GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: DUA PILIHAN

June 10, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-DUA-PILIHAN

 

Gendis duduk termenung di bangku taman sekolah. Tangannya terlihat memegang beberapa brosur berbagai macam perguruan tinggi negeri. Sebagai siswa kelas dua belas SMA semester akhir, dia seharusnya sudah menentukan pilihan akan berkuliah di mana. Namun pikirannya masih galau. Keinginannya untuk menjadi arsitek seakan semakin menjauh.

 

“Hai, kok melamun,” kata Lia, sahabatnya yang tiba-tiba datang. “Sudah menentukan akan kuliah di mana?”

“Eh, belum. Aku masih bingung,” jawab Gendis.

Gendis teringat ucapan Bapak yang selalu menyarankan kuliah di kampus pendidikan, agar kelak menjadi guru SD. Setiap membicarakan kuliah, Bapak selalu meminta Gendis untuk kuliah PGSD. Gendis jengkel karena impiannya adalah membangun gedung atau bangunan yang indah. Ketika dia mengutarakan keinginannya itu Bapak selalu marah.

Gendis merasa diperlakukan tidak adil oleh Bapak. Mas Banyu, kakaknya, dulu boleh kuliah di Universitas Indonesia. Tapi dirinya tidak diperbolehkan kuliah di ITB. Kata Bapak cukup di Malang saja, agar dirinya bisa pulang minimal seminggu sekali. Sungguh permintaan yang menurut Gendis agak dibuat-buat.

Bapak adalah seorang petani di desa daerah pinggiran Malang. Dulu Bapak mendapat warisan berupa sepetak sawah dari Kakung. Dengan kerja kerasnya sebagai petani dan berdagang, sawah Bapak bertambah luas. Bapak bisa menyekolahkan Banyu dan Gendis. Bahkan Bapak rela menjual sebagian sawahnya untuk biaya kuliah Banyu. Tapi Bapak hanya lulusan SMP yang tak tahu banyak tentang perkembangan pendidikan saat ini. Yang Bapak tahu, Bapak bekerja hanya untuk kedua anaknya.

“Kamu kan pintar Ndis, rugi kalau kamu tidak jadi ambil kuliah arsitek di ITB,” kata Lia.

Dalam hati Gendis membenarkan perkataan Lia. Namun bagaimana dengan reaksi Bapak kalau dia nekat kuliah di Bandung? Bapak orangnya keras. Setiap permintaannya selalu ingin dituruti.

“Baiklah, nanti aku akan coba bicara lagi ke Bapak. Semoga kali ini Bapak setuju,” kata Gendis.

Hatinya mantap untuk bicara dengan Bapak, kalau perlu dia akan sedikit ngotot demi meraih impiannya itu.

“Nah, begitu dong. Punya cita-cita harus diperjuangkan, jangan diam saja,” Lia berkata sambil tertawa kecil.

Sore itu, Gendis melihat Bapak sedang duduk di kursi kayu di teras rumah. Rumah Gendis adalah rumah lama berbentuk joglo. Meski sudah mengalami renovasi, rumah itu masih menyisakan arsitektur joglonya. Bagian bale yang digunakan untuk ruang tamu  masih terdapat empat buah soko atau tiang kayu. Di bagian dalam juga ada ruang yang disebut senthong untuk menyimpan hasil pertanian. Konon kata orang, ruang itu tempat bersemayam Dewi Sri. Sebelah kiri senthong ada pawon tempat Ibu memasak.

Bapak sedang menyeruput kopi dari cangkir porselen bergambar angsa sambil menatap halaman rumah yang ditumbuhi rumput Cynodon dactylon. Kebiasaan Bapak setelah pulang dari sawah adalah duduk santai sambil menikmati kopi panas buatan Ibu. Katanya, itulah saat yang paling bahagia setelah bekerja seharian di sawah.

Gendis masih bimbang untuk mendekati Bapak. Dia masih terpaku di depan pintu kamarnya. Namun setelah memantapkan hati, kaki Gendis mulai melangkah maju menuju teras. Dengan santai dia duduk di samping Bapak. Bibirnya terkunci, Gendis bingung harus memulai dari mana.

Ibu muncul dari dalam rumah sambil membawa sepiring pisang goreng hangat. Ibu kemudian ikut duduk bersama keluarga kecilnya itu. Gendis sedikit lega, Bapak tak bisa marah kalau ada Ibu. Kalaupun Bapak marah, Ibu yang akan meredakan emosi Bapak. Gendis mengambil napas panjang.

“Pak, Gendis mau bicara soal kuliah Gendis,” kata Gendis pelan-pelan.

Bapak menoleh, meletakkan cangkir kopinya lalu menatap anak bungsunya tersebut.

“Kamu sudah daftar di PGSD kan, Nduk?” kata Bapak. “Jadi guru itu enak lo Nduk, nanti kalau sudah kerja bisa pulang cepat, banyak liburnya, disegani pula di desa kita ini. Lihat, Mbak Sari anaknya Pak Man, dia senang sekali bisa mengajar di SD. Katanya ilmunya bisa bermanfaat dan ingin anak-anak di sini lebih maju. Kamu ndak pingin seperti dia?”

Gendis menatap Bapak, dia tak menyangka Bapak akan langsung berkata seperti itu. Gendis menarik napas panjang kemudian berkata.

“Tapi, Gendis ingin kuliah di Bandung Pak. Gendis tetap ingin jadi arsitek.”

Wajah Bapak seketika memerah. Matanya menatap tajam ke arah Gendis. Gendis menunduk, dia takut melihat Bapak.

“Kamu harus kuliah di Malang, jangan kuliah di Bandung,” kata Bapak dengan suara tinggi.

“Bapak kok gitu sama Gendis. Dulu Mas Banyu boleh kuliah di Jakarta, masa aku tidak boleh.”

“Banyu itu laki-laki, harus tanggung jawab sama anak istri. Jadi harus kuliah tinggi,” Bapak memberi penjelasan.

“Kenapa Bapak membedakan aku dengan Mas Banyu?”

“Kalau Bapak bilang ndak boleh ya ndak boleh.”

“Bapak, kok gitu. Coba kasih Gendis satu alasan yang masuk akal dan bisa Gendis terima,” tantang Gendis.

“Sudah-sudah, jangan ribut di depan rumah. Pamali,” kata Ibu berusaha melerai.

Bapak terdiam beberapa saat dan tampak memikirkan sesuatu. Ketika Bapak hendak bicara, Gendis tiba-tiba memotong ucapan Bapak.

“Bapak pilih kasih, tak adil. Gendis benci sama Bapak.” tubuh mungil Gendis lalu berlari menuju kamar meninggalkan kedua orang tuanya.

Air mata menetes di pipi Gendis. Dari sudut matanya, gadis ayu berkulit kuning langsat itu melihat Ibu berusaha berbicara dengan Bapak. Tak berapa lama terdengar pintu kamar dibanting. Gendis mengunci diri. Dia menelusupkan wajahnya di antara dua bantal dan menangis sejadi-jadinya

Gendis tak tahu sudah berapa lama dia tertidur, dia bangun ketika mendengar ketukan lirih di pintu kamarnya. Rasa sakit itu membuat dia enggan keluar dari kamar. Namun suara ibu menuntunnya untuk mulai beranjak dari tempat tidur dan mulai membuka pintu.

Ibu berdiri dengan senyum hangat di depan kamarnya. Berdua mereka kembali masuk kamar dan duduk di tempat tidur Gendis. Ibu mengelus rambut Gendis yang lurus dan panjang. Ibu mulai bercerita tentang masa lalu mereka, saat Banyu dan Gendis masih kecil. Masa-masa mereka harus berjuang hidup. Saat keluarga mereka belum mapan seperti sekarang ini.

Gendis terbawa suasana, dia ingat setiap cerita Ibu. Ingat ketika dulu dia harus menunggu lama hanya untuk bisa dibelikan sepeda oleh Bapak. Saat Bapak mengantar Gendis ke kecamatan untuk mengikuti lomba menyanyi. Lalu ketika Bapak tergopoh-gopoh menggendong Gendis yang saat itu kesakitan karena jatuh dari sepeda. Gendis ingat betul wajah cemas yang terpancar dari wajah Bapak.

Dialihkan pandangannya ke salah satu sudut kamarnya. Di sana tergantung foto lama Bapak dan Gendis yang membawa piala, hanya berdua. Gendis ingat itu foto saat Gendis menang lomba menyanyi di kecamatan. Tiba-tiba dia merasa sangat bersalah pada Bapak.

Nduk, Ibu tahu kamu kecewa sama Bapak. Tapi Ibu mau cerita apa alasan sesungguhnya yang membuat Bapakmu ngotot minta kamu kuliah di Malang saja,” Ibu mulai bicara serius dengan Gendis.

Gendis memandang wajah Ibu. Baru kali ini dia menatap wajah Ibu lekat-lekat. Di wajah Ibu mulai terdapat kerut halus di bagian bawah mata dan di atas bibir. Gendis baru sadar jika Ibu ternyata sudah mulai menua.

Gendis memasang telinga, dia benar-benar ingin tahu apa yang membuat Bapak menghalangi impiannya. Ibu mulai cerita tentang Mas Banyu yang dulu kuliah di Jakarta dan saat ini sudah berkeluarga serta tinggal di sana. Istrinya yang asli orang Jakarta membuat Banyu harus menetap di sana.

“Bapak itu sayang sama kamu, Nduk. Bapak ndak mau kehilangan kamu,” kata Ibu.

Ibu melanjutkan cerita jika Bapak tidak ingin kejadian seperti Banyu terulang pada Gendis. Bapak takut jika Gendis kuliah di Bandung, kemudian mendapat jodoh orang jauh dan akhirnya meninggalkan Bapak dan Ibu berdua di Malang. Gendis sadar jika Mas Banyu memang jarang pulang. Bahkan sudah setahun ini Mas Banyu tak mengunjungi mereka.

Perlahan Gendis bisa menerima alasan Bapak melarangnya kuliah jauh. Bapak dan Ibu takut jika masa tuanya hanya dihabiskan berdua saja tanpa ada anak-anak yang merawatnya.

“Banyu memang sukses, tapi apa arti kesuksesan itu jika membuatnya jauh dari orang tua?” kata Ibu di akhir cerita.

Kata-kata Ibu sangat membekas di hati Gendis. Gendis merasa bersalah karena telah melontarkan kata-kata kasar pada Bapak.

“Tapi, Gendis masih tak ingin jadi guru SD Bu.”

“Bicaralah sama Bapak, tadi Ibu juga sudah membicarakan masalah ini dengan Bapak. Buat keputusanmu, ikuti kata hati nuranimu,” Ibu berkata seraya beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Gendis.

Gedis terdiam, pikirannya melayang. Dia harus membuat keputusan apakah dia tetap kuliah di Bandung seperti mimpinya? Atau menuruti kata Bapak untuk kuliah di Malang dan melupakan impiannya menjadi arsitek?

Akhirnya dengan berat hati Gendis mulai beranjak dari kamarnya. Dia sudah memantapkan hati. Gendis harus menemui Bapak dan menyampaikan keputusannya. Tak boleh ada yang ditunda lagi.

Gendis mencari Bapak di dapur. Di meja makan terlihat Ibu dan Bapak sedang duduk. Ibu mulai menyiapkan makan malam. Perlahan tapi pasti, Gendis mulai mendekati Bapak. dia mengambil tempat duduk tepat di depan Bapak. Wajah Bapak masih menyisakan sedikit emosi tadi sore. Bapak diam saja, bahkan mulai mengambil nasi di piring tanpa memandang Gendis.

“Pak, Gendis tetap tidak ingin ambil kuliah PGSD. Gendis tetap akan ambil jurusan arsitek seperti cita-cita Gendis selama ini,” kata Gendis.

Bapak tetap tak menghiraukan Gendis, seolah-olah Gendis tidak berada dihadapannya. Gendis tahu Bapak masih marah. Hanya Ibu yang tiba-tiba memandangnya dengan sungguh-sungguh.

“Gendis putuskan Gendis ambil kuliah arsitek di UB saja Pak. Kalau Bapak ingin Gendis jadi guru. Gendis janji nanti selesai kuliah Gendis akan berusaha untuk langsung kejar S2 dan melamar jadi dosen di Malang.  Gendis tak hanya jadi guru Pak tapi bisa menjadi guru dari calon guru.”

Meski Bapak tak menjawab, namun Gendis melihat sedikit senyum terukir di wajah Bapak. Dalam hati Gendis juga berjanji tak akan meninggalkan Bapak dan Ibu seperti Mas Banyu.

 

 

 

 *Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*

 

 

 

Written by Ni’mah Faadlilah
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

1 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar

    AP Mahardhika
    Cara penyampaian yang halus dan berusaha sebisa mungkin agar tidak vokal. Keren :-)

    June 15, 2018 1:34 pm