HIDUP MINIM AIR DI CAPETOWN JADI WAJAH KEKERINGAN AIR DI DUNIA

March 13, 2018

HIDUP-MINIM-AIR-DI-CAPETOWN-JADI-WAJAH-KEKERINGAN-AIR-DI-DUNIA

sumber foto: cnn.com

 

Pada Januari lalu, pemerintah Cape Town Afrika Selatan memprediksi kotanya akan kehabisan air bersih bulan ini. Saat itu, Walikota Cape Town Patricia De Lille bilang ke berbagai media kalo air akan benar-benar habis pada April 2018. Krisis air ini membuat pemerintah dengan ketat membatasi warganya menggunakan air sehari-hari. Pada saat itu, jangankan mencuci mobil, menyiram tanaman pake air bersih aja dilarang demi menghemat air habis-habisan.

 

 

Eits. Jangan bayangin Cape Town adalah kota terpencil dengan teknologi dan infrastruktur yang terbelakang, ya. Cape Town adalah kota besar yang sekaligus Ibu Kota Afrika Selatan yang selalu jadi tujuan turis asing. Kota ini juga terkenal dengan destinasi wisata alam dan geliat bisnis kreatif para penduduknya. Di bidang pariwisata, kota ini menyumbang sebesar 9,9% buat pendapatan negara. Fakta kalo kota ini diprediksi jadi kota besar pertama yang bakal kehabisan air terdengar miris banget, kan?

 

MUNDURNYA ‘DAY ZERO’, HARI KEHABISAN AIR DI CAPE TOWN

 

HIDUP-MINIM-AIR-DI-CAPETOWN-JADI-WAJAH-KEKERINGAN-AIR-DI-DUNIA

sumber foto: usatoday.com

 

Januari sampe Februari lalu, pemerintah kota Cape Town membatasi 4 juta penduduknya buat mengonsumsi air nggak lebih dari 87 liter per hari. Program pembatasan air ini disebut Day Zero, yang artinya hari di mana air udah habis dan nggak bisa digunain sama sekali. Pada hari itu, pemerintah bakal bener-bener menutup keran dan semua saluran air para warganya karena nggak ada lagi air yang bisa disalurkan.

Memasuki Maret, Day Zero nggak bener-bener terjadi. Pemerintah dan penduduk kota berhasil memangkas habis-habisan penggunaan air harian. Saat ini, penggunaan air lagi-lagi dikurangin jadi cuma 50 liter per penduduk. Dari 50 liter itu, penduduk harus bener-bener menghemat air dan memakai kembali air yang udah mereka pake. Mereka dilarang mandi lebih dari 90 detik. Habis itu, air bekas mandi dipake buat nyuci piring, ngepel, atau menyiram tanaman. Setelah nyuci piring, air pun dipake lagi buat nyiram toilet.

Penyebab utama krisis air di Cape Town adalah musim kemarau panjang selama tiga tahun ke belakang, diperparah sama jumlah populasi yang semakin meningkat. Dilansir dari website resmi pemerintah Cape Town, Desember 2017 lalu kapasitas bendungan kota penampung air mencapai 33%. Sekarang udah turun drastis jadi cuma 23,6%. Sementara itu, Day Zero akan terjadi kalo kapasitas bendungan tinggal 13,5% lagi.

Banyak upaya dilakukan sama penduduk dan pemerintahan buat menyelamatkan diri dari krisis air. Di beberapa titik, keran air ke rumah penduduk udah dimatiin. Mereka diharuskan mengantre di sekitar 200 titik pemeriksaan di seluruh kota buat mengambil jatah air gratis sebanyak 25 liter per hari. Antrean ini diawasi dan dikontrol ketat sama polisi dan tentara bersenjata supaya nggak terjadi kecurangan. Sebagai alternatif biar nggak mengantre, banyak penduduk yang menunggu supermarket buka di pagi buta buat beli air dalam kemasan. Tentu aja sekarang air dalam kemasan udah sangat terbatas.

Coba tonton deh video dari National Geographic ini buat melihat langsung gimana cara penduduk Cape Town bertahan dalam krisis air.

 

 

MUNGKINKAH KITA JUGA MENGALAMI ‘DAY ZERO’?

 

HIDUP-MINIM-AIR-DI-CAPETOWN-JADI-WAJAH-KEKERINGAN-AIR-DI-DUNIA

sumber foto: global-news.co.id

 

Dilansir dari National Geographic Indonesia, saat ini hampir 30% permukaan tanah di bumi bakal mengalami kekeringan kalo suhu global mengalami kenaikan 2°C di atas era pra Industri. Di dunia, tiga per sepuluh manusia atau sekitar 2,1 milyar orang kesulitan mengakses air bersih kalo menurut laporan World Health Organization (WHO).

Di Indonesia sendiri, dilansir dari Tirto.id, kekeringan dan kekurangan air bersih juga terjadi di sekitar 105 kabupaten atau kota, 715 kecamatan, dan 2.726 kelurahan atau desa di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara pada 2017. Pemerintah Indonesia sebenernya udah menyelenggarakan program-program buat mengatasi masalah darurat krisis air di beberapa wilayah. Sebagai upaya jangka pendek, pemerintah melakukan dropping air bersih buat memenuhi kebutuhan masyarakat pada musim kemarau sampe musim hujan berlangsung. Untuk jangka panjangnya, pemerintah pusat dan daerah di wilayah tertentu berupaya melakukan reboisasi, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) terpadu, pembangunan bendungan dan waduk, konservasi tanah dan air, juga perbaikan saluran irigasi.

Saat ini, mungkin banyak dari kita yang nggak merasakan krisis air. Kita masih bisa nyuci baju dan piring seminggu dua kali, mandi dua kali sehari, minum air yang cukup, dan buang air dengan tenang tanpa harus susah-susah buat nge-flush. Faktanya, dilansir dari Kompas.com, pada 2014 rata-rata penduduk Indonesia kelas menengah ke bawah mengonsumsi air sekitar 169,11 liter per orang setiap harinya. Sementara itu, konsumsi masyarakat kelas menengah ke atas sekitar 247,36 liter per orang.

 

HIDUP-MINIM-AIR-DI-CAPETOWN-JADI-WAJAH-KEKERINGAN-AIR-DI-DUNIA

sumber foto: sinarharapan.net

 

Dibandingin sama batas maksimal konsumsi air di Cape Town, rata-rata jumlah konsumsi air di Indonesia jelas bisa dibilang boros banget. Kalo penggunaan air di Cape Town dibatesin jadi 50 liter per hari, sedangkan sekali merendam dan membilas cucian aja kita butuh 15-20 liter, berarti kita masih punya sisa 30 liter air buat dipake. Selain itu, rata-rata penggunaan air kalo mandi pake shower selama lima menit adalah 20 liter. Sisanya tinggal 10 liter doang. Dijamin nggak bakalan cukup buat minum, buang air, nyuci piring, apalagi nyuci mobil, deh!

Nggak menutup kemungkinan, kita juga bakal mengalami krisis air di masa depan, terutama kalo kita terus-menerus boros dalam menggunakannya. Emang sih, di pelajaran sains pas masih SD kita diajarin kalo air adalah sumber air yang dapat diperbaharui. Tapi, bukan berarti kita harus mengabaikan fakta kalau di daerah-daerah lain banyak orang yang kesulitan mendapatkan air bersih. Buat mencegahnya, kita bisa mulai dengan hal-hal kecil: memakai air seperlunya buat mandi, pakai softener sekali bilas buat cuci pakaian, dan memakai kembali air bekas pakai buat keperluan lain. Dengan mengurangi pemakaian air, kita ikut berkontribusi dalam mencegah terjadinya Day Zero dalam waktu dekat, seenggaknya di tempat tinggal kita sendiri.

 

 

Written by Asmi Nur Aisyah
Photo Source:
cnn.com, usatoday.com, global-news.co.id, sinarharapan.net
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar