngejek tanpa bener-bener tau apa yang terjadi pada mereka. Begitu pula ketika ada sesuatu yang janggal dengan orang-orang di sekitar kita, pasti deh mulut ini gatel buat bergunjing, ya nggak?

Menurut Laura Nitzberg, asisten direktur psychiatric social work di University of Michigan Medical Center, perilaku kayak gini berkontribusi besar terhadap pandangan negatif masyarakat soal penyakit mental. Misalnya aja ketika kita membaca komentar negatif tentang Marshanda yang kemudian mengaku didiagnosa mengidap bipolar (contohnya: “Kalo diliat dari tingkahnya, pantes aja dia kehilangan hak asuh anaknya”), mungkin banget kita bakal ikut-ikutan terpengaruh oleh cara pandang negatif tersebut dan akhirnya punya keyakinan yang salah soal penyakit mental yang diidapnya. Padahal mengomentari, apa lagi mengejek orang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan, sama sekali nggak bakal membantu mereka – adanya justru malah bisa memperparah. Selain itu udah seharusnya orang-orang kayak mereka dibantu, bukannya dikuncilkan.

Jujur Gogirl! salut banget sama seleb-seleb yang udah mau terbuka soal penyakit mental mereka (misalnya aja Demi Lovato, Selena Gomez, Zayn Malik, dan masih banyak lagi lainnya), begitu pula orang-orang di sekitar kita yang mungkin juga mengalaminya, because it’s definitely not easy. Makanya alangkah baiknya kalo kita bisa jadi orang yang suportif, atau seenggaknya nggak menjadi penghalang buat mereka yang lagi fight their battle dengan komentar dan judgement nggak perlu yang kita nggak tau apa dampaknya buat mereka.

Baca juga: THIS IS HOW WE SUPPORT THOSE WHO HAVE MENTAL DISORDER

 

 

 

Written by Tsana Garini Sudradjat
Photo Source:
Brad Llyod - Unsplash
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar