LONG MARCH INDONESIA TANPA PACARAN, MENIKAH SOLUSI TERBAIK?

April 16, 2018

LONG-MARCH-INDONESIA-TANPA-PACARAN-BENARKAH-MENIKAH-SOLUSI-TERBAIK

sumber foto: gituaja.com

 

Pada Minggu (15/4) kemarin, jalanan di sekitar Islamic Center Bekasi ramai oleh kegiatan long march yang diadain sama Komunitas Indonesia Tanpa Pacaran (ITP). Kegiatan long march kemarin termasuk dalam kampanye akbar sekaligus temu nasional pegiat ITP se-Indonesia di gedung Islamic Center Bekasi. Peserta yang mengikuti acara ini berjumlah ribuan dan nggak terbatas usia juga status, karena nggak cuma pelajar dan mahasiswa yang dateng, tapi juga mereka yang berstatus menikah.

 

 

Saat melakukan long march, ITP menyuarakan aspirasi yang sekaligus jadi visi dan misi dari gerakan mereka. Dilansir dari IDN Times, dalam acara ini Pemimpin ITP La Ode Munafar mendeklarasikan ikrar gerakan komunitasnya. Dalam deklarasinya, La Ode mensejajarkan pacaran dengan pergaulan bebas yang berpotensi merugikan generasi muda.

Selain itu, temu nasional ini juga dihadiri aktor Cholidi Asadil Alam (Ketika Cinta Bertasbih, 2009) yang mendukung penuh kampanye ITP. Dalam sambutannya Cholidi berharap gerakan ini bisa membebaskan Indonesia dari budaya pacaran. Menurutnya, pacaran adalah kegiatan sia-sia sehingga harus dihindari. Daripada berpacaran, dia menganjurkan peserta untuk menikah kalau udah siap. Dikutip dari IDN Times, dia bilang, “Nikah muda? Nggak apa-apa asal sudah siap. Tujuan menikah itu kan mencari ketenangan, ketenteraman, kedamaian. Yang merasa jiwanya nggak tenang, mungkin sudah waktunya menikah.”

Melihat tujuan dari gerakan ini, Gogirl! menyimpulkan kalau sebenernya keinginan ITP menjauhkan anak muda dari dampak negatif berpacaran merupakan upaya yang baik. Tapi, apakah menikah lantas menjadi solusi terbaik?

 

MENGENAL GERAKAN INDONESIA TANPA PACARAN

Komunitas ITP sebenernya udah didirikan oleh La Ode sejak September 2015. Langkah awal La Ode buat menyebarluaskan gerakan ini adalah menyebarkan opini dan pandangan-pandangan lewat media sosial Facebook dan Instagram. Buat memudahkan anggotanya berkomunikasi, ITP menyediakan forum diskusi di grup Whatsapp dan Line. Sampe sekarang, ITP udah punya 610 ribu pengikut di Instagram dan 922 ribu pengikut di Facebook Page. Bentuk kampanye mereka di media sosial biasanya berupa poster, video singkat, meme, dan foto yang dilengkapi sama caption yang berisi ceramah agama. Mengiringi gerakan ini, La Ode juga menulis buku-buku berisi pemikirannya tentang penolakan aktivitas berpacaran, di antaranya Indonesia Tanpa Pacaran, Berani Nikah Takut Pacaran, dan Cinta Onde-Onde.

 

 

Dalihnya wujud kasih sayang dengan menjalin hubungan yang bernama pacaran Nyatanya perempuan dijadikan pelampiasan nafsu yang tak tertahan Sudah banyak sekali peristiwa bertebaran di media masa, yang melibatkan aktivis pacaran Mulai dari kasus pembunuhan sang kekasih, pembuangan bayi bahkan aborsi dan aksi bunuh diri bahkan masih banyak lagi Tidak kah hal ini membuat ngeri? Belum lagi dosa yang terus menggunung dan harus ditanggung Wahai aktivis pacaran, sadarlah! Ekspresi cinta hakiki itu bukanlah diwujudkan dengan jalan perzinahan tetapi hanya lewat pernikahan Sekarang pilihan ada di tangan. Masihkah bersedia dijadikan bahan pelampiasan? . Follow @GaulFreshWalimahan Follow @GaulFreshWalimahan Follow @GaulFreshWalimahan . . #GaulFreshWalimahan #IndonesiaTanpaPacaran  #CalonUmiShalehah #GerakanNikahMuda #GerakanRemajaBerhijrah #CalonAbiSholeh #DakwahAsik #DakwahIndonesia #DakwahItuCinta #MuslimahMudaMendunia #sahabatfillah #uulituula #sahabattaat #lillah #gaunnikahsyari #gaunsyarigratis #muslimahwedding #jilbabpengantinmurah #jilbabnikahgratis

A post shared by Indonesia Tanpa Pacaran (@indonesiatanpapacaran) on

 

Salah satu reporter Magdalene.co sempet melakukan investigasi terhadap komunitas ini dengan cara bergabung di dalam grup Whatsapp mereka. Grup Whatsapp komunitas ini terpisah antara anggota laki-laki dan perempuan dan isinya menjadi medium buat saling menyebarkan artikel agama. Nggak cuma wajib membaca, tapi anggota dalam grup juga diwajibkan buat menyebar artikel-artikel tersebut. Tiap kali admin mengunggah artkel, admin akan mengabsen apakah seluruh anggota udah menyebar artikel-artikel tersebut sebagai pesan berantai. Ini termasuk salah satu dari peraturan-peraturan keanggotaan ITP, yang kalau nggak dituruti anggotanya berpotensi dikeluarkan dari grup.

Nggak cuma di media sosial, ITP juga sering mengadakan pertemuan kajian rutin setiap tiga bulan sekali dan temu akbar tahunan.  Dikutip dari IDN Times, La Ode menjelaskan soal kajian rutin komunitas ITP, “Setiap tiga bulan sekali ada kajian hits, lalu setiap minggu ada KKI atau Kajian Komunitas Indonesia Tanpa Pacaran untuk memberikan pemahaman rutin pada generasi muda. Kami berikan pemahaman secara mengakar dari masalah akidah, syariah, dan berdakwah bersama.”

 

TOLAK PACARAN, BENARKAH MENIKAH JADI SOLUSI TERBAIK?

Menariknya, baik gerakan maupun buku-buku ITP ini diiringi dengan seruan untuk menikah sebagai solusi dari menghindari sisi negatif berpacaran. Sasarannya tentu aja kaum muda, yang artinya komunitas ini turut menyuarakan asumsi kalau menikah muda jauh lebih baik daripada berpacaran. Ujaran-ujaran perihal menikah biasanya disertai gambar-gambar manis pernikahan yang berpotensi memancing pembacanya jadi baper. Akibatnya, kita jadi cenderung terprovokasi oleh sisi-sisi manis dalam pernikahan dan mengabaikan sisi lainnya kayak kesiapan mental, potensi kekerasan dalam rumah tangga, kemungkinan bercerai karena sama-sama belum dewasa, dan persoalan ekonomi keluarga.

 

 

Pacaran "No"?????, Menikah "yes"???????? Pacaran = maksiat = dosa investasi = melanggar perintah Allah = jalan sesat = jalan yg disuguhkan syaithan = membawa musibah = sengsara = siksa dunia & akhirat ???? . . Nikah = ibadah =  pahala investasi = perintah Allah = menghadirkan ketentraman = mendapat ridha Allah = diberkahi Allah = dinaungi Allah = dilimpahkan rezeki = memperbesar keluarga ????‍????‍????‍???? = balasannya surga???? . . .  Follow @BeraniNikahTakutPacaran  Follow @BeraniNikahTakutPacaran Follow @BeraniNikahTakutPacaran . . . #GerakanRemajaBerhijrah #IndonesiaTanpaPacaran  #CalonUmiShalehah #CalonAbiSholeh #GerakanNikahMuda #DakwahAsik  #DakwahIndonesia  #DakwahItuCinta #MuslimahMudaMendunia #sahabatfillah #uulituula #sahabattaat #syurga #lillah #yukngaji #yukhijrah  #bawaperubahan #HijrahJogya #Hijrahlillahitaala

A post shared by Indonesia Tanpa Pacaran (@indonesiatanpapacaran) on

 

Sebenernya Gogirl! udah sempet membahas soal dampak menikah di usia muda dalam artikel Pernikahan Anak di Indonesia, Kapankah Bisa Dihentikan?. Di situ Gogirl! sempet menjelaskan kalau 23 dari 34 provinsi di Indonesia memiliki angka pernikahan anak di bawah 18 tahun sebesar lebih dari 25%. Pada 2017, angka pernikahan anak di Indonesia bahkan mencapai 25,7%. Mirisnya lagi, nggak sedikit pernikahan di usia muda didorong oleh keinginan pribadi dan bukan orang tua. Contohnya pasangan anak SMP di Bantaeng Sulawesi Selatan yang memperjuangkan pernikahan mereka ke KUA yang lagi heboh dibicarakan publik akhir-akhir ini. Dilansir dari Tribun Style, alasan pelajar SMP ini ngebet menikah bisa dikatakan nggak masuk akal, yaitu takut tidur sendirian gara-gara orangtuanya sering dinas ke luar kota. Pertanyaannya, kok bisa pelajar usia SMP berkeinginan menikah tanpa banyak pertimbangan?

Menariknya lagi, nggak sedikit materi media sosial dan buku-buku ITP yang ditujukan pada kaum perempuan. ITP sering menggambarkan perempuan sebagai pihak yang wajib menjaga ‘kehormatan’nya, dan menyiratkan kalau perempuan-perempuan yang berpacaran adalah perempuan yang udah ‘merendahkan’ dirinya. Gerakan ini juga kerap menyalahkan pemikiran-pemikiran progresif seperti feminisme, pluralisme, dan liberalisme sebagai akar permasalahan tanpa landasan yang jelas. Tapi, benarkah seperti itu adanya?

 

 

Ketika pacaran sudah kau anggap hal biasa. Apakah itu artinya kehormatanmu sdudah biasa direndahkan? . . . Follow @IndonesiaTanpaPacaran Follow @IndonesiaTanpaPacaran Follow @IndonesiaTanpaPacaran .  #IndonesiaTanpaPacaran #GerakanNikahMuda #CalonUmiShalehah #NikahAsik #DakwahKampus #IslamicWedding #Wedding #DakwahAsik #YukNgaji #IndonesiaBertauhid #GerakanRemajaBerhijrah

A post shared by Indonesia Tanpa Pacaran (@indonesiatanpapacaran) on

 

Dikutip dari Magdalene.co, Koordinator Nasional Jaringan Muda Lathiefah Widuri menganggap gerakan ini nggak cuma mendorong anak-anak muda untuk menikah muda. Lebih dari itu, gerakan ini juga dinilai membatasi relasi personal anak muda dan meningkatkan politik kontrol terhadap tubuh perempuan. Jaringan Muda sendiri mengkhawatirkan gerakan ini dapat memicu maraknya pemikiran anti-kesetaraan di kalangan anak muda. Lathiefah bilang, “Ketika melihat kampanye-kampanye yang disebarkan dalam poster-poster mereka, kami menangkap bahwa menikah hanya dijadikan semacam jalan keluar untuk menghalalkan syahwat. Menurut kami, itu adalah pemikiran yang sempit. Akar masalah yang digemborkan oleh ITP juga tidak jelas, dan ukuran moral yang dikampanyekan gerakan ini berpotensi mengkriminalisasi perempuan dengan tuduhan zina.”

Sementara itu, sorang wartawan lepas Fandy Hutari dalam opininya yang dimuat di Voxpop.id mengatakan, slogan ‘menikah muda’ sebagai solusi sebaiknya diganti dengan ‘menikah di usia yang tepat’. Gogirl! setuju banget dengan pendapat Fandy dan Bu Lathiefah tadi. Gogirl! juga menilai, pacaran atau nggak, itu merupakan ranah privat seseorang, yang hanya bisa diputuskan oleh mereka yang menjalaninya sendiri. Di sisi lain, melarang hubungan pacaran nggak lantas menjamin seseorang terbebas dari kekerasan dalam hubungan, seks bebas, dan ‘buang-buang waktu’ seperti apa yang ITP kampanyekan. Banyak pernikahan dini dengan pasangan berusia muda yang pada akhirnya bercerai karena ketidaksiapan mental menghadapi kehidupan pernikahan yang sebenarnya. So daripada gencar mengajak anak muda segera menikah, bukankah lebih baik mengedukasi mereka buat fokus mengembangkan potensi serta pandai menjaga diri sebagai solusi?

 

 

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
Facebook La Ode Munafar, Instagram @indonesiatanpapacaran
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar