HARI ANAK PEREMPUAN INTERNASIONAL, 21 ANAK BISA JADI MENTERI SEHARI!

October 12, 2017

21-ANAK-JADI-MENTERI-SEHARI-DI-KPPPA

 

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) turut merayakan Hari Anak Perempuan Internasional yang jatuh tepat di tanggal 11 Oktober kemaren dengan menggelar event tahunan ‘Sehari Jadi Menteri’. Dalam event ini, beberapa anak dari Sabang sampe Merauke berkesempatan buat berdiskusi secara serius dan ngasih rekomendasi buat KPPPA.

 

 

21-ANAK-JADI-MENTERI-SEHARI-DI-KPPPA

 

Di tahun ini, 21 anak usia 15-19 tahun terpilih mewakili daerahnya masing-masing buat merapatkan hal-hal yang berhubungan sama perempuan, khususnya pernikahan di usia anak. Setelah menjalani camp selama tiga hari dan simulasi rapat selama beberapa kali, 21 anak ini akhirnya menghasilkan sebuah rapat yang berjalan dengan sangat baik dan sembilan rekomendasi yang langsung disampein ke pihak KPPPA. Sembilan rekomendasi yang merupakan pengembangan dari program-program lama yang udah ada yakni;

1. Mendorong presiden untuk menindaklanjuti Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (perppu) pencegahan perkawinan usia anak dan membuat Peraturan Menteri (permen) serta merekomendasikan kepada setiap daerah untuk membuat perda, pergub, perwali dan perdes) tentang pendewasaan usia perkawinan didukung oleh gerakan 10.000 hashtag dan 5000 surat yang dilakukan oleh masyarakat.

2. Ketegasan hukum saat menangani kasus kekerasan seksual dengan mendorong Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) untuk disahkan.

3. Melibatkan seluruh lapisan masyarakat (pemerintah, penyedia layanan kesehatan, perusahaan dan masyarakat secara umum) mengenai menstruasi untuk menghindari bully yang disebabkan oleh kesadaran yang rendah mengenai menstruasi, dan mengenai nutrisi untuk ibu hamil guna menanggulangi kematian kepada ibu dan anak yang terdampak perkawinan usia anak.

4. Memanfaatkan akses digital dan non-digital ramah anak (yang telah disaring oleh KPI) yang memperlihatkan bahaya perkawinan usia anak dan pornografi sehingga dapat diakses oleh kaum urban sampai rural dengan kampanye online, baliho (papan reklame), program TV dan film.

5. Membuat program TVMas (Tim Evaluasi masyarakat) sebagai wadah independen dalam membantu pemerintah untuk mengevaluasi:

  1. perda/ perbup/ perdes pencegahan perkawinan usia anak
  2. kabupaten/ kota layak anak (KLA)
  3. pelayanan kesehatan
  4. akta kelahiran; yang sudah ada yang didukung fakta dan data.

6. Mendukung parlemen muda dan pelatihan kepemimpinan untuk perempuan sejak dini agar dapat menjadi kepala daerah, anggota parlemen dan menteri.

7. Memberikan kesempatan kepada korban pernikahan usia anak agar dapat berkembang, berpendapat, serta memutuskan. Dengan cara membuat program untuk mendorong korban kembali bersekolah.

8. Pemerataan dan penguatan PUSPAGA dan PATBM untuk mencegah perkawinan usia anak dengan:

  1. program “SERAK” (sekolah keterampilan untuk anak yang terpinggirkan dengan cara membuat pelatihan untuk menambah keterampilan dan kemampuan kewirausahaan)
  2. Program NEW (no exploitation to women) gerakan baru untuk tidak mengeksploitasi perempuan dan anak perempuan dengan cara mengkombinasikan kegiatan seni dengan edukasi pemberian informasi mengenai pernikahan usia anak.
  3. “PEKAN KREATIF” melibatkan komunitas dengan menyelipkan seni budaya

9. Bekerjasama dengan tokoh keagamaan dan adat dalam mensosialisasikan pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) yang komprehensif dan pencegahan perkawinan usia anak di komunitas dan sekolah dengan bekerjasama dengan anak yang memiliki bakat teater, puisi, musik, komik cerpen, dll.

 

21-ANAK-JADI-MENTERI-SEHARI-DI-KPPPA

 

Intinya, ke-21 anak muda ini punya concern yang besar terhadap pernikahan di usia anak. Ayu Juwita yang jadi Menteri PPPA sehari gantiin Bu Yohana Yambise juga negasin kalo rekomendasi dan program mereka nggak cuma berhenti sampe di acara ini aja. Nantinya, mereka bakal pulang ke daerahnya masing-masing dan ngasih tau ke temen-temennya tentang bahaya pernikahan usia anak. Diharapkan bakal ada multiple effect dari kegiatan mereka ini, sehingga 87 juta anak di Indonesia bisa teredukasi buat nggak melakukan pernikahan dini.

 

 

Written by Kezia Maharani Sutikno
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar