GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: I’M LUCKY WHEN...

September 23, 2018

 GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-I’M-LUCKY-WHEN

 

“Maaf, permisi...” suara sopan terdengar di telingaku.

 

Aku menutup bukuku lalu mendongak dan menatap si pemilik suara. Aku langsung membuang muka begitu mengenali wajahnya. “Lewat aja,” kataku ketus. Ngomong-ngomong saat ini aku sedang duduk santai di lantai, tepatnya di pojok perpustakaan. Sambil bersenderkan rak buku yang kokoh, aku menselunjurkan kakiku ke depan dan memangku buku untuk kubaca. Sialnya, kegiatan favoritku ini harus diinterupsi dan yang lebih menjengkelkan, cowok menyebalkan ini yang sudah mengacaukannya.

“Tapi gak sopan melangkahi kaki orang,” jawabnya yang lagi-lagi dengan nada sopan namun terdengar menyebalkan bagiku.

Aku berdecak, “Tinggal lewat aja apa susahnya sih!”

Luki... udah ketemu belom bukunya?”

Aku dan cowok menyebalkan itu menoleh ke sumber suara. Bu Sulis—pustakawati sekolah menghampiri kami.

“Ini saya baru mau nyari, Bu.”

Bu Sulis mengangguk-angguk menanggapi jawaban Luki, arah pandang matanya lalu turun ke arahku. “Lho, Hani? Sudah berapa kali saya beritahu, supaya jangan membaca di sini lagi. Gunakan meja dan kursi yang sudah disediakan. Sekarang kamu minggir, Luki mau mencari buku untuk keperluan olimpiadenya.”

Hatiku mendadak panas begitu mendengar kata olimpiade. Seharusnya aku yang terpilih untuk mewakili sekolah...

“Iya, Bu.” Dengan wajah tertekuk, aku membereskan buku dan mengembalikannya ke rak. Tidak lupa aku menata puluhan kertas HVS yang berserakan di sebelahku. Setelah selesai, aku menggulung kertas itu dan memasukannya ke dalam botol besar yang juga berisi alat-alat menggambar dan sering kubawa kemanapun.

“Permisi,” pamitku sebelum meninggalkan ruangan penuh buku tersebut.

***

Luki Moreno, juara satu olimpiade matematika tingkat nasional. Beri tepuk tangan...” ujar kepala sekolah dengan bangga. Tiga menit yang lalu, prosesi upacara bendera baru saja selesai dilaksanakan. Karena kebetulan sekolah mendapat berita baik yang perlu disampaikan, murid-murid harus berdiri lebih lama lagi untuk mendengarkan. Seakan ketidakberuntungan sedang menertawakan nasibku, panas matahari dan berita kemenangan Luki sama-sama membakar kulit juga hatiku.

“Gila! Keren banget Luki, ya? Udah ganteng, baik, jenius lagi... cowok idaman pokoknya deh.”

“Iya! Coba kalo dia sekelas sama kita, pasti gampang dideketin kan? Hahaha...”

Aku mendengus mendengar pujian berikut tawa centil dua cewek di sebelahku. Ganteng? Dia cuma beruntung aja dilahirkan begitu. Baik? Itu mungkin pencitraan dia aja sebagai murid teladan. Jenius? Soal itu dia juga beruntung, dia kan anak orang kaya! Dengan uang apa aja bisa dilakuin supaya pinter. Aku sering liat dia kok pulang malam dari tempat bimbel, tempat lesnya kan dekat dengan kafe tempat aku kerja paruh waktu. Intinya dia cuma beruntung! Persis seperti namanya...

Aku membenarkan letak kacamataku lalu mengusap keningku yang mulai banjir oleh keringat. Ayolah... sampai kapan pak kepsek akan menyanjung-nyanjung Luki terus? Kalo aku yang terpilih, aku juga pasti bisa kaya dia! Di kelas nilainya hanya beda sedikit denganku, bahkan semester kemarin aku yang dapat peringkat satu di kelas. Seharusnya aku bisa kaya dia! Hanya saja... aku gak beruntung!

***

Beberapa hari kemudian...

Begitu bel isirahat pertama berbunyi, aku langsung berlari ke perpustakaan dan bersembunyi di tempat favoritku. Entah kenapa, sejak kejadian olimpiade tersebut suasana hatiku menjadi kacau beberapa hari ini. Aku kemudian memilih duduk dengan posisi meringkuk di paling sudut rak buku dan menangis sejadinya. Kubungkam mulutku kuat-kuat agar tidak ada yang mendengar isakanku. Meski tidak tahu apa yang sebenarnya aku tangisi, tapi aku dapat merasakan diriku bermonolog, Tuhan, aku ingin beruntung...

“Cewek galak ternyata bisa nangis juga ya.”

Aku tersentak dan segera menghentikan isakanku lalu mengusap hidung kecilku yang ikut-ikutan mengeluarkan cairan. Tanpa aku mau menatap orang itu, aku segera bangkit berdiri dan berniat pergi dari tempat itu. Aku gak sudi menunjukkan kelemahanku, apalagi di hadapan sainganku. Tapi sialnya, Luki menahan tanganku setelah aku baru beberapa kali melangkah dan dengan cepat ia menaruh satu pak tisu di telapak tanganku.

“Bersihin dulu mukanya. Kamu gak mau, kan julukan kamu sebagai cewek pojokan nambah jadi cewek jorok?”

Aku mendelik galak padanya lalu memutuskan untuk menarik dua lembar tisu miliknya dan mengembalikan sisanya.

“Enak ya bisa nangis. Aku udah lama lho gak merasakan nangis. Waktu aku sedih dan berjuang buat ngeluarin air mata, mata aku malah kesakitan.”

Aku mendadak menghentikan kegiatanku mengusap wajah dan mengernyit heran padanya. Dan aku cukup terkejut saat melakukannya, maksudku saat menatap wajah laki-laki itu tepat di matanya. Pasalnya, baru kali ini aku menatapnya secara langsung. Jangankan mengobrol atau berbicara singkat dengannya, menatap wajahnya saja tidak pernah aku lakukan.

Aku menyipitkan mataku saat lebih fokus menatap matanya. “Mata kiri kamu kok...”

Luki tersenyum, “Beda, ya?”

Aku mengangguk dan beberapa saat setelahnya aku dibuat terperangah juga ngeri saat ia mendadak melakukan sesuatu pada mata kirinya. Tindakannya itu terlihat seperti sedang mencongkel mata, tapi hal itu bisa dibenarkan setelah Luki benar-benar melepaskan matanya yang ternyata palsu dari kantung matanya.

Astaga! Aku gak nyangka Luki yang selalu dinilai perfect oleh semua orang kini tampil di hadapanku dengan menunjukkan kekurangannya. Apa komentar cewek-cewek kalo tahu kondisi sebenarnya dari idola mereka ya?

“Kamu jangan kasih tahu siapa-siapa, ya. Waktu kecil aku pernah kecelakaan, beruntungnya aku masih selamat. Gak lama setelahnya, sisa kecelakaan itu membawa masalah pada mata kiriku yang buat dokter terpaksa mengangkat mata kiriku. Jadilah sekarang aku cuma punya mata kanan, beruntung, kan?”

Dahiku berkerut setelah mendengar penuturannya barusan. Jujur saja, aku salut padanya yang masih terlihat biasa saja dan malah menganggap diri sendiri beruntung setelah mengalamai peristiwa menyedihkan tersebut. Mungkin sudah saatnya aku menghilangkan persepsi buruk padanya dan mulai berteman akrab dengan Luki.

“Kamu tahu gak, hal apa yang aku pelajari setelah kejadian tersebut?”

Aku menggeleng dan mulai penasaran dengan arah pembicaraannya. Aku lalu menunggu dia memasangkan kembali mata kirinya dan setelahnya ia tersenyum lembut padaku.

“Beruntung itu bukan nasib atau takdir setiap orang, tapi pilihan. Setelah sekian banyak peristiwa yang aku alami, aku memutuskan untuk memandang keberuntungan sebagai sebuah pilihan, maka dari itu aku sendiri yang harus mengusahakannya. Dulu, aku boleh aja kecelakaan dan hampir kehilangan nyawa, tapi untungnya aku masih bisa selamat dan sehat sampai sekarang. Dulu, boleh aja aku kehilangan mata kiriku, tapi beruntungnya aku masih punya mata kanan. Dan kalo suatu saat nanti aku mungkin akan kehilangan segala-galanya, aku akan tetap baik-baik saja karena aku masih memiliki harapan, impian, dan semangat. Jadi kesimpulannya, aku beruntung ketika aku... bersyukur.”

Tamparan keras! Rasa sensiku terhadap Luki runtuh seketika. Aku merasa seperti sudah salah membenci orang. Seharusnya kalau aku masih kesal terhadap olimpiade, guru matematika yang memilih Luki-lah orangnya. Dan setelah aku mendengar cerita Luki barusan, rasanya guru matematika tidak salah juga, karena memang Luki adalah orang yang tepat dan pantas...

“Luki, di sini kamu ternyata...” Bu Sulis menghampiri kami.

“Iya. Ada apa, Bu?” tanya Luki.

Bisa kulihat Bu Lis sangat menyangi Luki saat wanita itu mengelus kepala laki-laki itu dan menepuk pelan bahunya. “Kamu dipanggil kepala sekolah, Nak.”

Luki mengangguk, “Iya saya kesana sekarang. Duluan ya, Han.” Aku sedikit terkejut saat Luki masih sempat-sempatnya berpamitan padaku sebelum pergi keluar perpustakaan.

Bu Sulis kemudian menatapku, “Koran hari ini baru aja dateng, kamu gak mau baca, Han?”

Aku tersentak dari lamunanku, “Eh? Oh i-iya, Bu. Saya ke depan dulu buat baca kalo gitu. Permisi.”

Sudah cukup dua kali aku terkejut, semoga nanti tidak lagi. Jujur saja, aku sedikit malu setelah mengetahui fakta ternyata Bu Sulis suka memerhatikanku dan tahu kebiasaanku membaca koran. Aku pikir dia sensi padaku dan cuma memerhatikan murid-murid tertentu saja seperti Luki. Yaaa... seperinya aku perlu bersyukur untuk hal itu.

---

  

Written by Helen Saufika
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar