GOGIRL! WEEKEND WEB STORY: SAHABAT PERMEN KARET

March 10, 2018

SAHABAT-PERMEN-KARET

sumber foto: shutterstock

 

Derasnya air hujan yang turun membuat Alika dan Rara harus berhenti melanjutkan perjalanan pulang. Alika adalah sahabat Rara sejak kecil, di manapun ada Rara di situ pasti ada Alika, hingga mereka dijuluki sahabat permen karet yang selalu lengket. Tidak begitu lama sebuah mobil acura berwarna hitam berhenti di depan mereka berdua, seorang laki-laki keluar dari mobil dengan membawa payung di tangannya, dia mengenakan sebuah jas kantoran dan kaca mata hitam, tubuhnya agak tinggi tapi tidak kurus, senyum ramah muncul seketika saat melihat Rara dan Alika, ‘’Papah’’ Alika berlari menghampiri sesosok laki-laki yang berdiri di depan mereka, sampai dia tidak menyadari hujan semakin deras membasahi tubuhnya, sementara Rara masih diam dengan seribu pertanyaan ‘’Bukankah Om Irwan masih di Australi hingga tahun depan?’’. Menyadari Rara yang masih berdiri tegak di halte, Om irwan mengajak Rara untuk pulang bersamanya, tidak ada pilihan lain bagi Rara selain menerima ajakan Om Irwan agar dia bisa segera sampai di rumah dan beristirahat,

 

 

***

 

‘’Tumben kamu sendirian? Mana permen karetmu?’’ Lisa teman kelas Rara menghentikan langkah Rara menuju kekelas, ‘’Alika berangkat sama papahnya’’ Lisa mengangkat alisnya tanda mengerti, Rara berjalan menuju kelas dan menunggu Alika datang, ‘’hai, Ra,,’’ Alika datang dengan penuh semangat dan meletakkan tasnya di atas meja, Alika mengeluarkan sebuah laptop dan menyalakannya, tangannya mulai menuliskan sesuatu di pencarian google, ‘’Nama sekolahan di Australia?, kamu mau sekolah di sana?’’, Rara bertanya dengan hati yang berdebar-debar menanti jawaban dari sahabatnya, Alika tersenyum dan menoleh ke arah Rara, ‘’maafkan aku Ra, tidak ada pilihan lain selain ikut Papah, besok aku akan berangkat’’. Tubuh Rara tiba-tiba terasa kaku dan sulit untuk digerakkan mendengar jawaban dari sahabat karibnya itu, mulutnya sulit untuk mengeluarkan kata-kata, ingin rasanya dia berteriak sekencang mungkin dan menangis sekeras-kerasnya untuk menenangkan hatinya. Bagaimana tidak? Bagi Rara Alika adalah teman sejatinya, suka dan duka mereka selalu bersama, Alika selalu mengerti perasaan Rara, Alika selalu membuat hari-hari Rara penuh dengan warna, Alika bagaikan seorang kakak bagi Rara. Tapi semua itu akan hilang dalam sekejap, dia tidak menyangka akan secepat itu berpisah dengan sahabat karibnya.

 

***

 

Malam ini Rara tidak bisa tidur, dia terus-terusan memikirkan Alika sahabat karibnya. Hari ini adalah pertemuan terakhir Rara dengan Alika, apalagi Alika tidak bisa memenuhi permintaan terakhir Rara untuk merayakan perpisahan tanda persahabatan mereka. Berkali-kali Rara membolak balikkan badannya tapi tetap saja Rara tidak bisa tidur, Rara menoleh pada jam dinding dan waktu menunjukkan pukul 03.00WIB, ‘’Itu artinya Alika akan berangkat sebentar lagi’’. Gumam Rara dalam hati, dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Rara memutuskan untuk tidak tidur sampai pagi agar bisa bertemu dengan Alika untuk yang terakhir kalinya, Rara membuka album kenangan mereka saat masih bayi hingga sekarang, terkadang Rara tertawa sendiri melihat tingkah mereka sewaktu masih kecil. Terbayang sebuah harapan agar Rara dan Alika bisa tumbuh dewasa bersama, menyelesaikan sekolah bersama dan meraih cita-cita mereka, ‘’kring,,kring’’. Tangan Rara meraba-raba jam alarmnya dengan malas, udara pagi ini sangat dingin dan membuatnya untuk tidak mau melepas selimut, matanya terasa berat dan enggan untuk dibuka, ‘’Alika. .’’ Rara berteriak sekeras mungkin, dia sadar bahwa pagi ini Alika sahabat permen karetnya akan pergi ke Australi. Tanpa berfikir panjang Rara berlari menuju kerumah Alika yang rumahnya tepat didepan rumah Rara. Rara tidak menghiraukan rambutnya yang masih acak-acak an, yang terpenting buat Rara adalah bertemu dengan sahabat permen karetnya, tapi nasib malang datang kepada Rara, sesampainya didepan rumah Alika rumah itu sudah sepi, pintu gerbangnya sudah dikunci gembok dari luar tanda bahwa tidak ada siapapun didalam rumah Alika. Rara tercengang membisu disamping pintu gerbang rumah Alika, tubuhnya mendadak lemas dan terasa berat, tidak ada yang bisa dilakukan olehnya selain menangis dan mengutuki dirinya, andai saja dia tidak ketiduran pasti dia bisa bertemu dengan alika dan mengucapkan salam perpisahan dengannya. Tapi, nasi telah menjadi bubur, dan waktu tidak mungkin akan berputar kembali.

 

***

 

Hari minggu ini Rara enggan untuk keluar kamar, dia masih mengutuki dirinya yang tertidur dijam-jam yang sangat dinantikannya. Rara diam termenung hingga dia tidak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 17.00WIB. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kamarnya, sudah seharian Rara didalam kamar, dia juga tidak mendengar suara mamah memanggilnya, biasanya jika Rara terlambat makan saja mamah sudah mengomel, tapi ini seharian Rara tidak keluar dari kamar mamah tidak meributkannya, ‘’Apa mungkin mamah tahu perasaan Rara saat ini?’’ gumam Rara dalam hati, mamah Rara tahu betul kedekatan putrinya itu, bahkan mamah Rara juga sudah menganggap Alika seperti anaknya sendiri, pikir Rara. Dengan malas Rara berjalan keluar untuk menemui mamahnya, menangisi Alika tidak akan membuatnya kembali, karena itu sudah menjadi keputusan Alika. Rara berharap Alika bahagia disana karena dia sudah tinggal bersama papahnya, jadi Alika tidak akan kesepian lagi. ‘’Suprizeee’’, Rara tercengang melihat teman-temannya berada dirumahnya, setahu Rara dia tidak pernah mengundang teman-temannya untuk datang kerumah, apalagi sampai satu kelas. Ruang tengah rumah Rara penuh dengan hiasan balon, tersedia dua meja disana satu untuk tempat kado dan satunya lagi untuk makanan, semua terlihat rapi dan menarik. ‘’apa tidak bosen didalam kamar terus.’’ Sebuah suara mengejutkan Rara dari belakang, dengan cepat Rara langsung menoleh kebelakang untuk menemui sumber suara, ‘’A..alika?’’ Rara tidak menyangka apa yang dia lihat, air matanya keluar dengan deras, tidak ada yang bisa dikatakan selain menangis dan memeluk sahabat permen karetnya. ‘’sudah-sudah, jangan menangis’’ Alika mencubit pipi Rara dengan gemas, ‘’bagaimana bisa? Bukannya kamu sudah berangkat ke Australi?’’, tawa Alika meledak seketika saat mendengar ucapan Rara, dia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu telah memikirkannya sedari kemarin.

‘’aku hanya berpura-pura’’

‘’berpura-pura?’’

‘’aku hanya berpura-pura pergi ke Australi agar aku bisa memberi kejutan ulang tahun padamu, dan sekarang sukses abis’’ Alika kembali tertawa menjelaskan semuanya kepada Rara, Rara ikut tertawa atas penjelasan Alika, ‘’awas kamu ya!’’ Rara menggelitik Alika sampai Alika benar-benar menyerah. Rara tidak menyangka jika Alika sampai punya ide sekonyol ini untuk member kejutan dihari ulang tahunnya,tapi apapun yang terjadi Rara senang karena Alika tidak benar-benar pergi meninggalkannya. Itulah sahabat, dia akan selalu ada buat kita, entah suka maupun duka.

 

***

 

 

*Cerita fiksi ini merupakan karya orisinal penulis kontributor Gogirl!, penayangan sudah mendapatkan persetujuan dari penulis. Dilarang mengutip dan menyadur tulisan dari website ini. Bagi yang ingin mengirimkan karya tulis cerita untuk WEB STORY GOGIRL!, silahkan kirimkan ke esnoe.metha@gogirl.id, dengan format Word A4, font Calibri 11, spasi 1, minimal 900 kata, beserta data diri. Cerita harus orisinil hasil karya penulis, dan tidak menyinggung SARA. Cerita yang akan ditayangkan akan dihubungi oleh redaksi dan mendapatkan honorium. Cerita yang lewat dari 4 bulan tidak ditayangkan atau tidak dihubungi oleh pihak redaksi, maka berhak untuk mengirimkan ke media lain atau menggunakannya untuk kepentingan lain.*

 

 

Written by Hestti Wulan Anggraini
Share to:

Comments

0 Comments
Sort By   
Silahkan login untuk menulis komentar