GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: BOTOL KENANGAN

October 14, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-BOTOL-KENANGAN

 

Daisy seorang gadis yang dilahirkan di bulan April. Nama yang diambil dari bunga daisy yang melambangkan keceriaan. Tapi Daisy tak ceria bunga daisy. Pasalnya, hidupnya penuh dengan tekanan.

 

“Ingat Daisy, kamu harus serius belajar. Lulus SMA nanti, kamu harus bisa masuk Oxford University. Jangan kecewakan Mami.”

Daisy mengingat pesan Mami akan masa depannya. Mami memang terlalu ambisius jika menginginkan Daisy masuk ke Oxford University. Faktanya sangat sedikit orang di negeri ini bisa diterima kuliah di sana. Tapi dia tak terlalu terbebani dengan permintaan Mami.

Kenyataannya Daisy tak ingin ke mana-mana. Sejujurnya dia ingin kuliah di dalam negeri. Tentu dengan pertimbangan yang amat matang. Ada satu orang yang sangat dia sayangi. Dan dia tak ingin meninggalkannya sendirian di sini.

“Aku tak akan mengikuti perintah Mami. Karena ada hal yang jauh lebih penting untuk diperjuangkan,” ucap Daisy membaca surat yang telah selesai dia tulis.

Daisy menggulung suratnya. Lantas memasukkannya ke dalam botol. Ini bukan botol sembarangan. Melainkan botol kenangan. Tempat setiap kenangan dan curahan hatinya. Kemudian menghanyutkan botol kenangan ke Sungai Lukulo.

“Pergilah. Dan bawalah bebanku juga,” gumam Daisy.

Daisy memeluk lututnya sembari mengamati botol kenangan yang menjauh. Seolah dia tengah mengucapkan selamat tinggal pada bebannya. Hanya ini yang bisa dia lakukan untuk mengurangi beban hidupnya.

Apakah Daisy tak punya teman? Hingga dia menggunakan botol kenangan sebagai tempat curhatnya. Karena memang dia tak memiliki teman satu pun. Tak percaya? Harus percaya.

Daisy memiliki kepribadian yang cenderung introvert. Dia memang cerdas. Tapi tak membuatnya mempunyai banyak teman. Karena kepribadiannya yang tertutup menjadi penghalang.

Sebenarnya kepribadian Daisy yang introvert bukan bawaan dari lahir. Faktor keluarga berpengaruh besar. Terutama sang Ayah. Dulu Ayah merupakan tokoh masyarakat. Lebih punya banyak waktu untuk Daisy. Sedangkan Mami yang seorang pebisnis, jarang di rumah. Ayah mampu mendidik Daisy menjadi gadis yang ceria. Sama seperti bunga Daisy.

Ketika Ayah Daisy beralih menjadi pemimpin daerah dan gagal, itu menghancurkannya. Dia tak terima dengan kekalahannya. Akibatnya dia mencari pelampiasan. Narkoba menjadi pilihannya. Daisy terlalu polos untuk menyadari kehancuran Ayah.

Sekarang Ayah Daisy sudah ketergantungan narkoba. Ketika di luar, Ayah Daisy bertingkah layaknya orang normal. Tapi ketika di dalam rumah, dia sangat kacau. Dia harus menghisap sesuatu yang membuatnya hidup lagi. Mami Daisy tak terlalu peduli dengan kesehatan Ayah Daisy. Dia sendiri mengizinkan Ayah Daisy untuk terus jatuh ke dalam lubang hitam. Asal kecanduannya tak bocor ke khalayak ramai dan menjatuhkan citra baik perusahaannya.

Daisy takut untuk melangkah. Sekarang dia tahu Ayah dalam kondisi yang tak baik. Itu sebabnya dia menjadi gadis yang tertutup. Dia takut, orang lain akan mengetahui kondisi Ayah. Satu-satunya keinginannya adalah agar Ayah dapat kembali. Ayah harus sembuh. Tapi bagaimana caranya? Mami tak ingin Ayah dimasukkan ke dalam rehabilitasi. Karena orang pasti akan mengetahui kecanduan Ayah.

***

“Selamat pagi, Diasy,” sapa Wilda.

“Selamat pagi,” jawab Daisy datar.

Wilda pun terintimidasi dengan cara bicara Daisy yang datar. Dia membiarkan Daisy duduk di tempatnya. Daisy selalu seperti itu. Bukannya dia sombong, tapi itu cara dia untuk membatasi diri. Dia tak ingin punya teman. Dan mungkin... dia sudah tak tahu bagaimana caranya untuk berteman.

Daisy duduk di bangku yang berada di barisan ketiga. Sisi kanan sendiri. Dekat dengan jendela. Dia suka dengan posisi tempat duduknya. Karena dari tempat ini, dia bisa melihat taman sekolah. Pemandangan di taman sekolah jauh lebih menarik ketimbang meladeni teman-teman sekelasnya.

Saat jam istirahat pun, Daisy tetap di kelas. Dia akan makan bekalnya sambil memperhatikan dia. Dia... cowok yang setiap jam istirahat akan bermain gitar di taman sekolah. Daisy tersenyum cerah. Semua masalahnya akan hilang saat melihat permainan gitar dia.

Daisy jatuh cinta. Itu sudah pasti. Tapi ketika seorang introvert jatuh cinta, apa yang bisa dia lakukan? Hanya bisa memperhatiannya dari jauh. Tanpa punya keinginan untuk bisa dekat dengannya.

Nyatanya Daisy seperti itu. Lihatlah sekarang, ketika gadis-gadis lain mengerubungi dia, Daisy malah duduk di tempat yang jauh. Daisy terlalu pengecut untuk bergabung bersama gadis pemuja dia.

“Sinarmu lebih terang dibandingkan matahari. Sinarmu bahkan bisa menjangkau sudut-sudut terpencil. Itu aku,” gumam Daisy.

Entah berapa lama Daisy akan bertahan dengan cintanya. Hanya ada dua pilihan. Keluar dari tempat persembunyian atau rela cintanya diterbangkan oleh angin.

Daisy melirik jam dinding kelasnya. Kurang lima menit jam istirahat selesai. Dia harus pergi ke suatu tempat. Tak lupa kotak bekal lain yang dia bawa dari dalam tasnya. Diam-diam dia menyelinap ke dalam ruang musik. Meletakkan kotak bekal itu di atas gitar. Tak lupa secarik kertas berisi pujian untuknya.

“Untuk matahariku. Permainan gitar A Thousand Years lebih halus dari biasanya. Kamu pasti berlatih keras. Semangat! Jangan lupa kue cucurnya dihabiskan,” ucap Daisy membaca tulisannya.

Secepat mungkin Daisy keluar dari ruang musik sebelum orang lain memergokinya. Dia tak ingin ada seorang pun yang tahu. Kalau selama dua minggu ini, dia memberikan kue kesukaan cowok mataharinya. Daisy hafal betul makanan favorit dia. Jangan remehkan kekuatan gadis yang tengah jatuh cinta. Inilah cara seorang Daisy mengungkapkan perasaannya.

***

Hari ini, Daisy meletakkan kotal bekal untuk dia di awal jam istirahat. Biasanya Daisy akan melakukannya lima menit terakhir di jam istirahat. Tapi dia harus ke perpustakaan. Ada buku yang harus dicari.

Sekembalinya dari perpustakaan, Daisy mampir ke ruang musik. Untuk melihat apakah kotak bekalnya sudah diambil. Tidak ada. Berarti dia sudah memakannya. Daisy tersenyum tipis. Lantas berbalik ke arah lain, menuju kelasnya.

“Jadi... itu kamu.”

Refleks Daisy menghentikan langkahnya. Suara itu milik dia. Tapi dia tak sedang mengajak Daisy bicara. Di dalam ruang musik, Daisy melihat dia bicara dengan gadis lain. Gadis yang dia tahu bernama Angel. Gadis yang masuk ke dalam gerombolan pemuja dia.

“Iya. Ini kue cucur untukmu.”

“Aku menunggumu selama ini. Kamu akhirnya keluar juga,” timpal dia.

“Aku malu.”

“Mulai sekarang kamu tak usah malu. Kita... pacaran?” tanya dia.

“Iya. Kita pacaran,” sorak Angel.

Harusnya kata-kata itu untuk Daisy. Jika saja dia bukan seorang introvert, pasti akan meluruskan segalanya. Tapi dia memilih untuk pergi. Hatinya hancur karena dia sudah dimiliki gadis lain. Mataharinya tenggelam selamanya.

Daisy butuh teman sekarang. Tapi dia tak punya seorang pun. Dia bergegas masuk ke dalam kelasnya. Mengambil tas dan pergi dari kelas. Tak peduli walaupun Ibu Rahma yang sudah masuk ke dalam kelas menegurnya.

Tempat yang dituju Daisy adalah Sungai Lukulo. Tiba di sana, dia duduk di atas batu. Mencurahkan patah hatinya pada botol kenangan.

“Matahariku sudah pergi. Entah bagaimana aku bisa lagi menyusuri jalan gelap ini. Kamu sudah bahagia sekarang. Selamat tinggal matahariku.”

Daisy pulang ke rumah setelah merasa lebih baik. Dia akan bertemu Ayah. Tak ingin Ayah tahu kesedihannya. Sampai di rumah, Ayah tak berada di ruang baca. Di jam seperti ini, biasanya Ayah berada di sana. Daisy mencari Ayah di kamarnya. Tapi juga tak ada.

“Apakah Ayah berada di ruangan itu? Tapi ini siang hari,” gumam Daisy terkejut dengan dugaannya.

Buggg! Terdengar suara benda jatuh dari lantai atas. Hanya ada satu ruangan yang dipakai di lantai atas. Dan ruangan itu adalah ruangan khusus milik Ayah. Tempat di mana Ayah bergaul dengan mainannya.

“Ayah!” Daisy panik. Segala macam pikiran buruk hinggap di benaknya. Dia takut Ayah kenapa-napa. Dia nekat masuk ke dalam ruangan itu. Walaupun dia telah diperingati untuk tak mendekati apalagi masuk ke dalam sana. Tapi ini menyangkut kesehatan Ayah. Tak ada yang lebih penting dibandingkan apapun.

Begitu Daisy membuka pintu, air matanya jatuh. Ayah memang berada di sana. Tapi dengan posisi berbaring tak sadarkan diri. Dari mulutnya keluar busa.

“Ayah! Ayah! Bangunlah,” seru Daisy sesenggukan.

Ayah sama sekali tak bergerak. Tapi masih bernapas. Daisy memilih melawan perintah Mami. Dia akan membawa Ayah ke rumah sakit. Dengan bantuan Mang Maman, tukang kebunnya, dia membawa Ayah ke rumah sakit.

“Nona Daisy yang sabar ya. Tuan pasti baik-baik saja,” hibur Kang Maman.

“Makasih, Mang. Daisy tahu Ayah pasti kuat.”

Daisy teringat dengan Mami. Mami harus tahu keadaan Ayah. Dia mengumpulkan keberaniannya karena pasti Mami akan sangat marah.

“Mi, Ayah di rumah sakit. Daisy menemukannya pingsan di kamar.”

“Kamu gila, Daisy! Kamu bisa panggil dokter pribadi kita. Untuk apa membawanya ke rumah sakit.”

“Mulut Ayah berbusa, Mi. Dia butuh dokter di rumah sakit. Bukan dokter yang menyembunyikan kecanduannya.”

“Mami tak peduli. Sekarang keluarkan dia dari rumah sakit. Cepat!” perintah Mami.

Daisy menarik napas lelah. “Tidak, Mi! Ayah tetap akan berada di sini. Aku menelepon untuk mengabarkan keberadaan Ayah. Aku tutup teleponnya.”

Daisy tersenyum lega. Serasa bebannya selama ini hilang sudah. Dia mantap untuk menyembuhkan Ayah. Apapun saran dokter nanti, dia pasti akan mengikutinya. Termasuk membawa Ayah ke pusat rehabilitasi.

***

Untuk pertama kalinya, Daisy menjadi pusat perhatian semua siswa di penjuru sekolah. Berita tentang Ayah yang seorang pecandu narkoba sudah tersebar seantero negeri ini. Mami sangat marah. Wartawan mengerubungi rumahnya. Sejak saat itu, Mami tak bicara lagi dengannya.

Daisy tak masalah dengan resiko yang diterimanya. Ayah sudah berada di pusat rehabilitasi. Hanya menunggu sampai Ayah kembali sehat. Dan dari masa penantian itu, dia akan menerima segala hinaan yang dilayangkan oleh teman-teman sekolah.

“Kamu lihat berita di tivi? Ayah Daisy seorang pecandu narkoba. Siapa yang menyangka itu.”

“Iya. Mungkin udah gaya hidup orang kaya.”

Daisy menutup telinga. Dia menganggap, itu bentuk perhatian teman-teman sekolahnya. Tak perlu merasa sakit hati. Toh memang Ayah seorang pecandu. Tapi dia akan membuktikan kepada mereka. Kalau Ayah mampu bangkit.

Daisy menuju ke loker kelas untuk mengambil buku-bukunya. Terkejut mengetahui ada botol di dalam sana. Mirip dengan botol kenangannya. Dia memperhatikan teman-teman sekelasnya. Mereka sibuk dengan dunianya.

Ada gulungan kertas di dalamnya. Tak mungkin itu botol kenangannya. Karena botol kenangannya sudah hanyut di Sungai Lukulo. Dan pasti akan mengambang jauh ke samudera. Penasaran, Daisy membuka botol itu. Mengambil gulungan kertas dan membacanya.

Untuk bunga Daisy-ku. Pilihanmu sangat tepat. Kamu akhirnya mampu keluar dari kegelapan. Jangan sedih lagi. Ayahmu pasti akan sembuh. Untuk cowok yang kamu sukai, seharusnya kamu muncul di hadapannya. Barangkali dia merindukan kue cucur buatanmu. Bukankah sudah satu minggu kamu tak memberikan kue cucur? Ini hanya saran dariku. Semangat terus, bunga Daisy-ku! Love You.

Daisy menutup mulutnya. Tak percaya surat botol kenangannya mendapatkan jawaban. Entah siapa yang melakukan ini. Apakah ada orang yang seperti dirinya? Mencintai seseorang dari jauh? Dan... dia akan menunggu orang itu. Sampai nantinya punya keberanian untuk keluar dari persembunyiannya. Berapa pun lamanya, dia akan menanti. Memberinya kesempatan. Karena dia tahu persis, bagaimana pengecutnya untuk mencintai dalam diam.

 

 

 

Written by Umi Salamah
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar