#KAMITIDAKTAKUT LAWAN SERENTETAN AKSI TERORISME

May 14, 2018

#KAMITIDAKTAKUT-LAWAN-SERENTATAN-AKSI-TERORISME

Sumber foto: The Associated Press

 

Minggu (13/6) dan hari ini (14/6) langit Indonesia diselubungi duka tanpa henti. Seolah langit mendung sepanjang hari, Surabaya dan Sidoarjo berturut-turut memberi kabar aksi keji terorisme yang membuat kita semua berkabung. Sampai saat ini, ledakan bom terjadi di lima tempat berbeda di dua kota tersebut. Dilansir dari Tirto.id, korban tewas dari aksi bom terorisme ini ada 13 orang termasuk tersangka pelaku yang jumlahnya enam orang. Di samping itu, seenggaknya 43 korban luka-luka dari ketiga ledakan ini. Ditambah lagi kabar terakhir mengatakan kalo ada tambahan satu korban dari anggota Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya.

 

DUKA MENDALAM ATAS SERANGAN TEROR YANG BERTURUT-TURUT

 

#KAMITIDAKTAKUT-LAWAN-SERENTATAN-AKSI-TERORISME

Sumber foto: The Associated Press

 

Rentetan serangan bom di Surabaya terjadi di tiga gereja yang berbeda, sementara ledakan di Sidoarjo terjadi di sebuah rumah susun sederhana sewa (rusunawa), dan terakhir di Markas Polrestabes Surabaya. Dilansir dari CNN Indonesia, serangan bom pertama pada Minggu (13/5) terjadi di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel, Surabaya pada pukul 06.30. Kemudian bom kedua meledak di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro Surabaya pada pukul 07.15. Selanjutnya bom ketiga terjadi di Gereja Pantekosta Jalan Arjuno pada pukul 07.53. Ledakan terjadi tepat saat para jemaat di gereja lagi melakukan ibadah misa Minggu. Malam harinya sekitar pukul 21.00, ledakan bom terjadi lagi di rusunawa Wonocolo Sidoarjo, dilansir dari Kompas.com. Pagi ini sekitar pukul 08.50, giliran Mapolrestabes Surabaya yang diserang teror bom.

Dilansir dari CNN Indonesia, pelaku pengeboman di tiga gereja di Surabaya diduga merupakan pasangan suami istri dan empat anaknya. Dalam analisis kronologi yang dipaparkan di CNN Indonesia, sang ayah berinisial DU mengendarai mobil bersama istrinya (PK) dan dua anak perempuannya, FS (12) dan PR (9), sementara dua anak laki-lakinya FH (16) dan YF (18) mengikuti naik motor. FH dan YF turun di Gereja Santa Maria Tak Bercela buat melakukan aksi bom, lalu PK, FS, dan PR diturunkan di GKI buat melakukan aksi lanjutan dan akhirnya DU menuju Gereja Pantekosta buat meledakkan bom terakhir yang ada di mobilnya.

Sementara itu, pengeboman di Sidoarjo dilakukan oleh AF (47) yang menewaskan istri dan anaknya, tapi dua anaknya yang lain berhasil dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan luka-luka. Karena masih memegang switcher alias pemicu bom, aparat kepolisian terpaksa menembak AF yang saat itu udah dalam keadaan luka parah. Terakhir, empat pelaku pengeboman di Mapolrestabes Surabaya dinyatakan tewas, dilansir dari CNN Indonesia. Sampe saat ini polisi masih menyelidiki identitas keempat pelaku tersebut.

 

BIJAK BERMEDIA, JANGAN SAMPE KITA JADI KETAKUTAN DAN TERPROVOKASI

 

Tragedi teror bom yang terjadi berturut-turut ini bikin kita semua jadi tegang dan takut. Soalnya, kita nggak cuma dibombardir berita-berita tentang aksi teror itu sendiri, tapi juga dihujani pesan berantai di grup-grup aplikasi chat berisi peringatan dan tanda bela sungkawa. Masalahnya, nggak sedikit pesan berantai yang diikuti dengan foto dan video korban serta kejadian yang terekspos secara vulgar. Bahkan nggak cuma di grup aplikasi chat, beberapa media sosial juga ikut bikin masyarakat parno dan takut dengan menyebarkan foto dan video tragedi pengeboman ini. Diduga, membuat masyarakat takut menjadi tujuan sebenarnya dari serangkaian aksi terorisme yang terjadi. Para peneror menyampaikan pesan berisi kenangan traumatis buat banyak orang. Semakin banyak tertangkap media, semakin banyak foto korban tersebar, semakin berhasillah tujuan mereka.

Nggak cuma memunculkan ketakutan, tragedi ini juga dianggap bisa jadi pemicu perpecahan antarumat beragama. Muncul beragam pesan di media sosial berisi klarifikasi muslim yang bilang kalo Islam bukan teroris, muncul pula ketakutan non pemeluk agama Islam yang semakin merasa nggak aman tinggal di negeri sendiri. Bahkan, beberapa tokoh agama menganggap tragedi bom ini sebagai framing buat semakin memperburuk citra umat Islam. Well, jangan sampe kita jadi salah satu yang terbawa umpan mereka, ya!

“Masyarakat jangan mudah terprovokasi. Semua saya minta tetap tenang dan memercayakan kepada aparat kepolisian,” kata Ketua DPR Bambang Soesatyo, dilansir dari Kompas.com. Imbauan ini beriringan dengan seruan buat nggak ikut menyebarkan foto dan video korban dengan tagar #BersatuLawanTeror dan #KamiTidakTakut di media sosial. Sementara itu kalo kata Presiden Joko Widodo, “Hanya dengan upaya bersama seluruh bangsa, terorisme dapat diberantas. Kita harus bersatu melawan terorisme.”

 

MENCOBA MEMAHAMI PSIKOLOGIS PELAKU EKSTRIMIS TEROR BOM

 

Dilansir dari Media Indonesia, menurut Kapolri Surabaya pelaku pengeboman di Surabaya tergabung dalam Jemaah Anshorut Daulah (JAD) dan Jemaah Anshout Tauhid (JAT) yang merupakan bagian dari organisasi Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Di Indonesia, JAD didiriin dan sempat dipimpin oleh Aman Abdurrahman yang sekarang ditahan di Mako Brimob. Posisi Aman lalu diganti sama Zainal Anshori, yang kemudian ditangkap karena kasus penyelundupan senjata ke Filipina. Dalam skala global, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menduga teror bom berturut-turut ini  merupakan pembalasan ISIS yang ditekan oleh negara-negara barat, di antaranya Amerika dan Rusia. ISIS kemudian melancarkan aksi terorisme lewat cabang organisasi lokal di negara-negara lain, salah satunya Indonesia.

#KAMITIDAKTAKUT-LAWAN-SERENTATAN-AKSI-TERORISME 

Sumber foto: Reuters

 

Dalam skala kecil, keluarga dan individu pelaku terorisme telah terdoktrin ideologi ISIS sehingga tega melancarkan aksi mereka. Tapi, kadang pemahaman mengenai konsep ‘jihad’ di kepala para pelaku terorisme ini sama sekali nggak bisa kita terima dan mengerti. Kenapa mereka bisa melakukan perbuatan keji mengatasnamakan jihad dan agama? Melihat tragedi pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo, kok bisa aksi pengeboman melibatkan seluruh anggota keluarga? Ditambah lagi, anak-anak sang pelaku berusia remaja dan anak kecil, pula. Kok bisa? Mungkinkah Si Ayah ini seorang psikopat atau sosiopat?

Dilansir dari Scientific American, mayoritas anggota organisasi ekstrimis bukan pengidap penyakit mental kekerasan, tapi masyarakat biasa. Dalam artikel yang ditulis psikolog Joevarian di The Conversation, sikap ekstrimis muncul karena berhasilnya doktrinisasi prinsip ketidakadilan kepada individu. Dalam pandangan para ekstrimis, persepsi ketidakadilan ini memicu kebencian terhadap pihak yang mereka anggap sebagai penjahat sekaligus ancaman bagi ideologi mereka. Ketika suatu pihak udah menganggap kelompok lain sebagai penjahat, maka kekerasan terhadap kelompok itu jadi dianggap terlegitimasi alias disahkan dan bahkan dianjurkan. Itulah kenapa kita sering mendengar motif ‘memerangi kemaksiatan dan kaum kafir’ yang beriringan dengan ‘jihad di jalan Tuhan’ dalam kasus-kasus terorisme.

Selain itu, sebuah penelitian menunjukkan kalo aksi ekstrimis juga bisa didorong sama motivasi individu yang kuat. Dalam penelitian ini, banyak penganut ekstirmisme dan radikalisme yang merasa dirinya gagal, punya riwayat keluarga yang mengecewakan, punya trauma masa lalu, atau didiskriminasi di lingkungan sosial. Mereka merasa hidupnya hampa dan nggak punya motivasi, sehingga ideologi ekstrimisme dianggap jadi motivasi hidup baru yang menjanjikan keselamatan.

Gogirl! menyimpulkan, kita bisa belajar dari persepsi ketidakadilan dan kekosongan motivasi dalam sudut pandang pelaku ekstrimisme. Pertama, kita nggak boleh menutup mata dari kemungkinan terpapar doktrin ekstrimisme dalam keadaan tertentu. Kedua, biasakan berpikir kritis dan terbuka biar nggak merasa eksklusif dengan identitas yang kita punya. Ketiga, tetep tenang dan nggak mudah terprovokasi, serta jangan bantu sebarin foto-foto korban teror bom. Yuk sama-sama teriakkan kalo #KamiTidakTakut!

 

 

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
Reuters, The Associated Press
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar