GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: SEBUAH LELUCON

September 30, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-SEBUAH-LELUCON

 

Good night, Nin”
"Good night, Ko. Bye"         

 

Aku menjauhkan ponsel dari telingaku dan membiarkannya tergeletak di atas bantal. Untuk malam ini kurasa percakapanku dengan Niko sudah cukup.

Angin berhembus cukup kencang, dinginnya masuk ke kamarku melalui celah di antara jendela yang lupa ku tutup rapat. Aku menghampiri jendela itu dan berdiri di mukanya, dari sini aku dapat melihat langit malam dengan jelas; sang purnama yang menggantung anggun dan tebaran bintang yang mendominasi. Terlihat tenang dan damai.

Untuk beberapa menit aku berdiam diri tanpa mengubah posisi, merasakan angin yang masuk dan bersinggungan dengan tubuhku, sebelum akhirnya benar-benar menutup jendela dan kembali ke tempat tidur.

Malam sudah terlampau larut untuk tetap membiarkan mata ini terbuka, juga untuk memikirkan perasaan yang entah layak atau tidak untuk dirasa.

**

Di salah satu meja kantin sekolah, aku dan Niko duduk berhadapan. Saling beradu gurau. Melempar tawa, berbagi cerita. Tawa Niko terdengar cukup kencang, membuat matanya yang sipit menjadi lebih sipit -satu garis- saat ia tertawa, ada sensasi tersendiri yang aku rasakan saat melihatnya seperti ini. Juga lesung pipit yang terukir di salah satu pipi; yang selalu menjadi pemanis senyumnya, menjadikannya teramat sempurna untuk dimiliki.

Ah, aku mencintainya.

Kadang, saat-saat seperti inilah yang membuatku enggan untuk melalui waktu. Aku akan dengan senang hati mengabaikan apapun demi bisa melihatnya tertawa sedekat ini. Tawanya mampu  membuat batas antara realita dan khayalan menjadi samar.

Pikiranku melayang pada percakapan kami tadi malam. Percakapan biasa, yang selalu ia akhiri dengan kalimat I love you. Sederhana tapi selalu berhasil membuatku bahagia tak terkira. Hanya saja, tadi malam aku merasakan sesuatu yang tak biasanya ku rasakan. Ada sesuatu yang ganjil. Mungkin perasaan bersalah?

Tangannya yang tak sengaja menyentuh tanganku membuat lamunanku buyar. Ia masih bertahan dalam tawanya; menertawakan sesuatu yang entah apa, karena aku terlalu larut dalam lamunan.

"Hei,” Niko mencoba menyadarkanku, “Kamu nggak apa-apa, Nin? kok dari tadi diem?" bola matanya yang berwarna coklat memandangku heran.

"Nggak apa-apa kok, Ko. Umm anu cuma haus aja hehe" jawabku asal, tak sempat mencari jawaban

"Yah bilang dong dari tadi, aku pesenin minum ya,  kaya biasa kan?" ia tersenyum

Aku menjawab pertanyannya dengan satu anggukan. Tak sampai lima menit Niko sudah kembali dengan membawa dua gelas ice milo,

"Nih minum dulu" ia memberiku gelas yang ia pegang dengan tangan kanannya.

Aku meminumnya perlahan. Dingin icenya terasa sama seperti dingin angin semalam yang menyentuh tubuhku. Sejuk.

“Oh iya Nin, sabtu besok kamu free nggak?” Tanya Niko

“Eh? Umm sabtu ya? Kayanya sih free. Emang ada apa?” jawabku sembari menyesap ice miloku

“Kita ke KCP yuk!” ajak Niko antusias. Bagi yang tidak tahu apa itu KCP, KCP merupakan kepanjangan dari Karawang Central Plaza yang mana merupakan sebuah mall di kotaku.

“Mau ngapain? Nonton? Emang ada film rame?” tanyaku,

“Iya nonton, tapi bukan nonton film. Kemarin aku dapat info katanya Stars and Rabbit bakal manggung di situ, terus katanya bakal ada Bara Suara juga. Waktu dengar info itu aku langsung keinget kamu hehe” jelas Niko seraya tersenyum,

“Seriusan ada Stars and Rabbit? Wah iya mau!” ucapku antusias,

“Mau apa nih?” Niko meledekku,

“Mau ke KCP nonton Stars and Rabbit, lah!”

“Hahahaha iya Stars and Rabbit”, tiba-tiba Niko bernyanyi “Hey man, upon the hill up here, I used to write you, you loved the why I watched the sun”

“Through my, finger. We spent sometimes to the day we met...”

“Can I fall into your consellation arm?” aku melanjutkan. Kami berdua tertawa, kemudian Niko mengacak-acak rambutku gemas.

Aku dan Niko memiliki banyak kesamaan, baik itu selera musik, film, bacaan, juga sosok idola. Dalam hal musik, kami sama-sama menyukai musik-musik yang dibawakan oleh band indie lokal. Dalam hal film, kami sama-sama menyukai film-film Thailand. Dalam hal bacaan, kami sama-sama menyukai buku-buku sastra. Dan untuk sosok idola, kami juga mempunyai beberapa nama yang kami jadikan sebagai junjungan. Saat ini kami sama-sama menyukai ilmu sosial padahal kami merupakan murid jurusan IPA. Aku suka cara Niko berpendapat mengenai suatu hal, gagasan-gagasannya selalu menarik dan dapat diterima. Bagiku, Niko merupakan orang paling tepat yang Tuhan kirim untuk menemaniku. Terima kasih, Tuhan.

**

"Hai kalian! Udah lama ya di sini? Tadi kelasku kebagian guru yang agak rese jadi telat deh keluarnya"

Suara itu milik seorang perempuan yang menghampiri meja kami berdua, dia adalah Tasya; sahabatku.

"Baru sebentar kok Sya" aku tersenyum kepadanya yang juga tersenyum padaku,

Tasya duduk. Aku memasang earphone.

"Kamu mau pesen apa sayang? Biar aku pesenin" Niko menawarkan diri, sambil tersenyum--dengan senyum yang sama; yang ia beri padaku sebelumnya,

Sejurus kemudian, dingin ice yang tadinya terasa sejuk berubah menjadi mematikan. Tenggorokanku rasanya tercekik oleh kenyataan yang begitu pelik. Aku yang sedang melayang-layang di atas awan, dijatuhkan begitu saja dengan sekali hentakan. Aku remuk, seremuk-remuknya.

Kita tak semestinya berpijak,

 di antara ragu yang tak berbatas 

Seperti berdiri di tengah kehampaan,

mencoba untuk membuat pertemuan, cinta

Ah sial, lagu yang ku dengarkan melalui earphone membuatku semakin kikuk dan tak tahu harus bersikap seperti apa. Dadaku rasanya sesak tak terkira. Otak dan hati mulai bergumul tanpa henti. Dengan segala kewarasan yang tersisa, aku mencoba bertahan dalam posisiku; duduk tegap meski udara terasa kian pengap, menghalau segala rasa yang membuatku hampir gila.

Sekarang di hadapanku duduk dua anak manusia; yang satu sahabatku, yang satunya lagi entah harus ku sebut apa. Dari mata keduanya aku dapat melihat cinta. Dan jelas, mereka berdua bahagia.

Kami bertiga tertawa bersama. Tasya dan Niko mentertawakan lelucon yang Niko lontarkan. Tapi aku, mentertawakan hidupku sendiri.

            Apakah rasa ini salah?

 

 

 

Written by Shafira Anindyanari
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar