GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: DI SUDUT LAPANGAN

August 05, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-DI-SUDUT-LAPANGAN

 

Dia menemukan gadis itu lagi. Di siang hari ketika sinar matahari mulai redup. Seketika pikirannya terbang ke masa dimana gadis itu masih menganggapnya sebagai pusat semestanya. Setumpuk kartu ucapan yang selalu ia kirim setiap bulan, beberapa coklat serta sebuah bunga mawar plastik. Ia merindukan saat itu.

 

Ia terlonjak, ia melupakan fakta bahwa gadis yang tengah ia pandangi itu telah resmi menjadi pacar Jonathan–seorang kapten sepak bola di kampus yang juga teman sejurusan dengannya–sebulan  yang lalu. Ia kembali berjalan sambil menatap lurus jalanan di depannya.

Beberapa bayangan muncul bergantian. Ketika gadis itu berjalan berama Jonathan. Gadis itu tampak senang sementara Jonathan hanya tersenyum sekilas lalu kembali menatap layar ponselnya.

Ia sangat tahu, Jonathan biasanya berkencan dengan tiga gadis sekaligus, dan gadis-gadis itu tidak pernah resmi menjadi pacar Jonathan. Paling lama, Jonathan hanya bisa bertahan satu minggu dengan satu gadis. Tapi kali ini, Nasya, gadis itu bisa menjalin hubungan dengan Jonathan dalam waktu satu bulan. Paling lama. Dan ia tidak bisa menerima ini semua. Belakangan, ia melihat Jonathan beberapa kali sedang makan dengan gadis lain ketika Nasya menunggunya di sudut lapangan. Satu-satunya tempat yang dikunjungi Nasya ketika menunggu pacarnya. Jonathan tidak pantas untuk Nasya. Diam-diam ia merutuk dalam hati.

Ia sampai di sebuah studio kecil di pinggir jalan ketika namanya dipanggil oleh seseorang di belakang.

“Alana!” Ia menghampiri dan membuka pintu di depannya. “Wah, kita yang pertama.” Bagas berkata menatap Ruangan yang kosong. Sebuah studio kecil sewaan yang cukup dekat dengan lokasi kampus mereka. “Aku akan keluar sebentar mencari minuman.” Bagas meletakkan tasnya.

Lana terdiam dan hanya mengagguk menatap kepergian temannya. Ia menurunkan tas gitar di punggungnya, lalu membukanya. Gitar kesayangan yang selalu ia bawa kemanapun. Setelah menyetel gitarnya, Ia memandangi ruangan sekilas. Kesunyian yang memenuhi ruangan itu membuatnya teringat kembali pada Nasya. Lana mendesah dan memejamkan mata. Ia menyesal kenapa waktu itu mulutnya terkatup dan tidak bisa mengatakan apapun pada gadis itu. waktu yang pertama dan terakhir bagi Lana untuk menatap mata hitam Nasya yang penuh kebahagiaan. Sebagai gantinya, ia malah meninggalkan gadis itu dengan kartu ucapan, coklat berbentuk hati serta bunga mawar plastik yang terbalut dengan pita merah yang rapi, membuat gadis itu kecewa. Dan sekarang, Ia merasa kesal ketika mengetahui gadis yang sebulan lalu baru saja menyatakan bahwa ia menyukainya itu berkencan dengan cowok lain.

   Cukup! Lana berteriak dalam hati sambil membuka matanya. Ia menatap dawai gitarnya dan memainkannya perlahan. Ia memainkan sebuah intro dan menyanyikan sebuah melodi yang sering ia dengarkan.

Sungguh kusesali, nyata cintamu kasih

Tak sempat terbaca hatiku, malah terabai olehku

Lelah kusembunyi, tutupi maksud hati

Yang justru hidup karenamu, dan bisa mati tanpamu

Andai saja aku masih punya kesempatan kedua

Pasti akan kuhapuskan lukamu, menjagamu, memberimu, segenap cinta.

Plok...plok...plok....

Sebuah tepukan menghentikan alunan lagunya. Ia melihat pintu yang sudah terbuka. Tepat di mulut pintu itu, berdiri tiga laki-laki yang sedang tersenyum ke arahnya.

                “Wow....lagu yang sangat  indah.” Juna berjalan memasuki ruangan sambil melirik Lana yang mulai salah tingkah.

                “Terlalu fokus sampai tidak mendengar langkah kita yang berisik.” Nino menambahkan. “Sepertinya lebih fokus daripada konser kita yang terakhir.” Nino mendelik pada Juna dan Bagas yang menahan tawa.

                “Hei...! tadi itu hanya–“ Lana  ingin menyela, tapi buru-buru dihentikan oleh Bagas.

                “Cukup. Kita tahu.” Bagas merentangkat telapaknya di depan wajah Lana. “Apa kalian tidak merasa, lagu-lagu yang kita mainkan belakangan ini sedikit....” Bagas memainkan tangannya.

                “Sendu.” Nino menyambar. Ia menganggukkan kepala pada Juna dan Bagas.

                Mereka menahan tawa. “Ngomong-ngomong, lagu apa yang baru saja kau nyanyikan?” Juna menyelesaikan gurauan mereka. Ia memegang gitar dan sedang menyetelnya.

                “Ah, aku mendengarnya dari radio. Itu lagu lama yang dinyanyikan sebuah grup musik. Aku cukup menyukainya dan sering mendengarkannya.”

                “Bagus. Bisa kita mainkan sesekali.” Juna berkomentar lagi. Ruangan berubah berisik karena mereka berempat sedang menyetel alat musik masing-masing, dan Lana menyenandungkan lagu yang belum sempat ia selesaikan tadi tanpa merasa terganggu.

                “Oke, siap?” Juna bertanya ketika ruangan mendadak hening.

                Lana berpaling menatap mereka bertiga, mengangguk pelan, lalu mulai memetik gitarnya. Petikan itu seakan arus listrik yang memancing semua alat musik beradu dan membentuk sebuah melodi yang indah. Mereka mulai bernyanyi. Pada sebuah nada, Lana mulai menyuarakan isi hatinya. Dengan membayangkan seorang gadis yang telah mencuri hatinya.

Masing – masing dari mereka sangat menikmati setiap permainan alat musiknya. Bagi mereka berempat, musik adalah segalanya setelah hujan. ‘The Rain’, Band yang mereka namai karena kesukaan mereka pada hujan. Menurut mereka, hujan memiliki kekuatan untuk menumbuhkan inspirasi sekaligus ketenangan. Dan musik membuat mereka bebas dalam kehidupan yang serba terbatasi. Tanpa terasa, hari semakin gelap ketika mereka menghentikan permainannya.

Hari berubah gelap ketika mereka memutuskan menyudahi latihannya. Di luar, hujan lebat sedang mengguyur dan mereka segera keluar ruangan dan menerobos hujan, menikmati hujan sambil kembali ke rumah masing-masing.

Lana berjalan sambil mengenakan tudung jaketnya. Ia berjalan pelan di sela – sela atap rumah yang menyembul keluar, menyisakan sebuah ruang sempit untuk meneduh pejalan kaki seperti Lana.

Mendadak langkahnya terhenti ketika menatap sebuah sosok yang sangat ia kenal. Matanya membulat. Nasya? Apa yang dia lakukan di tengah hujan begini? Tanpa pikir panjang, Lana berlari ke arah taman yang sudah sepi. Ia menghampiri gadis itu.

“Nasya! Apa yang kau lakukan di tengah hujan begini?” Lana berkata setengah berteriak karena suara hujan yang memekakan telinganya.

Gadis itu mendongak dan terkejut. “Alana!” Suaranya parau dan sangat pelan.

“Ini hujan. Apa yang kau lakukan!” Lana bertanya kesal karena gadis itu malah bungkam. Ia berdiri dan menatap Lana. Meskipun hari sedang hujan, Lana tahu bahwa mata gadis itu sedang menyimpan genangan air yang sedang ia tahan. “Aku...hanya...” Nasya terdiam.

“Nasya. Pulanglah! Ini hujan!” Lana memegang kedua bahu gadis itu ketika ia menunduk. Gadis itu terkejut karena sentuhan Lana dan langsung menatapnya.

“Tidak! Lana, aku–“ belum selesai ia berkata, Lana sudah menutp mulut gadis itu dengan jemarinya yang basah. Gadis itu terkejut dan kembali menatap Lana.

Badannya hangat. Lana bisa merasakan gelombang panas yang menguar dari wajah gadis itu. Sekedar memastikan semuanya baik-baik saja, Lana beralih menyentuh dahi Nasya. Matanya membulat. Dia demam. Belum sempat Lana berkata, Nasya sudah terjatuh diatas rumput.

“Nasya!” Lana panik memperhatikan wajah Nasya yang pucat. Tanpa pikir panjang, ia menaikkan tubuh Nasya di atas tubunya. “Nasya, bertahanlah!” Gumamnya ketika rambut sebahu Nasya jatuh mengenai wajahnya. Ia terus berjalan menerobos hujan.

-0-

“Lana, apa yang kau lakukan? siapa itu?” Ibunya bertaya histeris ketika Lana tiba-tiba memasuki rumah.

“Ini teman Lana, Bu. Dia demam dan tiba-tiba pingsan. Lana tidak tahu rumahnya. Jadi, Lana bawa pulang.”

“Tidurkan di kamar Naila.” Mamanya menjawab cepat.

Dengan sigap, Lana menuju kamar Adiknya dan meletakkan Nasya dengan hati-hati di atas tempat tidur.

Lana kembali ke melihat keadaan Nasya ketika ia telah mengeringkan tubuh dan mengganti bajunya. Ia menatap Nasya yang sedang terbaring menggunakan pakaian milik adiknya. Lana tersenyum melihat gadis itu tidur dengan sangat pulas. Sepertinya ia kelelahan. Lana menatap lekat-lekat, gadis itu seakan sedang tersenyum padanya. Senyum yang sama ketika pertama kali mereka bertemu di depan loker Lana.

“Apa yang kau lakukan di taman itu sendirian, Sya? Kau tahu ‘kan, Jonathan tidak lagi mempedulikanmu. Tetapi kenapa kau masih peduli padanya?! Harusnya aku berkata sesuatu saat itu.” Lana berkata pada dirinya sendiri sambil menatap wajah Nasya.

Ketika hujan  telah berhenti, orang tua Nasya datang menjemput gadis itu. Ibu Lana segera membangunkan Nasya dengan lembut. Mata gadis itu terlihat ketakutan dan terkejut ketika menatap Lana. Namun, perempuan separuh baya di depannya menjelaskan semuanya.

“Terimakasih.” Katanya pelan dan parau pada Lana dan Ibunya.

“Orang tua kamu sudah menunggu di ruang tamu. Tante ke luar dulu, bersiap-siaplah!.” Perempuan itu berdiri dan meninggalkan Lana berdua dengan Nasya.

Lana sangat gembira melihat Nasya yang telah bangun. “Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit? Mana yang sakit?” Lana terus bertanya meski Nasya tidak juga menjawabnya. Gadis itu malah menyingkap selimut dan beranjak berdiri, namun hampir jatuh.

“Pelan – pelan!” Lana memberi instruksi ketika menangkap tubuh Nasya.

“Terimakasih, Lana.”

Lana terdiam, ia mengamati Nasya yang membereskan tas dan sepatunya. Ketika Nasya berjalan, tiba – tiba Lana memeluknya. Mata Nasya membulat.

“Maaf, Sya! Maaf karena meninggalkanmu waktu itu. Maaf karena aku tidak menjawab pertanyaanmu waktu itu. Maaf karena membuatmu kecewa.” Lana mengatakannya berkali-kali.

Nasya tercengang. Waktu itu?meninggalkanku?Pertanyaanku? Nasya kemudian mengangguk dan melepaskan pelukan Lana.

“Alana, kau tidak membuatku kecewa. Hanya aku yang bodoh.” Ia tersenyum tipis.

Mereka berpandangan sejenak.

“Em, orang tuaku sudah menungguku.” Nasya berkata.

“Baiklah, tunggu!” Lana mengambil sebuah jaket yang tergeletak di ujung tempat tidur. “Di luar dingin karena huja baru saja berhenti. Pakai ini agar tidak kedinginan.” Lana memakaikan Jaket pada Nasya, sementara Nasya tersenyum senang karena merasa diperhatikan oleh seseorang. Sesuatu yang selama ini sangat ia inginkan.

“Terimakasih!” ia mendongak menatap Lana yang membalasnya dengan senyuman.

“Aku yang seharusnya berterima kasih. Kau telah mengajarkanku bahwa berkata jujur itu sangat penting.” Ia menatap Nasya lekat-lekat, lalu berjalan mengikuti Nasya ke ruang tamu setelah gadis itu tersenyum lega padanya.

Perlahan semuanya membaik. Lana tidak pernah lagi melihat Nasya menunggu di sudut lapangan. Ia juga tidak lagi melihat Nasya jalan berdua dengan Jonathan. Diam-diam Lana bersorak dalam hati. Mungkin saja mereka berdua sudah putus. Katanya pada dirinya sendiri. Siang itu, dengan membawa gitar kesayangannya, ia bertemu Nasya sedang berjalan sambil membaca buku. Saat itu juga Lana mempunyai rencana konyol untuk menunjukkan perasaannya pada Nasya. Ia menghampiri Nasya dan menarik tangan gadis itu menuju halaman fakultasnya. Di sana, sudah terdapat panggung kecil yang sudah dikerumuni beberapa anak. Lana terus menarik tangan Nasya menerobos kerumunan itu. Dengan pandangan terkejut sambil menutup mulutnya, kerumunan yang didominasi gadis-gadis itu sontak mendesis dan menatap Lana dan Nasya.

“Lana, Ada apa ini?” Nasya bertanya sambil menatap beberapa pasang mata yang memandanginya.

“Aku ingin menunjukkan sesautu padamu.” Lana menjawab dengan senyum lebar.

Lana meninggalkan Nasya menuju panggung kecil di depannya. Ketiga temannya terkejut dengan sikap Lana. Tetapi, mereka lega karena akhirnya Lana mengetahui yang sebenarnya ia inginkan. Kerumunan bertambah Banyak dan itu mengisyaratkan pada ‘The Rain’ untuk memulai permainannya.

Musik dimainkan, dan Lana menyanyikan sebuah lagu sambil terus menatap Nasya dalam-dalam.

Kamu yang kini... memikat hatiku

Sungguh ku ingin, lebih dekat denganmu

Beri aku waktu, tuk buktikan kepadamu

Sungguh ku ingin, memiliki hatimu...

Semakin ku memikirkanmu, semakin ku menggilaimu

Kau bintang di hatiku, terangi setiap langkahku...

Nasya ternganga. Ia bertanya-tanya apakah lagu ini adalah suara hati Lana? Nasya tersenyum tipis dan wajahnya mendadak merona. Entah kenapa tatapan Lana membuatnya luluh dan larut ke dalam lagu itu.

 

 

*Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*

 

 

Written by Zulfa Afinz
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar