GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: SEJUMPUT ASA DI KOSAMBI

October 21, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-SEJUMPUT-ASA-DI-KOSAMBI

 

Senyum bersarang di antara pipinya. Hatinya bergelora pada pria yang bahkan tak ia kenali parasnya. Perasaan itu hadir tanpa permisi, merasuki seluruh ruang kosong di hatinya dan bersemayam di sana. Entahlah, rasa seperti ini barangkali Ratna menyebutnya dengan; jatuh cinta.

 

Awal Oktober di Kosambi, seharusnya cuaca mulai memasuki musim penghujan. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Sang surya untuk memanggang seantero kota.

Di bawah terik matahari, Ratna berjalan menyusuri gang sempit di samping pabrik. Tak dihiraukannya, peluh yang menetes dari kelenjar keringat. Beberapa pekerja juga terlihat berlalu lalang di gang itu. Wajah cokelatnya tersenyum manis saat bersua dengan pekerja yang dikenalnya.

Sepasang mata hazel Ratna, menatap tajam dengan alis tebal menghias di atasnya, serta bentuk wajah serupa apel membingkai manis seluruh indra di kepala. Wajah itu, nampak melebihi usianya yang masih terbilang remaja. Bagaimana tidak, ia sudah harus memikul beban di pundak, berperan sebagai tulang punggung keluarga demi menyambung hidup kedua Adik, juga Ayah yang pesakitan.

Ratna menghentikan langkah, tatapannya jatuh ke tali sandal yang mendadak putus. Ia membungkuk, sebisa mungkin membetulkannya. Setelah merasa berhasil, Ratna kembali berjalan dengan hati-hati. Ia tahu, segala sesuatu yang telah rusak tak akan kembali seperti semula. Inginnya memakai sepatu baru untuk menemani setiap perjalanannya, namun apa daya, keinginan itu harus ia buang jauh-jauh.

Jangankan hendak memenuhi kebutuhan sekunder, kebutuhan primer macam pangan dan sandang pun, ia harus bekerja ekstra keras. Tak pedulilah, jika sebagian besar gadis sebayanya menikmati masa remaja di bangku sekolah.

Tidak pernah hatinya terbetik sekali pun untuk berucap kurang ajar, manakala takdir dan nasib baik yang tidak berada di pihaknya. Hidup ini terlalu singkat jika dihabiskan untuk memikirkan nasib. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, seperti berusaha menggapai impian yang telah digantung setinggi langit. Meski saat ini ia tersadar, bahwa impian itu tidak akan pernah ia raih.

Tuhan Maha Baik, Ratna selalu berasumsi seperti itu. Karena Tuhan telah menganugerahinya rasa cinta sebagai pelipur lara. Di tengah kondisi ekonomi yang menghimpit dan derita yang tak berujung. Rasa cinta adalah obat dari segalanya.

Aroma sulfur dan bubuk besi menusuk indra penciuman Ratna, kala ia memasuki gudang pembuatan kembang api tempatnya bekerja. Upah lima puluh ribu rupiah perhari, untuk mengemas bungkus kembang api yang siap edar, dirasa sudah cukup baginya.

Ratna duduk di sebelah dinding pemisah antara pekerja pria dan wanita, membuatnya dapat mendengar banyak suara dari balik dinding. Termasuk suara seseorang. Terkadang, suara itu tengah mendendangkan lagu yang mampu membuat Ratna tersenyum sendiri. Suara itu pula kerap terdengar bersiul dan beberapa kali tertawa, sembari berkelakar dengan temannya.

Ratna tidak pernah tahu, daya magnet apa yang melingkupi suara orang itu, sehingga mampu menarik hatinya. Ratna yang lupa bagaimana caranya tersenyum sejak kepergian Ibunya, kini kembali merasakan indahnya.

"Gimana caranya supaya telur berubah jadi nanas?" ucap pemuda itu di balik dinding.

"Telur digambar jadi nanas!" sahut pria lain.

"Salah!"

"Telur yang dituker sama nanas," jawab seseorang dengan suara agak serak.

"Telur Bapakmu!" Kemudian disusul dengan suara riuh tawa membahana.

"Huh, dasar Bapak- bapak! Pikirannya ke situ mulu!"

"Dika... Dika ...." ujar salah seorang, diiringi dengan tawa. "Terus jawabannya apa?"

"Jawabannya, rebus telornya. Pas sudah mateng, kasih ke anak kecil. Pasti mereka teriak, nanas... nanas...." jelas seseorang bernama Dika dengan suara khasnya.

Hanya membayangkan ekspresi pemuda bernama Dika. Sudah mampu memaksa seluruh otot di pipi Ratna tertarik, sehingga menciptakan lengkungan di wajah manisnya. Sembari kedua tangannya menerima beberapa batang kembang api, kemudian membungkusnya dengan cekatan.

Sesekali Ratna menoleh ke samping. Dinding yang tak sampai menyentuh langit-langit itu, menampakkan beberapa helai rambut pekat seseorang. Ratna yakin, orang itulah pemilik suara yang kini mengisi hatinya.

Ia membayangkan postur tubuh si pemilik suara pastilah tidak gemuk. Suaranya yang terdengar besemangat, menunjukkan usianya yang masih muda. Pemuda itu sepertinya humoris dan romantis, karena lagu yang dinyanyikannya selalu tentang cinta, seperti lagu Armada, Payung Teduh dan terkadang Via Vallen.

 

Tanggal 20
Akhirnya Ratna tak bisa mengalihkan suara itu dari pikirannya. Terkadang, seseorang benama Dika itu bernyanyi, seolah tengah menghibur diri Ratna yang tengah bersedih, lantaran  Ayahnya lagi-lagi muntah darah.

Ia tahu, jika mau, ia akan menyahut dan ikut bernyanyi dengan pemuda itu. Tapi tidak, itu tindakan yang terlalu berani. Ratna hanya bisa membayangkan saja, karena hal itu sudah cukup membuatnya bahagia.

 

Tanggal 22
Saat sedang senang, Ratna melempar asal beberapa gumpalan kertas bungkus kembang api yang tak terpakai ke dinding sebelah. Tak memiliki maksud apa pun, ia hanya sekadar iseng. Karena kertas-kertas itu akan dianggap angin lalu, kemudian terinjak dan dilupakan.

Namun Tuhan Maha Baik, saat kertas kelima Ratna lemparkan. Seseorang mengintip, wajahnya menyembul dari atas dinding.

"Kamu, ya? Yang lempar kertas-kertas itu?"

Ratna tersentak, melihat wajah yang selalu ia bayangkan itu, kini menatapnya. Membuat hatinya berdebar tak menentu. Ia membuka mulutnya, hendak menjawab,  namun tak ada satu huruf pun yang keluar dari pita suaranya, selain udara. Ia merasa telah tertangkap basah atas aksinya, bentuk refleksi dari hati yang diam-diam berharap.

"Kenapa?" tanya pemuda itu penuh selidik, tanpa perlu mendengar jawaban atas pertanyaan pertamanya. Jika dilihat dari bahasa tubuh Ratna, maka ia tahu jawabannya.

"Ya sudah kalo gitu," ucapnya kini lebih ramah. "Kamu orang baru ya?"

Ratna melirik sebentar, kemudian ia balas mengangguk.

"Kenalin, namaku Dika." Pemuda bernama Dika itu menjulurkan tangannya. "Nama kamu?"

"Aku ... aku ...." Ratna merasa otaknya menjadi lumpuh seketika. Bahkan namanya sendiri ia lupa.

"Siapa? Bejo?"

Ratna mau tak mau, tertawa mendengarnya.

"Nah, gitu dong. Kan manis." Dika tertawa melihat polah gadis belia di hadapannya. "Jadi namanya siapa?" tanyanya lagi.

"Aku Ratna." Akhirnya.

"Oh Ratna."

Ratna melirik lagi pemuda itu, kali ini lebih lama. Ternyata bayangannya benar selama ini. Pemuda itu tidak gemuk, kulitnya terang namun tidak terawat, wajahnya masih nampak muda dan selain ramah, ia juga humoris.

Kemudian perkenalan itu diakhiri dengan seruan, "Ciee ... ciee ...." Dari beberapa pekerja di sekitar.

 

Tanggal 23
Ratna memandang diri di cermin, sembari tersenyum-senyum sendiri. Sebelah tangannya membubuhkan bedak tabur yang ia beli di warung. Berulang kali membetulkan letak kerudungnya, namun ia selalu merasa ada yang kurang. Akibatnya, ia terlambat kerja hari ini.

Tangan sibuk membungkus kembang api, namun hati dan pikirannya melayang ke beberapa adegan yang ia ciptakan sendiri. Apabila hari ini, ia bertatap muka dengan pemuda benama Dika.

Anehnya, sampai senja telah merapat, tak juga dijumpai sosok pria itu, bahkan suaranya yang nyaring pun tak ia dengar. Ratna merasa kehilangan.

 

Tanggal 24
Hari ini pun sama, tak didengarnya lagi suara Dika. Ada rasa yang menelisik dalam dada dan rasa itu adalah kecewa.

 

Tanggal 25
Ratna mengepak beberapa tangkai kembang api, seperti biasa. Hari ini, ia tidak lagi berlama-lama mematut diri di kaca. Rasanya percuma, toh orang yang ia rindui tak kunjung tiba. Terlebih, hal itu membuatnya datang terlambat kerja. Jika terus begitu, ia khawatir dipecat, sementara ia harus membiayai sekolah Adik dan pengobatan Ayahnya.

Sekali lagi, Tuhan Maha Baik.

"Oh, Tuhan ... kucinta dia."

Ratna sontak menengadah, lalu menoleh ke samping dinding. Suara itu, nyaris membuat jantungnya melesak dari tempatnya, kemudian dirasakannya dentuman di dada.

"Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia ..."

"Ratna!"

Mendengar namanya dipanggil, Ratna mendongak ke arah sumber suara yang ada di atas dinding. Sebelah tangan terjulur sembari menggenggam sekotak hadiah ukuran sedang.

"Ini untuk kamu. Ambil gih!" Senyuman hangat menghiasi wajah pemuda itu. Hati-hati Ratna mengambil barang yang diangsurkan pemuda itu. " Buka aja!" perintah Dika.

Ratna menurut dan membukanya dengan hati yang sulit untuk digambarkan bagaimana bahagianya ia. Setelah membukannya, didapati sepasang sepatu berjenis flat shoes berwarna biru langit dengan hiasan pita di atasnya. Cantik, pikir Ratna.

Hatinya terenyuh, ia merasa dirinya istimewa di mata pemuda itu. Ini merupakan peristiwa paling romantis yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya. Tuhan Maha Baik, batinnya.

"Semoga pas, ya? Dan jangan lupa besok dipakai, ya?"

Ratna tidak tahu harus berkata apa, rasanya semua kalimatnya hilang begitu saja, digantikan dengan senyum merona bahagia.

 

Tanggal 26
Dika melirik arloji, waktu menunjuk pukul sepuluh, kala ia terpaksa menghabiskan beberapa menit di bengkel untuk menambal ban motornya yang bocor. Terlalu lama menunggu, memaksanya untuk merelakan diri terlambat masuk kerja hari ini.

Sepanjang perjalanan, bayangan tentang senyum Ratna yang mengembang, terlintas di benak. Membuatnya tersenyum sendiri tanpa sadar. Diam-diam ia sudah memperhatikan Ratna, sejak gadis itu datang dan menyanyi adalah caranya untuk mendapat perhatian. Pikiran Dika larut membayangkan Ratna hari ini mengenakan sepatu pemberiannya. Bahkan, ia tak menyadari kehebohan yang terjadi di sepanjang jalan.

Suara sirine dan bunyi klakson saling bersahutan. Dilihatnya, kepulan asap hitam membumbung tinggi di udara. Asap itu ternyata berasal dari pabriknya!

Ratna!

Dika meninggalkan begitu saja motornya, tanpa peduli. Kini yang ada dipikirannya adalah Ratna. Hatinya berkecamuk memikirkan hal terburuk yang akan menimpanya. Ratna di mana? Lautan manusia menghalangi jalannya, juga beberapa petugas pemadam yang sibuk menyemprotkan air ke gudang.

Ia berusaha menerobos masuk, tetapi para petugas mencegahnya. Nekat, Dika berlari ke tempat di mana Ratna bekerja, tanpa menunggu proses evakuasi yang memakan waktu.

"Ratna! Ratna!" teriaknya. Aroma daging terpanggang, memaksa masuk ke lubang hidungnya.

Hatinya diliputi rasa takut, saat menemukan beberapa mayat terpanggang di sana. Dika meniti satu persatu pada mayat yang tak dapat dikenali lagi rupanya. Sempurna melegam.

Dalam hati, ia berharap tidak menemukan seseorang dengan bentuk tubuh menyerupai Ratna. Namun tidak, kala matanya terpaku, pada sebelah sepatu yang ia kenali. Sepatu yang ia beli untuk gadis itu dan memintanya untuk digunakan hari ini.

Mata Dika berair. Sesak dan perih, becampur jadi satu menyayat dadanya. Kenapa gadis baik sepertinya harus mengalami ini? Kenapa?

Lagi-lagi Tuhan Maha Baik. Di saat semua harapannya telah pupus, keajaiban itu seolah datang menghampiri.

"Mas Dika, Mas Dika!"

Dika mendengar suara orang memanggil namanya, tetapi ia tak peduli. Air tumpah dari sudut matanya.

"Mas Dika, ini aku Ratna!"

Dika menoleh, mendengar nama itu. Maka ia menatap lekat-lekat wajah itu. Bagaimana bisa? Sementara di sebelahnya ada sosok terpanggang menyerupai Ratna. Ini pasti halusinya saja.

"Aku Ratna, Mas. Kemarin, saat pulang kerja, aku baru sadar, sepatu pemberianmu hilang dan hari ini memilih tidak masuk kerja karena takut kau kecewa kalau aku tidak mengenakannya," jelas Ratna dan hal itu menyadarkan Dika, bahwa ia tidak sedang berhalusinasi akan sosok Ratna.

Maka keduanya mengucap syukur tiada henti dengan air mata yang kembali tumpah. Dika berjanji untuk segera menyunting Ratna, sebagai bentuk syukurnya karena Tuhan telah berbaik hati.

Tuhan Maha Baik.

 

 

Written by Fauziah Rizka Amalia
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

1 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar

    naura amalia
    Cara mengirim cerita untuk gogirl weekend web story ke gogirl bagaimana kak?

    October 25, 2018 7:33 pm