GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: DUNIA KESHA

September 09, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-DUNIA-KESHA

 

Telah satu minggu dua hari Kesha tidak masuk kuliah. Pikirannya kacau. Kesha bertengkar dengan ayah. Ia memilih pergi dari rumah. Untung ada Rena berbaik hati menampungnya di kamar kontrakan. Perang dunia ketiga pecah. Ayah marah besar. Kesha yang telah lama memendam kekesalan akhirnya meledak, mengeluarkan lahar panas dari dada. Tidak tahan terus-terusan dijadikan seperti robot yang dikendalikan remote control.

 

“Mau jadi apa kamu. IP satu koma. Bikin malu.”

Wajah ayah merah menahan amarah.

“Dari awal aku tidak berminat jadi dokter. Duniaku adalah musik dan tari.”

Kesha menatap wajah sangar ayah. Ia tahu ayah sangat membenci kedua kata itu.

“Mana kamu pilih, meneruskan kuliah atau keluar dari rumah bila tetap dengan hobi gilamu itu.”

Kesha tidak diberi kebebasan untuk memilih. Apakah jadi dokter menjamin kebahagiaan di masa datang? Andai ada pilihan ketiga, ia lebih baik tidak dilahirkan.

“Seumur hidupku akan membohongi hati nurani bila menjadi dokter.”

Kesha menyambar ransel dari atas meja. Ia pergi. Kesha hanya menggertak. Ia pikir ayah akan melarang. Ternyata benar-benar membiarkannya pergi. Kesha teringat masa kecilnya penuh warna. Sering menangis kala ibu tak mengijinkan ia ikut ke pasar. Untung ia punya ayah super baik. Ayah akan memutar lagu Koes Plus agar ia berhenti menangis.

Sabtu malam moment yang ditunggu Kesha. Ayah akan mengajak mereka dinner di luar. Sambil bersantap, ia bisa menikmati sekelompok gadis menari dengan gemulai. Tarian itu khusus disuguhkan pada para pengunjung restauran. Kesha terpukau saat penari bergerak ke sana ke mari. Tangan mereka melambai di udara. Satu kaki menjinjit di lantai dan satu lagi diangkat ke atas. Mereka berputar-putar seperti gasing. Tarian telah menyentuh hati Kesha sejak kecil. Ayah yang mengenalkan Kesha pada musik. Ayah pula  yang buatnya tergila-gila pada lagu Koes Plus.

“Mengapa semua ini dilimpahkan padaku.”

Teriak Kesha. Di luar kamar terdengar suara derap langkah dan berhenti di depan pintu. Rena baru pulang kuliah. Lekas merapikan rambutnya yang acak-acakan.

“Lari dari rumah berarti sudah rela menderita. Ini Koran. Ada lowongan kerja di salah satu restauran. Tunjukkan pada ayahmu bila pilihanmu itu benar. Lagi pula, aku ogah berteman sama anak orang kaya mendadak kere.” Canda Rena begitu masuk.  Kesha memasang muka cemberut dikatai demikian.

****

“Selamat datang.”

Kalimat itu diucapkan Kesha saat bekerja sebagai pelayan restauran. Gajinya tidak seberapa bila dibanding uang jajannya ketika masih di rumah. Namun kini, ia lebih menikmati hidup meski uang pas-pasan. Tidak ada waktu terbuang. Mesti ke kampus sehabis kerja. Ia berpindah kejurusan seni musik. Memilih kelas malam karena pagi hingga sore mesti bekerja di restauran.

Minggu pagi, hal biasa melihat Kesha masih di tempat tidur. Tak seorang pun berani membangunkan. Apa lagi melihat tulisan di atas meja: Buaya sedang tidur. Jangan diganggu. Nanti kalian dimakan. Kali ini, Rena tidak mengindahkan tulisan itu. Ia menguncang tubuh Kesha sembari berteriak. Kesha menggeliat sebentar, lalu menarik selimut kembali.

“Aku masih ngantuk.”

Kesha mengintip dari balik selimut dekilnya.

“Ada berita bagus. Kamu menang lomba cipta lagu yang diselenggarakan salah satu stasiun televisi.”

Rena menjitak kepala Kesha. Keadaannya masih setengah sadar.

“Aku tidak pernah kirim. Malah tidak tahu bila ada cara begituan.”

“Lagu kamu yang kita rekam itu, diam-diam aku kirim ke panitia lomba.”

Seketika mulut Kesha ternganga tak percaya. Mereka berdua berpelukan, lalu melompat-lompat di atas ranjang saking senangnya.

****

Hidup adalah misteri. Tak seorang pun tahu apa yang terjadi satu detik ke depan. Hidup juga seperti baling-baling yang berputar cepat. Ada orang kaya tiba-tiba jatuh miskin. Sebaliknya, orang miskin bisa mendadak jadi kaya. Kenal Sushil Kumar? Pria miskin dari India mendadak kaya karena memenangkan kuis di televisi.  David Choe, seorang pelukis jalanan melukis mural di kantor pusat facebook kala situs jejaring itu baru didirikan. Ia ditawari uang tunai atau saham facebook sebagai bayaran. Ia memilih dibayar dengan saham. Siapa sangka, pilihan itu mengubah dirinya menjadi kaya raya.

Demikian dengan Kesha. Hidupnya berubah gara-gara rekaman itu. Wajahnya kerap muncul di televisi membawakan lagu ciptaannya sendiri. Kesha masih menyempatkan diri latihan musik dan tari meski sangat sibuk. Musik dan tari telah menyatu dengan hidupnya. Di konser mininya bulan depan, ia akan menunjukkan sisi lain dari dirinya.

****

Musik menghentak. Sepasang manusia berlari ke tengah panggung. Dialah Kesha bersama seorang pria menjadi pasangannya menari. Kesha merasakan betapa kuat jiwa seni mengalir dalam tariannya. Tangan diangkat ke atas. Kaki kanan berjinjit di lantai. Ia memutar tubuh dengan sempurna seperti seekor angsa betina sedang digoda angsa jantan. Penari pria berlari ke arah Kesha, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Dan musik pun berhenti. Gemuruh tepuk tangan menghantar mereka kembali ke balik panggung. Lampu meredup. Beberapa detik kemudian panggung kembali terang. Kesha telah berdiri di tengah panggung. Penonton kembali riuh ketika ia bernyanyi.

“Terima kasih untuk semua yang hadir di sini. Ada suatu hal ingin aku sampaikan kepada seseorang.” Ucap Kesha setelah selesai menyanyikan sebuah lagu. Suasana menjadi hening.

“Aku sangat bahagia beliau berada di sini. Terima kasih sudah datang. Ayah, aku mencintaimu.  Kesha rindu ingin memeluk ayah. Tolong ajak Kesha kembali ke rumah.”

Kesha tak kuasa menahan tangis. Berharap ayah berdiri dan merenggangkan kedua tangannya. Beberapa menit telah berlalu. Ayah tak bergeming dari tempat duduk. Sepertinya belum memaafkan Kesha. Dengan langkah gontai, Kesha berbalik meninggalkan panggung. Namun sebuah nyanyian menahan langkahnya. Nyanyian itu mengingatkan ia akan masa kecilnya.

Andaikan kau datang kembali

Jawaban apa yang ‘kan kuberi

Adakah jalan yang kau temui

Untuk kita kembali lagi……

Suara ayah begitu merdu di telinga Kesha. Lagu itu terhenti. Lampu dan kamera tertuju pada sosok laki-laki tua berdiri dari antara penonton. Ayah menangis. Kesha berlari ke bibir panggung menyongsong laki-laki tua yang sangat ia sayangi. Kesha melanjutkan nyanyian yang sempat terhenti.

Bersinarlah bulan purnama

Seindah serta tulus cintanya

Bersinarlah terus sampai nanti

Lagu ini kuakhiri……

Mereka berdua berpelukan, menumpahkan rindu telah lama terpendam. Ibu tersenyum. Anak dan suaminya telah berdamai. Kisah petualangan hidup Kesha berakhir bahagia. Penonton kembali bertepuk tangan.

 

 

Written by Dody Wardy Manalu
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar