TERTARIK MEMULAI BISNIS DI BIDANG FASHION? BACA DULU YANG INI

August 23, 2018

TERTARIK-MEMULAI-BISNIS-DI-BIDANG-FASHION-BACA-DULU-YANG-INI


Adakah yang tertarik buat memulai bisnis di bidang fashion? Kalo kamu adalah salah satunya, coba deh simak beberapa tips dari pengusaha-pengusaha muda yang udah terlebih dahulu berkecimpung di industri ini. Fandi Achmad (founder
Locale), Fanny Aprilia (owner Jade Bag) dan Olivia M. Liwang (founder AliveLoveArts) berbagi cerita soal gimana mereka membangun dan mengembangkan brand mereka sampe bisa sebesar sekarang dalam acara HelloBill Talk Series ‘Fashion in Globalization Era’ yang diadakan pada Rabu (18/7) lalu. Buat kalian yang kelewatan acaranya, Gogirl! udah rangkum nih tips-tips penting yang mereka bagikan. Yuk simak!

 

BRAND KITA HARUS MENCERMINKAN DIRI KITA

Mau mulai bisnis tapi bingung barang apa yang mau kita jual? Bahkan ketika kita udah secara khusus bicara soal industri fashion aja ada banyak banget produk yang bisa dijadikan pilihan – mulai dari pakaian, sepatu, tas, aksesoris, dsb. Well, buat kita yang masih galau sebenernya jawabannya gampang banget lho menurut Kak Fanny: mulailah dari hal yang kita suka.

“Kenapa aku milih tas? Sebenernya sih karena keluargaku kebetulan punya usaha konveksi tas. Selain itu walaupun aku nggak tergila-gila banget sama tas, aku suka. Jadi kalo menurutku buatlah bisnis yang berkaitan dengan hobi dan kesukaan kita. Karena dengan gitu kita ngejalaninnya nggak beban, atau seenggaknya kita bisa meminimalisir beban tersebut,” kata cewek yang memulai bisnisnya ketika ia masih duduk di bangku kelas 1 SMA ini.

Kak Fandi pun punya pemikiran serupa. Terutama ketika kita bicara soal fashion, brand kita juga harus bisa mencerminkan diri kita. “Style gue simple. Gue suka pake kaos, celana yang nggak ribet, dan topi. Makanya gue pilih street wear, di mana kalo lo liat koleksi Locale, semuanya kayak gitu. Intinya sih gue mulai brand gue dari apa yang gue pake dan karenanya brand gue menunjukkan gue orang yang seperti apa,” ujar pengusaha yang mengawali kariernya di The Goods Dept ini.

Kak Olivia nggak lupa menambahkan kalo selain apa yang kita suka, kita juga perlu memikirkan apakah barang/jasa yang kita tawarkan dibutuhkan orang lain. “Saya suka sepatu yang nyentrik. Inspirasi saya Lady Gaga, jadi dulu saya pernah bikin sepatu 15 cm nggak ada haknya. Apakah laku? Jelas nggak. Suami saya bilang, ‘Kamu nggak bisa bikin sepatu cuma kamu doang yang suka’. Bener banget. Jadi kalo boleh saya tambahkan, selain apa yang kita suka, sebelumnya kita juga harus bertanya apakah ada yang butuh dan mau menggunakannya,” pesannya.

 

DIFERENSIASI ITU PENTING

Bisnis fashion sendiri katanya lagi jadi primadona lho di Indonesia dan mengingat berbagai kemudahan yang ada sekarang (di antaranya majunya bisnis online, gampangnya promosi lewat media sosial, banyaknya bantuan modal, dsb), saat ini sebenernya adalah waktu yang enak banget buat mulai berbisnis. Namun di sisi lain, saingan kita juga makin banyak. Oleh sebab itu diferensiasi jadi makin penting, baik dalam bisnis fashion maupun bisnis-bisnis lainnya. Misalnya aja gimana Kak Fanny selalu berusaha mempertahankan signature-nya di setiap tas yang dia desain dan gimana Kak Fandi selalu berusaha menyampaikan sebuh kisah lewat koleksi-koleksi kaos yang dirilisnya.


“Kalo gue sekedar buat kaos, ada ratusan brand lain yang juga memproduksi kaos. Makanya dari Locale sendiri, selalu ada cerita yang berusaha gue sampaikan lewat tiap koleksinya. Contohnya, koleksi Locale berikutnya yang bakal launching di bulan Agustus nanti terinspirasi dari film dokumenter berjudul ‘The True Cost’ yang menceritakan soal betapa buruknya fast fashion retail mempekerjakan para pekerjanya. Gue mengangkat isu ini dalam desain gue, di mana yang mau gue sampaikan adalah banyak brand lokal Indonesia yang jauh lebih menghargai pekerjanya. Karenanya ketika orang membeli kaos tersebut, mereka nggak sekedar beli kaos tapi juga membawa pulang cerita, menerima pesan yang gue sampaikan, dan semoga aja setelahnya lebih menghargai industri lokal,” cerita Kak Fandi. Well, keren banget strateginya!

Tapi jangan salah, diferensiasi nggak harus selalu direalisasikan lewat desain yang unik kok. Misalnya aja gimana Kak Olivia memutuskan buat nggak cuma menjual sepatu tapi juga after service dengan menawarkan garansi, jasa perbaikan, dan refund buat para pembelinya. Karena katanya susah banget membedakan produk semacam sepatu dari brand lain hanya berdasarkan desain. “Karena mengandalkan signature itu sulit, kami coba memberikan fasilitas lebih,” jelas Kak Olivia. Jadi sebenernya tinggal gimana kreativitas kita aja guys!

 

NGGAK ADA SELERA YANG JELEK

“Kak, gimana kalo aku pengen memulai bisnis di bidang fashion tapi aku nggak pede dengan seleraku?”. Well, adakah di antara kita yang pernah galau karena pertanyaan ini? Menurut Kak Fanny kita nggak perlu khawatir kok karena nggak ada yang namanya selera yang jelek atau bagus. Selera orang simply berbeda-beda. “Makanya nggak ada yang salah dalam fashion, tinggal soal seberapa banyak orang yang punya selera yang sama dengan kita aja,” Kak Fanny meyakinkan. Sedangkan menurut Kak Fandi, kalo selain nggak pede sebenernya kita juga nggak terlalu berminat di bidang fashion, lebih baik kita memulai bisnis di bidang lain yang bener-bener kita sukai. Karena kembali ke poin pertama, mulailah dari hal yang kita suka.

 TERTARIK-MEMULAI-BISNIS-DI-BIDANG-FASHION-BACA-DULU-YANG-INI

 

NGGAK PERLU TERBURU-BURU MEMBUAT BRAND

Berbisnis di bidang fashion nggak selalu berarti kita harus punya brand sendiri lho. Kak Olivia bahkan berpesan kalo sebenernya kita nggak perlu terburu-buru dalam membuat brand, terutama mengingat gimana membuat brand saat ini membutuhkan modal yang sama sekali nggak sedikit. Oleh sebab itu buat kita yang nggak punya modal gede atau nggak mau mengeluarkan banyak sumber daya di awal, kita bisa banget mempertimbangkan bisnis drop shipping di mana kita cuma bertindak sebagai reseller

“Saya sendiri awalnya dari drop ship sampe akhirnya bisa bikin brand. Dulu saya jual macem-macem mulai dari baju, sofa, sampe asuransi. Apakah semua saya bikin sendiri? Nggak, saya dapet dari temen-temen lain. Jadi sebenernya nggak perlu terburu-buru,” Kak Olivia menceritakan pengalamannya. Baru deh dari sana kita bisa mengumpulkan modal yang lebih besar untuk membuat brand. Atau kalo kita memutuskan buat jadi drop shipper aja seterusnya juga nggak apa-apa kok. It’s up to us! Sesuaikan aja dengan kondisi dan tujuan kita.

 

BRAND LOKAL NGGAK BOLEH KALAH BERKUALITAS DARI BRAND LUAR

Nyatanya, masih banyak lho orang yang punya stereotype kalo brand lokal = murah = nggak berkualitas. Padahal Kak Fandi berani menjamin kalo brand dalam negeri saat ini udah nggak kalah berkualitas dari brand luar, diliat dari segi apapun, terutama karena seperti yang udah sekilas dia bahas sebelumnya, banyak pengusaha lokal yang menggaji para pekerja konveksinya lebih besar daripada fast fashion retail populer asal luar.

“Edukasi itu emang susah banget prosesnya sampe sekarang gue bisa jual kaos seharga 200-250 ribu. Beberapa orang masih punya mindset kalo brand lokal tuh murah dan jelek. Sekalinya mahal, mikirnya nambah dikit juga udah bisa dapet brand luar. Jujur sih dulu ketika gue pertama kali mulai, pekerja konveksi emang dibayar murah banget. Kalo lo mau tau, dulu mereka cuma dapet seribu per kaos. Makanya mereka berpikir yang penting barangnya cepet jadi, bodo amat bagus atau nggak. Tapi seiring berjalannya waktu mindset mereka ikut berubah.  Konveksi bertekad menghasilkan barang yang bagus, tapi lo bayar gue setimpal. Makanya kualitas produk kita sebenernya sama sekali nggak kalah dari produk luar,” ceritanya.

Nah, perlu jadi catetan juga nih buat kita yang berencana memproduksi barang sendiri. Pastikan kalo kita memperlakukan pekerja kita dengan baik, karena dengan begitulah kita bisa memproduksi barang yang bagus dan membuktikan kualitas kita. Kalo Kata Kak Fandi, tujuannya bukan untuk mengalahkan brand luar, karena bisa dibilang itu adalah goal yang mustahil buat dicapai. Namun untuk memberikan pilihan kepada pembeli dengan menyediakan produk lokal yang sama bagusnya dan karenanya membuat mereka ingin membelinya.

 

Kamu yang tertarik buat berbisnis di bidang fashion juga harus baca:

 

Written by Tsana Garini Sudradjat
Photo Source:
youworkforthem.com, dokumentasi HelloBill
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar