GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: EDELWEISS

July 07, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY:-EDELWEISS

 

Mencintai seseorang diam-diam itu bagaikan menunggu angkutan umum yang mengetem lama. Kita harus sabar, menanti penumpang lain datang. Tapi sayang, kini Edelweiss menaiki angkutan kosong tidak bersupir. Tidak pasti sampai kapan ia harus menunggu.

 

Edelweiss Irisha Pelangi, gadis yang sedang menyesap pelan teh hangat di pekarangan belakang rumahnya itu terduduk diam. Tidak menyangka Ryan menghubunginya tadi malam. Mengajaknya bertemu siang nanti. Mimpi apa dia semalam? Pangeran kodok yang sudah ia nanti bertahun-tahun ini mengajaknya bertemu. Sebut saja ini dating. Harapan Edelweiss saja memang. Tapi tidak apa-apa kan? Setidaknya mungkin kini sang supir telah datang, menjalankan kendaraannya pelan-pelan tanpa perlu mengetem. Membiarkan angkutan terisi berangsur-ansur sambil berjalan.

"Hai Edelweiss" Ryan menatapnya, lalu terduduk dikursi kosong di depan Edelweiss yang terpana di tempatnya.

"Hai Kak" Edelweiss tersenyum. Hatinya bergemuruh kencang. Telapak tangannya berubah dingin. Seperti akan menghadapi Ujian Nasional, Edelweiss gugup. Masih tidak percaya, laki-laki yang biasanya hanya ia pandangi diam-diam, kini ikut memandangnya secara terang-terangan. Sampai ia tidak menyadari, bahwa sedari tadi tangan kanan Ryan tersimpan di belakang punggungnya. Menyembunyikan sesuatu yang tidak ia ketahui.

"Untukmu" ujar Ryan, menyimpan satu buket kecil bunga Edelweiss bewarna putih yang mempesona diatas meja.

"Bunga yang cantik untuk nama yang cantik," lanjut Ryan, dengan tatapan yang tidak lepas dari kedua manik mata Edelweiss yang mulai meredup.

Hati Edelweiss merasa sakit saat tahu Ryan memberikannya bunga abadi tersebut. Entah mengapa. Tapi melihat Edelweiss lain yang tersimpan dingin di atas meja sekarang, hatinya tersayat. Seharusnya, Anphalis Javanica ini dibiarkan hidup di habitatnya. Apa Ryan tahu? Bahwa bunga ini melambangkan keabadian? Bagaimana bisa melambangkan keabadian jika masih banyak pendaki yang merenggut hidup Edelweiss di habitat aslinya? Bisa- bisa Edelweiss punah, dan keabadian itu hanya mitos belaka.

"Saat pulang mendaki, aku melihat penduduk yang menjual bunga ini. Bunga Edelweiss, mengingatkannya kepada mu. Jadi aku membelinya."

"Terimakasih, tapi aku akan lebih senang bila Kakak tidak membelinya"

Alis Ryan terangkat, bingung dengan respon Edelweiss yang tidak ia sangka. Kenapa dengan gadis ini? Seharusnya ia merasa meleleh dengan ucapannya tadi. Untuk mendapatkan bunga ini tidak mudah. Harus memperjuangkannya dengan susah payah. Apa Edelweiss tidak jatuh kepadanya?

Tapi tak lama dari itu, Ryan tersenyum. Senyum manis yang mampu melelehkan Edelweiss. Yang membuat dirinya menjadi ikut tersenyum melihatnya. Sebersit rasa tidak percaya, senyuman yang selalu ia nikmati dalam diam itu kini ditunjukan kepadanya.

Sesak nafas. Ya melihatnya membuat kapasitas oksigen di paru-paru Edelweiss seolah direnggut habis. Gadis ini sampai lupa bernafas.

"Aku sampai lupa, untuk apa aku membeli bunga ini? Jika saat ini sudah ada Edelweiss yang lebih cantik duduk di hadapanku."

...

Siang ini cuaca sangat panas. Tetes-tetes keringat mulai jatuh dari pelipis Edelweiss yang sedang menjalankan tes olah raga di lapangan. Kulit putihnya mulai memerah kepanasan. Tidak seperti biasanya, Bandung sepanas ini. Ingin rasanya ia pulang saja, dan bermalas-malasan di dalam kamarnya yang sejuk. Membaca novel kesukaannya, sambil meminum Es Jeruk buatan Ibu. Bahkan bukan cuaca saja yang panas, hatinya pun ikut panas. Saat ia melihat satu bucket kecil bunga Edelweiss yang tidak asing untuknya digenggam oleh seorang gadis lain. Setelah memutuskan tidak mengambil bunga tersebut waktu itu. Rasanya tidak menyangka saja, Ryan malah memberikannya kepada seorang gadis yang tidak lain teman sekelasnya. Mengatakan gombalan tentang keabadian bunga Edelweiss yang Ryan lakukan juga kepadanya.

Edelweiss tersenyum getir, tidak menyangka Ryan menyalah artikan bunga kesukaannya. Bunga yang menjadi pandangan hidupnya selama ini.

"Kak, hiduplah seperti Edelweiss. Yang tidak mudah untuk didapatkan. Lalu cintanya akan abadi dengan tulus. Seperti Ayah dan Ibu yang mencintai Kakak" Ayah mengatakan hal itu di sela-sela rasa sakit yang dideritanya.

"Kakak juga cinta sama Ayah, Ayah jangan pergi" Kala itu Edelweiss hanya menyadari bahwa Ayah dan Ibunya mencintainya. Walau sebenarnya ada makna lain yang Ayah sampaikan sebelum menutup mata untuk selama-lamanya. Ayah ingin Edelweiss tetap kuat dan tidak mudah untuk dihancurkan. Edelweiss jadi ingat saat Ayah dengan semangat menggebu-gebu menceritakan kenapa ia dan Ibu memberikan nama tersebut kepada Edelweiss. Ibu sedang hamil anak pertama yaitu dirinya. Dan Ayah yang sangat hobi mendaki malah nekat mendaki bersama teman-temannya saat Ibu hamil tua. Dirinya terpana saat kedua matanya melihat hamparan bunga Edelweiss, ditambah dengan makna yang terkandung didalamnya. Dengan romantis, Ayah memberikan nama tersebut kepada dirinya. Ditambah dengan indahnya Pelangi untuk nama belakangnya. Edelweiss menjadi gadis yang terlahir dengan penuh harapan yang terdapat pada namanya.

"Aku kira kamu seperti Edelweiss yang akan abadi selamanya. Tapi kamu hanya Pelangi, yang indah untuk sementara"

Hancur sudah harapan Edelweiss, hubungan yang baru seumur jagung dengan Ryan kandas begitu saja. Sehari setelah Edelweiss melihat Sisca menggenggam buket bunga itu. Ryan datang ke rumahnya, mengatakan hal tersebut dengan enteng tanpa memikirkan keadaan Edelweiss. Ia lupa, dirinya bukan hanya bunga Edelweiss yang abadi. Tapi juga Pelangi yang indah hanya untuk sementara, khususnya bagi Ryan-mungkin-.

Mencintai seseorang secara diam-diam itu bagaikan menunggu angkutan umum yang mengetem lama. Karena kita bukanlah penumpang satu-satunya. Kita hanya salah satu dari mereka yang tidak akan bertahan selamanya di dalam sana.

...

Malam ini Ryan singgah di mimpi Edelweiss. Katanya, jika seseorang yang kita kenal muncul dimimpi kita, tu tandanya orang tersebut sedang merindukan kita. Benarkah? Jika memang benar, mungkin Edelweiss akan berada didalam mimpi Ryan setiap harinya. Edelweiss tersenyum miris mengingat hal itu. Tapi tidak apa-apa, setidaknya jiwa mereka bertegur sapa di dalam sana. Sayangnya hanya di dalam mimpi, tidak dikehidupan nyata. Karena faktanya Edelweiss dan Ryan tidak pernah berargumen lagi. Mereka sama-sama saling melupakan, saling bersandiwara membuat diri mereka masing-masing terlihat paling baik-baik saja, padahal diam-diam saling merindukan. Ah apa hanya Edelweiss saja yang kerap merasa rindu? Tapi mengapa Ryan sering muncul didalam mimpinya? Mengapa saat Edelweiss dan Ryan tidak sengaja bertemu, saat mata Edelweiss tak sengaja menemukan sosok Ryan, saat itulah manik mata Ryan juga melihat ke arah Edelweiss. Untuk seperkian detik mereka sama-sama saling menatap, hingga mereka sadar dan kembali berfikir tidak ada yang terjadi. Terkadang semenyedihkan itulah mereka...mereka yang dulu saling berusaha keras tetapi sekarang sama-sama membuat dinding pembatas.

...

Edelweis hanya ingin hidup seperti namanya. Bunga cantik yang tumbuh diketinggian diatas 2000mdpl. Belajar dari bunga ini tentang keabadian, ketulusan dan pengorbanan. Edelweiss hanya ingin cintanya abadi di satu hati. Walaupun ditempat dingin,tandus, ataupun ektrem sekalipun, perjuangan Edelweiss memang tidak bisa dihiraukan. Dan mungkin tempat itu adalah Ryan, kakak tingkatnya di sekolah. Ryan yang dingin dan tidak pernah menganggapnya .  Yang hanya  mampir sebentar untuk mempermainkannya.  Sayang seribu kali sayang, Edelweiss yang sudah tumbuh akan hidup abadi. Saat ini, perasaannya kepada Ryan sudah bulat. Bahkan sebelum Ryan hadir menyapanya, Edelweiss sudah jatuh ke dalam pesona lelaki itu. Tapi gadis berponi ini ingat, dirinya bukan hanya Edelweiss, dirinya adalah Edelweiss Irisha Pelangi. Gadis yang indah sementara untuk Ryan, dan akan abadi untuk hati yang mungkin akan dipertemukan Tuhan nanti.

Edelweiss tersenyum getir mengingat sesuatu, mungkin Ryan sama seperti pendaki nakal lainnya. Yang memetik Edelweiss dengan bangga, mengatakan sebagai bukti cinta. Lalu membuangnya begitu saja saat tahu ada bunga lain yang lebih jelita.

 

 

  *Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*

 

 

Written by Sheffina Ryqia
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar