GOGIRL! WEEKEND WEBSTORY: BOLA SPESIAL

October 07, 2018

GOGIRL-WEEKEND-WEBSTORY-BOLA-SPESIAL

 

“Besok temani aku, ya? Bisa kan?” kata Tania, lalu ia mengambil seutas tisu dan mengusapkan tisu itu pada mulutnya. Aku menatapnya dengan rongga mulut dipenuhi oleh nasi.

 

“Ke mana?” tanyaku, begitu rongga mulutku kosong, lalu tanganku sibuk mengorak-arik nasi yang ada di piring.

“Ke toko olahraga,” jawabnya, setelah menegak air mineral.

“Mau beli sepatu?”

“Bukan.”

“Lho, kok bukan? Bukankah kemarin kamu bilang kalau sepatu olahragamu yang sering digunakan latihan badminton sobek pada ujungnya?”

Setiap minggu pagi, aku dan Tania latihan badminton di lapangan kota, kami bergabung di sebuah komunitas badminton. Tania sering mengikuti kejuaraan-kejuaraan dan kerap menang, sedangkan aku hanya memosisikan badminton sebagai hobi dan untuk menjaga kebugaran.

“Iya, memang sobek, tapi bukan itu Susi.”

“Lalu mau beli apa?”

“Beli bola sepakbola.”

“Beli bola sepakbola?” Aku langsung mengerutkan kening.

“Temani, ya? Ya?”

“Kamu itu beli bola mau untuk apa, Tan? Kamu mau main sepakbola? Atau untuk hiasan kamarmu? Bukankah kamu tidak suka sepakbola? Oh, ya, aku tahu. Pasti kamu mau membelikan bola adikmu.”

“Nerocos saja, Sus, kamu ini.”

“Lantas untuk apa?”

“Kamu ingin tahu kan? Kalau ingin tahu antarkan aku besok.”

“Kalau tidak ingin tahu?”

“Bercanda?”

Aku tersenyum.

***

Hari berikutnya, aku membonceng Tania, menemaninya ke sebuah toko olahraga yang ada di tengah kota, sebuah toko olahraga yang sudah cukup punya nama. Kami masih mengenakan seragam putih abu-abu. Sepanjang perjalanan, aku terus menebak-nebak untuk apa kiranya ia membeli bola.

“Jadi untuk apa sih kamu beli bola?” tanyaku penasaran sembari memandang wajah Tania dan dua bola yang ada di tangannya. Melihat motif bola yang ada di tangan kanan Tania, aku tahu jika motif bola itu adalah bola yang digunakan untuk piala dunia 2014 di Brazil, sedangkan bola yang di tangan kiri Tania ialah motif bola piala dunia 2018 di Rusia.

“Menurutmu bagusan yang mana? Ayo, dong, penggemar bola, berikan pendapatmu,” ucap Tania.

Memang benar ujaran Tania, aku penggemar (penikmat lebih tepatnya) bola meski aku seorang perempuan. Namun bukan berarti setiap malam aku begadang menonton sepakbola. Yang kerap kulihat hanya pertandingan-pertandingan final, laga-laga derby, laga-laga yang menentukan, laga-laga bergengsi semisal Barcelona vs Real Madrid.

Aku suka dunia sepakbola sudah sejak SMP. Jika ditanya latar belakang yang membuatku menyukai sepakbola, aku tentu bisa menjawabnya. Ya, semua itu karena kakak-kakakku berjenis laki-laki. Aku bukan tipe penyendiri, maka wajar bila aku sedang tak bersama teman dan di rumah, aku terjun di tengah-tengah mereka.

“Hey, bagusan yang mana? Malah melamun!”

“Bagusan yang itu.” Ibu jariku menunjuk ke sebuah bola, bola plastik. Tania nyengir.

“Serius aku.”

“Yang itu juga bagus.” Ibu jariku kini tertuju pada bola voli.

“Susi?” Nada bicara Tania meninggi.

“Ya, terserah kamu aja, Tan. Memangnya untuk apa sih bolanya? Kamu belum memberitahu aku, lho.... Kalau kamu tidak memberitahu aku pulang.”

“Jadi?”

“Jadi apa? Joda jadi, langsung pada intinya, tidak usah berbelit-belit.”

“Aku naksir seseorang.”

“Jadi hanya karena itu?”

“Kok hanya?”

“Enggak, enggak. Bercanda. Tapi kamu serius sedang jatuh cinta dengan seorang lelaki? Ia suka bola? Dan kamu mau memberinya hadiah bola?”

“Tepat, Sus. Makanya bola yang diberikan harus bola yang terbaik kan? Nah, bagus mana ini?”

“Terserah kamu, Tan. Jangan kamu suruh aku memilih, yang jatuh cinta kamu kan? Bukan aku?”

“Huuu....”

Pada akhirnya, setelah berulang kali menimbang-nimbang, Tania memutuskan untuk membeli bola piala dunia 2018. Sejalan dengan pikiranku, aku juga lebih suka dengan motif bola itu ketimbang piala dunia 2014, sebab bola yang digunakan untuk piala dunia yang bertuan rumah di Brazil itu motifnya terlalu berwarna.

Sebelum Tania mengantarkanku pulang, ia sempat menghentikan sepeda motornya di sebuah toko alat tulis. Ia membeli kertas kado dengan gambar batik.

“Untuk membungkus bola?”

“Iya. Tapi tidak langsung dibungkus, bolanya dimasukkan ke dalam kardus dulu.”

“Aku paham.... Mmmm, kalau boleh saran, mending tidak usah dibungkus. Begitu saja, tanpa apa-apa. Menurutku itu lebih romantis dan laki-laki yang kau taksir akan lebih terkesan.”

“Masa cuma begini? Ahh, enggaklah.”

“Ya, sudah terserah kamulah. Ini juga hanya saran. Kalau mau dipakai ya syukur, tidak juga tidak apa-apa.”

 

***

 

Tania telah membuatku terinspirasi. Tania telah mengajarkanku, bahwa perhatian terhadap seseorang yang disukai itu sangat perlu. Dan aku merasa selama ini tak pernah memberikan apa-apa kepada laki-laki yang kusukai, justru aku yang berharap diperhatikan olehnya.

Siang ini, setelah membeli jersey sebuah klub sepakbola dan sebuah bola, aku langsung meluncur ke rumah Satrio—ia sangat supel bergaul, laki-laki yang sudah sejak awal-awal masuk SMA kusukai. Aku tersenyum, pasti Satrio akan menerima dengan senang, sebab ia sangat suka dengan sepakbola dan memang cita-citanya menjadi pemain sepakbola.

Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di rumah Satrio dari toko olahraga tempat aku membeli jersey dan bola. Seorang perempuan terlihat duduk di teras rumah Satrio begitu aku sampai. Kedua tangannya menguasai surat kabar. Aku berkaca sesaat untuk merapikan wajah, lalu melangkah menuju teras dengan menenteng plastik berisi jersey dan bola.

“Eh, Susi?” Perempuan itu melipat korannya, meletakkan di atas meja teras—tentu perempuan itu tahu namaku, sebab aku sering kemari, dan mungkin tahu bahwa aku menyukai Satrio. Perempuan itu tak lain mama Satrio. Aku mencium tangannya.

“Ini langsung ke sini?”

“Iya, Tante,” ucapku berhias senyum. “Oya, Satrio sudah pulang belum, Tante?”

“Satrio baru saja sampai. Dia mungkin lagi di belakang bersih-bersih. Ayok, masuk dulu,” ucap mama Satrio.

“Ahh, di sini saja, Tante.”

“Di dalam saja, Tante buatkan es jus. Ayo.”

“Tidak usah repot-repot, Tante.”

“Tidak apa-apa.”

Satrio muncul dari pintu, begitu aku hendak melangkahkan kaki untuk mengikuti mama Satrio.

“Susi diajak masuk, Sat,” perintah mama Satrio kepada Satrio. Mama Satrio kemudian ke dalam.

“Mau masuk?”

“Tidak, hhh...” Satrio meringis.

Satrio membalikkan badannya, aku mengikuti langkahnya.

“Semakin hari kamu semakin cantik saja, Sus.”

Aku terkejut mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Satrio. Rasanya aku seperti terbang menuju awan, dan tak mau pulang. Mau tidak mau aku tersenyum. Salah satu tanganku masih menguasai plastik yang akan kuberikan kepada Satrio.

“Duduk.”

Tak sengaja penglihatanku tertuju pada sobek-sobekan kertas yang ada di meja di pojok ruang tamu, dan di situ pula aku melihat sebuah bola piala dunia 2018.

“Kamu memperhatikan apa? Serius amat?” Aku tergagap begitu pundakku ditepuk-tepuk.

“Oh, aku tahu apa yang kamu perhatikan. Bola itu, ya? Itu pemberian dari Tania, Sus. Aku jadi ingin memberinya sesuatu. Kira-kira aku harus memberi apa ya, yang cocok untuknya?”

 

Written by Risen Dhawuh Abdullah
Photo Source:
Shutterstock
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar