GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: KADO DARI YANG BERULANG TAHUN

August 26, 2018

 GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-KADO-DARI-YANG-BERULANG-TAHUN

 

Hari ini matahari sedang tak bersahabat. Ia bersinar dengan terangnya tanpa berfikir di sini aku sedang kepanasan, cuaca semakin lama semakin panas, ditambah lagi suasana kelasku yang sedang memanas, karena teman sekelasku baru sasja berkelahi dengan salah satu siswa dari kelas 12 Bahasa 1. Tak kuat dengan mereka, aku keluar kelas dan berjalan menuju gazebo.

             

   Kutancapkan earphone-ku tepat dilubang telingaku, kupasang lagu kesanyanganku. Afganpun bernyanyi dengan merdunya di sisiku. Kupejamkan mataku, kukibaskan rambut panjangku yang tergerai ke belakang bahuku, kurasakan hembusan angin semilir menerpa wajahku, fresh. Permen rasa mint mendarat di lidahku, kurasakan kesegaran rasanya meluap membanjiri seluruh rongga mulutku.

                Saat kubuka mataku, kulihat sosok gadis yang berkerudung duduk dibangku taman yang letakknya di depan gazebo tempatku, ia duduk membelakangiku. Hanya terlihat punggung yang tertutupi seragam kotak-kotak biru, ya, seragam almamater dan kerudung berwarna senada. Kupandang ia lamat-lamat. Tubuhnya tak terlalu besar namun juga tak terlalu kecil, mungkin tingginya pun masih di bawahku.

Tiba-tiba pandanganku dikacaukan oleh kedatangan sesosok perempuan, Bu Rani rupanya. Gadis berkerudung itu sontak berdiri dan menjabat tangan Bu Rani lalu mencium punggung tangan salah satu guru yang mendapat predikat “Guru Penyabar” di SMA ini. Nampak dari kejauhan pada seragamnya tertera bet berwarna merah, yang menandakan kelas 12. Ya kelas 12 sama sepertiku. Lalu, tak lama kemudian kulihat ia pergi dari taman dan perlahan punggungnya mulai hilang diiringi langkah anggunnya.

“Riiishhhhhh. Wooyyy” teriakan dari Aisyah sontak membuatku melonjok dari posisi ternyamanku dan secara otomatis kucabut earphone yang menancap pada kedua telingaku.

“Ngapain kamu di sini?” kutanya Aisyah.

“Kamu tuh yang ngapain di sini, sendirian, ngelamun lagi, awas kesambet ya. Itu pohon ada penunggunya lho,” tangan Aisyah menunjuk pada sebuah pohon beringin yang letaknya di pojok taman ini.

“Emm, lagi cari angin aja. Panas di kelas,” sahutku.

“Cari angin apa cari Angga?” Aisyah berkata meledek sambil menyenggol bahuku.

Angga Dio Alfajri, dia adalah mantan pacar pertamaku. Dia juga bersekolah di tempat ini. Entah apa yang membuatku mau menjadi pacarnya dulu. Dia tidak pintar, juga tidak bodoh. Dia tidak tinggi, juga tidak pendek. Dia tidak tampan, tapi juga tidak jelek. Aku benci mengakui kalau dia memang manis, dan saat ini aku masih menyukainya.

***

Aku benci hari Rabu, banyak hal yang membuatku tidak menyukainya. Salah satunya adalah mata pelajaran yang harus aku hadapi di hari Rabu. Aku hanya menyukai pelajaran yang tidak terlalu memeras otak, Bahasa Indonesia, Agama, Seni, dan tentu saja Olahraga. Di hari Rabu aku harus bertemu dengan Fisika, Kimia, dan Matematika. Astaga! Itu sangat membuatku malas untuk keluar dari istanaku.

Hari ini aku sengaja berangkat sekolah sedikit siang, sengaja melambatkan diri lebih tepatnya. Entah kenapa aku selalu rela merelakan namaku tertulis dibuku pelanggaran. Berada di sekolah sebelum pukul tujuh adalah dalil yang harus ditaati di SMA ini, namun itu tak berlaku bagiku ketika hari Rabu datang. Aku rela mendapat hukuman apapun asalkan tak bertemu Fisika di jam pertama.

“Cepetan bawa motornya, Ngga” suara lirih dari seorang perempuan yang berkata “Ngga”, tiba-tiba membuat langkahku di trotoar dekat pintu gerbang sekolah terhenti. Ku toleh, ku cari mulut siapa itu. Saat aku menemukan, ternyata sosok perempuan berkerudung yang aku lihat di gazebo kapan hari. Ia dibonceng Angga dengan motor matic-nya.

“Duluan ya Airish,” Angga menyapaku dengan ramahnya. Perempuan yang diboncengnya pun turut tersenyum kepadaku.

“Eh, iya Ngga,” kusahut sapaannya dengan jawaban secukupnya. Kulihat motornya sudah melewati gerbang dan masuk ke tempat parkir.

Pukul 06:57 tertera di jam tangan digital yang ku sematkan di tangan kiriku. Penasaran dengan sosok perempuan yang dibonceng Angga, kupercepat langkahku. Serasa ada bisikan malaikat untuk membatalkan niat masuk kelas terlambat. Jujur saja, aku penasaran dengan perempuan berkerudung itu, mungkinkah dia pacar baru Angga? Kalau bukan pacarnya, nggak mungkin sedekat itu. Yang benar saja, masih satu minggu aku berpisah dengan dia, kenapa dia tiba-tiba sudah mendapat pengganti? Ya, kalau memang dilihat, perempuan itu lebih terlihat baik dari pada aku yang pecicilan ini.

***

Ku lupakan Angga sejenak, kurebahkan diriku di atas kasurku. Kukeluarkan hp dari saku rokku, kunyalakan lagu dan kuletakkan di dadaku, dan kupejamkan mataku. Kunikmati suara dari Raisa yang sedang bernyanyi di hpku.

“Dertt, dertt” hp-ku mendapat notif, kubuka mataku dan kuraih hpku. Dan kubaca notif dari Instagram. “Follow request” dari seseorang membuatku penasaran, tertera nama Anggi_DA mem-followku. Kuterima permintaan follow-nya, lantas langsung saja aku mem-follback akun itu.

Kubuka profilnya, ternyata dia adalah perempuan berkerudung yang kulihat di gazebo dan yang tadi pagi dibonceng Angga. Kulihat ada sebuah fotonya bersama laki-laki, ya benar. Angga. Tertera caption di sana “Kebahagiaan yang hakiki. Nikmat Allah mana lagi yang kau dustakan”.Ya Tuhan, mereka dekat sekali.

Ada banyak opini yang akhirnya kusimpulkan sebagai sebuah fakta saat aku stalking akun itu. Pertama, akhirnya aku tau nama perempuan itu, Anggi. Kedua, dia anak 12 IPA 3. Ketiga, dia muslimah sejati, karena semua postingan-nya ia berkerudung dan sebagian caption-nya kutipan dari Al-Quran, Hadits, dan buku-buku Islami. Dan yang keempat, dia adalah perempuan yang sangat dekat dengan Angga. Dan yang kelima, aku benci mengakui ini, dia tidak se-bad girl aku. Iblis dalam hatiku mulai berencana untuk membuatku membenci perempuan itu. Dan rencana itu berhasil.

***

“Hai, Rish” seseorang menepuk pundakku dari belakang. Kutoleh dan ku lihat Angga di sana. Sedang apa dia di sini.

“Lagi ngapain? Aku lihat kamu dari kemarin menyendiri terus di sini?” lalu ia duduk disebelahku. Aku masih diam tanpa kata.

“Lagi nyepi? Atau semedi? Hehehe,” Angga tertawa.

“Cari ilham,” sahutku cuek.

“Ilham kan lagi di kelas, kenapa carinya di sini?” pertanyaan Angga menggelitik perutku.

“Ihh. Bukan Ilham Saputra. Ilham dari Allah Subahana Wata’allah. Ilham hidayah itu lho Ngga,” kujelaskan sambil memukul pundaknya. Dan ia hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Ya Allah, kenapa ini. Kenapa jantungku masih berdebar saat Angga di sampingku.

“Angga,” suara lembut itu membuatku menoleh ke belakang. Gadis berkerudung itu lagi. Aku mendengus.

“Eh Nggi. Kenapa?” Angga menoleh pada Anggi. Hatiku hancur seketika.

“Sini dulu. Nggak enak sama Airish,” Anggi berkata sambil melambaikan tangannya pada Angga. Arghh!! Tanganku sudah gatal ingin mencakar wajah itu. Namun aku masih bisa menahan amarahku.

“Santai aja kali, ngobrol aja udah. Aku yang pergi aja nggak papa, nggak enak sendiri gangguin orang pacaran,” sahutku jutek dan aku berdiri, berancang-ancang pergi dari gazebo. Dan mereka hanya tertawa. Sungguh, rasanya jengkel sekali, ingin berteriak sekencang-kencangnya di depan Angga.

“Tunggu Rish, aku mau ngomong penting sama kamu,” Angga memegang tanganku saat aku berdiri.

“Aku tuh masih saya—“

“Ah! Udahlah Ngga! Basi tau! Urus aja pacar baru kamu tuh” aku memotong perkataan Angga yang belum selesai melepaskan cengkeraman tangannya, lalu pergi dari tempat itu dan meninggalkan kedua pembual itu.

 Aku tau apa yang akan dia katakan, tapi aku juga tau itu hanya sebuah bualan. Karena apa? Karena ada Anggi yang jelas-jelas ada di sana. Kenapa dia mau berkata seperti itu? Apa maksudnya? Ah! Dasar laki-laki, semua sama saja di dunia.

***

“Rish, Airish,” seseorang memanggil namaku dari belakang, aku dengar, tapi aku enggan menoleh, ku teruskan saja langkahku dan kukencangkan volume laguu. Karena apa? Karena seseorang itu Angga. Aku sudah terlalu lelah, sudah terlalu bosan dan muak dengan kelakuannya.

“Airiiiishh!” suaranya semakin lantang, suara hentakan kaki yang berlari semakin aku bisa mendengar. Angga semakin dekat.

“Airish Dwi Anjani!” tiba-tiba sebuah tangan mendarat di bahuku dan napasnya terengah-engah.

“Kamu marah? Kamu kenapa sih? Dari kemarin ngehindar terus dari aku. Aku itu cuma mau ngasih kamu ini,” Angga memberikan sebuah undangan ulang tahun padaku. Aku masih diam tapi aku menerima undangan itu.

“Datang ya, aku tunggu” dia menepuk bahuku dua kali lalu berjalan ke kelasnya menjauhiku. 16 November pukul lima sore. Dresscode putih. Lalu kulesatkan undangan sialan itu ke tempat sampah. Dia pikir, aku ini apa, dia pikir dia siapa, beraninya dia. Hatiku sudah terlanjur benci pada Angga dan tentu saja kekasih barunya Anggi.

***

“Assalamulaikum, Airish,” suara Aisyah di depan pintu rumahku, aku bangkit dari kursi di depan televisi dan membuka pintu.

“Masuk kamu,” aku meraih tangan Aisyah dan menyeretnya masuk ke dalam rumahku.

“Ihh, kamu kok masih pakai kaos oblong sama celana olahraga gitu sih Rish,” Aisyah meledekku.

“Ihh, emangnya kenapa? Suka-suka aku dong mau pakai apa saj,a” sahutku ketus dan duduk di sofa.

“Ihhhh!!! Airish!! Kita kan mau pergi,” Aisyah menghentakkan kakinya.

“Pergi? Ke mana? Kita belum ada janji deh kayaknya,” tanyaku penasaran.

“Astagfirullah Airish Dwi Anjaniiiii. Aku tau kok kamu pelupa, tapi ya jangan gini-gini juga. Hari ini kan ulang tahunnya Angga, 16 November, Rish. Jangan bilang kalau kamu nggak dapet undangan dari Angga,”

“Dan jangan pura-pura lupa juga,” tambah Aisyah kesal.

“Oh itu. Yaudah pergi aja. Aku sih males,” aku membalas .

“Ya ampun, Airish. Iya, aku tau kamu masih sakit hati. Tapi tolonglah, yang dewasa. Nggak enaklah, dia udah nunggu kita. Sekali ini aja, dengar aku. Berangkat ya? Temenin aku, yaaa??” Aisyah memohon. Jujur, aku tak tega membiarkan sahabatku ini sendiri. Tapi pasti di sana ada Anggi.

“Rish, yaa? Berangkat ya?”

“Iya deh iya,” kukabulkan permintaan Aisyah, entahlah tiba-tiba ada sesuatu yang membuatku datang ke pesta itu. Dan aku sudah siap menerima apapun yang akan terjadi nanti di sana. Yang terburuk pun, aku siap.

“Aku ganti baju dulu, kamu tunggu sini,” pintaku pada Aisyah, lalu aku masuk ke kamarku. Kupakai baju putih tanpa lengan dan memakai celana ripped jeans lalu memakai sneakers hitam putih kesayanganku. Beginilah aku, bagiku penampilan tidak terlalu penting.

“Yakin pakai baju itu?” Aisyah memastikan.

“Iyalah, kenapa nggak? Dreescode-nya putih kan? Ini aku udah pakai putih. Udah deh, jangan ribet. Mumpung aku belum berubah pikiran ini,” sepertinya perkataanku membuat Aisyah mati kutu. Dan kami pun berangkat. Tak lama kemudian kami sampai dirumah Angga. Dan, ya, tentu saja ada Anggi di sana.

“Hai Rish, masuk” Angga menyalamiku dengan ramahnya.

“Iya, selamat ya,” aku hanya berkata secukupnya saja. Aku masuk bersama Aisyah, aku melihat Anggi sudah duduk di sana. Aku benci mengakui hal ini, namun aku harus mengakui kalau hari itu, Anggi, sangat cantik sekali. Dia duduk dengan anggun, dibalut dengan busana muslim berwarna, aku tidak tau namanya, mamaku sering menyebutnya jubbah. Tidak terlalu banyak hiasan di sana, hanya warna putih berenda dan panjang menutupi seluruh tubuhnya. Kerudungnya berwarna putih tulang, semakin membuat gadis itu terlihat cantik. Entah mengapa, memandang Anggi lengkap dengan kerudungnya lagi-lagi membuatku tenang dan damai.

Ya, dibandingkan aku yang cuek ini, Anggi jauh di atasku, jelas saja ini membuat Angga jatuh cinta pada gadis ini. Ya, Angga dan Anggi, serasi sekali.

***

Tiba-tiba perasaan malu muncul, malu dengan pakaianku, yang harus kuakui kurang sopan. Aku merasa tak nyaman berada di tempat itu. Aku bangkit dari kursiku, keluar ruangan itu, mencari tempat untuk menyepi. Aisyah memanggilku, tapi tak kuhiraukan. Aku berlalu, berlari menjauhi kerumunan orang di ruangan itu. Ku temukan tempat duduk di tepi taman rumah itu dan di sana tidak ada orang. Kucapai bangku itu secepat mungkin, dan akhirnya aku tiba di sana. Kurebahkan tubuhku di kursi itu, kupejamkan mata, dan kuhirup napas dalam-dalam.

Aku tidak menyukai Anggi, karena bagiku, menurutku dia telah merebut Angga dariku. Setidaknya aku  mempunyai alasan untuk membencinya. Aku benci harus jujur bahwa aku ingin seperti Anggi.

“Rish. Ngapain di sini? Ayo masuk, bentar lagi acaraku mau mulai,” Anggi tiba-tiba duduk disampingku.

“Emm, iya Nggi,” aku tidak tau harus menjawab apa.

                “Kamu kenapa? Kok kelihatannya galau gitu? Ada masalah? Sama Angga? Mau aku panggilin Angga?” lagi-lagi nada bicaranya yang kalem dan menenangkan membuatku enggan untuk marah kepada gadis itu meskipun aku membencinya.

                “Aku malu,” jawabku lirih dan menunduk ke bawah, ke arah kakiku yang dibalut sepatu sneakers.

                “Malu kenapa? Cerita saja ke aku, aku bisa simpan rahasia kok Rish,” Anggi berkata, dan itu seperti angin segar padaku.

                “Pakaianku. Aku malu. Aku gak bisa kayak kamu. Kamu sempurna Nggi,” jawabku yang kemudian kuakhiri dengan helaan napas panjang. Perkataan apa barusan? Apa? Aku baru saja mengakui kalau aku ingin seperti Anggi? Astaga! Airish!! Airish mengaku kalah!

                “Jujur, aku benci sama kamu. Karena kamu telah ngambil Angga dari aku. Aku nggak suka kamu Nggi. Tapi nggak tau kenapa, beberapa detik barusan, seketika aku ingin seperti kamu. Maksudku, aku ingin berhijab seperti kamu,” aku menjelaskan pada Airish, ya seperti itulah aku, aku bukan orang yang munafik, aku tidak suka basa basi.

Gadis itu diam saja dan mendengarkan aku dengan seksama.

                “Entah, barusan apa yang terjadi, tiba-tiba saja aku merasa malu pada diriku sendiri, aku malu memakai baju ini, aku merasa jijik dengan pakaianku yang seperti ini Nggi,” aku duduk meringkuk memeluk tubuhku sendiri, berusaha ku tutupi auratku. Dan tiba-tiba saja Anggi memelukku, hangat sekali, tenang sekali, Ya Allah, sebenarnya makhluk apa dia ini, malaikatkah? Kenapa dia bisa sebaik ini? Dan kenapa aku bisa membenci ciptaanmu yang baik ini Ya Allah.

                “Anggi,” suara wanita memanggil Anggi, dan ia melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke arah wanita itu.

                “Kenapa malah berduaan di situ, ayo masuk,” aku menoleh kebelakang, ternyata Mama Angga, ya pantas ia memanggil Anggi, dia kan calon menantunya, pikirku.

                “Iya Ma, bentar,” jawab Anggi lalu melepaskan cardigan yang ia pakai, lalu memakaikannya padaku. Aku lemas, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, aku kehilangan kata-kata.

                “Lebih cantik tertutup seperti ini Rish. Nggak perlu malu lagi kan? Sekarang, ayo kita masuk,” Anggi bangkit dari tempat duduknya, meraih tanganku, dan tersenyum. Dan kami berjalan menjauhi kursi itu, masuk ke kerumunan orang di acara ulang tahun itu.

                “Sudah ditunggu abangmu Nggi, kok malah berduaan di taman,” Mama Angga menegur Anggi.

Apa? Abang? Maksudnya? Kakak? Maksudnya abang apa? Siapa yang abangnya siapa?

                “Ayo Angga, Anggi sini mendekat ke kuenya,” kata pembawa acara. Di sana aku melihat kue ulang tahun yang berukuran cukup besar, bertuliskan nama Anngi dan Angga.  Jadi, tanggal lahir mereka sama.

                Semua orang bahagia saat itu, tapi entah kenapa aku tetap saja merasa kesepian. Lagu selamat ulang tahun dinyanyikan semua orang yang ada di situ, kecuali aku. Aku berdiri di barisan paling belakang di antara semua orang yang hadir di situ. Sendirian. Aku masih belum paham dengan keadaan ini, ada banyak pertanyaan yang melintas di benakku, terutama sebuah pertanyaan dengan tanda tanya besar di akhir kalimatnya. Siapakah Anggi sebenarnya? Siapa yang abangnya siapa? Aku termenung di tengah kegaduhan ini.

                “Hai, lagi-lagi kamu ngelamun, ayo ikut aku,” Anggi mengagetkanku, ia meraih tanganku, dan kemudian menarikku untuk mengikutinya.

                “Ke mana?” tanyaku.

                “Ikut saja, aku punya sesuatu untuk kamu” jawabnya lembut. Sesuatu? Untukku? Apa?

Kami tiba di halaman belakang rumah itu, tidak luas, tapi indah, banyak bunga di sana, ketika keluar dari pintu dapur, kami mendapat sambutan dari senja. Cahaya matahari yang akan tenggelam memberikan warna yang indah di langit.

                “Indahkan pemandangannya di sini?” Anggi bertanya padaku. Dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Indah sekali.

                “Lebih indah lagi, kalau kamu memakai sesuatu yang ada dalam kotak kado ini” Anggi memperlihatkan sebuah kotak kado padaku.

                “Untukku? Kan yang ulang tahun sekarang Angga sama kamu, Nggi?” aku bertanya padanya. Anggi diam saja ketika aku menyebut nama Angga, dan ia membuka kotak itu, dan ia mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah kerudung. Dan ia memakaikannya padaku.

                “Nah, kalau begini, jadi lebih cantik” ia tersenyum padaku, lalu melihat ke arah langit yang mulai memerah. Aku tidak berdaya, aku tidak tau harus berkata apa, yang aku tau aku merasakan ketenangan saat kerudung merah jambu ini menutupi kepala dan tubuh bagian atasku. Dan entah kenapa, ada sesuatu yang membuatku merasa ingin memeluk Anggi, dan akupun memeluknya. Dan ia pun memelukku dengan erat.

                “Angga itu kakakku Rish, kami kembar, dia lebih tua dua menit dariku,” Anggi berkata dengan lembutnya saat itu. Aku kehilangan kata-kata. Aku tidak tahu harus menjabarkan perasaan ini, tapi yang aku tau, aku sangat bahagia.

                “Oo begitu, maaf ya Nggi sudah salah paham. Dan terimakasih banyak” aku melepas pelukanku.

                “Terima kasih untuk apa?” Anggi bertanya.

                “Menutup aurat dan senjaku dengan sempurna,” aku menjawabnya dan kuakhiri dengan senyuman.

 

*Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.

Written by Oktavia Yermiasih
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar