GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: I LOVE YOU, SENSEI!

June 09, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-I-LOVE-YOU-SENSEI

 

Cerita asmara anak SMA memang rumit. Seperti jatuh cinta dengan senior dan mengambil resiko harus digosipkan satu sekolah, menyukai teman sekelas tapi tak pernah terbalaskan, macam-macamlah. Tetapi berbeda dengan sahabatku, Dena. Menyukai orang yang tak seharusnya dia sukai.

 

“Jadi pacar gue ya, Na?”

“Nggak.” Perempuan itu berbalik membelakangi tubuh cowok yang barusan menembaknya lalu berjalan dan kembali duduk di kursi kantin tepat didepanku.

Aku hanya memutar bola mata. Jawaban ‘nggak’ adalah jawaban pasti yang akan diucapkan Dena ketika ada seorang cowok yang menembaknya.

Dia cantik, cerdas, mempunyai rambut ikal yang panjang sebahu, tidak suka memakai makeup, tinggi mencapai 165cm, suka hal-hal berbau Jepang, mantan ketua osis dan tentu saja dia adalah primadona sekolah. Nama panjangnya Sadena Arinka. Singkatnya dia adalah definisi kecantikan yang sebenarnya di sekolah kami. Terlebih, dia adalah sahabatku dari SMP.

Tetapi, ada satu kesalahan besar yang dilakukannya. Tidak, tidak, bukan kesalahan namanya jika menyangkut perasaan. Dena menyukai guru biologi kami, Pak Arga. Bahkan sangat menyukainya dari kelas 10 hingga sekarang kelas 12. Itulah alasan mengapa Dena menjawab jawaban yang sama kepada beberapa cowok yang mengejarnya, rata-rata mereka adalah cowok-cowok famous di sekolah.

Aku sudah lelah mengingatkannya mengenai perasaan yang harus dibuang jauh-jauh itu, jika saja aku tidak melarangnya menyatakan cinta pada guru biologi kami itu, mungkin saja reputasi Dena sudah sangat terpuruk sekarang mengingat sekolah kami adalah sarangnya bergosip.

Dan satu yang dapat aku pelajari dari Dena, dia pantang menyerah mengenai perasaannya. “Gue bakal nyatain perasaan gue abis lulus nanti. Dengan begitu status gue bukan anak muridnya lagi ‘kan? Jadi nggak ada larangan dong?” kata Dena tegas sambil mengepalkan tangannya di depan wajahnya sendiri.

Aku hanya menghela nafas mendengarnya. Sekarang aku dan Dena sedang menghabiskan mi ayam yang super enak di kantin sekolah kami. Dena tidak pandai diam. Dia ratunya berceloteh, bahkan saat makan. Yang dapat aku simpulkan, mungkin sifatnya ini akan berbanding terbalik jika berhadapan dengan Pak Arga, guru biologi idamannya.

“Gue ngerasa Pak Arga itu nggak bisa tua tua yah, Sek. Dia itu dari kita kelas sepuluh mukanya gitu gitu aja. Oalah, umurnya aja baru 29 tahun tapi seperti yang sering gue bilang dia itu nggak seperti 29 tahun, tapi kayak baru 20 tahun.  Gue yakin di prom night nanti dia bakal menang award kategori guru ter-baby face!” celoteh Dena cengar cengir yang kemudian kembali menyeruput mi ayam favoritnya itu tanpa beban.

“Dena, kapan sih lo sadar? Kita mau lulus, kita bakal kuliah. Lo nggak bisa ketemu sama Pak Arga lagi tiap hari. Lo nggak bisa ngeharapin dia terus. Lo mesti move on dari sekarang dan mulai buka hati lo buat orang lain!” Dan keluarlah ceramahan seperti bisa dari mulutku. Tapi kali ini aku harus lebih serius menceramahinya.

“Duh, Seka. Gue mesti bilang berapa kali sih? Lo kan udah dengar tadi, gue bakal nyatain perasaan gue pas gue udah bukan anak murid dia lagi. Lo paham nggak sih maksud gue? Gue cuman mau nyatain cinta. Udah itu doang, nggak minta jawaban.”

“Gue paham, tapi ujung-ujungnya lo juga bakal sakit hati juga kan? Dari awal lo udah tau kalau dia nggak mungkin sama-sama lo. Pertama, jarak umur kalian itu jauh, jauh banget. Kedua, kita nggak pernah tau dia udah ada pacar apa belom, mungkin aja dia udah ada tunangan? Dan ketiga, dia udah tua. Dia pasti bakal nikah duluan nantinya, sedangkan lo aja tahun depan baru kuliah,” balasku dengan tatapan yang lebih serius, ya mata kami bertatapan dan mendapat keheningan cukup lama setelah omonganku tadi.

“Lo nggak paham, Sek. Karena apa? Lo nggak pernah jatuh cinta!” Apa? Tidak pernah jatuh cinta? Sok tau sekali perempuan ini. Aku hanya tak pernah pacaran saja.

Setelah mengatakan itu, Dena bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan mi ayamnya yang masih setengah, juga meninggalkanku sendirian. Dan yang harus aku lakukan adalah tentu saja mengejarnya.

Di koridor ruangan guru dan kepala sekolah, aku menemukan Dena sedang bercakap dengan seseorang yang lebih tinggi darinya dan memakai kemeja berlengan panjang warna navy. Yang pasti bukan anak murid sekolah ini.

“Hmm. Jadi mulai besok malam, ya? Baik kalau gitu, saya masuk dulu ya,” kata lelaki itu sambil melengkungkan senyum yang kata Dena mirip senyuman Christian Sugiono.

“Siap, Sensei! Eh, Pak!” jawab Dena yang tentunya juga mengukir senyuman termanis yang pernah dimilikinya. Sensei artinya guru dalam bahasa Jepang.

“Ehem, mulai deh lo meleleh disenyumin Pak Arga. Ngomongin apa lo sama dia?” tanyaku yang sekarang berada di samping Dena.

“Bukan urusan lo, Kresek.” Dena berdecak kesal sambil berjalan menuju tangga.

“Oh jadi main rahasia-rahasiaan nih sekarang? Oke deh!” Aku berjalan mendahului Dena dan lima detik kemudian dia pasti akan memanggil dan mengejarku.

“Sek, Seka! Woi Kresek!” Nah, lihat kan?

Sesampainya di kelas, Dena memberitahuku tentang apa yang diomongkannya dengan Pak Arga tadi, ternyata mulai besok malam Pak Arga menjadi guru les private Dena hingga Ujian Nasional. Baiklah, itu positif adalah akal-akalan bagi Dena untuk bisa lebih dekat dengan Pak Arga. Sebenarnya Dena tidak perlu guru private seperti itu, dia terlatih belajar sendiri dari dulu, ya secara dia murid cerdas dan teladan di sekolah, toh dia selalu juara umum pertama sejurusan IPA.

Aku yakin Dena membujuk mamanya untuk berbicara dengan Pak Arga perihal menjadi guru les privatenya tersebut, mengingat Pak Arga tinggal tepat di depan rumah Dena dan pastinya Pak Arga tidak tega menolak permintaan tetangganya.

 

***

 

Ketika sudah beberapa minggu lagi mendekati Ujian Nasional, aku mendapati Dena dalam keadaan yang luar biasa kusut. Wajahnya masam, matanya sembab dan tidak membuka suara sedikitpun ketika aku bertanya tentang PR matematika yang dikumpulkan hari ini.

Sampai-sampai Bu Hamida, guru Fisika kami menegurnya karena kerjaannya hanya melamun pada saat pelajaran berlangsung. Lalu dia memutuskan untuk ke toilet dan tidak kembali sampai lonceng istirahat pertama berbunyi. Akupun pergi menyusulnya.

“Na, ini tentang apa sih? Si Sensei lo itu?”

Dia hanya diam dan tidak sedikitpun menghiraukanku ketika kami bertemu di depan pintu toilet perempuan. Dia berjalan lemah menuju kantin dan aku mengekor di belakangnya. Apa dia sedang tidak enak badan? Tapi aku sudah menyentuh jidatnya dan rasanya tidak hangat. Apa karena penyakit bulanannya? Ah, kenapa perempuan begitu rumit? Tapi aku sudah paham menyikapi sikap dia yang seperti ini.

“Gue tau, lo mau pesan mi ayam kantin tengah tiga porsi ‘kan?” tebakku sambil menyunggingkan senyum jahil. Karena biasanya Dena akan makan dua kali lebih banyak dibanding porsinya biasa ketika sedang badmood seperti ini.

Dan tidak ada reaksi apa-apa.

“Na, lo kenapa? Plis, kasih tau gue!!!” desakku yang tidak tahan dengan sikap dinginnya ini.

“Ck, bisa nggak sih satu hari aja lo nggak kepo sama kehidupan gue?” Dena berhenti dan menatapku, berdecak kesal sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada. Dia memasang wajah super jutek dan 10 detik kemudian dia mulai berjalan menghindariku lagi. Ketika aku melangkahkan kaki untuk mengejarnya, dia berhenti lagi dan menyuruhku untuk tidak mengekorinya.

Dia butuh waktu sendiri, itu yang ada dalam pikiranku sekarang.

Pada jam istirahat kedua, Dena memanggilku yang baru keluar dari ruang guru sehabis mengantarkan perkakas Bu Hamida, dia selalu menyuruhku membantunya membawa perkakasnya.

“Pulang sekolah gue bakal cerita,” ucap Dena datar lalu kami sama-sama kembali ke kelas tanpa percakapan sedikitpun.

Pulang sekolah aku mampir ke rumah Dena sekaligus mendengarkan cerita yang membuat Dena sudah seperti zombie hari ini. Aku menghempaskan tubuh ke sofa ruang tamu rumah Dena.

“Jadi?” tanyaku memecah keheningan di antara aku dan Dena, ia duduk di sofa sebelah dengan muka datar.

“Ternyata Pak Arga udah nikah.”

“Eh?” Aku refleks menegakkan tubuhku.

“Tapi istrinya nggak di sini, LDR-an karna kerjaan,” cerita Dena dengan masih memasang wajah tanpa ekspresi.

“Lo tau darimana?”

“Pak Arga yang ngasih tau gue sendiri tadi malam. Gue nyesek banget, Sek!” kata Dena dengan suara terisak.

“Kok dia bisa cerita?” Aku pindah posisi menjadi duduk di samping Dena.

“Tadi malam gue nggak sengaja jatohin buku jurnal gue dalam keadaan terbuka dan sialnya buku jurnal itu jatoh pas tulisan ‘I Love Arga Sensei’ terpampang jelas-jelas dan fotonya juga gue tempel di situ. Hasilnya gue sama dia saling tatapan beberapa detik. Oh Tuhan, awkward banget! It feels like I’m the most stupid girl in the world. Gue langsung ambil buku itu, hening banget nggak ada yang berani buka suara selama satu menit gitu deh, tapi akhirnya dia bilang ‘Kamu serius, Dena?’ dan gue nggak bisa ngomong apa-apa. Terus dia lanjut bilang ‘Saya sudah punya istri, Dena. Ma-maaf.’ Di situ hati gue sakit banget, eh tiba-tiba Mama dateng dan gue langsung naik ke atas.”

Mataku membelalak. “Te-terus lo nangis dan ngurung diri gitu di kamar?”

“Lo masih nanya? Abis itu mama gue masuk ke kamar dan cerita ke gue.”

“Cerita apa?” tanyaku makin penasaran.

“Mama cerita, waktu pertama kali Pak Arga pindah, dia silaturahmi gitu ke rumah gue dan ngobrol-ngobrol sama mama. Gue juga ada di situ tapi pikiran gue melayang-layang sampai dia ngomong apa aja gue nggak denger saking melting-nya gue sama dia, Sek!” Dena menghembuskan nafasnya perlahan sebelum melanjutkan ceritanya. “Ternyata di situ dia cerita kalau dia udah nikah tapi istrinya di luar negeri dalam waktu lebih dari tiga tahun karena kontraknya emang segitu lamanya, sedangkan Pak Arga dipindah tugaskan jadi guru di sini. Gue kira selama ini dia masih single. Mama baru cerita ke gue tadi malam, gue sakit hati banget sumpah!” Dena langsung tertunduk sambil mengusap dadanya tetapi dia tidak menangis.

“Tapi kok dia nggak makai cincin kawin?” tanyaku lagi.

“Katanya sih cincinnya ilang, Mama bilang dia galau banget takut istrinya marah,” jawab Dena sambil melengos.

“Lagian siapa suruh melamun, Dena itu ya kalau udah ngeliat cogan mana bisa ditolong, malah cengar cengir sendiri diajak omong malah ngelamun,” kata Mama Dena yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah dengan membawa nampan berisi dua gelas es coklat dan sepiring goreng pisang. “Mama nggak abis pikir Dena bisa sebegitu sukanya sama gurunya sendiri. Pak Arga itu udah mau 30 tahun lho, Na. Ada-ada aja, mending kamu suka sama Seka.”

Aku dan Dena sama-sama melotot. Gawat, kenapa aku jadi salah tingkah begini? Selama ini aku dan Dena bersahabat dan orang-orang bilang tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan, salah satunya pasti menyimpan perasaan. Aku pikir hal itu tidak berlaku pada persahabatanku dan Dena, tetapi sepertinya ada sesuatu yang aneh didiriku yang tidak kumengerti. Bagaimana aku bisa menjelaskannya?

“Kalian ini nggak mungkin nggak nyimpan perasaan satu sama lain, ‘kan? Muka sama-sama cakep, sahabatan dari SMP, istilahnya tuh nggak ada Dena pasti nggak ada Seka, gitu juga sebaliknya dan pastinya udah tau kekurangan kelebihan satu sama lain sekecil apapun itu. Mama sama Papa aja dulunya kayak kalian, eh nggak disangka rupanya jodoh,” sambung mamanya Dena sambil senyum-senyum sendiri lalu kembali ke dalam.

Suasana hening dan Dena menatap lurus ke depan dengan tatapan tak kumengerti. “Gue harus tetap nyatain perasaan gue ke Pak Arga pas prom night nanti, Sek! Lo tetap dukung gue, ‘kan?” ucap Dena sambil menatapku dengan tatapan penuh semangat.

“Kan Pak Arga udah tau lo suka sama dia?”

“Tapi nggak gitu caranya, gue mau yang formal gitu. Lo paham kan maksud gue?” tegas Dena sambil memutar bola matanya.

“Yah, gue sih mau mau aja. Tapi gini ya, Na, bisa nggak sih lo dengerin omongan orang lain sebelum bertindak? Contohnya kayak fakta yang ada pada Pak Arga, dia udah nikah dan lo selama ini nggak tau karena lo cuman mikirin diri lo sendiri, padahal Pak Arga udah jelas-jelas bilang ke lo dia udah nikah waktu pertama kali dia pindah. Eh lo aja yang ngelamun,” ceramahku sambil mengambil es coklat.

“Iya, ini salah gue. Udah.” jawabnya singkat dan langsung menyambar goreng pisang yang masih terlihat asapnya itu.

“Lo nggak bisa buka hati lo buat orang lain gitu?”

“Contohnya siapa?”

“Gue?” 

Bodoh! Kenapa aku jadi membahas hal semacam ini? Apa yang aku pikirkan? Aku hanya memasang wajah super bodoh dan menganggap seolah-olah aku tidak mengatakan apapun.

Dan akhirnya Dena tertawa, “Lo kesambet setan mana, Sek?” kata Dena dan melanjutkan tawanya sambil menyeruput es coklat.

“Ah udah ah, gue pulang dulu,” ucapku sebal lalu mengambil tas dan melangkahkan kaki keluar rumah Dena yang masih sibuk mentertawakanku.

Sial, apa yang aku rasakan sekarang? Aku tidak mengerti, kenapa rasanya tiap kali ada yang menembak Dena aku selalu tidak suka? Bahkan aku selalu terpaksa mendukung perasaan Dena pada Pak Arga. Pertanyaan-pertanyaan sejenisnya selalu saja ada di otakku selama ini, apa karena aku tidak pernah pacaran? Tidak, tidak, aku hanya memikirkan hal yang membuang-buang waktu saja. Kenapa aku jadi berdebat dengan diriku sendri? Kenapa aku tak pernah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini?

Kalian ini nggak mungkin nggak nyimpan perasaan satu sama lain, ‘kan? Muka sama-sama cakep, sahabatan dari SMP, istilahnya tuh nggak ada Dena pasti nggak ada Seka, gitu juga sebaliknya dan pastinya udah tau kekurangan kelebihan satu sama lain sekecil apapun itu.

Kata-kata dari mama Dena tersebut selalu terngiang-ngiang di otakku setelah pulang dari rumah Dena tadi. Apa jangan-jangan aku menyukai Dena? Apa ini yang selalu menggangguku dari dulu? Siapapun, tolong bantu aku atas perasaan rumit ini!

 

***

 

Setelah pusing massal menghadapi Ujian Nasional, tibalah acara yang paling ditunggu anak kelas 12, prom night. Acara tersebut di adakan di ruang olahraga sekolah, yang memang sangat luas sekali dan pas dipakai untuk acara seperti ini.

Aku disuruh mama Dena untuk menjemput anaknya malam ini, as usually, mama Dena memang selalu mempercayakan Dena padaku.

Sesampainya didepan pagar rumah Dena, aku turun dan berdiri didekat mobil. Kulihat mama Dena membuka pintu dan Dena keluar dengan memakai dress warna soft pink. Satu pikiran yang tak dapat aku hindari malam ini, Dena begitu cantik dan anggun. Make up yang dipoles di wajahnya tidak begitu terang tetapi sangat menawan, rambut ikalnya tersanggul rapi tetapi menyisakan poni khas Dena dan sedikit rambut terjuntai di dekat telinganya. Dan… Hei, apa itu? Dena memakai high heels? Yang aku tahu dia sangat membenci high heels, ya walaupun dia cantik dan primadona sekolah, tetapi gayanya bisa dibilang semi tomboi.

Dia tersenyum dan menyalami mamanya lalu melangkah menuju mobilku. Aku tersentak dari lamunanku ketika mama Dena berteriak mengatakan kalau jaga baik-baik anaknya padaku, aku membukakan pintu untuk Dena dan mengangguk mantap.

Sesampainya di ruang olahraga sekolah, aku merasa pusing dikarenakan lampu kerlap kerlip bertebaran dimana-mana. Musik indie yang tak kukenal menguasai indera pendengaranku, kudapati beberapa murid sedang berjoget simpang siur di tengah-tengah lapangan. Kudapan dan minuman warna warni berjeret indah di atas meja.

“Lo mau minum?” tanya Dena dengan suara agak sedikit berteriak karena suara musik yang begitu memekakan telinga.

Aku mengangguk pelan, dia melangkahkan kaki menuju meja penuh camilan dan minuman soda atau mungkin sirup. Aku tersenyum lega ketika lagu favoritku mulai mengalun manja. Picture of You-nya Boyzone (yang juga kesukaannya Dena).

“Nih, nggak tau air apa. Kayaknya sirup deh, kalau mau coke ada di sana tuh,” kata Dena sambil menunjuk meja yang dipenuhi oleh junkfood. “Eh, itu Pak Arga. Gue harus selesain malam ini. Gue ke sana dulu, ya. Doain!” serunya yang dengan cepat menitipkan gelasnya padaku.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang sambil memegangi dua gelas sirup merah, kulihat Dena tergesa-gesa berjalan menuju guru idamannya itu.

Pak Arga dengan rambut klimisnya yang memakai tuksedo hitam, berdasi hitam, celana kain hitam dan tentu saja sepatu hitam itu berdiri sedang mengobrol bersama guru-guru yang juga menikmati prom night. Perhatian Pak Arga sekarang tertuju kepada Dena yang menghampirinya dengan senyum sumringah khas Dena.

Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Dena sekarang, kenapa dia sesemangat itu padahal hatinya begitu terpecah belah, apa dia sudah tidak mengenal malu?

Aku memutuskan untuk bergabung di keramaian, tetapi lima menit kemudian aku sudah bosan dan duduk saja di tribun ruang olahraga super luas itu. Kenapa malam ini aku begitu sepi di tengah keramaian? Aku menyeruput coke, memejamkan mata lalu menghela nafas. Di mana Dena sekarang? Kenapa aku tak menemukannya di mana-mana? Apa dia sekarang sedang berdua saja dengan Pak Arga? Apa jangan-jangan dia dan Pak Arga... Ah tidak! Aku tidak boleh berpikiran buruk. Mungkin dia ada di tengah-tengah keramaian itu, sedang berdansa dengan Pak Arga. Ya, mungkin saja.

 Tiba-tiba di depanku berdiri seorang gadis yang rambutnya diurai sebahu, memakai dress ungu muda dan senyum yang terukir manis sedang menyulurkan tangan kanannya padaku. “Mau dansa? Lagunya lagi enak, lho!” Itu yang diucapkannya.

Aku tertegun, merasa bahwa ini mungkin akhir dari kebimbanganku malam ini. Kupikir tidak ada salahnya jika mencoba dengan orang lain. Ya, benar sekali. Aku memutuskan untuk menerima uluran tangannya, tetapi gagal. Tiba-tiba suara mungil itu menggelegar ditelingaku. “Seka, dansa yuk?”

Aku mengalihkan pandangan pada Dena yang berdiri di samping gadis yang mengajakku berdansa tadi dengan gerak gerik yang super semangat.

Sorry, Tar. Seka punya gue malam ini,” lanjut Dena yang sekarang tersenyum pada Tara yang wajahnya terlihat jengkel. 

Aku sungguh merasa bersalah dengan Tara, tapi aku harus mengikuti kata hatiku dan kata hatiku bilang bahwa aku harus menerima tawaran Dena untuk berdansa dengannya. Ya, itu keputusan paling tepat malam ini. Aku mengucap maaf pada Tara yang hanya membalas dengan senyuman jengkel.

“Gue pikir lo sibuk sama Pak Arga,” ucapku yang sekarang berada di tengah-tengah keramaian anak-anak yang asyik berdansa dengan pasangannya masing-masing.

“Nggak lah, cuman ngomong bentar tadi. Nggak usah bahas itu, deh. Aman, nggak ada apa-apa lagi,” jawab Dena dengan bibir yang melengkungkan senyumnya. Aku juga ikut tersenyum, lalu lagu Every Breath You Take dari The Police terdengar di telinga. Suasana berubah canggung. Aku tiba-tiba bingung harus melakukan apa. Dena yang sedari tadi menunduk lalu menegakkan tubuhnya. Tunggu, senyuman macam apa yang ada di wajahnya itu? Ya Tuhan, kenapa ciptaan-Mu yang ada di depanku sangat cantik malam ini?

Dena tiba-tiba tertawa. “Gue tau lo nggak bisa dansa dan gue juga nggak bisa. Tapi kenapa nggak kita coba?”

“Gimana caranya?” tanyaku balik.

“Perhatiin aja di sekeliling kita.”

Kemudian Dena mulai mendekatkan tubuhnya padaku, dia menarik tanganku lalu dilingkarkannya pada pinggulnya. Aku begitu gugup. Sumpah demi apapun. 

Dena menaruh kedua tangannya ke bahuku. Lalu kakinya bergerak mengikuti tempo lagu yang juga sekarang aku lakukan. 

“Udah, ikut-ikut aja. Selo, Sek.” Kata-katanya membuatku tenang dan kami berdua mulai menikmati aktivitas ini.

Aku tersenyum dan dia juga tak menghentikan senyumnya dari tadi. Lalu satu kalimat darinya membuatku ingin segera pulang ke rumah dan melompat-lompat di kasur sepuasnya, lalu berteriak sekencang-kencangnya. “Ajarin gue buat jatuh cinta sama lo, Sek.”

Satu hal yang tak dapat aku sangkal malam ini, satu hal yang selalu menggangguku selama ini, sekarang aku sudah berani menyimpulkan bahwa aku benar-benar menyukai Dena. Tidak, aku sayang padanya, lebih dari sahabat.

 

 

 

 *Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*

 

 

Written by Lidya Ulid
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar