GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: SELAMAT ULANG TAHUN, ARINI!

July 08, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-SELAMAT-ULANG-TAHUN-ARINI

 

Celengan berbentuk babi yang terbuat dari tanah liat itu pecah berserakan. Arini menatapnya sejenak sebelum mengumpulkan lembar demi lembar uang yang sudah setahun ia tabung. Di antara lembaran itu, terdapat kertas putih yang digulung. Arin memasukannya ke dalam saku celana, lalu kembali merapikan uangnya. Ia mengerjakannya dengan cepat, lantas memasukkan pecahan keramik itu ke dalam plastik yang sudah disiapkan, lalu membuangnya keluar.

 

Langit terlihat cerah sekali dan sinar mataharinya begitu menyengat. Arini mengunci pintu lalu mendatangi tetangga sebelahnya untuk mengembalikan motor.

“Loh, Rin. Kok dibalikin motornya? Bapak jadi operasi, kan?” Tanya Bu Iyam, si pemilik motor.

“Jadi, Bu. Tapi Arini mau naik angkot aja ke sananya, biar lebih santai. Lagian takut motornya mau dipake sama Doni.”

“Doni ga masalahin, kok. Dia kan bisa nebeng abangnya. Tapi kalau kamu mau naik angkot, ya sudah ga apa-apa, lagian hari ini panas banget. Ibu selepas shalat mau ke rumah sakit juga. Temani  kamu nungguin Bapak operasi.”

“Iya, Bu. Makasih ya. Arin pamit pergi duluan.”

Seminggu yang lalu, Bapak Arini mengeluh nyeri di bagian perut. Arini sudah menawarkan untuk pergi ke puskesmas namun ditolak, karena seumur-umur Bapaknya bisa menanggulangi sakit hanya dengan beristirahat. Namun keesokan harinya, Sang Bapak tiba-tiba sesak napas. Dalam keadaan panik, Arini pergi ke rumah Bu Iyam untuk meminjam motor, mengantar Bapak ke puskesmas. Dokter di sana segera memberikan oksigen dan menyatakan bahwa Bapaknya mengalami usus buntu. Ia harus segera dibawa ke rumah sakit untuk operasi.

Mendengar biaya operasi yang tidak murah, Arini merasa lemas serta khawatir. Hidup berdua dengan Bapak tanpa seorang Ibu, membuat Arini tidak memiliki orang untuk berbagi duka. Ia harus memeras otak dan tenaganya sendirian sejak Ibunya meninggal karena gagal ginjal. Tapi karena Arini merupakan anak yang cerdas, baik dan giat, banyak orang yang menyayangi dan mau membantunya. Ia mendapat pinjaman dari Mbak Yuli, pemilik rumah makan tempat Arini bekerja paruh waktu. Teman-teman di sekolahnya pun ikut menggalang dana untuk menambah biaya operasi Bapaknya. Belum lagi Bu Iyam dan Pak Ridwan, wali kelas yang memberikan sejumlah uang secara cuma-cuma dalam jumlah yang cukup banyak.

Turun dari angkot, Arini segera berlari kecil menuju kamar Bapaknya yang akan dioperasi siang nanti. Di sana, Sang Bapak sedang terbaring lemas karena diharuskan berpuasa selama delapan jam. Melihat Arini, senyum mengembang di wajahnya meski sakit di perutnya masih melilit.

“Bapak harus kuat, ya. Arin akan temenin Bapak sampai selesai operasi.” Ujar Arini sambil memegang lengan orang tua itu.

“Gimana buat bayar biaya operasinya, Rin?”

“Bapak ga usah pikirin. Banyak yang sayang sama kita, terutama Tuhan. Pokoknya Arin akan lakukan apapun supaya Bapak cepat sembuh.”

Mendengar itu,  Bapaknya  hanya mengangguk, terharu sekaligus sedih. Ia bangga memiliki anak seperti Arini, namun ia kecewa pada diri sendiri karena belum bisa membahagiakan anak semata wayangnya.

***

Jam dua siang, Bapak Arini sudah dibawa ke ruang operasi. Seluruh biaya sudah dibayar lunas dan masih tersisa uang di dompet untuk biaya pemulihannya. Arini menunggu di depan ruang operasi bersama Bu Iyam.

“Rin, kamu makan dulu sana. Operasinya kan lama. Nanti kamu malah ikutan sakit.”

“Arin belum laper, bu.”

“Atau Ibu aja yang belikan roti ke kantin depan, ya? Sekalian mau beli pulsa buat nelpon orang rumah.”

“Baik, Bu.”

Setelah Bu Iyam pergi, Arini merogoh saku untuk mengambil gulungan kertas dari celengan tadi. Catatan di kertas itu, Arini buat di hari ulang tahunnya, tahun lalu. Ia membacanya ulang sambil tersenyum sedih.

Selamat ulang tahun, Arini!

Apa tahun ini kamu mendapat kue ulang tahun pertamamu? Kalaupun tidak, kamu jangan sedih. Karena uang yang ada di celengan itu bisa kamu gunakan untuk membeli kue ulang tahunmu dan benda yang sangat kamu inginkan. Kamu sudah berjanji pada diri sendiri kan, kalo kamu adalah gadis yang kuat dan bisa membahagiakan diri sendiri. Apa ada yang lebih hebat dari itu?

Selepas membaca kertas tersebut, Arini mengusap air mata yang jatuh. Mungkin memang kekanakan, menginginkan kue ulang tahun di usia yang ke-16. Tapi entah mengapa, Arini begitu merindukan kasih sayang dan perhatian dari seseorang. Menurut Arini, kue ulang tahun merupakan lambang dari kasih sayang. Orang yang mendapatkan kue ulang tahun, pastilah sangat disayangi dan dipedulikan. Entah itu oleh teman, keluarga atau pacar.

Arini sendiri mempunyai teman yang lumayan dekat. Tapi kadang mereka hanya ingat ulang tahunnya dan mengucapkan selamat tanpa memberikan kue. Sedangkan Bapak, kadang ingat kadang tidak, toh buat makan saja dia selalu lupa. Pacar, boro-boro punya. Kata Bapak, fokus dulu belajar daripada pacaran. Jadi selama ini, Arini tidak pernah sekalipun mendapat kue di hari ulang tahunnya.

Dan tahun ini, tepat di hari ulang tahunnya ke-16, bapak harus dioperasi. Uang yang harusnya ia belikan kue ulang tahun dan benda yang diinginkan, terpaksa digunakan untuk biaya rumah sakit. Arini tersenyum miris, memikirkan betapa menyedihkan membeli kue ulang tahun untuk diri sendiri. Bukankah harusnya ia bersyukur, sudah setahun menabung yang akhirnya uang tersebut bisa menyelamatkan nyawa Bapak. Karena untuk saat ini, kesembuhan Bapak adalah kado terbesar bagi Arini.

 

***

                Operasi Bapak akhirnya beres. Arini diantar pulang oleh Doni, anak Bu Iyam, untuk mandi dan ganti baju serta membawa beberapa keperluan Bapak. Tadi Arini sempat tertidur kurang dari satu jam di atas kursi tunggu. Bu Iyam memaksa Arini untuk melanjutkan tidur di rumah, sebab hampir seminggu ini Arini kurang tidur karena mencari uang untuk tambahan biaya operasi. Wajahnya terlihat kuyu dan lelah. Arini pun menurut setelah Doni meyakinkan bahwa ia dan Ibunya akan menjaga Bapak Arini dengan baik.

                Tidur Arini sangat pulas sore itu. Ia terbangun oleh suara adzan Maghrib disertai beberapa suara SMS dari temannya yang mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi kue ulang tahun dalam bentuk emoji. Arini tersenyum, lantas segera mandi untuk kembali ke rumah sakit.

                Di perjalanan, Arini menghampiri sebuah toko untuk membeli gunting kuku dan sebuah celengan. Arini akan melakukan ritual membuat surat untuk dirinya sendiri di tahun depan dan menabung uang lagi. Kalaupun Tuhan tidak mengijinkan Arini mendapatkan kue tahun depan, setidaknya uang tersebut akan berguna untuk hal lain.

 

 *Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*

 

 

Written by Hanne Bevi
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar