GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: PULANG

February 10, 2018

PULANG

sumber foto: shutterstock

 

Tubuh Kanya bergetar hebat. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya dan air mata mengalir deras melewati pipinya membentuk sungai. Dia menahan isak tangisnya agar tidak terdengar. Detik berikutnya, dia memutuskan pergi meninggalkan tempatnya berdiri.

 

 

Apa yang baru saja di dengar Kanya di luar dugaannya. Fakta mengejutkan tentang dirinya baru dia ketahui. Fakta yang disembunyikan orang tuanya selama tujuh belas tahun dia hidup baru terbongkar sekarang. Ke mana saja dia selama ini? Kenapa dia baru menyadari keanehan yang terjadi selama ini setelah mendengar fakta itu?

Kanya merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dan dengan cekatan dia menelpon orang yang dibutuhkannya yang dia yakin bisa menolongnya untuk saat ini. Dia butuh ketenangan.

“Ada apa, Nya?” ucap suara dari seberang.

“Gue ke rumah lo,” balas Kanya lalu memutus panggilan sepihak.

Tangan Kanya kembali memasukkan ponselnya ke saku celana lalu dia mengusap air matanya dengan kasar. Dia benar-benar membutuhkan ketenangan. Langkah kakinya berjalan penuh keyakinan menuju rumah yang dia tuju.

 

***

 

“Lo kenapa?” tanya Laila saat dia dan Kanya berada di kamarnya.

Kanya tidak memperdulikan pertanyaan Laila, dia justru berbaring di ranjang Laila. Matanya terpejam tapi kepalanya dipenuhi banyak pikiran yang berisi pertanyaan masalahnya.

Laila memutar bola matanya melihat respon yang diberikan Kanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan bermaksud mencari tahu. Tidak biasanya Kanya bersikap seperti ini, seolah dia menyimpan rahasia yang begitu besar dan tidak kuat dengan hal itu. Kanya yang dia kenal adalah gadis yang ceria dan selalu menolong siapa pun, tidak peduli apakah dia mengenal orang yang dia tolong atau tidak dan kali ini cewek itu bersikap berbeda.

Dengan penuh keyakian, Laila mendekati Kanya. Dia duduk di samping Kanya. Matanya menatap lekat teman yang dia kenal dua tahun lebih, sejak kelas sepuluh. “Lo kenapa?” tanyanya lagi.

Kanya tetap tidak merespon ucapan Laila.

“Gue nggak tahu apa yang terjadi sama lo, tapi lo bisa cerita apa aja ke gue. Mungkin kalau lo cerita, beban yang lo pikul sedikit terangkat. Lagi pula kita temen kan Nya,” ucap Laila pelan. Dia mencoba berbicara sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaan Kanya yang terlihat sensitif.

Terdengar helaan nafas dari Kanya, “Nggak sekarang. Gue harus nenangin diri gue dulu. Kalau gue udah mendingan gue pasti cerita ke lo, La.” Balasnya lalu memunggungi Laila. Air mata yang sejak bertemu Laila dia tahan akhirnya menetes.

“Oke. Kapan pun lo ceria gue siap dengerin, kok.”

Thanks, La.”

 

***

 

Kanya duduk di ranjang kamar Laila. Dia menunggu Laila membawakan makanan untuknya. Orang tua Laila tidak tahu kalau Kanya menginap di rumah mereka. Dia ingin Laila merahasiakan hal tersebut karena kalau sampai orang tua Laila tahu dia berada rumah mereka dan orang tuanya mencarinya, mereka bisa memberi tahu tentang keberadaannya.

Awalnya Laila tidak setuju dengan keinginan Kanya untuk tidak memberi tahu keberadaanya, tapi melihat wajah memohon Kanya tadi pagi dia tidak bisa menolak keinginan temannya. Dia menyetujui keinginan Kanya.

Pintu kamar Laila terbuka menampakkan Laila yang membawa banyak makanan ringan dan minuman. Dia berjalan menuju Kanya lalu menaruh makanan tersebut dihadapan temannya. “Sori, gue nggak bisa bawa makanan selain ini. Orang tua gue ngelarang makan berat dalam kamar dan lo nggak mau keberadaan lo diketahui kan,” ucapnya.

Kanya mengangkat bahunya santai, “Nggak masalah. Gue yang harusnya bilang maaf ke lo. Lo harus bohong ke orang tua lo tentang keberadaan gue. Sori kalau gue ngerepotin lo, La.” Balasnya lalu mengambil makanan ringan yang dibawa Laila dan memakannya.

“Lo nggak ngerepotin, kok. Lo sendiri yang pernah bilang kalau teman harus saling menolong.” Laila tersenyum pada Kanya yang menatapnya.

Mendengar apa yang diucapkan Laila, Kanya berhenti makan. Dia menatap Laila tanpa ekspresi.

“Lo kenapa, Nya?” tanya Laila bingung dengan perubahan sifat Kanya.

Kanya menghela nafas panjang, dia menaruh kembali makanan ringan yang sebelumnya dia makan. “Gue udah janji bakal cerita ke lo apa yang terjadi sama gue kemarin. Lo mau denger cerita gue?”

Kedua sudut bibir Laila terangkat membentuk sebuah senyum, “Pasti dong gue mau.”

Tangan Kanya yang berada di pahanya mengepal. Kemarahan, kekecewaan, kesedihan, semuanya bercampur menjadi satu tersirat dari matanya dan Laila bisa melihatnya. Dia menahan air matanya yang siap meluncur kapan pun.

“Lo serius mau cerita? Lain kali nggak pa-pa, kok. Mungkin lo belum sanggup cerita dan gue bakal nungguin itu.” Laila menggenggam kedua tangan Kanya yang terkepal.

Kanya menggelengkan kepalanya cukup keras. “Gua cerita ke lo sekarang. Lebih cepat lebih baik. Seenggaknya beban gue ke angkat sedikit kayak ucapan lo semalam,” ucapnya tegas.

“Oke. Gue siap denger.” Laila menarik tangannya dari tangan Kanya yang masih terkepal.

“Gue bukan anak orang tua gue, La.” Setelah mengeluarkan kalimat itu, air mata jatuh di pipi Kanya.

“Bukannya mereka orang tua lo? Lo mirip sama nyokap lo,”

“Semalam, gue pulang les malam dan ngelihat mereka duduk di sofa ruang tamu. Mereka nggak sadar kehadiran gue. Awalnya gue pengen nyamperin mereka tapi Papa tiba-tiba bilang kalau udah saatnya gue tahu semuanya. Gue yang denger Papa bilang kayak gitu nggak jadi nyamperin mereka.

“Mama balas dia belum sanggup bilang yang sebenarnya kalau gue bukan anak mereka. Mama ngerasa belum waktu yang tepat ngasih tahu gue kalau sebenarnya gue anak adik Mama, Om Afan yang meninggal karena kecelakaan sama istrinya enam belas tahun yang lalu. Setelah denger Mama bilang kayak gitu, gue pergi. Dan sekarang gue di sini.” Jelas Kanya.

“Lo nggak tanya kejelasan yang lo denger?”

“Gue nggak sanggup, La. Denger mereka bilang kayak gitu aja gue udah hancur.” Kanya terisak. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Tapi mereka tetep keluarga lo, Nya.” Ucap Laila halus.

“Gue bukan anak mereka dan mereka nyembunyiin fakta itu selama ini! Gue nggak terima, Nya!” bentak Kanya, dia sudah menurunkan kedua telapak tangannya dari wajahnya.

“Setiap orang punya alasan atas tindakan yang dia lakukan termasuk orang tua lo.”

“Alasan apa?! Gue kecewa. Sekarang gue nggak punya tempat pulang.”

Laila memiringkan kepalanya. “Lo masih beruntung tahu siapa orang tua kandung lo.”

Kanya terdiam mendengar ucapan Laila. “Maksud lo?”

“Lo tahu, Nya? Gue juga bukan anak orang tua gue.”

“Apa?!”

“Orang tua gue ngadopsi gue dari panti saat gue umur dua bulan. Gue tahu fakta ini dua tahun yang lalu saat gue nggak sengaja nemuin berkas adopsi gue di kamar Mama. Sama kayak lo. Gue kecewa sama orang tua gue yang nyembunyiin fakta ini. Tapi setelah gue pikir lagi, nggak seharusnya gue marah. Mereka sayang sama gue dan nggak sekalipun nganggep gue anak angkat.”

Laila berhenti. Dia menatap Kanya yang menundukkan kepalanya. Dia tahu temannya saat ini sedang memikirkan apa yang baru saja dia ucapkan.

Tangan Laila terulur, mengenggam tangan Kanya membuat cewek dihadapannya menatapnya. “Kanya yang gue kenal selalu maafin orang lain. Nggak peduli seberapa besar kesalahan orang itu.”

 

***

 

“Nya, orang tua lo di bawah. Sori, gue yang ngasih tahu mereka kalau lo ada di sini. Lo harus nyelesaiin masalah lo,” ucap Laila yang berdiri di ambang pintu kamarnya setelah dua jam yang lalu Kanya menceritakan apa yang dialaminya.

Kanya yang semula duduk termenung di ranjang sontak menatap tajam Laila setelah mendengar apa yang diucapkan temannya. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar. Langkahnya terhenti saat berada di samping Laila. Dia menatap sekilas Laila yang tidak menatapnya lalu melanjutkan langkahnya turun menemui orang tuanya.

“Kanya,” panggil mama Kanya yang melihat putrinya berdiri tidak jauh darinya. Dia menghampiri Kanya dan memeluk erat Kanya yang sayangnya tidak dibalas Kanya seperti biasanya.

Kanya terdiam kaku. Dari balik punggung mamanya dia bisa melihat papanya yang sebelumnya terlihat khawatir kini mulai rileks setelah atrinya memeluk anaknya.

“Kenapa kamu nggak ngasih tahu Papa sama Mama kalau kamu di rumahnya Laila? Kami khawatir sama kamu, Nya. Kami nyari kamu dari kemarin.” Ucap mama Kanya yang sudah terisak.

“Seberapa penting Kanya di mata Mama sama Papa?” tanya Kanya dingin.

Mama Kanya melepas pelukannya. Dia menatap Kanya yang bersikap tidak seperti biasanya ditambah raut wajahnya yang terlihat dingin. “Sangat penting. Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa yang terjadi?”

“Seharusnya Kanya yang tanya ke Mama sama Papa, apa yang terjadi? Kenapa kalian menyembunyikan identitasku yang sebenarnya?” ketus Kanya.

“Maksud kamu?”

“Kanya bukan anak Mama sama Papa kan, Kanya anaknya Om Afan.”

Wajah mama Kanya terlihat terkejut, dia nyaris saja jatuh tapi dengan sigap papa Kanya menopang tubuhnya yang kaget, “Da-dari mana kamu tahu itu?”

“Semalam Mama dan Papa membicarakan hal tersebut. Kenapa Mama sama Papa nggak jujur dari dulu? Kenapa baru sekarang Kanya tahu dan kenapa Kanya mengetahui hal itu nggak secara langsung dari kalian? Apa alasan kalian menyembunyikan hal ini?” kedua tangan Kanya terkepal erat di sisi tubuhnya, dia menahan emosinya.

Di ruang yang sama, Laila dan orang tuanya menyaksikan apa yang terjadi. Mereka diam, membiarkan Kanya dan orang tuanya menyelesaikan masalah mereka.

Tangan mama Kanya terangkat, hendak menyentuh wajah Kanya tapi Kanya menepisnya.

“Apa alasan kalian?”

Mama Kanya terisak. Dia meutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

“Biar Papa yang menjelaskan semua−“

“Aku saja yang menjelaskannya,” potong mama Kanya. “Kamu sebenarnya keponakan Mama. Mama dan Papa lebih dulu menikah daripada adik Mama. Sayangnya Mama nggak bisa mengandung dan adik Mama memiliki kamu. Saat itu umurmu satu tahun dan adik Mama menitipkanmu pada Mama karena dia dan istrinya harus menjenguk temannya yang sakit. Diperjalanan pulang, mereka mengalami kecelakaan.” Dia berhenti berbicara. Tubuhnya bergetar.

“Ibumu meninggal di tempat kejadian sedangkan ayahmu dalam kondisi kritis. Mama dan Papa langsung menemui ayahmu. Sebelumnya kami menitipkanmu pada tetangga sebelah. Kami masih sempat menemui ayahmu. Dengan ucapan yang terbata-bata, dia meminta kami menjagamu dan menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya. Setelah kamu cukup dewasa kami bisa memberitahukan fakta yang sebenarnya supaya kamu merasa memiliki orang tua sepenuhnya. Sayangnya kamu sudah tahu lebih dulu. Tapi, bagi kami kamu adalah putri kami. Kami selalu menyayangimu.”

Air mata mengalir deras melewati pipi Kanya. Tubuhnya bergetar mendengar penjelasan Mamanya. Ucapan Laila dua jam yang lalu teringat jelas dipikirannya.

“Lo masih punya tempat pulang, Nya. Tempat lo pulang di mana ada yang mikirin lo. Gue dan orang tua gue nggak sedarah tapi mereka masih mikirin gue dan selama itu gue masih punya tempat pulang.”

Benar yang diucapkan Laila. Tempat pulang adalah di mana masih ada orang yang memikirkannya. Kanya menatap mamanya yang terisak dan papanya yang memeluk bahu mamanya dari samping. Dia sadar. Selama ini orang tuanya begitu menyayanginya.

Tanpa diduga, Kanya memeluk orang tuanya. “Maafin sikap Kanya sebelum ini sama Mama, Papa. Kanya nggak peduli kalau kalian bukan orang tua kandung Kanya. Kanya sayang kalian!” ucapnya lalu terisak. Orang tuanya balas memelukanya.

Dari tempatnya berdiri, Laila menyeka ujung matanya yang mengeluarkan air mata. ”Akhirnya lo sadar, Nya. Seenggaknya ini yang bisa gue lakuin buat lo,” batinnya.

 

***

 

 

*Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*

 

 

Written by Tasyrifun Nisa’
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar