STEREOTYPING TERORISME, BERLEBIHANKAH ANTISIPASI APARAT?

May 16, 2018

STEREOTYPING-TERORISME-APAKAH-ANTISIPAS-KITA-BERLEBIHAN

Photo by Janko Ferli? on Unsplash

 

Baru-baru ini beredar dua video yang menggambarkan perempuan bercadar dan santri yang dicurigai dan diperiksa aparat berwajib. Dalam video pertama, perempuan bercadar turun dari bus lalu dicegat satpam buat diperiksa. Di video kedua, seorang santri dengan berpakaian koko lengkap dengan sarung dan kopeah dicegat polisi dan diminta buat memperlihatkan isi kardus yang dibawanya. Menonton kedua video ini, kita paham kalo pemeriksaan seperti ini dilakukan aparat berwajib sebagai bentuk kewaspadaan pasca pengeboman di Surabaya, Sidoarjo dan baru-baru saja di Kepolisian Riau. Masalahnya, keduanya jadi viral justru karena kecaman netizen yang menganggap aparat terlalu berlebihan dalam mencurigai kaum muslim yang mengenakan pakaian dan atribut tertentu.

 

Coba tengok video yang diunggah di akun Instagram @santikeren dan udah ditonton lebih dari 32 ribu orang ini:

 

 

 

SANTRI BUKAN TERORIS!!!!! Tak ada yg salah dengan video ini. Baik apa yg di lakukan pihak polisi, sebagai upaya untuk kewaspadaan. Bukankah disini pihak kepolisian yg banyak menjadi korban. Namun satu hal yg harus kita ketahui bersama, kebiadaban yg dilakukan oleh para pelaku teroris berdampak pada sudut pandang masyarakat terhadap identitas. Tentu banyak yang di rugikan, salah satunya kaum santri. Betapa tidak, kita yg tiap pulang dari pondok pasti membawa kardus dan tas, tentu berpenampilan sebagaimana layaknya santri yaitu sarungan. Sebab sarung, songkok, dan baju kokoh adalah identitas. Kepada pak polisi, kaum sarungan tak perlu ditakuti. Karna Santri bukanlah teroris. Mari perbaiki citra islam kembali, berhenti untuk saling menyalahkan, mari kita perbaiki citra islam bersama-sama. Kang santri ya kudu tahan terhadap kecurigaan, opo maneh di curigai karo cem cemane sampean lek sampean ngesir kancane #santrikeren #terorisjancok

Sebuah kiriman dibagikan oleh SNTRKRN | SANTRI KEREN (@santrikeren) pada

 

Sementara video di bawah ini memperlihatkan seorang perempuan bercadar yang berada di terminal bus, diminta petugas berwajib untuk turun dari bus agar bisa diperiksa di kantor terminal.  

 


 

APARAT KEPOLISIAN BERLEBIHAN?

STEREOTYPING-TERORISME-BERLEBIHANKAH-ANTISIPASI-KITA

 Sumber foto: tribratanews.sulbar.polri.go.id

 

Masalahnya bukan terletak pada isi video, tapi justru respon dari netizen dan penyebaran ulang dua video tersebut. Beberapa komentar dan caption unggahan ulang berisi ungkapan nggak terima. Caption dalam unggahan akun @santrikeren ini paling nggak mewakili perasaan kebanyakan netizen yang terbagi ke dalam dua kubu; tidak menyalahkan tindakan kepolisian yang bertindak sesuai dengan prosedur pemeriksaan, terlebih lagi di tengah situasi Siaga satu seperti sekarang ini; sementara kubu lainnya mengungkapkan kalo insiden terorisme menimbulkan kerugian buat para santri dan umat muslim, sebab mereka jadi sangat dicurigai, terlebih lagi mereka yang memang mengenakan atribut pakaian sebagai identitas keagamaan.

Beberapa netizen mengunggah ulang video tersebut dengan caption yang kurang lebih sama, tapi dengan tendensi yang beda-beda. Beberapa netizen yang berkomentar di video-video serupa juga mengungkapkan hal yang serupa, ditambah ada juga yang menganggap tindakan dan kecurigaan aparat ini berlebihan. Beberapa komentar dan caption bahkan menggunakan kata-kata yang cukup provokatif kayak ‘dipaksa’, ‘dilecehkan’, atau ‘ditodong’, dan menggunakan hashtag yang menimbulkan kesan urgent kayak #SaveSantri, #SavePesantren hingga #TerorisBukanIslam. Coba deh cek unggahan video unggahan ulang berikut.

 

 

Ya Allah... Boleh curiga! Tapi untuk anak sekecil itu yang baru pulang dari pondok, apa rasanya jika dilecehkan seperti ini? Saya juga punya adik yang pesantren. Apa rasanya adik saya diginikan! Apa tidak ada alat metal detector? Apa tidak bisa pemeriksaan lebih manusiawi? Ditengah jalan begitu! Mental anak itu bagaimana? Mohon Pak @jokowi @kapolri_indonesia selamatkan anak Bangsa dari kejahatan seperti ini. Sedih sekali melihatnya. TERORIS memang keji dan jahat tapi bukan karena isu TERORISME menjadikan kita meNEROR anak-anak! #savesantri #savepesantren #saveanakanak #savekids #savechild #IamMUSLIM #iamnotaterorist #santribukanteroris #terorisbukansantri #santribukanteroris #islamnotterrorist #teroristakkenalagama #kehidupansantri #indonesiacerdas

Sebuah kiriman dibagikan oleh iyi gawa scout'er (@iyigawa) pada

 

Sebelumnya dalam artikel #KamiTidakTakut Lawan Serentetan Aksi Terorisme Gogirl! sempet membahas kalo tujuan terorisme adalah menciptakan ketakutan dan perpecahan. Maka, kecaman netizen terhadap tindakan aparat ini bisa jadi merupakan salah satu wujudnya. Kalo kita amati, insiden ini memunculkan berbagai pihak dengan anggapan berbeda soal terorisme dan agama. Ada pihak yang sibuk menggaungkan kalo terorisme bukan ajaran agama yang dianutnya, ada pihak yang jadi lebih takut pada orang dengan penampilan tertentu (dalam kasus ini cadar dan simbol agama Islam dalam penampilan), ada pula pihak yang merasa dirugikan karena menganggap citra agamanya telah hancur. Well, semoga kita termasuk orang yang tetep tenang dan nggak termakan sebaran video, komentar, dan foto provokatif ini.

 

KEWASPADAAN DAN AJAKAN BUAT LAWAN TERORISME

Insiden teror bom yang terjadi berturut-turut ini membuat kepolisian di berbagai daerah di Indonesia mengumumkan kondisi keamanan kita udah memasuki Siaga satu. Itu artinya, pihak kepolisian meningkatkan kewaspadaan buat mencegah teror bom kembali terjadi. Salah satu wujudnya adalah dengan memperketat pengamanan dan pemeriksaan terhadap warga yang terlihat mencurigakan. Dilansir dari Tirto.id, aparat kepolisian bahkan melakukan razia di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan cara memeriksa setiap kendaraan yang lewat. Pemeriksaan dilakukan dengan cara mengecek identitas, barang bawaan, dan handphone mereka. Untuk pemeriksaan mendadak seperti yang dilakukan aparat dalam video santri, kepolisian melakukan tiga cara antisipasi sesuai dengan yang telah mereka sosialisasikan di media sosial.

 

 

Teknik Pemeriksaan Antisipasi Terorisme #kamitidaktakut . . @polisi_indonesia @halo_polisi @berita_polisi_terkini @divisihumaspolri @multimedia.humaspolri @polisi_ku @polisi_kita @polisikita813 @tribratanews @tribratanewscom @seputar_tangerang @abouttng @allaboutpolice . . . #polrestatangerang #poldabanten #kamitidaktakut #LawanTerorisme #terorismebukanjihad #kapolrestatangerang #Polripromoter #Polri #polrijaya #polrihumanis #banten #indonesia

Sebuah kiriman dibagikan oleh kapolrestatangerangofficial (@kapolrestatangerangofficial) pada

 

Itulah kenapa, Gogirl! menyimpulkan kalo tindakan aparat melakukan pemeriksaan nggak bisa dikatakan berlebihan. Kebetulan aja memang yang viral adalah video pemeriksaan terhadap warga yang memakai pakaian tertentu, tapi sebenernya tindakan waspada ini berlaku buat siapa aja, dengan pakaian yang seperti apa saja. Oleh karena itu, kita sebagai warga harus kooperatif sama aparat kalo sewaktu-waktu kitalah yang diperiksa. Dikutip dari Kumparan, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto bilang, “Kita mohon maaf kepada masyarakat dengan tindakan pemeriksaan ini. Kita juga meminta agar masyarakat kooperatif jika diperiksa, jangan marah. Justru kalau marah akan menimbulkan kecurigaan anggota. Kita enggak boleh underestimate karena pada faktanya, kejadian di Mako Brimob itu setelah dicek di badan dan tas enggak ada senjata api, tapi ternyata senjata disembunyikan di bawah kemaluannya.”

Setyo juga meminta kita semua memaklumi tindakan waspada aparat ini, tapi jangan lantas menjadikan kita jadi curigaan sama orang dengan pakaian tertentu. Dia bilang, “Enggak bisa juga kita langsung men-judge penampilan seseorang. Kita memang ada SOP dalam pemeriksaan ini, tetapi masyarakat harus maklum jika dicurigai karena hal-hal tertentu. Tapi pada intinya ya harus kooperatif jika diperiksa.”

Ajakan yang sama juga diucapkan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saiffudin. Beliau mengajak kita buat saling menghormati, nggak saling curiga, dan bersikap kooperatif dalam keadaan seperti ini. Dikutip dari Detik dia bilang, “Saudara-saudara kita yang bercadar kita hargai dan hormati dia. Karena itu adalah haknya, untuk melaksanakan bagaimana pengamalan pemahaman agama yang dimilikinya. Oleh karena itu kita semua berharap mudah-mudahan kita bisa menghargai menghormai pengamalan pelaksanaan keagamaan dari masing-masing kita.”

“Sekarang sebagian masyarakat kita ada semacam keresahan atau kekhawatiran atau mungkin bahkan kecurigaan terhadap mereka-mereka yang menggunakan cadar. Oleh karenanya, harus lebih kooperatif harus lebih terbuka, harus lebih bisa membaur dengan lingkungannya sehingga semua kita merasa aman meskipun ada sesama kita yang menggunakan cadar. Jadi penggunaan cadar bukanlah alasan bagi kita untuk merasa risau, galau, curiga, khawatir,” lanjutnya.

Gogirl! yakin kita bukanlah orang yang gampang terprovokatif dan tersulut dengan hal-hal kayak gini. Jadi alangkah bijaknya di tengah situasi yang memanas dan kewaspadaan tingkat tinggi kayak gini, kita justru berpikiran dingin dan terbuka, dan membantu aparat hukum sesuai dengan kemampuan kita. Cara termudahnya adalah dengan kooperatif, nggak kemakan hoax, dan tetap beraktivitas kayak biasa tanpa rasa takut, meski juga tetap waspada dan berhati-hati. 

 

 

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
Photo by Janko Ferli? on Unsplash, tribratanews.sulbar.polri.go.id,
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar