HOAX DI INDIA MAKAN KORBAN, WHATSAPP BERI LABEL ‘FORWARDED MESSAGE’

July 11, 2018

HOAX-DI-INDIA-MAKAN-KORBAN-WHATSAPP-BERI-LABEL-FORWARDED-MESSAGE

Photo: bloomberg

 

Sejak Selasa (10/7) lalu, Whatsapp meng-update fitur pesan beruntun dengan menambahkan label  kecil ‘forwarded message’ di bagian atas pesan, dilansir dari Buzzfeed News. Rencana kemunculan label ini sebenarnya udah rame diberitakan sejak Maret lalu. Fungsi label ini adalah membuat penggunanya mendeteksi apakah informasi yang disebar merupakan pesan beruntun yang nggak jelas asal-usulnya. Sayangnya, saat ini label tersebut belum bisa dipake sama semua pengguna Whatsapp. Kita masih perlu nunggu munculnya perintah update untuk aplikasi messaging yang satu ini.

 

Keputusan Whatsapp akhirnya mengaktifkan label ini dipicu oleh krisis fake news di India. Diharapkan, label ini bisa menjadi solusi yang bisa membuat pengguna Whatsapp makin kritis dalam menanggapi suatu informasi yang disebar. Soalnya, di India udah sering terjadi insiden pengeroyokan masal yang memakan korban jiwa hanya gara-gara berita hoax yang tersebar di grup-grup Whatsapp. Korban pengeroyokan ini biasanya adalah sosok yang dianggap pelaku kejahatan dalam informasi yang disebarkan lewat Whatsapp.

HOAX-DI-INDIA-MAKAN-KORBAN-WHATSAPP-BERI-LABEL-FORWARDED-MESSAGE

Photo: buzzfeed.com

 

BEBERAPA KASUS EKSTRIM FAKE NEWS DI INDIA

Pada Juni lalu, terjadi beberapa insiden pengeroyokan massal yang disebabkan oleh berita palsu atau hoax yang disebarkan lewat Whatsapp. Salah satunya adalah informasi berisi imbauan untuk berhati-hati terhadap penculik anak yang berkeliaran. Dalam sebuah pesan berantai tertulis, hati-hati terhadap sekumpulan orang yang membagi-bagikan makanan untuk menculik anak. Ditulis juga kalo udah ada 10 orang penculik yang ditangkap oleh pihak berwajib. Terlihat lebih meyakinkannya lagi, pesan ini diiringi potongan video yang terlihat seperti peristiwa penculikan anak yang direkam oleh kamera CCTV.

Ironisnya, ternyata video tersebut berasal dari iklan layanan masyarakat di Pakistan yang isinya justru meminta publik waspada terhadap penculikan anak. Video ini diedit sedemikian rupa sehingga terlihat seperti cuplikan video yang diambil dari kamera CCTV sungguhan. Cuplikan video inilah yang menimbulkan ketakutan ke tengah-tengah publik, ditambah lagi media-media massa termasuk stasiun TV India ikut menggaungkan tersebarnya video CCTV tersebut.


Gara-gara tersebarnya video ini, beberapa orang yang diduga penculik tewas dikeroyok warga India setempat. Dikutip dari Detik yang melansir Sky News, di daerah Gujarat satu orang tewas gara-gara informasi hoax ini. Insiden terjadi ketika enam orang setempat mencurigai empat perempuan yang menaiki bajaj. Nggak lama kemudian, banyak orang berdatangan dan mengerumuni bajaj tersebut buat meminta mereka keluar dari bajaj. Orang-orang itu menarik sambil menginterogasi keempat perempuan itu dengan paksa dan penuh kekerasan. Aksi tersebut diketahui petugas setempat yang kemudian membubarkan massa dan membawa keempat orang itu ke rumah sakit. Naas, salah satu dari mereka yang ternyata bernama Shantadevi Nath (45) tewas di tengah jalan.

Di daerah lain di kawasan Dhule terjadi insiden serupa pada awal bulan ini (1/7). Dilansir dari Telslet yang mengutip dari Engadget.com,  insiden di Dhule ini bahkan memakan korban lima orang gara-gara mereka dicurigai oknum penculik anak. Kelima korban ini kemudian diketahui merupakan anggota dari komunitas Nomad, yaitu sekumpulan traveller yang tinggal dengan berpindah-pindah tempat. Insiden ini bermula ketika salah satu dari mereka mengajak ngobrol seorang anak perempuan. Melihat hal itu, sekumpulan warga Dhule setempat jadi curiga, kemudian menginterogasi mereka yang berujung pada tindak kekerasan.

Dilansir dari Telset, sepanjang 2018 korban tewas yang dipicu oleh sebaran pesan hoax berjumlah tiga orang. Sementara itu, secara keseluruhan insiden kematian gara-gara informasi hoax yang tersebar di Whatsapp telah terjadi sebanyak 12 kali. Di India sendiri, pengguna Whatsapp sampe saat ini berjumlah lebih dari 200 juta orang dengan jumlah pesan terkirim sekitar 13,7 milyar setiap harinya. Itu artinya, India menjadi sasaran empuk buat menyebarkan berita palsu.

 

UPAYA PEMERINTAH INDIA DAN WHATSAPP TANGGULANGI HOAX

Sebagai upaya menanggulangi insiden naas gara-gara tersebarnya hoax, kepolisian di beberapa daerah di India menyerukan warga buat nggak langsung percaya sama informasi dari Whatsapp. Seruan ini nggak cuma digaungkan di media sosial official mereka, tapi mereka juga berpatroli turun ke tengah warga buat menjelaskan betapa bahayanya efek dari  informasi palsu. Supaya membuat penanggulangan ini mencapai masyarakat yang lebih luas, kepolisian India secara resmi meminta Whatsapp untuk bertindak lebih efektif dalam mencegah hoax di platform aplikasinya.

Menjawab keresahan kepolisian, pihak Whatsapp memasang iklan layanan masyarakat untuk mengimbau warga mewaspadai hoax di sekitar 30 surat kabar India. Isi dari iklan ini termasuk juga cara-cara untuk mendeteksi hoax dan gimana supaya kita nggak mudah terprovokasi olehnya.


 

Well, krisis berita palsu di India ini jadi cerminan kalo rendahnya literasi media nggak cuma terjadi di negara kita. Kita juga jadi sadar kalo semakin meluas dan meratanya jaringan internet tentunya harus dibarengi dengan literasi penggunaan teknologi yang tersambung ke internet itu sendiri. Ditambah lagi, makin sini harga smartphone pun makin murah, sehingga memungkinkan semua orang memilikinya tanpa terkecuali. Nah, perlu diketahui juga, literasi media ini nggak cuma berkaitan dengan gimana caranya memfilter banjirnya informasi dengan bijak. Tapi, ini juga termasuk memanfaatkan segala fitur dan fasilitas yang tersedia dengan bijak. Yuk, refleksi ke diri sendiri, udah sejauh mana kita paham literasi media dalam berinternet!

 

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar