GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: SENYUM TERAKHIR ARYA

September 16, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-SENYUM-TERAKHIR-ARYA

 

Gisya hanya bisa termenung dengan tatapan kosong melihat lelaki tercintanya terbujur kaku bersimbah darah di kamar rumah sakit. Semua kejadian ini terjadi begitu cepat, bak adegan sinetron menyayat hati. Telepon yang berdering tengah malam itu, mengantarkan berita yang seketika tak bisa lagi membuatnya berkata, gemetaran dan lemas seluruh tubuhnya. Dua jam yang lalu, senyumnya itu masih membekas di dalam ingatan Gisya, tidak ada yang tahu bahwa senyum itu adalah senyum terakhir Arya untuk Gisya.

 

Setahun berlalu sejak kepergian Arya, selama setahun itu pula Gisya hidup diliputi rasa bersalah, kejadian malam itu selalu datang dalam mimpi Gisya, membuatnya terus terbangun di tengah malam. Gisya sadar semuanya memang tidak akan pernah lagi sama, dia sangat kehilangan laki-laki yang selalu ada untuknya lima tahun terakhir itu. Gisya menghukum dirinya sendiri setahun terakhir ini, dia tak mau keluar rumah, dan juga tak mau bertemu teman-temannya. Papa dan mamanya sangat khawatir pada keadaannya, akhirnya berinisiatif memintanya pindah sekolah. Gisya mengiyakan ide itu, berharap kalau suasana baru akan membawa pengaruh baik padanya.

“Perkenalkan nama saya Gisya Fiandra, pindahan dari SMA Budi Luhur Bakti Jakarta,” tutur Gisya memperkenalkan diri.

“Ok.. Gisya, silakan duduk di sebelah Puput,” guru mempersilakan duduk sambil menunjuk satu-satunya bangku yang masih kosong di kelas.

Sekolah baru ini cukup membuat Gisya merasa nyaman. Dia bisa sedikit mengalihkan pikirannya pada Arya.

                Walaupun kini dia jauh dari orang tuanya karena sekolahnya berada di Bandung, Gisya selalu terpantau penuh oleh kedua orang tuanya, karena dia tinggal di rumah tantenya. Rumah yang asri dan membuat pikiran jernih ketika melihat hamparan tanaman berjajar rapi di halaman belakang rumah tantenya. Tempat favoritnya, di bawah sebuah pohon mangga di halaman belakang, disana ia mencurahkan kenangannya dan Arya.

“Hai.. Aku Reza Mahendra Putra,” cowok yang satu ini memperkenalkan diri.

“Gi, Liat deh, mukanya itu lhoh... Guaaanteeeng banget!!” Puput berbisik kepada Gisya.

Puput adalah orang yang selama sebulan terakhir ini duduk disebelahnya, membantunya mengejar pelajaran sekolah yang sempat terbengkalai olehnya, dan calon kuat untuk jadi sahabatnya.  Puput sedari tadi kalang kabut salah tingkah melihat makhluk bernama Reza itu. Gisya memperhatikan dengan perlahan. Memang ada yang berbeda dengan Reza, sekelebat bayangan Arya muncul saat mata keduanya bertatapan. Mungkin hanya mirip, gumam Gisya tanpa memperdulikan lagi.

Gisya memasang kaca matanya bersiap membaca novel yang sedang dibawanya. Setiap istirahat sekolah, ia memang punya kebiasaan baru yaitu baca novel di taman sekolah. Tak disinyalir kapan datangnya, seorang lelaki sudah berada di sampingnya, Reza.

“Hobi baru ya Gi?” tanya Reza sok tahu.

Gisya mengangguk, matanya melihat dalam ke mata Reza yang sedang berbinar-binar. Gisya semakin menyadari kalau dia memang mirip Arya.

“Gue pengen banget ketemu Lo, gue ngerasa kalo kita udah deket banget walaupun baru pertama kali ketemu kemarin.”

Gisya tak menjawab, tapi itu benar dirasakannya. Hatinya nyaman sekali berada di dekat Reza siang itu.

“Gisyaaaa...” Puput datang membawa ketela rebus kesukaan Gisya dan tertegun, kembali salah tingkah, melihat Reza sedang berada di tempat yang sama dengannya. 

“Hai Puput,” Reza melambaikan tangan ke arah Puput dan tersenyum manis sekali. Puput semakin menjadi, disembunyikannya rasa deg-degan agar tak kelihatan Reza.

“Hai Reza,” Puput akhirnya berhasil mengeluarkan kata ajaibnya.

“Udah dulu ya Gi. Gue mau ke kelas duluan,” Reza meninggalkan Gisya, setelah memastikan jawaban Gisya berupa anggukan dan senyuman.

Gisya tak tahu apa yang sedang merasukinya, jelas-jelas Reza bukan Arya, tapi kenapa ia merasa Reza adalah Arya, orang yang saat ini masih memenuhi relung hatinya.

“Gue jatuh cinta Gi,” Puput membuyarkan pikirannya yang sedang terbang meninggalkan raganya.  

“Apaan tuh? Ketela rebus ya? Asik asik,” Gisya merebut kantong plastik berisi ketela rebus, seketika membuat matanya berbinar membayangkan kelezatannya.

“Kalo soal ketela aja lo cepet, dasar Kancil lo,” ledekan Puput berhasil membuat Gisya manyun dan menimbulkan gelak tawa keduanya.

                Gisya memandangi atap kamarnya malam ini, Arya, Reza, Puput, semuanya berputar-putar membuatnya bingung. Gue cinta Arya, tapi sekarang Arya udah di surga, terus sekarang muncul Reza, dia mirip banget sama Arya, baik sih, ganteng sih tapi dia bukan Arya. Dan Puput, yang udah resmi jadi sahabat gue hari ini gara-gara ketela rebus, dia lagi jatuh cinta ama Reza.. aiih, bingung. Sebenarnya apa ini semua.

Puput berlari ke arah Gisya, wajahnya tampak sumringah tapi tidak buat Gisya, karena ia sadar kalau Puput tidak membawa bungkusan, artinya tidak ada lagi ketela rebus yang menemani kegiatan baca novelnya.

“Gisyaaaaa....!!!” Teriak Puput, ia menunjukan secarik kertas bertuliskan digit-digit angka.

“Ketela rebusnya mana Put?” Gisya menggoda Puput dan seketika wajah sumringahnya berubah muram durja.

“Ketela rebus doang yang lo pikirin,” jawab Puput sembari memanyunkan bibirnya.

“Bercanda Cungkring,” Gisya mentap wajah sahabatnya itu, “Kenapa wajah lo seneng banget tadi kayak abis kejatuhan rezeki nomplok gitu?”

 “Gue emang lagi kejatuhan rezeki nomplok banget, Gue dapet nomornya Reza”, bisiknya tiba-tiba sambil tersenyum lebar. Puas.

“WOW, wah hebat banget lo Put,” Gisya overacting tapi disambut kemanyunan bibir Puput lagi, tawa pun seketika pecah diantara mereka.

                Pagi ini, Gisya dikejutkan oleh sebuah kabar. Reza dan Puput jadian. Puput tidak mengatakan apapun padanya. Gisya merasa ini semua terlalu cepat, ia menanyakan langsung pada Puput, barangkali ini cuma gosip murahan di sekolah, tuturnya dalam hati.

“Puput!!! Lo jadian sama Reza??” tanya Gisya senatural mungkin.

“Hehehehe... Iya”, jawab Puput mengangguk menyunggingkan senyumnya.

“Lo gak ngerasa ini semua cepat banget, Put? Lo ketemu Reza baru sebulan yang lalu, gue takut Reza cuma mau nyakitin lo aja.”

Senyum Puput tiba-tiba hilang, raut wajahnya berubah serius. “Gak kok, Gue yakin Reza orang yang baik, lo gak usah khawatirin gue kayak anak kecil gitu Gi, gue bisa jaga diri.”

Gisya terpatung di tempat ia berdiri, melihat Puput yang berjalan meninggalkan dirinya.

                Jalan-jalan santai di malam hari bisa sedikit mengurangi stres Gisya. Kepalanya sudah mulai penat karena rutinitas sekolah yang padat. Sambil menggegam es krim, ia berjalan menyusuri trotoar. Mata Gisya tertuju pada pemandangan yang tidak biasa lima meter di depannya. Reza? Hati kecilnya bertanya. Belum sempat Gisya mendekati Reza, sebuah mobil terhenti, seorang gadis seumuran turun dan memeluk Reza masuk ke dalam mobilnya.

                Esok paginya, Gisya masih menebak-nebak memikirkan apa yang sebenarnya terjadi malam kemarin. Banyak pertanyaan muncul dibenaknya. Itu beneran Reza bukan ya, kenapa Reza malam-malam ada di kompleks dekat rumahnya, lalu siapa lagi gadis yang bersamanya ke dalam mobil.

“Ahhh...” Gisya berteriak mengacak-acak rambutnya.

                Beberapa hari berselang, Reza dan Puput makin dekat saja. Sebagai sahabat Gisya bahagia melihat Puput bahagia namun ia juga takut Puput sakit hati. Apalagi Gisya belum bisa menceritakan kejadian malam itu. Bagaimana mau menceritakan, sekarang mendekati Puput sama sulitnya dengan menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Hubungan mereka memang menjauh sejak Puput jadian sebulan yang lalu.

“Gi...”, Puput menghampiri Gisya yang sedang makan ketela rebus di taman sekolah .

“Iyaa?? Kenapa lo?” Kaget karena Puput menghampirinya dengan linangan air mata.

“Gue putus. Gue gak tahu apa alasannya Gi, dan lo bener, dia cuma mainin gue.”

Mendengar kata-kata Puput barusan, Gisya menarik nafas panjang, mengumpulkan semua kekuatannya dan beranjak dari tempat duduknya. Jadi sekarang dia tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tentang apa yang terjadi malam itu.

“Reza.” Panggil Gisya untuk memisahkan Reza dari kerumunannya.

Reza mendekat dan menyunggingkan senyum yang sama setiap kali melihat Gisya. Senyum dan mata Reza yang berbinar-binar melihatnya, sama seperti saat Arya melihatnya, membuat hati Gisya goyah, namun kata-kata Puput seketika menjadi tamparan kuat mendarat di pipinya.

“Bisa-bisanya lo putusin Puput tanpa alasan.”

Muka Reza tiba-tiba berubah drastis. Senyumnya hilang dan mendadak serius.

“Puput sahabat gue, dan gue sama sekali gak rela lo putusin dia kayak gitu. Oh.... Gue tahu alesannya, lo putusin Puput biar gak ketahuan selingkuh kan? Dan lo gak mau image lo sebagai cowok keren ancur karena diputusin cewek. Iya kan?”

“Selingkuh?” Reza kelihatan memendam amarahnya, berusaha tenang.

“Gue liat lo malem-malem ama cewek pelukan masuk ke mobil.”

“Gi, itu gak bener. Gue punya alesan jelas kenapa gue putusin Puput, tapi gue gak bisa bilang sekarang.”

(Plak) Setengah sadar tangan Gisya menampar pipi Reza dan beranjak pergi meninggalkan Reza yang masih mematung karena kaget.

Selama pelajaran berlangsung, Gisya tak bisa sekalipun berkonsentrasi. Pikirannya hanya melayang memikirkan tamparan di pipi Reza. Entah setan apa yang merasuki pikiran Gisya sehingga bisa menampar orang lain. Dan sekarang dia merasa bersalah.

                Sepulang sekolah Gisya berencana untuk meminta maaf. Namun setelah dicari kemana-mana, Gisya tak juga menemukan Reza. Motornya sudah tak ada di tempat parkir. Jadi Gisya memutuskan untuk menundanya besok.

Esok hari ini pun tak Gisya tak bisa menemukan Reza di sekolah. Apa yang terjadi. Rasa bersalah itu pun makin menjalar ke seluruh pikirannya. Gisya mulai tak mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Hari berganti hari, minggu berganti minggu tak terasa sebulan penuh, Reza tak pernah lagi masuk kelas, dia hilang bagai tertelan bumi.

                Gisya memberanikan diri bertanya pada guru kelas mengenai alamat Reza. Kemudian dia mencari-cari alamat yang diberikan, tampak sebuah rumah yang asri penuh dengan bunga dan pohon.

“Permisi”, ucap Gisya sembari mengetuk pintu.

Seorang wanita menjawab dari dalam rumah, “Iya, sebentar”.

Tercengangnya Gisya saat melihat wanita paruh baya itu membukakan pintu. Gisya kenal persis siapa dia. Dia adalah ibu yang melahirkan Arya. Kembali mengingatkannya kepada kejadian setahun silam, kecelakaan itu. Gisya baru ingat kalau seminggu sebelum kejadian, Arya pernah bilang kalau keluarganya sedang membangun rumah baru di Bandung.

“Ibu?”

“Gisya”, ibu juga kaget. Lalu melanjutkan kata-katanya,” Apa yang membawamu kesini,  nak?”

Gisya yang masih terkaget-kaget membuka kembali secarik kertas bertuliskan alamat. Menunjukannya pada ibu itu.

“Saya mencari alamat seseorang, bu.”

“Iya benar, ini alamat rumah ini. Tapi kamu mencari siapa? Pastinya bukan ibu kan?”

“Reza bu. Dia teman sekelas saya disin, Bu. Apa benar dia tinggal di rumah ini?.”

Ibu menatap mata Gisya dalam-dalam, lalu melanjutkan, “Mari masuk dulu”.

Aku melihat seisi ruang tamu yang penuh dengan foto-foto Arya, namun ada sebuah foto yang menarik perhatianku. Foto dua anak laki-laki, keduanya terlihat tampan, yang membedakan hanya salah satunya berambut gundul, mereka duduk dan tertawa riang.

“Itu Arya bersama Reza,” ibu datang dan menjelaskan mengenai foto itu. “Sebenarnya Reza adalah keponakan ibu, ibu kandungnya tak mampu merawatnya karena dia sakit sejak kecil, dan semenjak Arya pergi, ibulah yang merawatnya.”

Gisya hanya bisa terdiam sembari terus mendengarkan cerita ibu.

“Gisya, ibu ingin jujur padamu. Kamu ingat persis kan, Arya meninggal beberapa menit setelah kecelakaan. Sehari sebelum kecelakaan itu terjadi, Arya bilang ingin sekali Reza sembuh dari penyakit jantungnya. Arya tahu betul bagaimana Reza menjalani hidupnya yang sakit-sakitan dari kecil hingga sekarang. Dari lahir dia memang punya kelainan jantung. Oleh karena itu, ibu dan ayah Arya sepakat mengambil keputusan terberat dalam hidup kami untuk mendonorkan jantung Arya pada Reza.”

Gisya hanya terdiam dan air matanya turun perlahan membasahi pipinya. Jantung Arya masih berdetak, jantung Arya masih berdetak, itu jantung Arya. Dia masih bertetak. Jantung Arya masih berdetak. Ya Tuhan jantung Arya masih berdetak.  Gisya menangis sejadi-jadinya. Ibu yang melihat itu langsung memeluknya seakan tahu perasaan Gisya.

Setelah tenang, Gisya mulai sadar akan kedatanganya, “Ibu, lalu Reza ada dimana?”

“Dia sekarang di Rumah Sakit. Tepat sebulan yang lalu jantungnya kembali bermasalah jadi kami bawa ke Rumah sakit. Dan sampai sekarang dia masih belum diizinkan pulang.”

Gisya menemukan sosok yang dia cari selama sebulan itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Gisya hanya bisa melihatnya dari ruang perawatan, Reza sedang terlelap dan Gisya tak ingin mengganggunya. Tak tertahan air matanya kembali turun membasahi pipi. Aku rindu Arya, mengetahui jantungnya berdetak di tubuh Reza, membuat Gisya merasa Arya ada kembali menemaninya.

                Hari ini, Gisya bergegas ke rumah sakit, dan dia tidak sendiri. Dia bersama dengan Ibu. Kami sengaja berangkat bersama agar Reza tidak kaget. Reza melihat Gisya, raut wajahnya sangat berbeda dengan saat berada di sekolah. Lemah dan pucat.

“Hai Gi.” Sapanya.

Gisya menganggukan kepala dan tersenyum ke arahnya.

“Kamu tak seceria dulu. Gak ada loh cewek yang bisa nampar aku selain kamu, seharusnya kamu puas dan bahagia.” Canda Reza yang membuat Gisya menyunggingkan senyum manisnya, ia tak menyangka Reza masih mempunyai selera humor dengan kondisinya yang lemah seperti ini.

“Reza...”

Reza memotong perkataan Gisya dan mulai berbicara, “Arya sering cerita tentang kamu, katanya kamu gadis yang ceria, baik, pengertian dan cantik. Arya selalu memuji kamu di depanku. Kadang-kadang aku merasa iri kalau dia sedang bercerita tentangmu. Dan semuanya terbukti saat aku pertama melihatmu. Arya memang benar.”

“Reza...” Baru Satu kata keluar dari mulut Gisya, Reza kembali memotongnya.

“Hm.. Mengenai Puput, aku tak mau dia sedih karena tahu bahwa aku sakit. Aku menyayanginya, aku juga gak mau dia sakit melihatku sakit. Makanya aku putuskan dia. Hmm.. Jadi kamu jangan marah ya, mungkin jantung Arya gak mau kali ya aku bikin kamu marah, makanya aku langsung masuk rumah sakit lagi. Hehehe.”

Gisya tersenyum mengangguk dan memegang tangan Reza. “Reza, aku gak marah kok. Aku tahu aku juga salah, aku minta maaf. Aku terlalu berlebihan. Dan percaya atau nggak, itu pertama kalinya aku nampar seseorang.”

Gisya kembali menambahkan, “Reza, aku boleh minta satu hal dari kamu?”

Reza mengangguk.

“Reza... Tolong jaga jantung Arya ya. Jaga baik-baik.” Ucap Gisya sambil menggenggam tangan Reza. Air matanya tak kuasa tertahan.

                Sejak saat itu, Gisya jadi sering mengunjungi Reza di rumah sakit. Terkadang dia juga datang bersama Puput. Gisya menceritakan seluruhnya pada Puput, dan Puput langsung meminta menemui Reza saat tahu kondisinya. Kini hubugan mereka semakin membaik. Puput tak goyah dan selalu ada disamping Reza, menemaninya di masa sulitnya. Kini keadaan Reza sudah mulai membaik, mungkin dua atau tiga hari lagi sudah bisa pulang dari rumah sakit.

                Reza menghampiri Gisya dengan motornya di depan gerbang sekolah. Hari ini kami berjanji unuk berziarah bersama ke makam Arya.

“Puput bagaimana? Dengan siapa dia pulang?” Tanya Gisya.

“Dia dijemput kakaknya. Aku juga udah bilang tentang rencana kita hari ini. Aku udah dapat izin dari dia untuk ngeboncengin cewek lain kok. Hahaha. Ayo, jalan.”

 Gisya mengangguk.

                Sepertinya semua berjalan dengan lancar. Gisya semakin menyadari bahwa banyak orang menyayanginya yang menjadi semangatnya untuk kembali hidup sebagai Gisya yang baru. Reza pun begitu, dia menemukan kehidupan barunya, dia menjadi saudara laki-laki yang selalu ada untuk Gisya, dan pacar yang baik untuk Puput tentunya.

“Alangkah baiknya jika kamu mulai cari pacar baru, Gi.” Reza mengawali percakapan.

Gisya terdiam, tak menanggapi. “Tunggu... kamu belum cerita tentang cewek yang malam-malam peluk-peluk kamu itu Za?”

“Itu bukan dipeluuuuk... Itu namanya dipapah. Dia Amel, adik sepupuku, saat itu jantungku mendadak sakit dan harus dibawa ke dokter. Ibu lagi keluar, dan cuma ada Amel yang sedang main ke rumah.”

Gisya mengangguk memahami situasinya. “Oke.. aku gak akan bilang-bilang deh ke Puput.”

Reza tersenyum menyetujui. Tak terasa sampailah mereka ke makam Arya. Kedua terduduk di samping nisan Arya.

“Hai brooo.. gimana kabar lo? Gue kesini sama Gisya lo ni...” Arya memecah keheningan.

“Arya.. Ini Gisya. Kamu pasti sudah tenang dan bahagia kan di surga. Aku kesini mau berterima kasih buat semuanya. Termasuk yang udah kamu buat ke Reza. Aku bangga banget sama kamu sayang.”

Reza melanjutkan, “Makasih ya bro, karena lo, sekarang gue bisa hidup dengan baik, gue punya pacar yang super manis, dan gue punya saudara baru yang super tegar kayak Gisya. Gue janji bakal selalu ada buat dia, gue bakal gantiin tempat lo buat dia. Lo tenang aja.”

Setelah sejam mereka berada di makam, Gisya dan Reza bersiap pulang. Reza menghentikan langkah Gisya yang berjalan di depannya.

“Gi.. Aku gak bercanda lho waktu aku minta kamu cari pacar baru.” Reza menatap dalam mata Gisya. Lalu melanjutkan, “Kamu berhak bahagia, aku rasa Arya juga berkeinginan sama kayak aku sekarang. Jadi tolong jangan lagi tutup diri kamu.”

“Akan kupikirkan,” jawab Gisya sembari mengangguk malu.

Keduanya berjalan keluar makam dengan hati tenang, meninggalkan segala rasa bersalah dan kehilangan karena kepergian Arya. Raganya memang telah pergi namun kenangan bersamanya tak akan pernah terhapus dari ingatan Gisya ataupun Reza.

 

 

Written by Dhian Rizky
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar