PUISI BU SUKMAWATI DAN DERETAN PRODUK BUDAYA KONTROVERSIAL

April 03, 2018

PUISI-SUKMAWATI-EMANG-BENER-PRODUK-BUDAYA-DILARANG-SINGGUNG-SARA

sumber foto: medium.com/@inananan

 

Pada perayaan 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 (23/3), Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi berjudul “Ibu Indonesia”. Hingga hari ini puisi tersebut rame dibicarain publik, bahkan melebihi acara 29 Tahun Anne Avantie itu sendiri. Penyebabnya, banyak pihak menyebut puisi ini udah melecehkan agama Islam karena kata-katanya yang membahas soal azan, cadar, dan syariat (hukum islam). Gogirl! kutip penggalan bait pertama dari puisi tersebut buat kita simak bersama.

 

 

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus sujudmu

 

Dilansir dari Detik, wakil ketua DPR RI Taufik Kurniawan menilai puisi tersebut bisa memicu perpecahan. Dia bilang, “Pasti ada yang tersinggung, tidak terima, bisa-bisa nanti situasinya jadi konflik. Kita berharap untuk Ibu Sukmawati agar lebih berhati-hati dalam berkarya dan ketika menyampaikannya kepada publik. Saat ini, semua rentan terprovokasi.”

Kalo menurut Sukmawati, puisinya ini justru jadi gambaran realitas di Indonesia. Dia bilang, “Saya nggak ada SARA-nya. Di dalam saya mengarang puisi. Saya sebagai budayawati berperan bukan hanya sebagai Sukmawati saja, namun saya menyelami, menghayati khususnya ibu-ibu di beberapa daerah. Ada yang banyak tidak mengerti syariat Islam, seperti di Indonesia timur di Bali dan daerah lain.”

 

KARYA DENGAN ISU SARA YANG DULU SEMPET BERMASALAH 

Sebenernya, produk budaya kayak puisi yang bermasalah di tengah publik bukanlah hal baru di Indonesia. Dulu banget, pada era pemerintahan Orde Lama dan Orde Baru, banyak sastrawan, seniman, dan budayawan yang dipenjara karena karya-karyanya yang mengkritik pemerintahan. Mereka di antaranya Mochtar Lubis (Harimau, Harimau), Pramoedya Ananta Toer (Tetralogi Buru), Widjhi Tukul (Nyanyian Akar Rumput), dan W.S. Rendra (Yang Muda yang Bercinta).

Tapi, ternyata bukan cuma produk budaya yang mengkritik pemerintahan aja yang berpotensi menuai masalah, kontroversi, pencekalan, bahkan sampe ke ranah hukum. Puisi Sukmawati tadi jadi salah satu bukti kalo SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) adalah topik lain dalam produk budaya yang berpotensi jadi masalah. Coba kita inget-inget lagi beberapa produk budaya yang sempet ‘dilarang’ berikut ini, yuk!

  • Cerpen “Langit Makin Mendung” karya Kipandjikusmin (1968) yang dimuat di majalah Sastra ini memakai tokoh Tuhan, nabi, dan malaikat buat mengkritik kondisi sosial dan politik pada masa itu. Saking hebohnya isu penistaan agama gara-gara puisi ini, saat itu sampe muncul istilah ‘Heboh Sastra 1968’. Gara-gara kasus penistaan agama ini, Pemimpin Redaksi Sastra H. B. Jassin dipenjara 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun.
  • Puisi “Malaikat” karya Saeful Badar (2007) yang dimuat di Koran Pikiran Rakyat ini diprotes Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) karena dianggap menistakan agama. Dalam puisi ini, sosok malaikat digambarkan punya sifat-sfiat yang nggak mulia. Karena kasus ini, pihak Pikiran Rakyat meminta maaf dan mencabut puisi tersebut, menganggapnya nggak pernah ada. Sementara itu, Saeful Badar jadi nggak bisa lagi memublikasikan karyanya di media massa.
  • Film “Something In The Way”, Teddy Soeriaatmadja (2013) dicekal tayang di Indonesia karena mengangkat isu agama dan seks secara bersamaan. Film ini menceritakan supir taksi religius bernama Ahmad (Reza Rahardian) yang suka menonton film porno tapi nggak bisa menyalurkan hasrat seksualnya. Biarpun dicekal di Indonesia, film ini berhasil tayang di Berlin International Film Festival 2013.

 

KARYA DENGAN ISU SARA YANG BEBAS BEREDAR

PUISI-SUKMAWATI-EMANG-BENER-PRODUK-BUDAYA-DILARANG-SINGGUNG-SARA

sumber foto: ningspara.com

Nggak semua produk budaya yang angkat SARA dicekal dan berakhir merugikan penciptanya. Meskipun masih menuai kontroversi di kalangan penikmat sastra, beberapa produk budaya di bawah ini tetep bisa beredar bebas. Bahkan, karya-karya sastra ini banyak dipuji sama kritikus dan budayawan.

  • Buku Seri “Si Parasit Lajang” (2003) karya Ayu Utami menceritakan perempuan yang memutuskan buat nggak menikah, tapi pada akhirnya menikahi lelaki bernama Enrico. Buku ini mengangkat isu seks, feminisme, dan fenomena-fenomena yang penulis hadapi di dunia patriarkal. Selain serial ini, buku-buku Ayu Utami lainnya juga selalu mengangkat isu-isu yang sama. Karya-karyanya membuat Ayu Utami memeroleh penghargaan, di antaranya Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998, Prince Claus Award 2000, dan Khatulistiwa Literary Awards 2008.
  • Kumpulan Cerpen “Mereka Bilang Saya Monyet” (2004) karya Djenar Maesa Ayu mengangkat isu yang sama kayak Ayu Utami, yaitu seks dan feminisme. Nggak cuma menulis cerpen, novel, dan prosa, Djenar juga memproduksi karya film yang mengangkat isu-isu yang sama dan berprofesi sebagai aktris.
  • Kumpulan Cerpen “Bukan Perawan Maria” (2017) karya Feby Indriani mengajak pembacanya buat rileks membicarakan agama. Cerpen-cerpennya kebanyakan bersifat satir dan menyindir golongan umat Islam di Indonesia yang konservatif. Karya-karya fiksi dan nonfiksinya kebanyakan mengajak pembaca buat berpikiran secara terbuka.

 

BUKAN SINGGUNG SARA, TAPI INTERPRETASI PEMBUAT KARYA

Kalo dibandingin sama era Orde Lama dan Orde Baru, masalah produk budaya yang menyinggung SARA di era pascareformasi bukan berasal dari pemerintahan. Maksudnya, pemerintah bukan lagi pihak yang mencekal karena di masa sekarang kritik terhadap pemerintahan bisa dilakukan dengan lebih terbuka. Permasalahan menyangkut produk budaya saat ini lebih banyak dipicu oleh masyarakat dengan landasan agama dan moral. Menurut Iwan Awaluddin Yusuf (dkk) dalam buku Pelarangan Buku di Indonesia (2010), pada masa reformasi kelompok masyarakat berlatar belakang keagamaan garis keraslah yang aktif melakukan pencekalan buku. Isu-isu yang digunain buat melakukan pencekalan di antaranya komunisme, agama, dan seksualitas.

Di sisi lain, H.B. Jassin sempet bilang kalo sastra adalah karya imajinatif dan pengarang punya kebebasan berekspresi dan berpikir. Itu artinya, suatu karya sastra yang mengangkat isu-isu SARA belum tentu bertujuan melecehkan kelompok tertentu. Isu-isu tersebut boleh jadi merupakan kegelisahan para pembuat karya dan mereka bermaksud menyampaikan pemikiran subjektifnya lewat sastra. Ayu Utami, misalnya, sering mengangkat isu seks dan feminisme karena menurutnya seksualitas adalah potensi besar buat ketidakadilan gender.

“Karena seks itu pangkal ketidakadilan yang menimpa perempuan. Pandangan bahwa perempuan itu makhluk lemah, kurang mampu, emosional, harus dilindungi, sehingga tidak mampu memutuskan sendiri dan karenanya harus dipimpin. Itu semua berawal dari pemahaman yang salah mengenai sekualitas. Semua usaha untuk meringkus perempuan itu berlindung di balik alasan untuk melindungi atau memuliakan perempuan,” kata Ayu Utami, dikutip dari wawancaranya dengan Deutsche Welle.

Kalo kata Feby Indriani, karya-karyanya yang membahas topik agama nggak bertujuan menggugat agama itu sendiri. Dalam wawancaranya di Magdalene dia bilang,Basically gini, gue sadar gue ada on the edge, posisinya kritis. Tapi gue sadar betul gue tidak menggugat doktrin agama. Gue paham betul karena tradisi (agama) yang panjang tadi. Gue nggak menggugat doktrin Islam, Quran atau Nabi Muhammad. Semua tentang interpretasi, pemahaman yang umum juga kita ketahui. Jadi gue sih merasanya gue bisa mempertanggungjawabkan itu, tapi kan hari gini semua jadi ekstra sensitif.”

 

 

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
potretbengkulu.com, medium.com/@inananan, ningspara.com, biografi-penulis.blogspot.com, magdalene.co
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar