GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: UNPREDICTABLE TALE

October 28, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-UNPREDICTABLE-TALE

 

 

“Park Jimin!.. Kim Taehyung! .. Jeon Jungkook!”
“BTS!!”

 

Aku bersorak bersamaan dengan jutaan penggemar yang berada dihadapan ketujuh lelaki sempurna yang sedang bernyanyi dan menari di atas panggung. Sesekali kami berteriak histeris saat seorang dari mereka tidak sengaja melompat terlalu keras ataupun mengangkat tangan begitu tinggi sehingga kami dapat melihat hal yang biasa disebut ‘roti sobek’ oleh gadis – gadis penuh imajinasi seperti kami.

Suara dari speaker yang keras hingga penerangan minim yang hanya berasal dari panggung membuatku terus terlarut pada penampilan idola – idolaku ini. Oh seandainya saja—

“Sicca!”

Aku terlonjak mendengar mama memanggilku dan membuka pintu kamarku. Saklar lampu disebelahnya kini ia tekan dan membuat kamarku seketika terang benderang. Video yang tadi kuputar otomatis ku berhentikan.

Aku mendesah pelan, “Apa lagi?”

“Kamu tuh belajar!” omel mama mulai lagi.

“Katanya mau ikut jalur undangan, kamu harus persiapan dari kelas 10 ini,” lanjutnya membuatku memutarkan bola mata.

“Iya, aku udah tau.”

“Kamu nggak usah nonton – nonton Korea – Koreaan lagi,” perintah mama membuatku mendelik.

“Nggak bisa gitu dong ma, kan hiburan tersendiri,” tolakku dengan alasan yang sama seperti sebelum – sebelumnya saat mama terus mencoba untuk melarangku.

Mama hanya mendengus lalu bergeleng, sepertinya ia sudah malas berdebat dengan ku yang pasti tidak mau kalah darinya. Aku tersenyum, teringat akan satu hal. Selanjutnya aku berdiri dari posisi dudukku dan berjalan menuju mama lalu bergelanyut manja pada sebelah lengannya.

“Mam,”

“Enggak,” potong mama membuatku mendengus.

“Aku bahkan belum bilang apa – apa,” protesku lalu melepas pelukanku.

“Mama udah tau, pasti kamu antara pingin nonton konser atau nggak beli k-stuff yang harganya bisa buat beli dua baju bagus.”

Aku mendengus kemudian membuka mulutku untuk mengucapkan beberapa argument, namun langkah mama yang gesit sudah menutup pintu kamar ku dan menghilang.

“Pokoknya aku harus bisa beli tiket konser!” teriakku dalam hati lalu mengangguk – angguk keras. Tekad ku sudah bulat, aku akan menggunakan uangku sendiri untuk membelinya.

Pertanyaannya, bagaimana caranya? Menabung uang saku? Oh, no. Kebiasaan mama yang tidak pernah membawakanku bekal tentu sudah menutup kemungkinan itu, ditambah lagi banyaknya iuran maupun uang kas yang harus kupenuhi di beberapa kegiatan sekolah.

Aku membuka internet dan mengetikkan beberapa hal mengenai cara menghasilkan penghasilan dengan mudah. Cukup konyol memang. Berbagai situs yang kubuka memberikan informasi yang buruk dan tidak cocok remaja polos sepertiku. Banyak penawaran pada judul situs, seperti Mau menjadi miliarder dalam tiga hari? Klik di sini! Ugh, melihat gambar seorang perempuan dengan pakaian mini di atas judulnya saja sudah membuatku muak.

Hampir saja aku menutup halaman internetku jika aku tidak menemukan sebuah web yang menunjukan informasi mengenai menulis. Menulis merupakan pekerjaan yang tidak ada kekurangannya, namun banyak manfaatnya. Adanya royalti yang cukup besar jika buku kita berhasil lolos ke penerbitan juga tambah menggiurkanku untuk menulis. Dari informasi yang kudapat, banyak sekali penulis sukses yang menulis dengan kisah nyata sebagai inspirasi.

Aku menjentikkan jari. Aku sudah mendapat ide dan inspirasi! Kubuka aplikasi untuk mengetik di laptopku lalu mulai mengetik beberapa hal yang kuingat dari berbagai memori yang tersisa. Menyelami lagi kisah - kisah penuh tawa dan tangis dengan lelaki kejam itu, Samudra Putralusia.

***

Setelah berhari – hari memanfaatkan waktu senggang –yang sebenarnya banyak adanya – untuk terfokus mengetik, kesulitan dalam memilih kata – kata yang pas serta merajut berbagai kisah klasik kami, aku mulai terbawa perasaan. Ya bagaimana tidak? Aku tentu masih mengingat jelas si Samudra yang sering kali berlaku manis pada anak kecil seperti ku yang masih polos dan tidak tahu apa – apa. Memori yang akan terus teringat bagaimana aku menangisi Samudra yang berkata padaku bahwa ia sangat marah padaku karena aku terlalu bersikap kekanakan, bagaimana aku yang memohon padanya untuk kembali dengan berbagai janji terlontarkan untuk menjadi lebih baik. Aku tahu aku benar – benar bodoh saat itu dan sekarang aku menyesalinya.

Namun dari kejadian itu aku malah dipertemukan dengan grup – grup musik dari Korea yang selalu menghiburku, mulai dari reality shownya, hingga penampilan – penampilan panggung mereka. Aku bahagia, tentu saja. Aku juga bangga, setidaknya aku dapat mengatasi masalahku dengan hiburan – hiburan seperti ini daripada terjerumus pada narkoba atau berbagai perlakuan buruk lainnya.

“Finally!”

Aku menghela nafas lega. Novel abal –abal yang menghabiskan energi ku selama satu minggu penuh ini selesai. Belum, mungkin belum selesai karena aku masih kurang yakin dengan ending-nya. Aku menggeleng pelan, aku tidak mau hanya tokoh perempuannya yang dalam kisah nyata adalah aku malah menjadi sangat menyedihkan dan terpuruk. Aku menambahkan beberapa paragraph terakhir dimana sang tokoh perempuan yang menemukan laki – laki baru hingga penyesalan sang tokoh utama laki – laki.

“Ah, tidak ah,”  Aku menggeleng lagi.

***

Seharusnya hari ini menjadi hari yang sangat kelabu, mengingat tadi pagi aku sudah telat bangun tidur, lalu kena semprot mama karena tak sengaja memecahkan piring serta menumpahkan makanan yang seharusnya menjadi sarapanku hingga mama harus menyiapkan ulang, dan seperti yang sudah aku prediksi, aku telat dan berakhir berdiri di hadapan tiang bendera selama satu jam pelajaran, dan terakhir aku harus pulang sendiri dengan bus kota karena antara mama maupun papa tidak ada satu pun yang dapat menjemputku sehingga aku harus menunggu selama dua jam untuk menunggu bus ke arah rumahku datang kembali setelah ketinggalan bus sebelumnya.

Namun sebuah surat dengan logo sebuah penerbit yang tidak asing bagiku membuat rasa kesalku teralihkan. Jantung ku semakin berdegup kencang saat aku mendekati dan memungut benda persegi panjang yang tergeletak di depan pintu utama itu. Segera aku masuk ke dalam rumah dan menghempaskan diriku pada sofa ruang tamu. Aku mulai merobek dan membuka surat itu.

“UWAAAH!” Aku berteriak keras.

Naskahku diterima! Aku melompat – lompat di atas sofa tidak peduli akan kenyataan sofa ini terlalu tua dan ringkih. Aku mulai menari – nari gila. Aku mulai membaca ulang isi dari surat yang membuat hatiku jumpalitan tak karuan.

Ah, aku disuruh menghubungi editor yang akan mengurus novelku. Namun karena terlalu bersemangat, aku memungut kembali tas ku yang sudah terlempar jauh lalu mengunci pintu rumah. Ya, aku harus memastikan semua ini di kantor penerbitnya langsung!

Sampai di kantor besar yang penuh akan pegawai – pegawai yang terlihat sangat keren dan berwibawa, aku sebagai anak SMA biasa harus memberanikan diri. Ingat, novelku kan sudah diterima, untuk apa khawatir? Aku berbicara dengan seorang pegawai perempuan yang berada di tempat front office. Mbak Grace namanya, ia memintaku untuk menunggu di barisan sofa dekat pintu masuk.

Cukup lama aku menunggu hingga akhirnya seorang pegawai laki – laki mendatangiku. Aku mengernyit. Wajah lelaki ini tidak asing. Mataku membelalak, dia kan—

“Dengan adik Jesicca Saraswati?” tanyanya memastikan membuatku otomatis mengangguk.

Alisku terangkat satu, aku bingung. Apakah orang ini baru saja terkena amnesia?!

“Ah, baik. Perkenalkan saya Samudra Putralusia,” ucapnya formal lalu menundukan sedikit kepalanya.

Ah! Aku mengerti. Ini di kantor, ia harus bersikap professional. Hebat! Ekspresi wajahnya yang terkontrol dengan baik itu patut diacungi jempol. Ah, atau memang dia amnesia hingga tidak mengingatku sehingga tak perlu repot – repot menahan keterkejutan seperti yang sedang ku alami sekarang, aku tidak tahu.

“Saya mewakili editor yang memegang naskah anda sangat memohon maaf. Surat yang kami kirimkan ke alamat anda adalah surat yang salah,” ucap Samudra sopan lalu mengajukan surat baru yang membuat firasatku tidak enak. 

“Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.

Samudra menyodorkan surat baru itu lalu ku ambil dan ku buka. Seketika aku merasa kakiku meleleh, naskahku ditolak. Aku menggeleng pelan, tidak mungkin!

“Nggak bisa gitu dong!” protesku cukup kencang hingga membuat orang – orang disekitar menoleh.

“Jelas – jelas saya menerima surat penerimaan naskah, bagaimana bisa diganti begitu saja?!” lanjutku mulai marah. Aku diberi harapan palsu, huft!

Samudra terlihat kewalahan dan membungkuk meminta maaf pada beberapa pegawai yang merasa terganggu atas teriakan protesku. Aku dan Samudra mulai berdebat, antara aku yang minta pertanggung jawaban hingga mengancam untuk menuntut sang editor yang merupakan teman Samudra yang sedang tidak berada di kantor dan Samudra yang berusaha menahan malu dan menenangiku.

Akhirnya seorang atasan Samudra datang menyelamatkan perdebatan kami. Aku dan Samudra diminta untuk datang ke ruangannya dan menyelesaikan masalah di sana. Sang bapak bernama Tedjo yang ku yakini memiliki jabatan tinggi ini meminta maaf padaku atas kesalahan yang ada. Aku yang awalnya masih menuntut untuk meminta pertanggung jawaban terbungkam mendengar keputusan pak Tedjo yang berjanji akan menerbitkan novelku namun harus dirombak ulang dan diperbaiki beberapa hal yang tidak perlu dan membuat nilai novelku menurun dengan bantuan editor di sini. Entahlah, mungkin karena ada Samudra di ruangan yang sama, akhirnya pak Tedjo menyuruh Samudra mengurusi novelku. Aku dapat melihat sorot mata Samudra yang memelas. Aha! Aku senang melihatnya terbebani seperti ini.

Samudra menghembuskan nafas kasar saat kami keluar dari ruangan pak Tedjo. Aku memandangnya yang sekarang memunggungiku untuk mengantarku ke arah ruang kerjanya. Samudra terlihat sedikit berbeda. Tubuhnya tidak sekurus dua tahun yang lalu, sekarang ia terlihat lebih berisi dan berotot, wajahnya sedikit lebih tampan dibanding dua tahun yang lalu, rambutnya yang dulu selalu berantakan sekarang tertata dengan gel rambut membuatnya terlihat sedikit lebih rapi.

Aku duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Samudra. Aku menoleh ke sekitar, sepi. Ada empat meja kerja lainnya di ruangan dingin yang tidak terlalu luas ini, namun hanya ada seorang pegawai yang menempati meja kerjanya di belakang Samudra, sisanya hanya dipenuhi oleh tumpukan kertas yang ku yakini adalah naskah – naskah yang harus dibaca dan dikoreksi.

“Aku baru baca separuh dari naskah mu, semuanya agak familiar tapi terlalu dilebih – lebihkan dari kenyataannya,” ucap Samudra seraya membolak – balikan tumpukan kertas yang ku jilid sekitar dua bulan yang lalu.

Aku terkekeh, “Masih inget, om?” cibirku membuatnya melotot.

“Jangan panggil aku kayak gitu,” protesnya.

Aku tertawa lebih keras, “Umurku masih 16 tahun, kamu udah 22 tahun,” ucapku mengatakan fakta.

Samudra mendengus, “Oh ya, kenapa judulnya Unpredictable Tale?”

“Karena semua perlakuan dan tingkah konyol sang tokoh laki – laki selalu di luar logika sang tokoh perempuan, namun semuanya itu malah membuat sang perempuan semakin jatuh cinta, bahkan hanya dengan menatap mata coklatnya.”

***

Aku tersenyum – senyum sendiri di atas kasur kamar ku. Mungkin tadi aku sempat kesal pada Samudra, namun lama kelamaan sikapnya cukup membuat nyaman setelah dua tahun tak bertemu. Aku teringat, sesekali ia tertawa geli melihat bagaimana aku menuliskan kisah kami saat ia berlaku konyol dulu. Yah, kami bernostalgia – be right back memutar lagu Raisa- Terjebak Nostalgia – meskipun tak jarang Samudra juga serius dalam merombak dan memperbaiki ide serta gaya penulisanku yang masih bisa terbilang ‘kasar’. Dengan rendah hati aku menerima segala kritikannya, aku sadar aku memang hanya penulis abal – abal yang baru ingin belajar dan terjun dalam dunia menulis demi tiket konser oppa – oppa tampan ku.

Jujur, jika aku adalah seorang Jesicca yang dulu setelah beberapa saat tersakiti oleh hubungan yang hanya bertahan 5 bulan itu, aku akan membenci Samudra saat melihatnya, kemudian mengumbar – umbar kejelekan Samudra, yah aku memang sangat kekanakan dulu, seorang siswa SMP yang masih sok tahu mengenai cinta. Pantas saja dulu Samudra yang notabenenya sudah menjadi mahasiswa yang sudah bertumbuh lebih dewasa sempat muak dan berakhir meninggalkan ku.

Setelah berbincang dan bekerja cukup lama sore tadi, Samudra mengantarku pulang dan berkata bahwa ia akan memperjuangkan novel yang dipenuhi oleh kisah yang baginya cukup familiar menuju tahap penjualan di seluruh toko buku di Indonesia. Aku juga berjanji akan membantunya jika ia bingung akan alur novel yang aku yakin akan menjadi indah dibaca kelak setelah ia beri beberapa-bahkan banyak-sentuhan.

Suara notifikasi dari channel Youtube milik boygroup kesayanganku mengingatkan ku untuk segera menonton video live yang sedang mereka selenggarakan. Aku mencintai mereka, sebagai seorang penggemar yang sangat amat ingin melihat idolanya tanpa layar monitor sebagai batas, aku harus segera berjuang untuk menonton konser mereka tahun depan! Aku tertawa kencang saat melihat Bwi, member kesukaanku terjatuh karena menginjak dress panjang wanita yang dikenakannya, wajahnya tampan. Sangat tampan. Alasan aku menyukainya? Karena senyumnya mirip seperti Samudra, sang mantan terindah.

***

Aku tersenyum saat melihat beberapa surat kontrak dan semacamnya dihadapanku. Samudra kini duduk dihadapanku seraya menjelaskan berbagai hal mengenai kepentingan penerbitan novel kebanggaanku ini. Perlu kuakui, kerjanya tergolong cepat, tepat satu bulan, hampir semuanya sudah terselesaikan dengan baik.

“Jadi, gimana?” tanyanya memastikan membuat ku tergagap karena tidak memperhatikan omongannya.

“Hah? Iya, iya boleh.”

Samudra tertawa lalu mengangguk. Kedua bibirnya terbuka, namun terkatup sebelum ia mengeluarkan sepatah kata pun. Ia mengulanginya sekali lagi. Aku menaikan satu alisku.

“Mau ngomong apa?”

“Em, jujur aku suka sama ceritamu, cuman aku nggak yakin pembaca bakal senang sama endingnya.”

“Kenapa? Menurutku itu udah cocok, sesuai harapan pembaca.”

“Tapi kurang greget, endingnya ini gampang ditebak,” tanggapnya.

Aku tersenyum lalu menggeleng, “Nggak papa deh.”

Samudra ikut tersenyum lalu mengangguk, “Oh ya! Sampai lupa, ini buat kamu.”

Aku mengernyit saat melihat Samudra mengulurkan sebuah amplop, “Kamu.. mau kawin?”

Samudra membelalak lalu tertawa kencang, “Nikah woy, bukan kawin.”

“Ah, sama aja,” elak ku tak sadar ikut tersenyum.

“Dateng ya, aku tunggu loh.”

“Iya, pasti kok. Aku bolos les deh, demi mantan ku ini,” gurauku membuat Samudra kembali tertawa.

“Aku duluan ya, besok – besok aku kabarin lagi tentang royalti dan lainnya, aku ada urusan,” pamitnya lalu akhirnya menghilang dari pandanganku.

Suara lonceng tanda pintu café ini tertutup mengakhiri senyum yang sejak tadi kupamerkan. Rasanya agak nyilu perih gimana gitu, entahlah. Yeah, sebenarnya aku yang salah tidak menyadari perbedaan kehidupan kami sedari dulu. Berharap pada mantan yang berumur 6 setengah tahun lebih tua dari kita disaat kita masih SMA? Ah, bukannya tidak mungkin, namun sedikit memaksakan.

Aku tersenyum kecil lalu mengangguk – anggukan kepalaku, ah, pantas saja tadi ia berbicara mengenai akhir cerita novel kami. Semua chapter berisi kisah nyata kecuali akhirnya, yeah, seharusnya berakhir dengan sang tokoh laki – laki yang berbalik memohon ampun pada tokoh perempuan dan mereka kembali bersama membangun kisah yang baru. Aku terkekeh, sekarang sudah tidak mungkin. Jauh di dalam lubuk hati aku sedikit menyesal sempat berubah pikiran untuk mengganti ending dengan sang perempuan yang berbahagia dengan lelaki lain dengan akhir sang perempuan dan laki – laki kembali bersama dan berbahagia.

Yeah, setidaknya Samudra lah yang membuatku terjerumus dalam kehidupan yang penuh dengan oppa ini, setidaknya juga, karenanya aku berpeluang untuk melihat biasku secara langsung. Aku tersenyum simpul lalu berdiri.

“Mbak! Tolong bill nya!”

Yap! Saatnya melanjutkan kehidupanku tanpa Samudra kembali mengusik pikiran dan hatiku lagi.

 

 

Written by Laurencia Lee
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar